Sedekah yang Sampai ke Tangan Allah: Jalan Keikhlasan, Keberkahan dan Keselamatan Hidup

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

“Seandainya orang yang bersedekah mengetahui bahwasanya sedekah itu sampai di tangan Allah sebelum di tangan orang miskin, maka sungguh kenikmatan memberi lebih besar daripada kenikmatan menerima.”

Perkataan yang sangat dalam ini bukan sekadar kalimat motivasi, melainkan cermin dari pemahaman tauhid, keikhlasan, dan keyakinan seorang mukmin terhadap janji Allah SWT. Dalam kehidupan yang semakin materialistis, manusia sering merasa berat untuk memberi.

Banyak orang takut miskin karena sedekah, khawatir hartanya berkurang, atau merasa bahwa memberi adalah kehilangan. Padahal dalam pandangan iman, sedekah bukanlah kehilangan, tetapi perpindahan harta dari dunia yang fana menuju simpanan abadi di sisi Allah SWT.

Kalimat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengajarkan bahwa tangan seorang fakir hanyalah perantara. Hakikatnya, sedekah diterima oleh Allah SWT terlebih dahulu sebelum sampai kepada manusia. Karena itu, seorang mukmin yang memahami rahasia ini akan merasakan kebahagiaan besar ketika memberi, sebagaimana seorang pecinta yang bahagia saat dapat mempersembahkan sesuatu kepada yang dicintainya.

Sedekah dalam Pandangan Al-Qur’an

Allah SWT berkali-kali memuliakan orang yang bersedekah. Bahkan dalam banyak ayat, Allah menyandingkan sedekah dengan iman dan ketakwaan. Salah satu ayat paling agung tentang sedekah terdapat dalam Surah Al-Baqarah:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Ayat ini menunjukkan bahwa satu sedekah tidak pernah bernilai satu di sisi Allah. Allah melipatgandakannya hingga tujuh ratus kali lipat bahkan lebih. Dalam logika dunia, memberi berarti berkurang. Tetapi dalam logika langit, memberi berarti bertambah.

Allah SWT juga berfirman:

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 245)

Perhatikan bagaimana Allah menggunakan istilah “meminjamkan kepada Allah”. Padahal Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apa pun dari hamba-Nya. Namun ayat ini menunjukkan kemuliaan orang yang bersedekah. Allah memuliakan sedekah seolah-olah seseorang sedang memberikan pinjaman kepada-Nya, dan Allah pasti mengembalikannya dengan balasan yang jauh lebih besar.

Sedekah Tidak Mengurangi Harta

Banyak orang takut bersedekah karena khawatir miskin. Padahal Rasulullah SAW telah memberikan jaminan:

“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)

Sabda Nabi SAW ini bukan teori, melainkan kebenaran yang telah dibuktikan sepanjang sejarah umat manusia. Betapa banyak orang yang hidupnya justru lapang setelah gemar memberi. Rezekinya datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Usahanya dimudahkan. Keluarganya diberi ketenangan. Hatinya dipenuhi keberkahan.

Kadang harta memang tampak berkurang secara angka, tetapi keberkahan hidup bertambah. Ada orang dengan penghasilan besar tetapi hidupnya penuh masalah. Sebaliknya ada orang yang sederhana namun hidupnya tenang, sehat, dan penuh kecukupan. Itulah keberkahan yang Allah berikan kepada ahli sedekah.

Sedekah adalah Bukti Keimanan

Dalam bahasa Arab, kata “shadaqah” berasal dari kata “sidq” yang berarti kebenaran. Artinya sedekah menjadi bukti benarnya iman seseorang. Orang yang yakin kepada Allah tidak akan takut miskin karena memberi.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim)

Bukti apa? Bukti iman. Sebab manusia secara naluriah mencintai harta. Ketika seseorang rela mengeluarkan hartanya demi mencari ridha Allah, itu menunjukkan bahwa cintanya kepada Allah lebih besar daripada cintanya kepada dunia.

Allah SWT berfirman:

“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Ayat ini mengajarkan bahwa sedekah terbaik bukan dari sisa yang tidak dibutuhkan, tetapi dari sesuatu yang dicintai. Di situlah letak ujian keikhlasan.

Allah Menerima Sedekah dengan Tangan Kanan-Nya

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seseorang bersedekah dengan sesuatu yang baik dan Allah tidak menerima kecuali yang baik, melainkan Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sangat sesuai dengan perkataan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Sedekah ternyata tidak sekadar berpindah dari tangan kita ke tangan orang miskin. Ada kemuliaan besar di baliknya. Allah sendiri yang menerimanya.

Bayangkan jika seseorang diberi kesempatan memberikan hadiah langsung kepada seorang raja, tentu ia akan sangat bahagia. Maka bagaimana jika yang menerima sedekah itu adalah Allah Rabb semesta alam?

Karena itu para ulama salaf sangat menikmati sedekah. Mereka merasa bahwa saat memberi, sebenarnya mereka sedang bertransaksi dengan Allah.

Sedekah Memadamkan Murka Allah

Dalam kehidupan, dosa manusia begitu banyak. Setiap hari mata melihat yang haram, lisan mengucapkan yang sia-sia, hati dipenuhi riya dan kesombongan. Sedekah menjadi salah satu amalan yang mampu menghapus dosa-dosa tersebut.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)

Betapa banyak musibah tertahan karena sedekah. Betapa banyak bala yang tidak jadi turun karena seseorang memberi makan fakir miskin. Kadang manusia tidak menyadari bahwa sedekah kecil yang ia keluarkan menjadi sebab keselamatan hidupnya.

Sedekah Membuka Pintu Rezeki

Allah SWT berfirman:

“Dan barang apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya.” (QS. Saba’: 39)

Ayat ini adalah jaminan langsung dari Allah. Tidak ada sedekah yang sia-sia. Semua akan diganti, bahkan dengan cara yang tidak pernah diduga.

Ada orang yang bersedekah lalu Allah mudahkan usahanya. Ada yang sedekah lalu disembuhkan penyakitnya. Ada yang sedekah lalu rumah tangganya menjadi harmonis. Ada yang sedekah lalu anak-anaknya menjadi saleh.

Karena rezeki bukan hanya uang. Rezeki adalah segala nikmat yang Allah berikan: kesehatan, ketenangan, keluarga yang baik, sahabat yang tulus, ilmu yang bermanfaat, dan hati yang damai.

Sedekah dan Keikhlasan

Nilai sedekah bukan terletak pada jumlahnya, tetapi pada keikhlasannya. Bisa jadi satu ribu rupiah dari orang miskin lebih mulia di sisi Allah dibanding miliaran rupiah dari orang kaya yang riya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Satu dirham mengungguli seratus ribu dirham.”

Para sahabat bertanya: “Bagaimana bisa?”

Beliau menjawab: “Seseorang memiliki dua dirham, lalu ia bersedekah dengan satu dirham. Sedangkan orang lain memiliki harta yang banyak lalu mengambil sebagian kecil hartanya untuk bersedekah.” (HR. An-Nasa’i)

Inilah rahasia amal. Allah melihat hati, bukan sekadar angka.

Sedekah Secara Sembunyi-Sembunyi

Allah SWT memuji orang yang bersedekah diam-diam:

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 271)

Sedekah rahasia memiliki keutamaan luar biasa karena lebih dekat kepada keikhlasan. Bahkan dalam hadis tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat, salah satunya adalah:

“Seseorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini bukan sekadar tentang menyembunyikan nominal, tetapi menjaga hati agar tidak terkotori riya.

Orang Dermawan Dekat dengan Allah

Rasulullah SAW bersabda:

“Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka.” (HR. Tirmidzi)

Sebaliknya, sifat bakhil menjauhkan manusia dari rahmat Allah. Orang pelit hidup dalam ketakutan kehilangan. Hatinya sempit. Jiwanya gelisah. Ia terus menghitung dunia tetapi lupa menghitung amal.

Sedangkan orang dermawan hidup dengan kelapangan hati. Ia percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki.

Sedekah kepada Keluarga

Sedekah terbaik bukan selalu kepada orang jauh. Kadang yang paling membutuhkan justru keluarga sendiri.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sedekah kepada orang miskin bernilai satu sedekah, sedangkan kepada kerabat bernilai dua: sedekah dan silaturahmi.” (HR. Tirmidzi)

Membantu saudara yang kesulitan, membahagiakan orang tua, memberi nafkah kepada anak dan istri dengan niat ibadah, semuanya bernilai sedekah.

Sedekah Tidak Harus Kaya

Setan sering membisikkan bahwa sedekah hanya untuk orang kaya. Padahal Rasulullah SAW mengajarkan bahwa setiap orang bisa bersedekah.

Beliau bersabda:

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadis lain:

“Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya pintu sedekah sangat luas. Tenaga, ilmu, nasihat baik, bahkan wajah yang ramah adalah sedekah.

Sedekah dan Pertolongan Allah

Rasulullah SAW bersabda:

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

Orang yang suka membantu orang lain sebenarnya sedang membuka pintu pertolongan Allah untuk dirinya sendiri. Ketika ia susah, Allah akan mengirimkan orang-orang baik untuk menolongnya.

Sedekah Menjadi Naungan di Hari Kiamat

Hari kiamat adalah hari yang sangat panas dan mengerikan. Matahari didekatkan. Manusia tenggelam dalam keringat sesuai amalnya. Pada hari itu, sedekah menjadi naungan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap orang berada dalam naungan sedekahnya hingga diputuskan perkara manusia.” (HR. Ahmad)

Bayangkan betapa berharganya sedekah pada hari itu. Harta yang dahulu kita cintai ternyata tidak bisa dibawa mati kecuali yang telah disedekahkan.

Kisah Para Sahabat dalam Bersedekah

Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah menyerahkan seluruh hartanya di jalan Allah. Ketika Rasulullah SAW bertanya apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya, beliau menjawab:

“Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya.”

Sedangkan Umar bin Khattab membawa setengah hartanya karena ingin mengungguli Abu Bakar. Namun ia tetap tidak mampu melampaui keikhlasan Abu Bakar.

Utsman bin Affan membeli sumur untuk kaum Muslimin dan membiayai pasukan perang Tabuk dengan hartanya.

Mereka memahami bahwa harta hanyalah titipan. Yang abadi adalah apa yang diberikan di jalan Allah.

Sedekah sebagai Investasi Akhirat

Manusia bekerja keras demi masa depan dunia: menabung, membeli rumah, membangun usaha. Namun sedikit yang berpikir tentang investasi akhirat.

Padahal sedekah adalah investasi yang keuntungannya tidak pernah rugi.

Allah SWT berfirman:

“Apa saja yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

Mobil akan rusak. Rumah akan hancur. Jabatan akan hilang. Tetapi sedekah akan tetap hidup bahkan setelah seseorang meninggal dunia.

Sedekah Jariyah

Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Sedekah jariyah adalah amal yang terus mengalir pahalanya. Membangun masjid, membantu pendidikan anak yatim, menyediakan air bersih, mencetak Al-Qur’an, membantu dakwah, semuanya menjadi cahaya yang terus menerangi kubur seseorang.

Bahaya Menunda Sedekah

Banyak orang ingin bersedekah nanti saat kaya. Padahal kematian tidak menunggu kaya.

Allah SWT menggambarkan penyesalan manusia menjelang kematian:

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau menangguhkan kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa ketika ajal datang, salah satu penyesalan terbesar manusia adalah kurang bersedekah.

Sedekah dan Kebahagiaan Hati

Mengapa memberi terasa membahagiakan? Karena manusia diciptakan bukan hanya untuk menerima, tetapi juga memberi. Jiwa yang sehat merasakan kebahagiaan saat bermanfaat bagi orang lain.

Orang yang egois mungkin memiliki banyak harta tetapi hidupnya hampa. Sedangkan orang yang gemar berbagi merasakan ketenangan batin yang sulit dijelaskan.

Inilah makna perkataan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah: nikmat memberi lebih besar daripada menerima. Sebab ketika memberi, hati seorang mukmin sedang dekat dengan Allah.

Sedekah di Waktu Sulit

Sedekah paling mulia bukan ketika lapang, tetapi ketika sulit.

Allah SWT memuji:

“Orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit.” (QS. Ali Imran: 134)

Memberi saat kekurangan menunjukkan keimanan yang kuat. Orang seperti ini yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan dirinya.

Sedekah Mengundang Doa Malaikat

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada satu hari pun ketika pagi tiba melainkan dua malaikat turun. Salah satunya berdoa: ‘Ya Allah berikan ganti kepada orang yang berinfak.’ Dan yang lain berkata: ‘Ya Allah binasakan harta orang yang menahan hartanya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa dahsyat doa malaikat. Setiap hari para malaikat mendoakan orang-orang yang dermawan.

Sedekah dan Kepedulian Sosial

Islam bukan agama individualis. Sedekah membangun solidaritas sosial. Ketika orang kaya peduli kepada fakir miskin, maka tumbuh kasih sayang dalam masyarakat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Thabrani)

Sedekah menghapus kecemburuan sosial dan memperkuat persaudaraan.

Sedekah dan Keajaiban Hidup

Banyak kisah nyata tentang keajaiban sedekah. Ada orang yang rutin memberi lalu sembuh dari penyakit berat. Ada yang terlilit utang lalu Allah bukakan jalan keluar setelah bersedekah. Ada yang rumah tangganya hampir hancur lalu Allah satukan kembali karena kepeduliannya kepada orang lain.

Bukan berarti sedekah adalah “alat tukar” dengan Allah. Tetapi Allah mencintai hamba yang dermawan dan Allah Maha Kuasa membukakan jalan pertolongan bagi mereka.

Meneladani Rasulullah SAW

Muhammad adalah manusia paling dermawan. Dalam hadis disebutkan bahwa beliau lebih dermawan daripada angin yang berhembus.

Beliau memberi tanpa takut miskin. Bahkan sering kali rumah beliau tidak memiliki makanan, tetapi ketika ada orang meminta, beliau tetap memberi.

Inilah teladan sejati. Kemuliaan manusia bukan pada seberapa banyak ia memiliki, tetapi seberapa banyak ia memberi manfaat.

Sedekah dan Akhlak Mulia

Sedekah melatih manusia menjadi rendah hati. Orang yang memberi dengan ikhlas menyadari bahwa hartanya hanyalah titipan Allah.

Karena itu Allah melarang menyakiti penerima sedekah:

“Janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan penerima.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Sedekah sejati dilakukan dengan kelembutan dan penghormatan kepada penerima.

Penutup: Jadilah Hamba yang Gemar Memberi

Dunia ini sementara. Harta yang kita banggakan suatu hari akan ditinggalkan. Yang menemani di alam kubur hanyalah amal saleh.

Perkataan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengingatkan kita bahwa sedekah adalah kehormatan besar. Allah menerima sedekah itu sebelum sampai ke tangan manusia.

Karena itu jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu sempurna untuk bersedekah. Berilah walau sedikit. Bantulah walau sederhana. Ringankan beban orang lain semampunya.

Boleh jadi satu sedekah kecil yang ikhlas menjadi sebab: diampuninya dosa, dilapangkannya rezeki, diselamatkannya keluarga, diangkatnya musibah, dan dimasukkannya kita ke dalam surga Allah SWT.

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim dalam Islam

Di antara bentuk sedekah yang paling dicintai Allah SWT adalah menyantuni anak yatim. Islam menempatkan anak yatim pada kedudukan yang sangat mulia. Mereka adalah amanah kemanusiaan yang harus dijaga, dibimbing, dan dimuliakan. Karena itu, orang yang peduli kepada yatim dijanjikan kedudukan tinggi di sisi Allah SWT.

Muhammad bersabda:

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga seperti ini.”

Lalu beliau mengisyaratkan dengan dua jarinya yang dirapatkan. (HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan betapa dekatnya kedudukan penyantun yatim dengan Rasulullah SAW di surga. Kedekatan itu bukan karena banyaknya harta, tetapi karena besarnya kasih sayang dan kepedulian kepada anak-anak yang kehilangan ayah mereka.

Allah SWT juga memberikan peringatan keras kepada orang yang mengabaikan anak yatim. Dalam Surah Al-Ma’un Allah berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim.” (QS. Al-Ma’un: 1-2)

Ayat ini menegaskan bahwa kepedulian terhadap yatim bukan hanya urusan sosial, tetapi bagian dari keimanan. Orang yang kasar kepada yatim bahkan disebut sebagai pendusta agama. Sebaliknya, memuliakan yatim adalah tanda hidupnya hati dan kuatnya iman.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berkali-kali memerintahkan agar umat Islam menjaga dan memperhatikan yatim:

“Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah: memperbaiki keadaan mereka adalah baik.” (QS. Al-Baqarah: 220)

Ayat ini mengandung pesan bahwa membantu yatim bukan hanya memberi makan atau uang, tetapi juga memperbaiki kehidupan mereka: pendidikan, kasih sayang, akhlak, dan masa depan mereka.

Rumah Terbaik adalah Rumah yang Memuliakan Yatim

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik rumah kaum Muslimin adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan seburuk-buruk rumah kaum Muslimin adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan buruk.” (HR. Ibnu Majah)

Betapa mulianya rumah yang dipenuhi kasih sayang kepada yatim. Rumah seperti itu didatangi rahmat Allah, didoakan malaikat, dan dipenuhi keberkahan.

Karena itu, menyantuni yatim bukan hanya membantu mereka, tetapi juga membersihkan hati kita sendiri. Anak yatim mengajarkan manusia tentang empati, kelembutan, dan rasa syukur.

Melembutkan Hati dengan Menyayangi Yatim

Ada seseorang datang kepada Rasulullah SAW mengeluhkan kerasnya hati. Maka Nabi SAW bersabda:

“Jika engkau ingin hatimu lembut, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menunjukkan bahwa kasih sayang kepada yatim memiliki kekuatan spiritual yang besar. Banyak manusia hari ini hidup dengan hati yang keras, mudah marah, sombong, dan kehilangan empati. Salah satu obatnya adalah mendekat kepada anak-anak yatim, mendengar kisah mereka, membantu kebutuhan mereka, dan membahagiakan mereka.

Sedekah kepada Yatim Menjadi Cahaya di Akhirat

Setiap makanan yang diberikan kepada yatim, setiap pakaian yang disumbangkan, setiap biaya pendidikan yang dibantu, semuanya akan menjadi cahaya amal di akhirat kelak.

Bahkan dalam banyak riwayat disebutkan bahwa orang yang membahagiakan yatim akan dibahagiakan Allah pada hari kiamat.

Karena itu, jangan pernah meremehkan bantuan kecil kepada anak yatim. Bisa jadi satu paket makanan, satu buku sekolah, satu pelukan kasih sayang, atau satu doa tulus menjadi sebab turunnya rahmat Allah dalam hidup kita.

Yatim Bukan Objek Belas Kasihan, Tetapi Amanah Kemuliaan

Islam tidak mengajarkan memandang yatim sebagai beban. Mereka adalah amanah mulia. Banyak tokoh besar lahir sebagai yatim. Bahkan Muhammad sendiri adalah seorang yatim sejak kecil.

Allah SWT berfirman:

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS. Ad-Dhuha: 6)

Karena Rasulullah SAW pernah merasakan menjadi yatim, beliau sangat mencintai anak yatim. Maka siapa yang memuliakan yatim, sejatinya sedang meneladani akhlak Rasulullah SAW.

Jadikan Kepedulian kepada Yatim sebagai Jalan Hidup

Di zaman penuh kesenjangan sosial ini, kepedulian kepada yatim harus terus dihidupkan. Jangan biarkan anak-anak yatim kehilangan pendidikan, kasih sayang, dan masa depan hanya karena kelalaian orang-orang yang mampu.

Menyantuni yatim bukan sekadar program sosial, tetapi ibadah mulia yang mendekatkan manusia kepada Allah SWT.

Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mencintai anak yatim, memuliakan mereka, menjaga hak-haknya, dan menghidupkan semangat berbagi kepada sesama.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ringan tangan, lembut hati, ikhlas dalam memberi, dan istiqamah dalam menolong sesama.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Donasi dan Santunan Yatim bisa melalui Rekening BSI: YAYASAN SAHABAT YATIM AL MAHABBAH: 7285233498

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *