“Ngayah bukan soal bekerja di pura. Ngayah adalah yadnya, persembahan tulus yang mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan ego demi menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, sesama, dan alam.”
I Nyoman Parta
BALI – Di tengah perubahan zaman, modernisasi, dan semakin padatnya aktivitas masyarakat, tradisi ngayah yang selama ratusan tahun menjadi denyut kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Bali menghadapi tantangan baru. Tidak sedikit generasi muda yang mulai memandang ngayah sebatas kewajiban adat atau pekerjaan sosial yang harus diselesaikan menjelang upacara keagamaan.
Anggota DPR RI dari Dapil Bali, I Nyoman Parta, menilai pemahaman tersebut perlu diluruskan. Menurutnya, ngayah memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar bekerja atau membantu pelaksanaan upacara.
Dalam pandangannya, istilah yang tepat adalah “ngayah ke pura”, bukan “kerja di pura”. Perbedaan kalimat itu terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya menggambarkan perbedaan cara pandang yang sangat mendasar terhadap nilai-nilai spiritual masyarakat Bali.
Ngayah Adalah Bentuk Yadnya, Bukan Pekerjaan
Parta menjelaskan bahwa dalam tradisi Hindu Bali, ngayah merupakan bagian dari yadnya atau persembahan suci yang dilakukan secara tulus tanpa mengharapkan imbalan.
“Ngayah ada juga yang menyebut ngayahin, mengabdi. Jadi ngayah itu sesungguhnya bentuk yadnya. Krama mengorbankan waktu, tenaga, bahkan ego. Namun yang dipersembahkan bukan hanya keringat. Yang paling utama adalah niat baik, ketulusan, dan rasa hormat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, para leluhur, serta alam semesta,” ujarnya.
Menurutnya, banyak orang melihat hasil fisik dari kegiatan ngayah seperti membuat sarana upakara, membersihkan area pura, menata sesajen, atau mempersiapkan odalan. Namun hakikat yang terpenting justru berada pada proses batin yang menyertainya.
Ketika seseorang datang ke pura untuk ngayah, sesungguhnya ia sedang melatih dirinya untuk memberi tanpa menghitung untung-rugi. Nilai inilah yang menjadi fondasi kuat kehidupan masyarakat Bali sejak masa lampau.
Di Saat Ngayah, Semua Status Sosial Luruh
Salah satu nilai paling penting yang terkandung dalam ngayah adalah kemampuannya menghapus sekat-sekat sosial yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Di luar lingkungan adat, seseorang bisa saja memiliki jabatan tinggi, kekayaan besar, atau status sosial tertentu. Namun ketika memasuki ruang ngayah, seluruh identitas itu ditanggalkan.
“Ngayah mengajarkan kita menjauhkan ego. Menurunkan status. Pejabat, dokter, petani, pengusaha, ASN, akademisi, semua duduk bersama. Ada yang membuat sarana upakara, ada yang mengangkat sesajen, ada yang membersihkan bale banjar atau wantilan. Tidak ada pangkat,” kata Parta.
Ia menegaskan bahwa di lingkungan banjar maupun desa adat, seluruh krama memiliki kedudukan yang sama ketika menjalankan kewajiban ngayah.
Kesetaraan tersebut menjadi salah satu kekuatan terbesar masyarakat Bali yang mampu menjaga solidaritas sosial selama berabad-abad.
“Di banjar dan desa, semua sama. Itu latihan spiritual yang paling jujur. Tidak ada yang lebih besar dari desa,” tegasnya.
Jejak Leluhur yang Terus Disambung
Dalam penelusuran terhadap berbagai tradisi desa adat di Bali, ditemukan bahwa hampir seluruh pura, bale banjar, wantilan, hingga sarana upacara yang masih berdiri saat ini merupakan hasil gotong royong generasi-generasi sebelumnya.
Parta menilai setiap kegiatan ngayah sesungguhnya adalah upaya menyambung mata rantai pengabdian yang diwariskan leluhur.
“Setiap batu pura, setiap pelinggih, setiap rangkaian odalan yang kita lihat hari ini dibangun oleh leluhur ratusan tahun lalu. Ketika kita ngayah, sebenarnya kita sedang menyambung benang itu,” ujarnya.
Ia menggambarkan ngayah sebagai proses merajut kembali untaian doa, ketulusan, dan pengabdian yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Ngayah menghubungkan energi positif, vibrasi positif. Karena itu kita tidak pernah memulai dari nol. Kita hanya meneruskan, merawat, dan menjaga apa yang sudah diwariskan,” tambahnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa ngayah tidak hanya memiliki dimensi sosial dan religius, tetapi juga dimensi historis yang menghubungkan masyarakat Bali masa kini dengan para leluhur mereka.
Iraga Nu Ngelanturang
Parta mengakui bahwa ngayah tidak selalu mudah dilakukan.
Di tengah kesibukan pekerjaan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi, banyak masyarakat harus bangun lebih pagi, mengorbankan waktu istirahat, bahkan menunda kepentingan pribadi demi memenuhi kewajiban adat.
Namun menurutnya, kelelahan fisik itu sering kali terbayar oleh ketenangan batin yang muncul setelah ngayah selesai dilaksanakan.
“Kadang capek, kadang harus bangun pagi, kadang harus meninggalkan pekerjaan. Tetapi mereka yang tulus pasti merasakan kedamaian. Ada rasa bangga yang sulit dijelaskan,” katanya.
Perasaan tersebut, lanjut Parta, sering kali diwujudkan dalam ungkapan sederhana yang hidup di tengah masyarakat Bali:
“Iraga nu ngelanturang.” Artinya, kami masih meneruskan.
Ungkapan itu bukan sekadar kalimat biasa, melainkan pernyataan bahwa generasi sekarang masih menjaga amanah yang diwariskan oleh leluhur.
“Ketika seseorang mengatakan ‘Iraga nu ngelanturang’, sesungguhnya ia sedang berkata kepada leluhur bahwa warisan yang ditinggalkan belum putus. Kami masih menjaga dan meneruskannya,” jelasnya.
Ngayah Adalah Sekolah Kehidupan Gratis
Lebih jauh, Parta menyebut ngayah sebagai salah satu sistem pendidikan sosial dan spiritual paling efektif yang dimiliki masyarakat Bali.
Tanpa ruang kelas, tanpa kurikulum tertulis, tanpa ijazah, nilai-nilai kehidupan diwariskan secara alami melalui proses ngayah.
“Bagi saya, ngayah itu sekolah kehidupan gratis,” ujarnya.
Dalam sekolah kehidupan tersebut, guru-gurunya bukan hanya tokoh agama atau pemimpin adat, melainkan seluruh komunitas.
“Guru besarnya adalah desa. Guru besarnya adalah krama banjar, krama desa, para tetua, dan teman-teman sepermainan yang tumbuh bersama dalam kehidupan adat,” katanya.
Melalui ngayah, generasi muda belajar tentang kerja sama, kedisiplinan, rasa hormat, tanggung jawab, kerendahan hati, hingga kemampuan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Nilai-nilai itulah yang membuat struktur sosial Bali tetap kokoh menghadapi berbagai perubahan zaman.
Menjaga Keseimbangan Alam, Manusia, dan Spiritualitas
Parta menjelaskan bahwa filosofi Bali sejak dahulu berpijak pada keyakinan bahwa manusia, alam, dan dunia spiritual merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Karena itu ngayah tidak hanya dipahami sebagai aktivitas sosial semata.
“Manusia Bali percaya bahwa alam, desa, dan manusia adalah satu sistem yang saling terhubung,” ujarnya.
Dalam perspektif tersebut, ngayah berfungsi menjaga keseimbangan atau harmoni yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bali.
“Ngayah adalah cara mengembalikan Rta, yaitu keteraturan energi dan keseimbangan semesta,” kata Parta.
Konsep Rta sendiri dikenal dalam tradisi Hindu sebagai hukum kosmis yang menjaga keteraturan alam semesta. Ketika manusia menjalankan kewajibannya dengan tulus, maka keseimbangan itu tetap terpelihara.
Sebaliknya, ketika nilai-nilai pengabdian mulai ditinggalkan, masyarakat berisiko kehilangan ikatan sosial dan spiritual yang selama ini menjadi sumber kekuatan bersama.
Karena Itu Kita Menyebut Ngayah ke Pura, Bukan Kerja di Pura
Di akhir refleksinya, Parta kembali menegaskan bahwa pilihan kata dalam tradisi Bali memiliki makna yang sangat penting.
Bekerja identik dengan hubungan transaksional, target, dan imbalan. Sementara ngayah lahir dari ketulusan dan pengabdian.
Karena itulah masyarakat Bali sejak dahulu menggunakan istilah “ngayah ke pura”, bukan “kerja di pura”.
“Kalau kerja, orientasinya hasil dan upah. Kalau ngayah, orientasinya bakti. Yang dicari bukan bayaran, melainkan keberkahan, kebersamaan, dan keseimbangan hidup,” ujarnya.
Menurut Parta, selama nilai tersebut tetap dijaga, ngayah akan terus menjadi fondasi kuat yang menjaga identitas Bali di tengah arus globalisasi.
“Ngayah bukan warisan masa lalu yang harus dikenang. Ngayah adalah warisan hidup yang harus terus dijalankan. Selama masih ada krama yang datang dengan hati tulus untuk mengabdi, selama itu pula jati diri Bali akan tetap hidup,” pungkasnya.






