Manusia Hanya sebagai Tamu di Dunia Ini…

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I

Bismillahirrahmanirrahim

Bacaan Lainnya

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan langit dan bumi, yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi nikmat iman, Islam, kesehatan, umur, rezeki, serta kesempatan untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, hingga seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau sampai hari kiamat.

Kehidupan manusia di dunia ini pada hakikatnya hanyalah sementara. Tidak ada satu manusia pun yang akan hidup kekal di muka bumi. Setinggi apa pun jabatan seseorang, sebanyak apa pun hartanya, semegah apa pun rumahnya, dan sekuat apa pun tubuhnya, pada akhirnya semuanya akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah negeri yang kekal abadi.

Karena itu, manusia sesungguhnya hanyalah tamu di dunia ini. Sebagaimana seorang tamu yang datang sementara lalu pergi meninggalkan tempat yang ia singgahi, demikian pula kehidupan manusia. Kita datang tanpa membawa apa-apa, lalu suatu saat kita akan pergi meninggalkan seluruh yang kita miliki.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kematian adalah kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Tidak ada manusia yang mampu melarikan diri dari kematian. Cepat atau lambat, kaya atau miskin, tua maupun muda, semuanya akan kembali kepada Allah.

Dunia Hanyalah Persinggahan Sementara

Banyak manusia terlena dengan kehidupan dunia. Mereka sibuk mengejar kekayaan, kekuasaan, popularitas, dan kesenangan sesaat hingga lupa bahwa hidup ini hanyalah sementara. Padahal Allah telah memperingatkan dalam Al-Qur’an bahwa dunia hanyalah permainan dan senda gurau.

Allah berfirman: “Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An’am: 32)

Ayat ini menjelaskan bahwa kehidupan dunia tidak layak dijadikan tujuan utama. Dunia hanyalah ujian. Ada yang diuji dengan kekayaan, ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kesehatan, dan ada pula yang diuji dengan musibah. Semua itu hanyalah sementara.

Sering kali manusia merasa bangga dengan apa yang dimilikinya. Rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi, dan pujian manusia membuat seseorang lupa diri. Padahal semua itu tidak akan dibawa mati. Ketika ajal datang, semuanya akan ditinggalkan.

Allah berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, hiburan, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.” (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini menggambarkan sifat dunia yang menipu. Dunia membuat manusia lalai dari akhirat. Banyak orang rela mengorbankan agama demi dunia. Ada yang meninggalkan shalat demi pekerjaan, meninggalkan kejujuran demi jabatan, bahkan meninggalkan halal dan haram demi keuntungan sesaat.

Padahal dunia hanyalah tempat singgah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini menggambarkan betapa singkatnya kehidupan dunia dibanding akhirat. Seorang musafir hanya singgah sebentar untuk beristirahat, lalu melanjutkan perjalanan. Demikian pula manusia di dunia.

Manusia Adalah Musafir

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan umatnya agar hidup seperti musafir. Orang yang sedang bepergian tidak akan terlalu sibuk memperindah tempat singgahnya karena ia tahu bahwa ia akan segera pergi.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah memegang pundakku lalu bersabda: Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)

Orang asing tidak merasa memiliki tempat yang ia singgahi. Ia sadar bahwa dirinya hanya sementara. Begitu pula seorang mukmin seharusnya memandang dunia. Ia tidak boleh terlalu mencintai dunia hingga melupakan akhirat.

Sungguh ironis ketika manusia menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar dunia, namun melupakan kehidupan akhirat yang kekal. Mereka bekerja siang malam demi harta, tetapi lalai beribadah. Mereka sibuk mempercantik dunia, tetapi lupa memperbaiki amal.

Padahal kuburan tidak membedakan siapa kita. Ketika mati, semua gelar akan hilang. Jabatan tidak lagi berguna. Kekayaan tidak mampu menolong. Yang tersisa hanyalah amal perbuatan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Mayit diikuti oleh tiga hal: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali dan satu akan tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa jelas hadits ini mengingatkan bahwa satu-satunya bekal yang menemani manusia di alam kubur adalah amal.

Harta Adalah Titipan

Manusia sering merasa bahwa harta adalah miliknya sepenuhnya. Padahal hakikatnya semua yang dimiliki hanyalah titipan Allah.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Semua manusia di dunia adalah tamu, sedangkan hartanya adalah titipan. Tamu pasti akan pergi dan titipan pasti dikembalikan kepada pemiliknya.”

Perkataan ini sangat dalam maknanya. Kita tidak memiliki apa-apa. Semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Allah berfirman: “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu.” (QS. An-Nur: 33)

Ayat ini menunjukkan bahwa harta sejatinya milik Allah. Manusia hanya diberi amanah untuk mengelolanya. Karena itu, harta harus digunakan di jalan yang diridhai Allah.

Banyak orang lupa bahwa kekayaan hanyalah ujian. Ada yang menjadi sombong karena hartanya. Ada yang menindas orang lain demi mempertahankan kekayaannya. Bahkan ada yang melupakan shalat dan ibadah karena sibuk mencari dunia.

Padahal ketika mati, semua harta akan ditinggalkan. Tidak ada satu rupiah pun yang dibawa ke kubur.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku. Padahal tidaklah yang menjadi miliknya kecuali apa yang dimakan lalu habis, dipakai lalu usang, atau disedekahkan lalu menjadi simpanan akhirat.” (HR. Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa harta yang benar-benar menjadi milik manusia adalah yang digunakan untuk kebaikan.

Waktu Adalah Nikmat yang Sering Disia-siakan

Sebagai tamu di dunia, manusia memiliki waktu yang terbatas. Namun banyak manusia lalai dan menyia-nyiakan waktunya.

Allah bersumpah demi waktu dalam Al-Qur’an:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shaleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Surah ini menjelaskan bahwa manusia akan rugi jika tidak menggunakan waktunya untuk iman dan amal shaleh.

Hari demi hari umur manusia terus berkurang. Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah kembali. Namun manusia sering merasa seolah-olah hidupnya masih panjang. Mereka menunda taubat, menunda ibadah, dan menunda kebaikan.

Padahal kematian bisa datang kapan saja. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum miskin, waktu luangmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum mati.” (HR. Al-Hakim)

Betapa banyak orang yang baru sadar ketika sakit datang. Betapa banyak orang yang baru ingin beribadah ketika ajal mendekat. Namun penyesalan saat itu tidak lagi berguna.

Jangan Terlalu Mencintai Dunia

Cinta dunia yang berlebihan adalah sumber banyak kerusakan. Karena cinta dunia, manusia bisa saling bermusuhan, saling iri, saling menipu, bahkan saling membunuh.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan.” (HR. Baihaqi)

Ketika hati terlalu mencintai dunia, maka akhirat akan terlupakan. Manusia menjadi rakus, tamak, dan tidak pernah merasa cukup.

Padahal kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada ketenangan hati dan kedekatan kepada Allah.

Allah berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Banyak orang kaya hidup dalam kegelisahan. Banyak pejabat hidup dalam ketakutan. Namun orang yang dekat dengan Allah akan merasakan ketenangan meskipun hidup sederhana.

Karena itu, seorang mukmin harus menjadikan dunia di tangan, bukan di hati. Dunia boleh dicari, tetapi jangan sampai melalaikan akhirat.

Kematian Adalah Kepastian

Tidak ada yang tahu kapan ajal datang. Ada yang meninggal saat muda, ada yang meninggal saat sehat, ada yang meninggal ketika sedang bekerja, bahkan ada yang meninggal ketika sedang tidur.

Allah berfirman:

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, walaupun kamu berada di dalam benteng yang kokoh.” (QS. An-Nisa: 78)

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada tempat untuk lari dari kematian. Karena itu, manusia harus selalu mempersiapkan diri. Jangan menunggu tua untuk bertaubat. Jangan menunggu sakit untuk beribadah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)

Mengingat kematian akan membuat manusia lebih sadar diri, lebih rendah hati, dan lebih giat beramal.

Bekal Terbaik Adalah Takwa

Sebagai musafir menuju akhirat, manusia membutuhkan bekal. Bekal terbaik bukanlah harta atau jabatan, tetapi takwa.

Allah berfirman:

“Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang bertakwa akan selalu menjaga shalat, menjaga lisan, menjaga hati, dan menjaga amal.

Ia sadar bahwa dunia hanyalah sementara. Karena itu, ia tidak tertipu oleh gemerlap dunia.

Orang bertakwa juga akan memperbanyak amal shaleh seperti sedekah, membantu sesama, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berbakti kepada orang tua, dan menjaga silaturahmi.

Semua amal itu akan menjadi cahaya di alam kubur dan pemberat timbangan amal di hari kiamat.

Dunia Akan Berakhir

Sebesar apa pun dunia ini, suatu saat akan hancur. Gunung akan dihancurkan, lautan akan meluap, langit akan terbelah, dan seluruh manusia akan dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan amalnya.

Allah berfirman:

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat.” (QS. Az-Zalzalah: 1)

Hari kiamat adalah hari pembalasan. Tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia. Karena itu, orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya sebelum datang hari penyesalan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

Penutup

Kehidupan dunia hanyalah sementara. Kita semua hanyalah tamu yang sedang singgah sebentar sebelum kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, jangan terlalu mencintai dunia hingga melupakan akhirat.

Gunakan umur untuk beribadah. Gunakan harta untuk kebaikan. Gunakan waktu untuk amal shaleh. Jangan sombong dengan jabatan dan kekayaan, sebab semuanya akan ditinggalkan.

Mari kita jadikan dunia sebagai ladang amal menuju akhirat. Perbanyak taubat, dzikir, sedekah, membaca Al-Qur’an, menjaga shalat, dan berbuat baik kepada sesama.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sadar bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara, lalu mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan abadi di akhirat.

Allahumma inni as’aluka husnul khatimah.

Allahumma aj‘alna min ‘ibadikash shalihin.

Allahumma la taj‘alid dunya أكبر همنا ولا مبلغ علمنا.

Aamiin Allahumma Aamiin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *