Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS /Kalimantan Selatan I
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih mempertemukan kita dengan bulan mulia, bulan penuh keberkahan, bulan pengorbanan dan ketundukan kepada Allah, yakni bulan Dzulhijjah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Di antara karunia terbesar Allah kepada umat Islam adalah diberikannya waktu-waktu istimewa yang di dalamnya pahala dilipatgandakan, dosa diampuni, doa-doa dikabulkan, dan rahmat Allah turun dengan begitu luas. Salah satu momen agung itu adalah hari Tarwiyah dan hari Arafah.
Hari Tarwiyah jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah, sementara hari Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Pada tahun 2026 ini, Tarwiyah bertepatan dengan 25 Mei 2026 dan Arafah pada 26 Mei 2026. Dua hari ini bukan sekadar pergantian kalender Islam biasa, melainkan momentum spiritual yang sangat dahsyat bagi umat Islam di seluruh dunia.
Banyak orang menunggu malam tahun baru dengan pesta dan gegap gempita. Namun orang-orang beriman menunggu hari Arafah dengan air mata taubat, dzikir, puasa, dan doa yang mengguncang langit.
Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah
Sebelum membahas Tarwiyah dan Arafah, penting memahami bahwa keduanya berada dalam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah yang merupakan hari-hari paling dicintai Allah untuk beramal saleh.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah dibanding sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” (HR. Bukhari)
Para sahabat bertanya: “Bahkan melebihi jihad di jalan Allah?”
Beliau menjawab: “Ya, bahkan melebihi jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.”
Hadits ini menunjukkan betapa luar biasanya 10 hari pertama Dzulhijjah. Para ulama menjelaskan bahwa di dalamnya berkumpul ibadah-ibadah besar sekaligus: shalat, puasa, sedekah, dzikir, haji, qurban, dan doa.
Bahkan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa tidak ada hari lain yang menyamai kemuliaan 10 hari Dzulhijjah karena seluruh induk ibadah berkumpul di dalamnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan bersumpah dengan 10 malam pertama Dzulhijjah dalam Al-Qur’an:
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)
Mayoritas ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa “malam yang sepuluh” adalah 10 malam pertama Dzulhijjah.
Kalau Allah sudah bersumpah dengan suatu waktu, berarti waktu tersebut memiliki kemuliaan luar biasa.
Hari Tarwiyah: Awal Gelombang Spiritual Menuju Puncak Penghambaan
Hari Tarwiyah adalah tanggal 8 Dzulhijjah. Secara sejarah, hari ini menjadi awal perjalanan jamaah haji menuju Mina sebelum wukuf di Arafah.
Kata “Tarwiyah” berasal dari kata “rawa” yang berarti membawa bekal air. Pada masa dahulu, jamaah haji menyiapkan persediaan air sebelum menuju Arafah karena perjalanan yang panjang dan berat.
Namun makna Tarwiyah bukan sekadar persiapan fisik. Ia adalah simbol persiapan hati.
Tarwiyah mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah memerlukan bekal iman, kesabaran, dan keikhlasan.
Hari ini menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:
1. Sudahkah hati ini siap bertemu Allah?
2. Sudahkah dosa-dosa disesali?
3. Sudahkah shalat diperbaiki?
4. Sudahkah hubungan dengan orang tua dibenahi?
5. Sudahkah lisan dijaga dari ghibah dan fitnah?
Tarwiyah adalah momen muhasabah besar. Puasa Tarwiyah dan Semangat Para Ulama
Meskipun hadits khusus tentang pahala puasa Tarwiyah diperselisihkan tingkat kekuatannya oleh para ulama, namun para salafus shalih tetap sangat semangat beribadah pada hari itu karena ia termasuk dalam 10 hari terbaik Dzulhijjah.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa puasa pada 8 Dzulhijjah termasuk amal saleh yang sangat dianjurkan.
Puasa Tarwiyah menjadi latihan spiritual sebelum puasa Arafah. Ia ibarat pemanasan ruhani sebelum memasuki lautan ampunan Allah pada hari berikutnya.
Betapa banyak orang yang hidupnya berubah karena momentum taubat di bulan Dzulhijjah.
Betapa banyak hati yang sebelumnya keras menjadi lembut karena dzikir di hari-hari mulia ini.
Hari Arafah: Hari Paling Agung dalam Setahun
Kalau Ramadhan memiliki Lailatul Qadar, maka Dzulhijjah memiliki hari Arafah.
Hari Arafah adalah hari ketika jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah dengan pakaian ihram yang sama, tanpa membedakan jabatan, kekayaan, warna kulit, maupun status sosial.
Di sana manusia seakan sedang menyaksikan miniatur Padang Mahsyar. Semua menangis. Semua berharap. Semua takut. Semua memohon ampunan Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Haji itu adalah Arafah.” (HR. Tirmidzi)
Ini menunjukkan bahwa wukuf di Arafah adalah inti ibadah haji. Namun keutamaan Arafah tidak hanya untuk jamaah haji. Seluruh umat Islam di dunia mendapatkan limpahan rahmatnya.
Hari Disempurnakannya Agama
Hari Arafah memiliki kedudukan sangat istimewa karena pada hari itulah Allah menyempurnakan agama Islam.
Allah berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Ayat ini turun ketika Rasulullah sedang wukuf di Arafah pada haji wada’.
Umar bin Khattab pernah didatangi seorang Yahudi yang berkata:
“Wahai Umar, ada satu ayat dalam kitab kalian yang jika turun kepada kami kaum Yahudi, maka kami akan menjadikan hari turunnya sebagai hari raya.”
Umar bertanya: “Ayat yang mana?”
Ia menjawab ayat: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian…”
Umar berkata: “Kami mengetahui hari dan tempat turunnya ayat itu. Ayat itu turun kepada Rasulullah pada hari Jumat ketika beliau sedang berada di Arafah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan… Hari ketika agama Islam disempurnakan adalah hari Arafah. Bagaimana mungkin seorang mukmin melewatkan hari sebesar itu tanpa ibadah?
Puasa Arafah: Penghapus Dosa Dua Tahun
Salah satu amalan terbesar pada hari Arafah bagi yang tidak berhaji adalah puasa Arafah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim)
Betapa murahnya kasih sayang Allah. Hanya dengan satu hari puasa, Allah menghapus dosa dua tahun.
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil. Sedangkan dosa besar tetap membutuhkan taubat nasuha.
Namun hadits ini sudah cukup menunjukkan betapa luar biasanya pahala puasa Arafah.
Bayangkan jika seseorang memiliki dosa karena: lalai shalat, berkata kasar, menyakiti orang tua, ghibah, iri hati, lalai berdzikir, terlalu cinta dunia.
Lalu ia berpuasa Arafah dengan penuh keikhlasan dan taubat. Maka Allah Yang Maha Rahman membuka pintu ampunan-Nya.
Hari Terbanyak Allah Membebaskan Hamba dari Neraka
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka dibanding hari Arafah.” (HR. Muslim)
Hadits ini membuat para ulama menangis ketika memasuki Arafah. Sebab siapa yang tidak ingin dibebaskan dari api neraka?
Di dunia manusia takut api kecil. Takut rumah terbakar. Takut terkena panas. Lalu bagaimana dengan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu?
Karena itu para salaf sangat bersungguh-sungguh pada hari Arafah. Ada yang menangis sejak pagi hingga maghrib. Ada yang memperbanyak istighfar ribuan kali. Ada yang terus membaca Al-Qur’an. Ada yang memperbanyak sedekah.
Mereka sadar: mungkin ini Arafah terakhir dalam hidup mereka.
Dzikir Terbaik di Hari Arafah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang aku ucapkan serta para nabi sebelumku adalah: LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR.” (HR. Tirmidzi)
Kalimat tauhid menjadi dzikir terbaik pada hari Arafah. Di tengah dunia yang penuh kesombongan manusia, Allah mengajarkan bahwa inti kehidupan hanyalah tauhid.
Bukan harta. Bukan jabatan. Bukan popularitas. Semua akan hilang. Yang tersisa hanyalah iman dan amal saleh.
Fakta Sejarah: Para Nabi dan Spirit Pengorbanan
Dzulhijjah juga mengingatkan kita pada sejarah agung Nabi Ibrahim Alaihissalam.
Beliau diuji untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail.
Allah berfirman: “Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu…” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Ini bukan sekadar kisah penyembelihan. Ini kisah ketaatan total.
Nabi Ibrahim mengajarkan: kalau Allah memerintah, maka seorang mukmin berkata: “Sami’na wa atha’na.”
Kita mungkin tidak diminta menyembelih anak. Namun kita diminta menyembelih: ego, kesombongan, cinta dunia, kemalasan ibadah, hawa nafsu, dan dosa-dosa yang terus dipelihara.
Momentum Taubat Nasional dan Pribadi
Hari Arafah seharusnya menjadi momentum taubat besar-besaran umat Islam.
Negeri-negeri Muslim hari ini menghadapi banyak masalah: korupsi, kerusakan moral, fitnah, permusuhan, kemiskinan, ketimpangan, dan krisis akhlak.
Semua itu tidak cukup diselesaikan dengan teknologi dan politik semata. Umat membutuhkan kembali kepada Allah.
Allah berfirman: “Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)
Ayat ini adalah rumus kebangkitan peradaban. Iman dan takwa melahirkan keberkahan.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan di Hari Tarwiyah dan Arafah?
1. Puasa Sunnah
Jangan lewatkan puasa Tarwiyah dan terutama puasa Arafah.
2. Perbanyak Istighfar
Ucapkan: “Astaghfirullah wa atuubu ilaih.” Sebanyak-banyaknya.
3. Perbanyak Takbir
Mulai 1 Dzulhijjah hingga hari tasyrik dianjurkan membaca: Allahu Akbar. Alhamdulillah. Laa ilaaha illallah
4. Sedekah
Sedekah di hari mulia memiliki nilai luar biasa.
5. Membaca Al-Qur’an
Jadikan Dzulhijjah sebagai bulan kembali dekat dengan Al-Qur’an.
6. Mendoakan Orang Tua
Jangan egois hanya berdoa untuk diri sendiri.
7. Memperbaiki Hubungan
Minta maaf kepada orang yang pernah disakiti.
8. Menangis di Hadapan Allah
Tangisan taubat lebih berharga daripada tumpukan dunia. Jangan Sampai Menjadi Orang yang Rugi
Betapa banyak orang sibuk mempersiapkan liburan tetapi lalai mempersiapkan akhirat. Betapa banyak yang hafal jadwal konser tetapi lupa jadwal puasa Arafah. Padahal mungkin ini Dzulhijjah terakhir kita.
Imam Hasan Al-Bashri berkata:
“Dunia hanyalah tiga hari: kemarin yang telah pergi, besok yang belum tentu tiba, dan hari ini yang sedang kau jalani.”
Karena itu manfaatkan Tarwiyah dan Arafah dengan sungguh-sungguh.
Penutup: Mari Menjemput Ampunan Allah
Hari Tarwiyah dan Arafah adalah hadiah besar dari Allah untuk umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di tengah dosa yang menggunung, Allah masih membuka pintu ampunan.
Di tengah hidup yang penuh kesalahan, Allah masih memberi kesempatan kembali. Jangan sia-siakan.
Perbanyak: dzikir, istighfar, shalawat, doa, sedekah, puasa, dan amal saleh lainnya.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita. Semoga Allah menghapus dosa-dosa kita. Semoga Allah membebaskan kita dari api neraka. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dan Dzulhijjah berikutnya dalam keadaan iman terbaik.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Wallahu a’lam bish shawab.
