Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar
Ada banyak orang yang mengejar kesuksesan, tetapi sedikit yang mengejar kebijaksanaan. Padahal, kesuksesan hanya mengubah cara hidup seseorang, sedangkan kebijaksanaan mengubah cara seseorang menjalani hidup. Harta dapat diwariskan, ilmu dapat diajarkan, tetapi hikmah hanya lahir dari hati yang mengenal Tuhannya.
Di antara mutiara hikmah yang tak lekang oleh zaman adalah wasiat Luqman al-Hakim kepada putranya:
قال لقمان الحكيم لابنه:
“يا بني، إنه من يرحم يُرحم، ومن يصمت يسلم، ومن يقل الخير يغنم، ومن لا يملك لسانه يندم.”
“Wahai anakku, siapa yang menebarkan kasih sayang akan memperoleh kasih sayang. Siapa yang mampu diam akan selamat. Siapa yang berkata baik akan memperoleh keberuntungan. Dan siapa yang tidak mampu menjaga lisannya, niscaya akan berakhir dalam penyesalan.”
Kalimat ini begitu singkat, tetapi memuat peta kehidupan yang utuh. Luqman tidak mengajarkan bagaimana menjadi orang kaya, terkenal, atau berkuasa. Ia justru mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang bernilai. Sebab kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh apa yang dimilikinya, melainkan oleh apa yang terpancar dari hatinya.
*Pertama*, “Siapa yang menyayangi, akan disayangi.” Hidup ini sesungguhnya bekerja dengan hukum timbal balik. Kasih sayang yang kita tebarkan tidak pernah benar-benar hilang; ia akan kembali dalam bentuk pertolongan, doa, kepercayaan, atau cinta yang Allah tanamkan di hati manusia. Sebaliknya, hati yang dipenuhi kebencian hanya akan melahirkan kesepian, meskipun dikelilingi banyak orang. Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat kekurangan orang yang mampu berempati.
*Kedua*, “Siapa yang mampu diam, akan selamat.” Di zaman media sosial, semua orang merasa harus berbicara tentang segala hal. Padahal tidak semua yang diketahui harus diucapkan, tidak semua yang benar harus disampaikan saat itu juga, dan tidak semua perdebatan layak dimenangkan. Banyak persahabatan hancur karena satu kalimat. Banyak keluarga retak karena satu ucapan. Banyak karier runtuh karena satu unggahan. Diam bukan selalu tanda kelemahan; sering kali ia adalah puncak kedewasaan.
*Ketiga*, “Siapa yang berkata baik, akan beruntung.” Kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf. Ia bisa menjadi cahaya yang menghidupkan harapan atau api yang membakar perasaan. Satu kalimat yang baik dapat mengubah jalan hidup seseorang, sementara satu ucapan yang buruk dapat meninggalkan luka seumur hidup. Karena itu, orang bijak tidak mengukur ucapannya dari seberapa keras suaranya, tetapi dari seberapa besar manfaatnya.
*Keempat*, “Siapa yang tidak mampu menjaga lisannya, akan menyesal.” Penyesalan paling panjang sering kali bukan karena apa yang kita lakukan, melainkan karena apa yang pernah kita ucapkan. Luka akibat pedang mungkin sembuh, tetapi luka akibat lisan sering menetap di dalam hati. Betapa banyak permusuhan, fitnah, perceraian, bahkan peperangan bermula dari kata-kata yang tidak dijaga.
Nasihat Luqman ini terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern. Kita hidup di era ketika jari lebih cepat daripada hati, komentar lebih cepat daripada klarifikasi, dan penilaian lebih cepat daripada pemahaman. Banyak orang sibuk menjaga citra, tetapi lupa menjaga lisan. Padahal, kualitas seseorang lebih mudah dikenali dari ucapannya daripada dari penampilannya.
Sesungguhnya empat pesan Luqman dapat diringkas dalam satu kalimat: jadilah manusia yang menghadirkan kasih sayang, menjaga lisan, menebarkan kebaikan, dan mengendalikan ego. Siapa yang mampu melakukan itu, ia bukan hanya dicintai manusia, tetapi juga dimuliakan Allah.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memperbaiki wajah agar tampak indah di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki lisan agar tetap indah di hadapan Allah. Padahal, wajah hanya dilihat sesaat, sedangkan ucapan dapat dikenang seumur hidup.
Hati yang penuh kasih akan melahirkan tangan yang gemar menolong. Akal yang dipenuhi hikmah akan melahirkan lisan yang terjaga. Dan lisan yang terjaga adalah cermin jiwa yang bertakwa. Sebab manusia tidak paling sering jatuh karena kakinya yang tergelincir, tetapi karena lisannya yang tak terkendali.
#Wallahu A’lam Bishawab






