Teu Honcewang: Spirit Sunda yang Sedang Dihidupkan KDM

Oleh: Toto Izul Fatah, Direktur Eksekuutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Di tengah dunia yang bergerak cepat, dan dipenuhi generasi yang makin mudah lelah secara mental, Jawa Barat justru sedang menyaksikan sesuatu yang menarik.
Yaitu, sebuah upaya untuk menghidupkan kembali spirit lama orang Sunda yang nyaris terlupakan. Spirit itu bernama: Teu Honcewang.

Dalam bahasa Sunda, teu honcewang berarti tidak gentar, tidak goyah, tidak mudah mundur oleh keadaan. Ia bukan sekadar kalimat dalam syair lagu tradisional Sunda.

Lebih dari itu, ia adalah watak hidup. Cara berpikir. Cara berdiri menghadapi hidup. Dan spirit itu, hari ini, sedang terus dihidupkan kembali oleh Dedi Mulyadi yang akrab dipanggil KDM (Kang Dedi Mulyadi).

Syair kawih Sunda Teu Honcewang sesungguhnya menyimpan pesan filosofis yang sangat dalam. Ketika baitnya berbunyi: “Teu honcewang sumoreang…”
itu bukan hanya ajakan berani maju menghadapi musuh dalam peperangan fisik.

Tetapi juga keberanian melawan rasa malas, ketakutan, kehilangan jati diri, bahkan keberanian melawan zaman yang perlahan mencabut akar budaya manusia dari tanah kelahirannya sendiri.

Dalam konteks inilah, langkah KDM yang juga Gubernur Jawa Barat itu menjadi relevan. Banyak orang melihat apa yang dilakukan KDM sebatas romantisme budaya. Sebut saja, kirab budaya, wayang golek, kacapi suling, kaulinan barudak lembur, pakaian adat, sampai ritual penghormatan kepada alam dan leluhur.

Padahal sesungguhnya, yang sedang ia bangun jauh lebih besar dari itu. Yakni, membangkitkan kembali mentalitas Sunda yang kuat, tangguh, dan tidak tercerabut dari akar peradabannya.

Sebab leluhur Sunda sejatinya bukan bangsa lemah. Mereka adalah bangsa yang hidup dengan etika tinggi, sangat menghormati alam, tetapi juga memiliki heroisme kuat dalam melawan penindasan.

Sejarah mencatat bagaimana rakyat Sunda berkali-kali melakukan perlawanan terhadap kolonialisme, baik Belanda maupun Jepang. Dari perang, gerilya, hingga perlawanan budaya.

Spirit itulah yang terasa hadir dalam filosofi teu honcewang. Bahwa hidup tidak boleh mudah menyerah. Bahwa manusia tidak boleh kehilangan harga diri. Bahwa generasi muda harus punya keberanian menghadapi tantangan zaman.

Hari ini, tantangan itu memang bukan lagi penjajahan bersenjata. Tetapi penjajahan modern justru jauh lebih halus dan berbahaya.

Yaitu, berupa kemalasan berpikir, kecanduan hiburan instan, budaya viral tanpa isi, krisis mental, hilangnya hormat kepada orang tua, dan generasi yang lebih akrab dengan layar dibanding alam semesta tempat ia hidup.

Ironisnya, banyak anak muda hari ini ingin sukses cepat, kaya cepat, terkenal cepat, tetapi tidak tahan proses. Sedikit gagal langsung menyerah. Sedikit dihina langsung depresi. Sedikit sulit langsung menyalahkan keadaan.

Padahal, leluhur Sunda mengajarkan hal berbeda. Mereka hidup dekat dengan gunung, sungai, sawah, dan hutan.

Alam mendidik mereka tentang kesabaran, ketekunan, dan daya tahan. Menanam padi mengajarkan proses. Memelihara leuweung mengajarkan keseimbangan. Menghormati ibu mengajarkan kasih sayang. Dan teu honcewang mengajarkan keberanian menghadapi hidup.

Karena itu, ketika KDM terus berbicara tentang budaya Sunda, tentang eling ka indung, tentang bambu, tentang sungai, tentang leuweung, bahkan tentang kaulinan tradisional, sesungguhnya ia sedang menyampaikan pesan besar. Bahwa modernitas tidak boleh membuat manusia kehilangan ruhnya.

Dan mungkin inilah yang membuat banyak rakyat Jawa Barat merasa dekat dengannya. Mereka melihat KDM bukan sekadar gubernur administratif, tetapi simbol kerinduan terhadap figur pemimpin yang mampu menghidupkan kembali rasa percaya diri budaya Sunda yang lama tertidur.

Tentu saja, budaya tidak cukup hanya dipentaskan di panggung. Spirit teu honcewang harus diterjemahkan dalam kerja nyata.

Mulai dalam bentuk pendidikan yang membentuk karakter kuat, generasi muda yang kreatif dan pekerja keras, keberanian melawan korupsi, keberanian menjaga alam, dan keberanian menjaga martabat daerahnya sendiri.

Sebab jika tidak, Sunda hanya akan tinggal menjadi ornamen folklor, bukan lagi kekuatan peradaban. Dan mungkin, di tengah zaman yang makin kehilangan arah ini, syair sederhana itu terasa seperti pesan paling penting dari leluhur: “Teu honcewang…” Jangan mudah goyah. Jangan mudah menyerah.

Sebab bangsa yang kehilangan spirit juangnya, cepat atau lambat akan kehilangan masa depannya.

Jakarta, September 2026

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *