ARMUZNA : Bukan Sekedar Puncak Ibadah, Namun Puncak Pelayanan dan Pengabdian Petugas/PPIH Kepada Jemaah Haji Indonesia

Oleh : Rio Chandra Kesuma (Petugas Haji/PPIH Daker Bandara) ***

Dalam hitungan beberapa waktu ke depan, puncak ritual ibadah haji akan dilaksanakan pada fase armuzna (arafah, muzdalifah dan mina), sebuah fase monumental dimana akan ada pergerakan mobilisasi umat muslim dunia yang akan bergerak secara bersama dengan tertib, khusyu’ dan seksama ke beberapa tempat sakral di Kota Mekkah Al-Mukarramah. Dalam pandangan peneliti dunia/world scienctiest forum (2012), moment tahunan ini dilihat sebagai moment pergerakan jemaah umat beragama (muslim) paling terstruktur, sebagai epicentrum pergerakan umat beragama paling massive di dunia.

Dapat dilihat nantinya, diperkirakan mencapai lebih dari 1.6 juta jemaah muslim dari berbagai belahan dunia, yang terdiri dari 180 negara, dimana Indonesia salah satunya, yang berdasarkan update terakhir akan ada sebanyak 221.00 jemaah haji asal Indonesia yang telah berada di Saudi Arabia, yang kesemuanya akan terkosentrasi pada moment puncak ibadah Armuzna.

NAPAK TILAS ARMUZNA

Sebagai pemantik singkat, dapat dilihat fase armuzna akan dimulai dari wukuf di arafah pada 09 dzulhijah atau sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Moment wukuf di padang arafah merupakan salah satu fase paling essenstial dari rangkaian armuzna, sebab wukuf di arafah merupakan salah satu rukun haji yang wajib dilakukan oleh para jemaah haji, dan sering diilustrasikan sebagai gambaran padang mahsyar. Syekh Muhammad Abdurahman al – Mubarakfauri menjelaskan bahwa haji itu adalah arafat/arafah, dan merupakan sentral atau rukun haji yang paling pokok/utama.

Selanjutnya, muzdalifah yang akan menjadi tempat jemaah bermalam setelah bergerak dari arafah, di dalam buku Ensiklopedia Haji dan Umrah karya M. Quraish Shihab dijelaskan bahwa Muzdalifah menjadi simbol persamaan manusia dihadapan Allah SWT, tanpa memandang status sosial, ekonomi maupun kebangsaan.

Dalam hal ini, akan ada 2 (dua) skema pengaturan pergerakan jemaah setelah dari arafah sebelum bergerak ke muzdalifah, yakni murur artinya, pergerakan jemaah haji dari arafah menuju mina yang melintasi muzdalifah dengan menaiki bus tanpa turun dari kendaraan, dan skema tanazul, yakni skema yang mengizinkan jemaah setelah mengikuti ibadah di arafah tidak menginap (mabit) di Mina, melainkan langsung kembali ke hotel di Mekkah.

Kedua skema ini merupakan bentuk kelonggaran (rukhsah) yang dikhususkan kepada jemaah lansia, disabilitas atau beresiko tinggi (risti) guna meminimalkan kelelahan ekstrem, memitigasi resiko kesehatan jemaah serta menghindari kepadatan massa saat puncak armuzna. Terhitung pada tahun ini 1447H/2026M, diproyeksikan akan ada lebih kurang 80 ribu jemaah yang akan mengikuti skema murur dan 20 ribu jemaah mengikuti skema tanazul.

Sedangkan terakhir, Mina yang menjadi lokasi simbolik perlawanan melalui ritual lempar jumrah. Lempar jumroh bukan sekedar ritual simbolik, tetapi bentuk perlawanan terhadap hawa nafsu dan godaan setan dalam kehidupan manusia (Mustafa Yaqub, 2009). Dalam karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa seluruh rangkaian Armuzna mengandung makna penghambaan, kesabaran, ketundukan dan perjuangan spiritual muslim kepada Allah SWT.

Tentu telah banyak ruang diskursus yang membahas filosofi, makna/arti, rukun dan syariat secara fiqih ibadah armuzna yang lebih komprehensif dan kompeten, karenanya ruang tulisan ini hanya akan fokus kepada perspektif dan ruang lingkup kesiapsiagaan para petugas haji/PPIH dalam menyongsong pergelaran puncak ibadah haji Armuzna.

Dari kacamata seorang petugas haji, pergelaran armuzna bukan saja sekedar puncak ibadah bagi para jemaah haji Indonesia, namun dalam benak sanubari seorang petugas haji, ini adalah puncak pelayanan dan pengabdian Petugas/PPIH kepada jemaah haji Indonesia.

Jikalu meminjam istilah Bpk. Abdul Basir (Kepala Daerah Kerja Bandara) guna menumbuh-kembangkan semangat para petugas PPIH Daker Bandara yang akan bertugas di Arafah, ia mengatakan bahwa puncak haji armuzna ialah pertempuran (perang) yang sesungguhnya bagi petugas untuk melakukan pelayanan kepada jemaah, siap tidak siap kita harus siap, dan jangan sekali – kali menghindar dari amanat dan tanggung – jawab, sebab sekecil apapun itu pasti akan dipertanggung-jawabkan di hadapan tuhan yang maha kuasa.

ASPEK KRUSIAL

Sejatinya pada moment armuzna, semua pembuktian dan ketulusan hati seorang petugas dalam melayani akan (kembali) diuji, semangat mengurusi hiruk pikuk operasionalisasi haji akan kembali ‘ditantang’, dan falsafah dhramabakti petugas haji (‘pandu ibu pertiwi’) guna mencurahkan perhatian, energi, pikiran, tenaga serta waktu yang sangat melelahkan guna melayani jemaah haji Indonesia akan kembali dilanjutkan.

Tentu ini tidak mudah, tidak sesederhana seperti apa yang digambarkan dalam ruang hampa tulisan ini. Karena bagaimanapun, seorang petugas haji yang existing saat ini, juga berada pada fase antiklimaks, dimana sebagian tenaga dan stamina telah terkuras/tersita dalam operasionalisasi pelayanan kedatangan jemaah (baik gelombang pertama dan kedua), pikiran juga telah tersandera, rasa rindu akan keluarga juga sudah mulai terasa, begitupun dengan semangat batiniah yang juga sudah tergerus karena moment penyesuaian (adjustment) lingkungan kerja di wilayah yang memiliki cuaca panas ekstrim juga sudah mulai penuh dengan dengan polemik/masalah.

Namun, tentu apapun itu, hal demikian merupakan realitas aktual yang harus dihadapi, pilihan telah dipilih, maka apapun aral rintangan yang menghadang, tantangan terberat pun yang ada di depan harus tetap diselesaikan – ditunaikan. Hal demikian selaras dengan sepenggal bait lagu, yakni ‘janji telah kuucapkan’, ‘tekad ku (bagi petugas haji) untuk berjuang’, ‘walau rintangan menghadang’, ‘amanah kan kutunaikan’. (Lagu Melayani – Ian Heriyawan)

Karenanya dalam konteks ini, tidak ada space (waktu) setitikpun untuk mengeluh, untuk lama berkutat dan terjebak dalam pikiran (semu), yang ada ialah melanjutkan puncak perjuangan melayani jemaah haji di fase armuzna, dengan tekad dan semangat yang dimulai lagi dari 0 (nol), dengan doa yang dimulai lagi dari basmalah dan al fatiha, dan dengan ridho dari keluarga dirumah/di Indonesia, serta yang paling mutakhir ialah dengan kekuatan ‘invisble hand’ dari yang maha kuasa – yang akan melebihi dahsyatnya dari sekedar inject vitamin neurobion, ataupun konsumsi multivitamin termahal (terbaik) yang ada.

Yakinlah kekuatan dan dorongan spiritual, dengan hati yang tulus dan bersih dari seorang petugas haji, yang benar – benar total ingin melayani para ‘tamu allah’ akan selalu diberikan pertolongan, kemudahan serta kekuatan yang tidak akan dapat diukur, diprediksi ataupun dibayangkan secara logika nalar manusia pada umumnya. Sebagaimana yang pernah saya sampaikan pada ruang tulisan sebelumnya, setiap petugas haji pasti juga akan memiliki pertemuan dan pengalaman spiritual masing – masing dalam tugas operasionalisasi melayani jemaah haji 1447H/2026M.

Dibalik itu semua, ikhtiar secara fisik juga tetap harus menjadi catatan bagi para petugas haji Indonesia/PPIH, dimana dengan adanya ‘sela’/space waktu yang ‘cukup’ dan ‘sedikit’ menjelang moment armuzna haruslah dapat dimanfaatkan guna recovery stamina/tenaga dengan sebaik – baiknya. Management stamina dengan istirahat yang cukup, konsumsi makanan yang bergizi lebih, inject vitamin secara medis/konsumsi doping multivitamin, maupun mengheningkan sejenak pikiran, hati dan tenaga melalui ibadah rutin secara lebih khusyu’ juga tetap menjadi bagian ikhtiar lahiriah yang harus tetap dijalankan.

Karena bagaimanapun juga petugas haji/PPIH dari manapun tusi-nya, latar belakang instansi-nya, tetaplah juga seorang manusia biasa, yang memiliki keterbatasan, kelemahan, ego/emosi/nafsu seperti pada umumnya. Seorang petugas haji yang telah ditempah melalui diklat yang sangat ketat dan disiplin, gemplengan fisik yang ekstrim, dan indoktrinasi nilai semangat melayani jemaah tetaplah bukan seorang ‘manusia setengah dewa’, yang bebas, lepas dan tidak terbatas.

Oleh karena itu menjadi penting, selain niat yang tulus dan bersih sebagai seorang petugas haji yang ingin benar – benar melayani para tamu allah di tanah suci, juga harus dapat untuk mawas dan mengukur diri, jangan sampai memaksakan kelemahan ditengah keterbatasan, memforsir stamina/tenaga di tengah medan operasi haji yang sangat ekstrim/berat serta melaksanakan tugas suci dan mulia dalam melayani tamu allah dengan ‘keterpaksaan’.

OUTPUT : PETUGAS HAJI YANG MABRUR

Ingatlah bahwa semua yang akan dilakukan, setitik dan sedikitpun itu dalam konteks pengejewantahan niat dalam melayani para jemaah haji akan bernilai ‘pahala’ yang tidak ternilai harganya. Tidak sampai disitu, akhir dari perjalanan dan pengalaman spiritual dari setiap petugas haji, yang ‘lolos’ dan ‘lulus’ dalam ujian pelaksanaan melayani para tamu allah ditanah suci, juga akan mendapat pencapaian paripurna sebagai seorang petugas haji yang mabrur, sebuah titah tidak bergelar, namun dapat membawa kemaslahatan yang paling hakiki bagi pemegang gelar tersebut, baik di dunia maupun di kehidupan setelahnya.

Jadi, yakinilah ini momentum emas yang tidak bergaransi, tidak ada jaminan ruang dan waktu, bahwa besok atau lusa kita akan kembali (lagi) untuk mendapat kesempatan terbaik menjadi petugas haji, karenanya seruan bagi petugas haji yang saat ini dan esok akan bertugas melayani jemaah pada puncak haji armuzna, manfaatkanlah kesempatan ini untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan optimal kepada semua tamu allah yang nantinya akan berada pada puncak haji arafah, muzdalifah dan mina. Biarkan keringat bercucuran menetes membasahi dahi, biarkan rasa lelah memuncak dan bergejolak di sekujur tubuh, dan rasakan setiap sensai serta emosi spiritual yang ada dan terjadi pada puncak haji nanti. Yakinlah semua itu akan menjadi ladang amal pahala yang tidak akan ternilai bahkan sama harganya dengan ibadah haji itu sendiri.

Pada akhirnya, ruang tulisan ini secara previledge atribusi ditujukan untuk semua petugas haji Indonesia/PPIH 1447H – 2026M yang sebentar lagi akan menunaikan satu tugas suci ‘nan’ mulia pada fase puncak haji armuzna untuk melaksanakan pengabdian dan pelayanan kepada para tamu allah di tanah suci.

Semoga seutas kata – kata dalam tulisan artikel ini dapat memberi referensi aktual guna menstimulate semangat dan menambah setitik spirit para petugas haji /PPIH. Semangat semua saudaraku/rekan – rekan PPIH 1447H/2026M, saling membantu, solid dan tetap bersama dalam kebersamaan, tetap sederhana dalam kesederhaan, bismilah kita semua pasti bisa. Insya allah akan kita tunaikan tugas mulia ini dengan sebaik – sebaiknya, dengan kepala tegak dan dapat kita pertanggung-jawabkan pada ‘yaumul akhir’ nantinya.

Izinkan saya menutup tulisan ini dengan lirik reff sebuah lagu yang saya dengarkan berulang – ulang tanpa henti ketika dalam perjalanan dari hotel jeddah menuju kota mekkah kemarin malam, sambil menasbihkan dzikir di hati dengan menggenggam tasbih, dan membaca ayat suci, namun dalam perangkat earphone handphone terputar lagu, yang cukup membuat saya jatuh cinta berkali – kali sejak pertama kali mendengarnya pada saat penutupan diklat PPIH di asrama haji pondok gede beberapa waktu yang lalu, yakni Melayani – Karya Bpk. Ian Heriyawan yang kami hormati dan banggakan :

Mudahkanlah lindungilah, agar aman dan nyaman ibadah dengan tenang, haji mabrur yang didambakan…

Ku berjanji (melayani), haji panggilan ilahi, tuhan yang maha suci, kepadanya kita kan kembali…

Lirik lagu yang cukup syahdu untuk diartikulasikan dalam tindakan dan perbuatan ketika puncak haji arafah dengan memberikan semangat pelayanan yang optimal dan terbaik bagi para jemaah haji Indonesia, mari kita doakan bersama agar semua petugas haji Indonesia/PPIH diberi kekuatan hakiki, kesehatan lahir/batin pada puncak haji armuzna nantinya.

Semoga pelaksanaan puncak haji armuzna dapat berjalan dengan sukses, lancar, nyaman, aman dan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Lahumul fatihah.

*** Penulis ialah Legal Consultant Multinasional Corporation di Jakarta, Peneliti pada CDCS/LIPI, Off Council pada British Corporate Consultant di UK & Singapore, Kandidat Doktoral – Ketua IMMH Univ. Indonesia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *