Ancaman dunia hari ini bukan hanya perang, konflik geopolitik, perebutan pengaruh negara besar, dan krisis energi. Tetapi, ada ancaman lain yang jauh lebih besar, lebih sunyi, tetapi dampaknya bisa lebih mematikan: krisis iklim dan kerusakan lingkungan hidup.
Ironisnya, ketika bumi mulai memberi tanda-tanda marah dan bahaya, para pemimpin dunia masih lebih sibuk bicara perang, aliansi militer, dagang, dan perebutan sumber daya. Seolah-olah manusia lupa bahwa semua ambisi politik dan ekonomi itu berpijak di atas satu rumah yang sama: bumi.
Kalau rumah besar ini rusak, panas, banjir, terbakar, dan tidak lagi sehat, maka sehebat apa pun pertumbuhan ekonomi dan sestabil apa pun politik, semuanya akan kehilangan makna.
Lihat saja yang sedang terjadi di Eropa dan Amerika. Prancis, salah satu negara maju dengan sistem mitigasi yang relatif kuat, ikut dihantam gelombang panas sangat ekstrem mencapai 44,3 derajat Celsius.
Dari dalam negeri, lewat BMKG, berbagai potensi ancaman “amuk” alam juga sering disampaikan. Ada ancaman fenomena El Nino, ada ancaman gunung erupsi, ada ancaman gempa mega trust yang berpotensi tsunami dan lain-lain.
Itu semua tentu bukan lagi sekadar berita cuaca. Ini juga adalah alarm ancaman peradaban. Dan sudah cukup banyak data ilmiah yang menunjukkan bahwa ancaman ini bukan ilusi.
Dampak kerusakan lingkungan itu bukan hanya suhu panas. Perubahan iklim memperkuat siklus air. Hujan ekstrem makin intens, banjir makin sering, kekeringan makin parah, permukaan laut terus naik, dan wilayah pesisir akan menghadapi risiko banjir rob serta abrasi yang makin berat.
Peristiwa ekstrem permukaan laut yang dulu mungkin hanya terjadi sekali dalam 100 tahun, bisa terjadi setiap tahun di banyak kawasan pesisir pada akhir abad ini.
Bagi Indonesia, ancaman ini sangat nyata. World Bank menyebut Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, termasuk banjir, kekeringan, kenaikan muka laut, dan kejadian cuaca ekstrem.
Karena itu, sudah saatnya isu lingkungan hidup tidak lagi ditempatkan sebagai isu pinggiran. Ini bukan isu pelengkap. Ini adalah isu keselamatan bangsa.
Ancaman besar yang satu ini saatnya menjadi momentum bagi Presiden Prabowo Subianto untuk tampil sebagai pemimpin yang tidak hanya bicara politik, ekonomi, dan pertahanan, tetapi juga tampil memimpin agenda besar penyelamatan lingkungan hidup nasional.
Presiden perlu mengangkat isu ini sebagai isu strategis negara. Bukan sekadar program kementerian. Bukan sekadar seremoni tanam pohon. Bukan sekadar pidato Hari Lingkungan Hidup. Tetapi, sebagai agenda besar lintas sektor.
Sebab krisis iklim pada akhirnya juga menjadi ancaman pertahanan. Negara bisa terguncang bukan hanya oleh invasi militer, tetapi juga oleh krisis pangan, krisis air, bencana berulang, kebakaran hutan, dan kota-kota pesisir yang makin terdesak oleh laut.
Jangan tunggu alam benar-benar “mengamuk” baru kita sadar. Politik boleh ramai. Ekonomi boleh dikejar. Infrastruktur boleh dibangun. Tetapi keselamatan lingkungan harus menjadi prioritas.
Inilah saatnya Presiden tampil memimpin agenda besar penyelamatan bumi dari Indonesia. Bukan hanya untuk citra politik, tetapi untuk warisan sejarah. Sebab pemimpin besar tidak hanya dikenang karena membangun jalan, bendungan, atau kawasan industri.
Pemimpin besar juga dikenang karena mampu menyelamatkan masa depan generasi yang belum lahir.
Percuma politik stabil, percuma ekonomi tumbuh, kalau alam sudah tidak sanggup lagi menopang kehidupan.
Jakarta, Juli 2026
Oleh: Toto Izul Fatah, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat






