Mengingat Kematian sebagai Jalan Menuju Kehidupan yang Lebih Bermakna

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI/ F-PKS/ Kalimantan Selatan I

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam. Dialah yang menciptakan kehidupan dan kematian sebagai ujian bagi manusia. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat, serta seluruh umatnya yang istiqamah hingga akhir zaman.

Setiap detik yang berlalu sejatinya bukan hanya menambah angka usia kita, tetapi juga mengurangi sisa kehidupan yang Allah titipkan. Jarum jam yang terus bergerak bukan sekadar penanda waktu, melainkan pengingat bahwa manusia sedang berjalan menuju satu kepastian yang tidak pernah meleset, yaitu kematian.

Banyak orang merasa masih memiliki waktu yang panjang. Mereka menunda taubat, menunda ibadah, menunda meminta maaf, bahkan menunda berbuat baik. Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah matahari yang terbit esok masih akan disaksikan olehnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Ayat ini mengajarkan, kematian bukanlah sesuatu yang bisa dihindari. Sehebat apa pun manusia menyusun rencana, secanggih apa pun teknologi yang dimiliki, semuanya tidak akan mampu menghalangi datangnya ajal.

Kematian Tidak Menunggu Usia Tua

Jangan tertipu oleh usia muda, sebab syarat mati bukanlah tua. Jangan pula tertipu oleh kesehatan, sebab banyak orang meninggal dalam keadaan sehat.

Setiap hari kita mendengar kabar seseorang wafat karena kecelakaan, serangan jantung mendadak, bencana alam, atau sebab lain yang tidak pernah diperkirakan. Bahkan bayi yang baru lahir, pemuda yang sedang mengejar cita-cita, hingga orang yang baru saja merencanakan masa depan dapat dipanggil Allah kapan saja.

Allah berfirman:

“Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya telah datang, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)

Ayat ini menunjukkan bahwa ajal telah ditentukan dengan sangat presisi oleh Allah. Tidak ada yang terlambat dan tidak ada yang dipercepat.

Tidak Ada Tempat Bersembunyi dari Kematian

Allah juga berfirman:

“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa’: 78)

Pada masa kini manusia membangun rumah mewah, bunker bawah tanah, teknologi kesehatan paling mutakhir, hingga berbagai sistem keamanan. Semua itu boleh diusahakan sebagai bentuk ikhtiar, tetapi tidak satu pun mampu menghalangi ketetapan Allah apabila ajal telah tiba.

Rasulullah Mengingatkan agar Banyak Mengingat Kematian

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Mengingat kematian bukan berarti menjadi pesimis. Justru orang yang sering mengingat kematian akan lebih berhati-hati dalam berbicara, bekerja, mencari rezeki, dan memperlakukan sesama manusia.

Ia akan bertanya kepada dirinya:

“Apakah shalatku sudah baik?”

“Apakah hartaku halal?”

“Apakah masih ada orang yang tersakiti karena lisanku?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang akan memperbaiki kualitas hidup seorang mukmin.

Sejarah Para Nabi dan Orang Saleh

1. Nabi Adam ‘alaihissalam, manusia pertama, akhirnya wafat.

2. Nabi Nuh yang berdakwah hampir seribu tahun pun wafat.

3. Nabi Ibrahim, kekasih Allah, wafat.

4. Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia paling mulia di sisi Allah, juga merasakan kematian.

5. Ketika Rasulullah wafat, para sahabat sangat terpukul. Bahkan Umar bin Khattab sempat tidak percaya. Lalu Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri dan berkata:

“Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.”

Kemudian beliau membaca firman Allah:

“Muhammad hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang?” (QS. Ali ‘Imran: 144)

Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa sebesar apa pun kecintaan kepada seseorang, semuanya akan kembali kepada Allah.

Umar bin Abdul Aziz yang Selalu Mengingat Kubur

Khalifah Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai pemimpin yang sangat adil. Namun setiap malam beliau sering menangis ketika mengingat kematian.

Beliau berkata bahwa kubur adalah tempat pertama menuju akhirat. Siapa yang selamat di sana, maka setelahnya akan lebih mudah. Tetapi jika tidak selamat, maka setelahnya akan lebih berat.

Kesadaran inilah yang membuat beliau memimpin dengan amanah dan menjauhi kezaliman.

Konteks Kehidupan Modern

Hari ini manusia hidup dalam dunia yang serba cepat. Media sosial dipenuhi pencitraan. Orang berlomba mengejar popularitas.

Sebagian rela menghalalkan segala cara demi kekayaan. Sebagian lain sibuk mengejar jabatan hingga melupakan akhirat.

Padahal setiap unggahan, setiap tulisan, setiap ucapan, bahkan setiap komentar akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Kemajuan teknologi adalah nikmat jika digunakan untuk dakwah, ilmu, silaturahmi, dan amal saleh. Namun akan menjadi musibah jika dipenuhi fitnah, ghibah, hoaks, permusuhan, dan kesombongan.

Allah berfirman:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

Dunia Hanyalah Persinggahan

Rasulullah bersabda: “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir.” (HR. Al-Bukhari)

Musafir tidak akan terlalu sibuk menghias tempat singgahnya. Ia tahu bahwa tujuan akhirnya bukan di sana.

Begitu pula kehidupan dunia. Rumah, kendaraan, jabatan, dan harta hanyalah titipan. Yang akan menemani ke alam kubur hanyalah amal.

Bekal Terbaik Menghadapi Kematian

Ada beberapa bekal yang hendaknya dipersiapkan setiap muslim:

Pertama, menjaga shalat lima waktu.

Kedua, memperbanyak taubat.

Ketiga, membaca Al-Qur’an.

Keempat, berbakti kepada orang tua.

Kelima, memperbanyak sedekah.

Keenam, menjaga lisan dari dusta, fitnah, dan ghibah.

Ketujuh, memperbaiki akhlak kepada sesama.

Semua amal tersebut menjadi cahaya yang akan menemani seorang mukmin ketika memasuki alam kubur.

Penutup

Kita tidak mengetahui di bumi mana kita akan meninggal. Kita tidak mengetahui kapan napas terakhir akan dihembuskan. Yang kita ketahui hanyalah bahwa kematian pasti datang.

Allah berfirman:

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Karena itu, jangan menunda taubat. Jangan menunda shalat. Jangan menunda meminta maaf. Jangan menunda berbuat baik.

Semoga setiap detik yang Allah berikan menjadi kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki diri, serta mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang kekal di akhirat.

Ya Allah, husnul khatimah adalah harapan kami. Jadikan akhir kehidupan kami sebagai akhir yang baik, wafatkan kami dalam keadaan beriman, ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum muslimin. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *