Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ada sebuah hal yang perlu kita waspadai dalam perjalanan menuntut ilmu agama.
Bukan hanya kebodohan.Bukan hanya kurangnya membaca. Bukan hanya sedikitnya menghadiri majelis ilmu.
Tetapi ada sesuatu yang kadang jauh lebih halus dan lebih berbahaya: Ilmu yang membuat kita merasa lebih baik daripada orang lain.
Kita mulai belajar agama. Mulai mengenal ayat Al-Qur’an. Mulai memahami hadis. Mulai membaca kitab. Mulai mengikuti kajian. Mulai mengetahui hukum-hukum fikih. Mulai mengenal istilah halal dan haram. Mulai memahami mana yang sunnah, mana yang wajib, mana yang makruh dan mana yang haram.
Semua itu tentu merupakan nikmat yang sangat besar. Tetapi di sinilah ujian berikutnya dimulai.
Sebab ilmu bukan hanya menguji seberapa banyak yang kita ketahui. Ilmu juga menguji bagaimana sikap kita setelah mengetahui.
Apakah setelah berilmu kita menjadi semakin tawadhu? Ataukah justru semakin mudah merendahkan orang lain? Apakah setelah memahami agama kita semakin lembut? Ataukah semakin kasar kepada orang yang berbeda? Apakah setelah banyak membaca dalil kita semakin takut kepada Allah? Ataukah justru semakin sibuk mencari kesalahan manusia? Apakah ilmu membuat kita semakin sering menangis karena merasa banyak kekurangan? Ataukah membuat kita semakin senang melihat kekurangan orang lain?
Di situlah letak persoalannya.
ILMU SEHARUSNYA MEMBUAT KITA SEMAKIN TUNDUK
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)
Perhatikan. Allah tidak mengatakan bahwa orang berilmu adalah orang yang paling banyak berbicara.
Bukan pula orang yang paling cepat menyalahkan. Bukan orang yang paling sering berdebat. Bukan orang yang paling banyak memenangkan perdebatan.
Tetapi ilmu yang benar akan melahirkan khasyah, rasa takut dan tunduk kepada Allah.
Semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, seharusnya semakin kecil dirinya di hadapan Allah.
Semakin banyak ia memahami luasnya ilmu agama, seharusnya semakin sadar bahwa ilmu yang dimilikinya masih sangat sedikit.
Semakin banyak membaca kitab, seharusnya semakin sadar bahwa dirinya belum mengetahui banyak hal.
Semakin memahami kehidupan para ulama, seharusnya semakin malu untuk menyombongkan diri.
Karena orang yang benar-benar berilmu biasanya tidak mudah berkata: “Saya paling benar.”
Ia lebih berhati-hati mengatakan: “Menurut pemahaman yang saya pelajari…”
Ia tidak tergesa-gesa mengatakan: “Kamu salah!”
Ia belajar terlebih dahulu: “Apakah saya sudah memahami persoalan ini dengan benar?”
Ia tidak mudah menuduh. Ia tidak mudah mencela. Ia tidak mudah merendahkan. Sebab ia tahu bahwa ilmu adalah amanah.
KADANG KITA BUKAN SEDANG MEMBELA AGAMA, TETAPI SEDANG MEMBELA EGO
Ini bagian yang paling sulit untuk kita akui. Kadang kita merasa sedang membela kebenaran. Padahal yang sedang kita bela adalah ego.
Kita merasa sedang membela sunnah. Padahal mungkin kita sedang mempertahankan gengsi. Kita merasa sedang membela agama. Padahal kita tidak rela pendapat kita dikritik.
Kita merasa sedang berdakwah. Padahal cara bicara kita justru membuat orang menjauh. Kita merasa sedang mengingatkan.
Padahal kita sedang mempermalukan seseorang di hadapan orang banyak. Ini bukan berarti kebenaran tidak boleh disampaikan.
Kebenaran tetap harus disampaikan. Nasihat tetap harus diberikan. Amar ma’ruf nahi munkar tetap memiliki tempat yang mulia.
Tetapi Islam tidak hanya mengajarkan apa yang kita sampaikan. Islam juga mengajarkan bagaimana cara menyampaikannya.
Kebenaran yang disampaikan tanpa adab dapat berubah menjadi sesuatu yang melukai. Nasihat yang disampaikan tanpa hikmah dapat berubah menjadi penghinaan.
Ilmu yang tidak disertai kerendahan hati dapat berubah menjadi kesombongan.
BARU TAHU SATU DALIL, SUDAH MERASA PALING BENAR
Ada fenomena yang sering terjadi. Seseorang baru membaca satu ayat. Lalu merasa sudah memahami seluruh persoalan. Baru membaca satu hadis.
Lalu menganggap semua orang yang berbeda dengannya pasti sesat.
Baru mengikuti beberapa kajian. Lalu mulai merasa dirinya lebih paham daripada orang yang telah puluhan tahun belajar.
Baru mengetahui satu pendapat ulama. Lalu mencela orang yang mengikuti pendapat ulama lain.
Padahal ilmu agama sangat luas. Perbedaan pendapat dalam perkara-perkara tertentu juga telah lama dikenal dalam khazanah keilmuan Islam.
Para ulama memiliki metodologi. Mereka memahami bahasa Arab. Mereka memahami konteks hadis. Mereka memahami ilmu tafsir. Mereka memahami ushul fikih. Mereka mengetahui derajat hadis. Mereka mengetahui nasikh dan mansukh. Mereka memahami maqashid syariah. Mereka mengetahui pendapat ulama lain.
Dan yang tidak kalah penting: mereka memiliki adab dalam berbeda pendapat.
Karena itu, semakin kita belajar, seharusnya semakin kita berhati-hati. Bukan semakin berani menghakimi.
ILMU TANPA ADAB BISA MENJADI BUMERANG
Ada orang yang semakin banyak belajar, tetapi semakin sulit meminta maaf. Ada orang yang semakin banyak membaca hadis, tetapi semakin mudah menyakiti hati orang.
Lalu, ada orang yang semakin sering hadir di majelis ilmu, tetapi semakin suka merendahkan orang yang belum memahami agama. Ada orang yang hafal banyak dalil, tetapi lisannya tidak mampu menjaga kehormatan saudaranya. Ada orang yang rajin berbicara tentang akhlak, tetapi marah ketika dirinya dinasihati. Ada orang yang gemar mengingatkan orang lain tentang kesalahan, tetapi tidak suka ketika kekurangannya sendiri diingatkan.
Maka kita perlu bertanya: Untuk apa ilmu yang kita miliki? Apakah untuk mendapatkan pujian? Apakah untuk terlihat paling alim?
Pertanyaan berikutnya, apakah untuk memenangkan perdebatan? Apakah untuk membuat orang lain merasa bodoh? Ataukah untuk mendekatkan diri kepada Allah?
Karena ilmu yang benar bukan sekadar membuat kita tahu. Ilmu yang benar seharusnya membuat kita berubah.
Dari kasar menjadi lembut. Dari sombong menjadi tawadhu. Dari mudah marah menjadi sabar. Dari suka mencela menjadi suka mendoakan. Dari merasa paling benar menjadi lebih banyak melakukan introspeksi.
PESANTREN MENGAJARKAN BAHWA ILMU DAN ADAB TIDAK BOLEH DIPISAHKAN
Dalam tradisi pesantren, seorang santri tidak hanya diajarkan membaca kitab. Ia juga diajarkan bagaimana duduk di hadapan guru.
Bagaimana berbicara kepada orang yang lebih tua. Bagaimana menghormati sesama. Bagaimana menjaga lisan. Bagaimana meminta izin. Bagaimana mendengarkan. Bagaimana menghargai perbedaan. Bagaimana menempatkan ilmu dalam kehidupan.
Karena sejak dahulu para ulama memahami satu hal: Ilmu tanpa adab dapat kehilangan keberkahannya.
KH Hasyim Asy’ari bahkan memberikan perhatian khusus terhadap persoalan adab dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, yang membahas etika orang berilmu dan para penuntut ilmu.
Ini menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam tidak pernah memandang ilmu hanya sebagai kumpulan informasi.
Ilmu harus masuk ke dalam akhlak. Ilmu harus terlihat dalam perilaku. Ilmu harus memengaruhi cara seseorang berbicara. Ilmu harus memengaruhi cara seseorang memperlakukan manusia. Ilmu harus membuat seseorang semakin dekat dengan Allah.
MENGAPA ULAMA BESAR JUSTRU SERING BERHATI-HATI?
Semakin kita mengenal kisah para ulama, kita akan menemukan sesuatu yang menarik. Mereka sangat berhati-hati dalam menjawab persoalan agama.
Tidak semua pertanyaan langsung dijawab. Tidak semua persoalan dijawab dengan “haram” atau “halal” secara tergesa-gesa.
Bahkan ada ulama yang ketika ditanya tentang suatu masalah mengatakan: “Saya tidak tahu.”
Jawaban itu bukan tanda kebodohan. Justru sering kali itu tanda ilmu.
Karena orang yang benar-benar mengetahui luasnya ilmu akan menyadari keterbatasan dirinya. Sebaliknya, orang yang baru mengetahui sedikit terkadang merasa sudah mengetahui semuanya.
Seperti orang yang berdiri di tepi laut lalu melihat air sejauh mata memandang. Ia mungkin merasa telah melihat seluruh laut.
Padahal yang dilihatnya hanya permukaan. Begitulah ilmu manusia.
Seberapa banyak pun ilmu yang kita miliki, tetap ada sesuatu yang belum kita ketahui.
Allah berfirman:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan, ada Yang Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 76)
Ayat ini seharusnya menjadi rem bagi kesombongan kita.
JANGAN SAMPAI ILMU MEMBUAT KITA GEMAR MENCARI KESALAHAN ORANG
Ada orang yang ketika melihat saudaranya melakukan kebaikan, yang pertama kali dicari justru kekurangannya.
Orang lain sedekah: “Tapi sedekahnya begini…”
Orang lain rajin ke masjid: “Tapi akhlaknya belum bagus…”
Orang lain belajar agama: “Dia kan baru belajar…”
Orang lain memakai pakaian yang dianggap sesuai sunnah: “Belum tentu hatinya baik…”
Orang lain berbeda pendapat: “Dia salah.”
Seolah-olah tugas hidup kita adalah menjadi polisi bagi seluruh manusia. Padahal kita sendiri masih memiliki begitu banyak kekurangan.
Kita mungkin mengetahui kesalahan orang lain. Tetapi kita tidak mengetahui seluruh perjuangan hidupnya.
Kita melihat satu dosa yang ia lakukan. Kita tidak tahu berapa kali ia menangis dalam kesendirian. Kita melihat satu kesalahannya. Kita tidak tahu amal kebaikan apa yang ia sembunyikan. Kita melihat masa lalunya. Kita tidak tahu bagaimana akhir hidupnya.
Dan yang paling penting: kita tidak mengetahui bagaimana keadaan hati seseorang di hadapan Allah. Karena itu, berhati-hatilah ketika menilai manusia.
JANGAN MENGANGGAP DIRI LEBIH MULIA HANYA KARENA LEBIH DULU BELAJAR
Mungkin kita sudah belajar agama sejak kecil. Sementara saudara kita baru mulai belajar hari ini.
Jangan sombong. Bisa jadi ia baru memulai perjalanan yang akan membawanya jauh lebih dekat kepada Allah daripada kita.
Mungkin hari ini dia belum memahami banyak hal. Tetapi bisa jadi beberapa tahun ke depan ia menjadi seseorang yang sangat mencintai ilmu.
Bisa jadi orang yang hari ini kita remehkan justru menjadi orang yang kelak lebih ikhlas daripada kita.Bisa jadi orang yang hari ini kita anggap biasa saja justru memiliki amal tersembunyi yang sangat besar di sisi Allah.
Dan bisa jadi seseorang yang kita anggap jauh dari agama justru memiliki akhir hidup yang sangat baik.
Karena manusia tidak mengetahui akhir perjalanan seseorang. Yang kita tahu hanya hari ini.
Sedangkan Allah mengetahui seluruh perjalanan hidupnya.
DAKWAH BUKAN AJANG MEMPERMALUKAN
Kalau kita menemukan saudara melakukan kesalahan, jangan langsung merasa memiliki hak untuk mempermalukannya. Nasihat yang baik tidak selalu harus disampaikan di depan banyak orang.
Terkadang empat mata jauh lebih menyentuh daripada seribu kata di depan kerumunan.
Terkadang suara yang lembut lebih kuat daripada suara yang keras.
Terkadang sebuah pelukan lebih bermakna daripada ceramah panjang.
Terkadang kalimat: “Saudaraku, saya juga masih belajar. Mari kita sama-sama memperbaiki diri.” jauh lebih efektif daripada: “Kamu salah! Kamu tidak paham agama!”
Karena tujuan dakwah bukan membuat orang malu. Tujuan dakwah adalah mengajak manusia semakin dekat kepada Allah.
Jika cara kita menyampaikan kebenaran justru membuat seseorang semakin membenci agama, maka kita perlu mengevaluasi cara kita.
Bukan kebenarannya. Tetapi cara kita menyampaikannya.
TEGAS ITU BOLEH, KASAR TIDAK PERLU
Kita juga tidak boleh salah memahami tawadhu. Tawadhu bukan berarti membiarkan kemungkaran.
Tawadhu bukan berarti tidak boleh tegas. Tawadhu bukan berarti semua pendapat harus dianggap sama.
Kita tetap boleh mengatakan sesuatu itu benar. Kita tetap boleh mengatakan sesuatu itu salah. Kita tetap boleh menjelaskan halal dan haram berdasarkan ilmu yang kita miliki.
Tetapi ada perbedaan besar antara: tegas dengan kasar, mengoreksi dengan menghina, menasihati dengan mempermalukan, berbeda pendapat dengan membenci, dan mempertahankan prinsip dengan menyombongkan diri.
Orang yang berilmu harus tahu batasnya. Ia menjaga kebenaran tanpa kehilangan akhlak. Ia mempertahankan prinsip tanpa merendahkan manusia.
Ia menyampaikan dalil tanpa merasa dirinya pemilik hidayah. Karena hidayah adalah milik Allah.
JANGAN SAMPAI KITA HAFAL BANYAK HADIS, TETAPI LUPA MENJAGA LISAN
Rasulullah ﷺ mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga lisan.
Lisan itu kecil. Tetapi akibatnya bisa sangat besar. Satu kalimat dapat membuat seseorang menangis.
Satu komentar dapat menghancurkan harga diri seseorang. Satu tuduhan dapat merusak nama baik. Satu ejekan dapat membekas bertahun-tahun. Satu unggahan media sosial dapat tersebar ke ribuan orang.
Karena itu, semakin kita memiliki ilmu, seharusnya semakin kita menjaga ucapan. Jangan semua yang kita ketahui harus kita katakan.
Jangan semua yang kita pikirkan harus kita tuliskan. Jangan semua kesalahan orang harus kita bongkar. Jangan semua perbedaan harus menjadi pertengkaran.
Ada saatnya berbicara. Ada saatnya diam.
Dan salah satu tanda kedewasaan ilmu adalah mengetahui: kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
ILMU SEHARUSNYA MEMBUAT KITA LEBIH BANYAK BERCERMIN
Sebelum mengoreksi orang lain, koreksi diri sendiri. Sebelum bertanya: “Mengapa dia seperti itu?”
tanyakan: “Mengapa saya begitu mudah menilai?”
Sebelum mengatakan: “Dia kurang ilmu.”
tanyakan: “Apakah ilmu saya sudah membuat saya berakhlak?”
Sebelum mengatakan: “Dia tidak memahami agama.”
tanyakan: “Apakah saya sudah memahami agama dengan benar?”
Sebelum merasa lebih tinggi: “Apakah Allah benar-benar memandang saya lebih baik daripada dia?”
Kita tidak tahu. Bisa jadi orang yang kita anggap rendah justru lebih tinggi derajatnya di sisi Allah.
Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ukuran kemuliaan bukan banyaknya pengikut. Bukan panjangnya gelar.
Bukan banyaknya buku yang dibaca. Bukan banyaknya ceramah. Bukan banyaknya komentar. Bukan banyaknya orang yang menganggap kita pintar.
Ukuran kemuliaan adalah ketakwaan. Dan ketakwaan tidak bisa kita ukur hanya dari penampilan seseorang.
Hati manusia adalah wilayah yang tidak kita kuasai.
ADA ILMU YANG MENAMBAH PENGETAHUAN, ADA ILMU YANG MENAMBAH KETAKUTAN KEPADA ALLAH
Tidak semua orang yang banyak tahu otomatis menjadi orang yang paling baik.
Sebab pengetahuan dan ketakwaan adalah dua hal yang harus berjalan bersama.
Kita bisa mengetahui banyak ayat tetapi belum tentu mengamalkannya. Kita bisa mengetahui banyak hadis tetapi belum tentu akhlaknya mengikuti Nabi ﷺ. Kita bisa mengetahui hukum-hukum agama tetapi belum tentu hati kita bersih dari kesombongan. Kita bisa mengetahui dosa ghibah tetapi masih gemar membicarakan orang. Kita bisa mengetahui larangan menghina tetapi masih suka mengejek.
Dan kita bisa mengetahui keutamaan memaafkan tetapi sulit memaafkan. Kita bisa mengetahui bahaya riya tetapi masih senang dipuji. Kita bisa mengetahui bahaya ujub tetapi masih merasa lebih baik daripada orang lain.
Maka ilmu harus terus diturunkan dari kepala menuju hati. Kemudian dari hati turun kepada perbuatan. Itulah ilmu yang hidup.
JANGAN HANYA BERTANYA: “APA YANG SUDAH SAYA KETAHUI?”
Sesekali tanyakan: “Apa yang sudah berubah dalam diri saya setelah mengetahui semua ini?” Setelah belajar tentang sabar, apakah kita lebih sabar? Setelah belajar tentang tawadhu, apakah kita lebih rendah hati? Setelah belajar tentang sedekah, apakah tangan kita lebih ringan memberi?
Dan setelah belajar tentang ukhuwah, apakah kita lebih mudah memaafkan? Setelah belajar tentang menjaga lisan, apakah komentar kita semakin lembut? Setelah belajar tentang dosa ghibah, apakah kita semakin takut membicarakan aib orang? Setelah belajar tentang kematian, apakah kita semakin mempersiapkan bekal?
Jika jawabannya belum, jangan berhenti belajar. Tetapi jangan pula merasa sudah selesai. Karena menuntut ilmu adalah perjalanan seumur hidup.
SEMakin BANYAK ILMU, SEMAKIN BESAR TANGGUNG JAWAB
Ilmu adalah amanah. Ketika kita mengetahui sesuatu yang benar, kita memiliki tanggung jawab untuk mengamalkannya.
Jangan sampai kita menjadi orang yang pandai menjelaskan kesabaran tetapi tidak sabar.
Pandai menjelaskan keikhlasan tetapi senang dipuji. Pandai menjelaskan tawadhu tetapi mudah merendahkan. Pandai menjelaskan ukhuwah tetapi mudah memutus persaudaraan.Pandai menjelaskan bahaya fitnah tetapi ikut menyebarkan berita yang belum jelas. Pandai menjelaskan larangan ghibah tetapi menikmati cerita tentang keburukan orang lain.
Ini adalah peringatan untuk diri kita sendiri. Bukan untuk menunjuk orang lain.
Karena ketika kita berbicara tentang penyakit hati, orang pertama yang harus kita periksa adalah: diri sendiri.
JANGAN SAMPAI KITA MENJADI “PENGHAFAL AGAMA”, TETAPI TIDAK MENJADI “PELAKU AGAMA”
Agama bukan hanya sesuatu yang kita bicarakan. Agama adalah sesuatu yang kita jalani. Islam bukan sekadar identitas. Islam harus terlihat dalam akhlak.
Kalau kita rajin mengaji tetapi keluarga merasa tidak nyaman dengan lisan kita, ada yang perlu diperbaiki.
Kalau kita sering berbicara tentang sunnah tetapi tetangga merasa terganggu dengan perilaku kita, ada yang perlu dievaluasi.
Kalau kita banyak bicara tentang akhlak tetapi mudah memaki orang, ada yang perlu dibenahi.
Kalau kita merasa paling paham agama tetapi orang lain merasa takut berbicara dengan kita, mungkin ilmu kita perlu ditemani lebih banyak adab.
Karena Rasulullah ﷺ adalah teladan. Beliau memiliki ilmu. Beliau juga memiliki kelembutan. Beliau memiliki ketegasan. Beliau juga memiliki kasih sayang. Beliau menyampaikan kebenaran. Beliau juga menjaga kehormatan manusia.
Maka belajar agama seharusnya membuat kita semakin berusaha meneladani akhlak beliau ﷺ.
ILMU YANG BERKAH MEMBUAT HATI SEMAKIN LEMBUT
Ada tanda-tanda ilmu yang bermanfaat. Salah satunya adalah hati yang semakin lembut.
Ketika melihat orang berdosa, kita tidak langsung merasa: “Untung saya tidak seperti dia.”
Tetapi kita berkata dalam hati: “Ya Allah, selamatkan saya dari dosa itu dan berikan dia jalan kembali.”
Ketika melihat orang belum berhijrah, kita tidak menghina. Kita mendoakan.
Ketika melihat orang belum memahami agama, kita tidak mencaci. Kita membimbing.
Ketika melihat orang melakukan kesalahan, kita tidak merasa lebih suci.
Kita takut: “Jangan-jangan saya juga bisa terjatuh dalam kesalahan yang sama.” Inilah hati yang mulai belajar.
BISA JADI ORANG YANG KITA ANGGAP JAUH JUSTru SEDANG MENDEKAT KEPADA ALLAH
Jangan terlalu cepat memberikan label kepada manusia. Seseorang yang hari ini belum rajin beribadah mungkin besok berubah.
Seseorang yang hari ini hidupnya berantakan mungkin suatu hari menjadi ahli ibadah.
Seseorang yang dahulu jauh dari masjid mungkin suatu hari justru menjadi orang yang paling rajin berada di dalamnya.
Seseorang yang dahulu banyak melakukan kesalahan mungkin suatu hari menjadi pendakwah yang menginspirasi banyak orang.
Karena manusia bisa berubah. Pintu taubat masih terbuka. Selama nyawa belum sampai tenggorokan, jangan pernah meremehkan kemungkinan seseorang mendapatkan hidayah.
Dan jangan pernah terlalu percaya diri dengan keadaan diri sendiri. Kita belum tahu bagaimana akhir hidup kita.
Karena itu, jangan sombong dengan keadaan hari ini. Mintalah kepada Allah agar kita istiqamah sampai akhir hayat.
JANGAN MERASA SUDAH SAMPAI, KARENA PERJALANAN KITA BELUM SELESAI
Kita semua masih belajar. Yang tua masih belajar. Yang muda masih belajar. Yang sudah lama mengaji masih belajar. Yang baru mengenal agama juga sedang belajar.
Tidak ada manusia yang mengetahui seluruh ilmu.
Maka jangan malu mengatakan: “Saya belum tahu.”
Jangan malu mengatakan: “Saya perlu belajar lagi.”
Jangan malu mengatakan: “Saya mungkin keliru.”
Dan jangan malu meminta maaf. Justru keberanian mengakui kekurangan merupakan bagian dari kedewasaan.
Orang yang benar-benar berilmu tidak takut mengatakan: “Saya tidak tahu.”
Karena ia tidak sedang membangun citra. Ia sedang mencari kebenaran.
JANGAN MENJADIKAN ILMU SEBAGAI TANGGA UNTUK MENINGGIKAN DIRI
Bayangkan ilmu seperti tangga. Seharusnya tangga membawa kita semakin dekat kepada Allah.
Tetapi jangan sampai tangga itu justru kita gunakan untuk naik di atas kepala orang lain.
Jangan menjadikan ilmu sebagai alat untuk berkata: “Saya lebih pintar.” “Saya lebih alim.” “Saya lebih sunnah.” “Saya lebih paham.” “Saya lebih dekat kepada Allah.”
Sebab ketika kalimat-kalimat itu mulai tumbuh di hati, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: “Siapa sebenarnya yang sedang saya cari ridhanya?” Allah atau manusia? Kebenaran atau kemenangan? Dakwah atau popularitas? Nasihat atau pelampiasan? Ilmu atau ego?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting karena penyakit hati sangat halus. Kadang kita tidak sadar bahwa ego telah menyusup ke dalam amal yang tampaknya baik.
JUMAT ADALAH MOMEN UNTUK KEMBALI MERENUNG
Di hari Jumat yang penuh keberkahan ini, mari kita gunakan waktu untuk memperbaiki diri.
Bukan hanya memperbanyak membaca. Bukan hanya memperbanyak membagikan tulisan. Bukan hanya memperbanyak mengirim nasihat kepada orang lain.
Tetapi mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah ilmu saya sudah membuat saya lebih dekat kepada Allah?
Apakah ilmu saya sudah membuat saya lebih sayang kepada manusia?
Apakah ilmu saya sudah membuat saya lebih menjaga lisan?
Apakah ilmu saya sudah membuat saya lebih mudah meminta maaf?
Apakah ilmu saya sudah membuat saya lebih mudah memaafkan?
Apakah ilmu saya sudah membuat saya berhenti merasa paling suci?
Apakah ilmu saya sudah membuat saya lebih takut kepada dosa?
Apakah ilmu saya sudah membuat saya semakin sering menangisi kekurangan diri sendiri?
Jika belum, jangan berhenti belajar. Tetapi sertakan ilmu itu dengan adab.
KITA TIDAK BUTUH ILMU YANG MEMBUAT KITA TERLIHAT HEBAT
Kita membutuhkan ilmu yang membuat kita menjadi hamba Allah yang lebih baik.
Tidak perlu semua orang tahu berapa banyak kitab yang kita baca. Tidak perlu semua orang tahu berapa banyak kajian yang kita ikuti.
Tidak perlu semua orang tahu berapa banyak hadis yang kita hafal. Tidak perlu semua orang tahu berapa banyak amal yang kita lakukan.
Sebab bisa jadi amal yang tidak diketahui manusia justru lebih dekat kepada keikhlasan.
Kita tidak sedang berlomba menjadi manusia yang paling terlihat alim. Kita sedang berusaha menjadi manusia yang diridhai Allah. Dan itu jauh lebih penting.
PENUTUP: ILMU YANG SEJATI MEMBUAT KITA SEMAKIN RENDAH HATI
Akhirnya, mari kita ingat sebuah renungan sederhana: Ilmu seharusnya membuat kita semakin takut kepada Allah, bukan semakin berani merendahkan manusia.
Ilmu seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati.
Ilmu seharusnya membuat kita semakin lembut, bukan semakin kasar.
Ilmu seharusnya membuat kita semakin hati-hati berbicara, bukan semakin banyak menghakimi.
Ilmu seharusnya membuat kita semakin sibuk memperbaiki diri, bukan semakin sibuk mencari kesalahan orang lain.
Ilmu seharusnya membuat kita berkata: “Saya masih banyak kekurangan.”
Bukan: “Saya lebih baik daripada kalian.”
Karena pada akhirnya, yang akan kita bawa menghadap Allah bukan seberapa sering kita memenangkan perdebatan.
Bukan seberapa banyak orang yang mengakui kita pintar. Bukan seberapa banyak orang yang memuji ilmu kita.
Tetapi: iman, amal, keikhlasan, dan akhlak kita.
Maka setiap kali kita mendapatkan ilmu baru, semoga bukan hanya pengetahuan kita yang bertambah.
Semoga kesombongan kita berkurang. Semoga ego kita mengecil. Semoga hati kita semakin lembut. Semoga lisan kita semakin terjaga. Semoga kita semakin mudah memaafkan. Semoga kita semakin takut menyakiti orang lain. Semoga kita semakin dekat kepada Allah.
Dan semoga ilmu yang kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat, ilmu yang berkah, ilmu yang melahirkan amal, dan ilmu yang menjadi sebab keselamatan kita di dunia dan akhirat.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan: “Seberapa banyak ilmu yang sudah saya miliki?”
Tetapi: “Seberapa jauh ilmu itu telah mengubah diri saya menjadi hamba Allah yang lebih baik?”
Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang tawadhu, lisan yang terjaga, amal yang ikhlas, dan akhlak yang mulia.
Semoga Allah menjauhkan kita dari penyakit ujub, riya, takabbur, merasa paling suci, merasa paling benar, dan merendahkan orang lain.
Semoga Allah menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai cahaya yang menerangi jalan hidup kita, bukan sebagai alasan untuk meninggikan diri di hadapan sesama manusia.
اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا
“Ya Allah, berilah kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami, ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat bagi kami, dan tambahkanlah ilmu kepada kami.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.





