Oleh; Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS/ Kalimantan Selatan I
Dalam kehidupan manusia, ada sifat-sifat yang menjadi sebab keselamatan dunia dan akhirat, namun ada pula sifat yang justru menjadi pintu kehancuran. Rasulullah ﷺ telah memberikan pedoman yang sangat jelas melalui hadits yang diriwayatkan dari sahabat mulia Abu Hurairah tentang tiga perkara yang menyelamatkan dan tiga perkara yang membinasakan.
Hadits ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi merupakan peta kehidupan seorang muslim agar tetap berada di jalan yang benar di tengah fitnah dunia, godaan hawa nafsu, dan kecenderungan manusia untuk terjerumus dalam kesombongan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3)
Ayat ini menegaskan bahwa keselamatan hidup bukan ditentukan oleh kekuatan harta, jabatan, atau kekuasaan, melainkan oleh ketakwaan dan ketaatan kepada Allah.
Hadits Tentang Tiga Perkara
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ada tiga hal yang menyelamatkan dan tiga hal yang membinasakan. Adapun yang menyelamatkan adalah: takwa kepada Allah dalam keadaan rahasia dan terang-terangan, berkata benar dalam keadaan ridha dan marah, dan sederhana dalam keadaan kaya dan miskin. Adapun yang membinasakan adalah: hawa nafsu yang diikuti, kekikiran yang ditaati, dan seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri, dan itu adalah yang paling parah di antaranya.” (HR. Ath-Thabrani)
Hadits ini menggambarkan bahwa inti keselamatan manusia ada pada pengendalian diri dan keikhlasan hati, sedangkan sumber kehancuran berasal dari ego dan nafsu yang tidak terkendali.
Tiga Perkara yang Menghapus Dosa
1. Menyempurnakan Wudhu dalam Keadaan Sulit
Wudhu bukan hanya membersihkan anggota tubuh, tetapi juga membersihkan dosa-dosa kecil manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila seorang muslim berwudhu lalu membasuh wajahnya, keluarlah dosa-dosa dari wajahnya bersama air.” (HR. Muslim)
Menyempurnakan wudhu ketika cuaca dingin, ketika malas, atau dalam keadaan sulit menunjukkan kesungguhan iman seseorang. Orang yang tetap menjaga kesucian meskipun berat berarti memiliki cinta kepada ibadah.
Dalam sejarah para ulama salaf, banyak di antara mereka yang tetap menjaga wudhu bahkan sepanjang malam untuk mempertahankan kedekatan dengan Allah. Imam Nawawi dikenal sebagai ulama yang hampir tidak pernah meninggalkan wudhu.
Di era modern, ketika manusia dimanjakan teknologi dan kenyamanan, menjaga wudhu justru menjadi simbol kesungguhan spiritual. Banyak orang mudah bangun untuk pekerjaan dunia, tetapi berat bangun mengambil air wudhu untuk sholat malam.
2. Menunggu Sholat Berjamaah Berikutnya
Menunggu dari satu sholat ke sholat berikutnya menunjukkan keterikatan hati seseorang kepada masjid.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. At-Taubah: 18)
Orang yang hatinya terpaut dengan masjid mendapat kedudukan istimewa. Dalam hadits tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari kiamat, salah satunya adalah:
“Seseorang yang hatinya bergantung pada masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada masa Rasulullah ﷺ, para sahabat rela datang lebih awal dan menunggu sholat berjamaah. Mereka memahami bahwa waktu di masjid bukan waktu yang hilang, melainkan investasi akhirat.
3. Berjalan Menuju Sholat Berjamaah
Setiap langkah menuju masjid bernilai pahala dan penghapus dosa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap langkah yang diayunkan menuju sholat berjamaah akan mengangkat satu derajat dan menghapus satu kesalahan.” (HR. Muslim)
Dalam sejarah Islam, ada sahabat yang rumahnya sangat jauh dari masjid, tetapi ia tetap berjalan kaki. Ketika ditawari kendaraan, ia menolak karena berharap pahala dari setiap langkahnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Islam mendidik umatnya agar menghargai proses perjuangan dalam ibadah, bukan hanya hasil akhirnya.
Tiga Perkara yang Mengangkat Derajat
1. Memberi Makan
Memberi makan orang lain merupakan akhlak mulia yang sangat dianjurkan.
Allah SWT berfirman:
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.” (QS. Al-Insan: 8)
Memberi makan bukan hanya soal sedekah besar. Bahkan seteguk air dan sebutir kurma bisa menjadi sebab keselamatan seseorang.
Rasulullah ﷺ terkenal sangat dermawan. Dalam sejarah, beliau tidak pernah menolak orang yang meminta selama beliau memiliki sesuatu untuk diberikan.
Tradisi memberi makan juga menjadi budaya mulia umat Islam sejak dahulu, terlihat dalam pesantren, masjid, majelis ilmu, dan rumah-rumah kaum muslimin saat Ramadhan.
2. Menyebarkan Salam
Salam bukan sekadar ucapan, tetapi doa keselamatan dan perekat persaudaraan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman, dan tidak sempurna iman hingga saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian.” (HR. Muslim)
Hari ini, banyak hubungan rusak karena manusia kehilangan adab menyapa dan mendoakan. Padahal salam adalah simbol kerendahan hati dan kasih sayang.
Dalam sejarah Islam, para sahabat terbiasa memberi salam bahkan kepada anak-anak kecil sebagai bentuk pendidikan akhlak.
3. Sholat Malam Ketika Manusia Tidur
Qiyamul lail adalah ibadah orang-orang saleh.
Allah SWT berfirman:
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap.” (QS. As-Sajdah: 16)
Sholat malam melatih keikhlasan karena dilakukan saat manusia lain terlelap. Tidak ada pujian manusia, tidak ada sorotan kamera, hanya hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Banyak tokoh besar Islam menjaga tahajud sebagai sumber kekuatan ruhiyah mereka. Salahuddin Al-Ayyubi dikenal menjaga sholat malam bahkan di tengah peperangan.
Tiga Perkara yang Menyelamatkan
1. Adil Ketika Marah Maupun Senang
Keadilan sering hilang ketika emosi menguasai manusia. Saat marah, seseorang mudah zalim. Saat senang, seseorang mudah berat sebelah.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Keadilan adalah fondasi peradaban. Banyak kerajaan hancur bukan karena miskin, tetapi karena hilangnya keadilan.
Umar bin Khattab dikenal sebagai simbol keadilan. Bahkan musuh-musuh Islam mengakui integritas kepemimpinannya.
2. Sederhana Saat Kaya Maupun Miskin
Kesederhanaan adalah tanda hati yang tidak diperbudak dunia. Rasulullah ﷺ hidup sederhana meskipun beliau mampu memiliki kemewahan. Tikar kasar membekas di tubuh beliau saat tidur.
Kesederhanaan bukan berarti miskin, tetapi tidak berlebihan dan tidak sombong. Hari ini banyak manusia mengukur kehormatan dengan kemewahan, padahal dalam Islam kemuliaan diukur dari ketakwaan.
3. Takut Kepada Allah di Tempat Ramai Maupun Sendiri
Inilah hakikat keikhlasan dan muraqabah: merasa diawasi Allah kapan pun dan di mana pun.
Orang yang takut kepada Allah ketika sendirian berarti memiliki iman yang sejati, karena ia tidak bergantung pada penilaian manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Di zaman media sosial, manusia sering menjaga citra di depan publik tetapi lalai ketika sendiri. Padahal ukuran iman bukan penampilan di hadapan manusia, melainkan keadaan hati di hadapan Allah.
Tiga Perkara yang Membinasakan
1. Kekikiran yang Dituruti
Kikir bukan hanya enggan memberi uang, tetapi juga pelit ilmu, pelit bantuan, dan pelit kebaikan.
Allah SWT berfirman:
“Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Banyak konflik keluarga, pertikaian warisan, dan permusuhan terjadi karena sifat kikir.
2. Hawa Nafsu yang Dituruti
Hawa nafsu menjadi berbahaya ketika dijadikan pemimpin hidup.
Allah SWT berfirman:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Kerusakan moral, korupsi, perzinaan, penyalahgunaan kekuasaan, hingga kehancuran bangsa sering berawal dari hawa nafsu yang tidak dikendalikan.
3. Kagum terhadap Diri Sendiri
Inilah penyakit paling berbahaya: ujub atau merasa diri paling hebat.
Kesombongan adalah penyakit pertama yang menyebabkan Iblis terusir dari rahmat Allah ketika menolak sujud kepada Nabi Adam AS.
Orang yang ujub sulit menerima nasihat, merasa paling benar, dan meremehkan orang lain.
Rasulullah ﷺ menyebut sifat ini paling berat karena ia bisa menghancurkan amal-amal kebaikan yang telah dilakukan.
Penutup
Hadits tentang tiga perkara ini merupakan pedoman hidup yang sangat lengkap. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa keselamatan bukan sekadar banyaknya ibadah ritual, tetapi juga kebersihan hati, pengendalian hawa nafsu, kejujuran, kesederhanaan, dan keikhlasan.
Di tengah kehidupan modern yang penuh pencitraan, materialisme, dan egoisme, pesan hadits ini menjadi semakin relevan. Dunia hari ini membutuhkan manusia-manusia yang takut kepada Allah ketika sendiri, adil ketika berkuasa, sederhana ketika kaya, dan rendah hati ketika dipuji.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk orang-orang yang diselamatkan oleh iman dan dijauhkan dari sifat-sifat yang membinasakan. Aamiin.






