Memohon Pertolongan untuk Meraih Keridhaan Allah: Jalan Para Nabi, Orang Saleh, dan Kebutuhan Umat di Zaman Ini

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS/ Kalimantan Selatan I

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Dialah yang menciptakan langit dan bumi, yang menggenggam segala urusan makhluk-Nya, yang memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan yang menyesatkan siapa yang berpaling dari jalan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh pengikutnya hingga hari kiamat.

Bacaan Lainnya

Di antara perkataan yang sangat dalam maknanya dan layak menjadi bahan renungan sepanjang hayat adalah perkataan ulama besar Islam, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah:

“Aku meneliti tentang doa yang paling bermanfaat, ternyata ialah doa memohon pertolongan atas keridhoan Allah.” (Madarijus Salikin, 1/78)

Kalimat singkat ini mengandung lautan hikmah. Ia bukan sekadar nasihat spiritual, tetapi merupakan kesimpulan dari perjalanan ilmu, ibadah, dan perenungan mendalam terhadap Al-Qur’an, Sunnah, dan pengalaman para salaf.

Banyak manusia berdoa meminta rezeki, kesehatan, jabatan, keturunan, keselamatan, atau keberhasilan dunia. Semua itu adalah hal yang dibolehkan bahkan dianjurkan. Namun Ibnul Qayyim menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi, lebih utama, dan lebih menentukan daripada seluruh kebutuhan dunia tersebut, yaitu memohon pertolongan agar mampu meraih keridhaan Allah.

Sebab ketika Allah ridha kepada seorang hamba, maka seluruh kebaikan akan mengikuti. Sebaliknya, apabila manusia mendapatkan dunia tetapi kehilangan keridhaan Allah, maka sesungguhnya ia telah kehilangan segalanya.

Hakikat Keridhaan Allah

Keridhaan Allah adalah puncak tujuan seorang mukmin. Surga dengan segala kenikmatannya adalah anugerah yang luar biasa, namun Al-Qur’an menjelaskan bahwa ada sesuatu yang lebih agung daripada surga itu sendiri.

Allah berfirman: “Dan keridhaan Allah adalah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 72)

Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh kenikmatan surga, istana-istana, sungai-sungai, buah-buahan, dan kebahagiaan yang tidak pernah dilihat mata sekalipun, masih berada di bawah nikmat terbesar yaitu keridhaan Allah.

Para ulama menjelaskan bahwa ketika Allah telah ridha kepada seorang hamba, maka Allah tidak akan murka kepadanya selamanya. Inilah puncak kebahagiaan yang dicari para nabi, para sahabat, para syuhada, dan orang-orang saleh.

Karena itu tujuan utama seorang mukmin bukan sekadar menjadi kaya, terkenal, berkuasa, atau sukses secara duniawi, melainkan menjadi hamba yang diridhai Allah.

Mengapa Harus Memohon Pertolongan?

Mungkin muncul pertanyaan, mengapa Ibnul Qayyim tidak mengatakan “doa agar mendapatkan keridhaan Allah”, tetapi “doa memohon pertolongan atas keridhaan Allah”?

Jawabannya karena manusia tidak akan mampu mencapai keridhaan Allah dengan kekuatannya sendiri.

Hati manusia lemah. Imannya naik turun. Niatnya berubah-ubah. Godaan syaitan tidak pernah berhenti. Nafsu selalu mengajak kepada keburukan.

Karena itu yang paling penting bukan hanya mengetahui jalan menuju ridha Allah, tetapi memohon pertolongan Allah agar mampu berjalan di jalan tersebut.

Inilah makna besar dalam surah Al-Fatihah yang setiap hari dibaca minimal 17 kali: “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Ayat ini menggabungkan dua prinsip besar: Ibadah kepada Allah. Meminta pertolongan kepada Allah. Tanpa ibadah, seorang hamba tersesat. Tanpa pertolongan Allah, seorang hamba tidak mampu beribadah.

Karena itulah para ulama mengatakan bahwa seluruh agama Islam berputar pada dua kalimat dalam ayat ini.

Teladan Para Nabi

Jika kita meneliti kisah para nabi, kita akan menemukan bahwa mereka selalu memohon pertolongan Allah untuk melaksanakan ketaatan.

Nabi Ibrahim Alaihissalam

Ketika membangun Ka’bah bersama putranya Ismail, beliau berdoa: “Ya Tuhan kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Padahal yang membangun Ka’bah adalah seorang nabi pilihan Allah. Namun beliau tidak merasa amalnya pasti diterima.Beliau tetap memohon pertolongan dan penerimaan dari Allah.

Nabi Yusuf Alaihissalam

Ketika menghadapi godaan zina yang sangat berat, beliau berdoa: “Jika Engkau tidak hindarkan dariku tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung kepada mereka.” (QS. Yusuf: 33)

Perhatikan kerendahan hati seorang nabi. Beliau tidak berkata, “Saya kuat menolak maksiat.” Beliau justru mengakui bahwa tanpa pertolongan Allah, dirinya bisa tergelincir.

Nabi Sulaiman Alaihissalam

Beliau berdoa: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu.” (QS. An-Naml: 19)

Padahal beliau seorang nabi sekaligus raja besar. Namun beliau memahami bahwa bersyukur pun membutuhkan pertolongan Allah.

Wasiat Rasulullah ﷺ yang Sangat Agung

Salah satu dalil paling kuat yang menjelaskan perkataan Ibnul Qayyim adalah hadis ketika Rasulullah ﷺ berpesan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu.

Beliau bersabda: “Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Maka jangan sekali-kali engkau tinggalkan setelah setiap shalat untuk membaca: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.”

Artinya:”Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Inilah doa yang menjadi inti perkataan Ibnul Qayyim. Perhatikan bahwa Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan Mu’adz meminta harta, kekuasaan, atau kemenangan dunia.

Beliau mengajarkan meminta pertolongan agar mampu berdzikir, bersyukur, dan beribadah. Karena ketika tiga hal ini tercapai, maka seorang hamba berada di jalan menuju keridhaan Allah.

Sejarah Para Salaf dan Ketakutan Mereka

Generasi salaf adalah generasi yang paling memahami agama. Namun justru mereka sangat takut amal mereka tidak diterima.

Umar bin Khattab pernah berkata: “Seandainya ada suara dari langit yang mengatakan bahwa seluruh manusia masuk surga kecuali satu orang, aku khawatir akulah orang itu.”

Padahal beliau termasuk sahabat terbaik. Demikian pula Ali bin Abi Thalib berkata:

“Jadilah perhatian kalian terhadap diterimanya amal lebih besar daripada perhatian kalian terhadap amal itu sendiri.”

Mereka memahami bahwa inti kehidupan bukan sekadar beramal, tetapi mendapatkan ridha Allah melalui amal tersebut. Karena itu mereka terus berdoa agar diberikan taufik dan keikhlasan.

Konteks Sejarah Perkataan Ibnul Qayyim

Ibnul Qayyim hidup pada abad ke-14 Masehi di tengah berbagai ujian besar umat Islam.

Dunia Islam saat itu masih merasakan dampak kehancuran akibat serangan Mongol. Banyak wilayah muslim porak-poranda. Konflik politik terjadi di berbagai tempat. Muncul berbagai penyimpangan pemikiran dan kerusakan moral.

Dalam situasi demikian, Ibnul Qayyim menyadari bahwa solusi utama umat bukan hanya kekuatan militer atau kekuatan politik, tetapi kembali kepada Allah.

Beliau melihat bahwa akar berbagai masalah manusia adalah lemahnya hubungan dengan Allah.

Karena itulah beliau menekankan pentingnya doa memohon pertolongan untuk mendapatkan keridhaan Allah.

Sebab ketika individu-individu menjadi baik, keluarga menjadi baik. Ketika keluarga menjadi baik, masyarakat menjadi baik. Ketika masyarakat menjadi baik, peradaban akan bangkit.

Relevansi di Era Modern

Perkataan Ibnul Qayyim justru semakin relevan pada zaman sekarang.

Manusia modern hidup dengan teknologi yang belum pernah ada sebelumnya. Internet menghubungkan miliaran manusia. Kecerdasan buatan berkembang pesat.

Transportasi semakin cepat. Informasi tersedia dalam hitungan detik. Namun di balik kemajuan tersebut muncul berbagai krisis.

Krisis Makna Hidup

Banyak orang memiliki pekerjaan bagus tetapi kehilangan tujuan hidup. Banyak yang kaya namun gelisah. Banyak yang terkenal tetapi depresi.

Banyak yang memiliki ribuan pengikut di media sosial namun merasa kesepian. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan materi tidak otomatis menghadirkan ketenangan jiwa.

Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Krisis Moral

Di berbagai negara terjadi peningkatan penyalahgunaan narkoba, pornografi, perjudian daring, penipuan digital, dan berbagai bentuk kerusakan moral.

Kemudahan teknologi sering kali tidak diiringi kematangan spiritual. Akibatnya manusia memiliki alat yang semakin canggih tetapi hati yang semakin rapuh.

Karena itu kebutuhan terbesar manusia modern bukan sekadar teknologi baru, melainkan pertolongan Allah untuk tetap istiqamah.

Krisis Keluarga

Perceraian meningkat di banyak tempat. Hubungan orang tua dan anak semakin renggang. Media sosial sering menggantikan komunikasi yang sehat.

Dalam kondisi seperti ini, doa memohon pertolongan untuk meraih ridha Allah menjadi sangat penting. Karena keluarga yang dibangun di atas ketakwaan akan lebih kokoh menghadapi ujian zaman.

Mengapa Banyak Orang Sulit Istiqamah?

Banyak orang mengetahui kebenaran tetapi sulit mengamalkannya. Mereka tahu shalat itu wajib tetapi sering menunda.

Mereka tahu Al-Qur’an harus dibaca tetapi jarang menyentuh mushaf. Mereka tahu dosa harus ditinggalkan tetapi terus mengulanginya.

Penyebab utamanya adalah kurangnya taufik. Taufik adalah kemampuan dari Allah untuk melakukan kebaikan.

Tidak ada manusia yang mampu menciptakan taufik bagi dirinya sendiri. Karena itu para ulama selalu mengajarkan:

“Jangan bergantung kepada dirimu, tetapi bergantunglah kepada Allah.” Bentuk-Bentuk Memohon Pertolongan Menuju Keridhaan Allah

Memohon Hidayah

Setiap rakaat shalat kita membaca:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Ini menunjukkan bahwa kebutuhan terbesar manusia adalah hidayah.

Memohon Keikhlasan

Amal yang besar bisa menjadi sia-sia apabila tidak ikhlas. Karena itu para salaf sangat takut terhadap riya’. Mereka lebih khawatir terhadap niat yang rusak daripada amal yang sedikit.

Memohon Keteguhan Hati

Rasulullah ﷺ sering berdoa: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)

Jika Rasulullah ﷺ saja berdoa demikian, maka kebutuhan kita tentu jauh lebih besar.

Memohon Husnul Khatimah

Keridhaan Allah tidak hanya diukur dari awal kehidupan, tetapi bagaimana seseorang mengakhiri hidupnya. Karena itu para ulama selalu memohon akhir kehidupan yang baik.

Tanda-Tanda Allah Menghendaki Kebaikan

Ketika seorang hamba sungguh-sungguh memohon pertolongan menuju keridhaan Allah, maka biasanya akan muncul beberapa tanda:

Semakin mencintai shalat. Semakin mudah melakukan kebaikan. Semakin membenci maksiat.

Semakin rendah hati. Semakin sering mengingat kematian. Semakin peduli terhadap sesama.

Semakin ikhlas dalam beramal. Ini bukan berarti hidupnya bebas masalah. Justru terkadang ujian bertambah. Namun hatinya menjadi lebih dekat kepada Allah.

Bahaya Jika Hanya Mengejar Dunia

Salah satu penyakit terbesar zaman ini adalah menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Karier penting. Bisnis penting. Pendidikan penting. Kesehatan penting.

Tetapi semuanya harus menjadi sarana menuju keridhaan Allah. Jika dunia menjadi tujuan akhir, maka manusia tidak akan pernah puas.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, ia ingin memiliki lembah kedua.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu hati harus diikat kepada Allah, bukan kepada dunia.

Keridhaan Allah dan Kebangkitan Umat

Sepanjang sejarah Islam, masa-masa kejayaan umat selalu diawali dengan perbaikan hubungan kepada Allah.

Generasi sahabat bukan generasi yang paling kaya. Mereka juga bukan generasi dengan teknologi paling maju.

Namun mereka adalah generasi yang paling dekat kepada Allah. Dalam waktu singkat mereka mampu membangun peradaban yang memengaruhi dunia selama berabad-abad.

Hal ini mengajarkan bahwa kebangkitan umat tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, jumlah penduduk, atau kekuatan ekonomi.

Semua itu penting. Tetapi fondasi utamanya adalah ketakwaan dan keridhaan Allah.

Allah berfirman: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)

Muhasabah untuk Diri Kita

Cobalah bertanya kepada diri sendiri: Berapa banyak doa yang kita panjatkan untuk urusan dunia? Berapa banyak doa yang kita panjatkan agar Allah meridhai kita?

Berapa banyak waktu yang kita habiskan memikirkan karier? Berapa banyak waktu yang kita habiskan memikirkan keselamatan akhirat?

Bukan berarti urusan dunia tidak penting. Islam adalah agama yang seimbang. Namun seorang mukmin harus memastikan bahwa tujuan tertingginya tetap keridhaan Allah.

Penutup

Perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah:

“Aku meneliti tentang doa yang paling bermanfaat, ternyata ialah doa memohon pertolongan atas keridhoan Allah.”

adalah kesimpulan yang lahir dari pemahaman mendalam terhadap Al-Qur’an dan Sunnah.

Ia mengajarkan bahwa kebutuhan terbesar manusia bukan sekadar kesehatan, kekayaan, jabatan, atau kesuksesan dunia. Kebutuhan terbesar manusia adalah pertolongan Allah agar mampu menjalani kehidupan yang diridhai-Nya.

Tanpa pertolongan Allah, ilmu tidak bermanfaat. Tanpa pertolongan Allah, ibadah tidak istiqamah.

Tanpa pertolongan Allah, hati mudah terjatuh ke dalam dosa. Namun dengan pertolongan Allah, seorang hamba yang lemah dapat menjadi kuat, yang takut menjadi tenang, yang tersesat menjadi mendapat petunjuk, dan yang berdosa menjadi bertobat.

Maka marilah kita memperbanyak doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.

“Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa memohon pertolongan-Nya, diberi kekuatan untuk taat kepada-Nya, dijauhkan dari segala bentuk kemaksiatan, diberi keikhlasan dalam setiap amal, diwafatkan dalam keadaan beriman, dan akhirnya memperoleh keridhaan Allah yang merupakan kemenangan terbesar di dunia dan akhirat.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *