KARAWANG: BELA RAKYAT – Di balik tingginya target swasembada pangan nasional, terdapat persoalan besar yang selama bertahun-tahun luput dari perhatian publik, yakni menurunnya kualitas lahan pertanian akibat penggunaan pupuk kimia atau anorganik secara terus-menerus. Fenomena ini bukan hanya menjadi perhatian para akademisi, tetapi kini juga mendapat sorotan serius dari DPR RI.
Dalam kunjungan kerja Panitia Kerja (Panja) Pupuk Bersubsidi Komisi IV DPR RI ke PT Pupuk Kujang, Karawang, Jawa Barat, Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo menegaskan bahwa Indonesia harus mulai mempercepat pengembangan pupuk organik agar tidak tertinggal dari tren pertanian dunia yang semakin mengedepankan keberlanjutan.
Alarm Penurunan Kesuburan Tanah
Selama beberapa dekade, pupuk anorganik menjadi andalan petani karena mampu meningkatkan produksi dalam waktu relatif singkat. Namun, penggunaan yang berlebihan dinilai menyisakan persoalan serius terhadap struktur tanah.
Menurut Firman, ketergantungan terhadap pupuk kimia dalam jangka panjang berpotensi mengurangi kualitas unsur hara alami sehingga kesuburan tanah terus menurun.
“Kalau kita lihat tren dunia ini sudah mulai bergeser kepada pupuk organik, terutama untuk kebutuhan pangan pokok. Vietnam sudah mulai dan di beberapa negara Eropa juga sudah mulai menggunakan pupuk organik,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa Indonesia harus mulai menyiapkan strategi baru agar sektor pertanian tidak hanya mengejar hasil panen, tetapi juga menjaga kesehatan lahan untuk generasi mendatang.
Dunia Bergerak, Indonesia Jangan Tertinggal
Hasil penelusuran terhadap kebijakan pertanian global menunjukkan semakin banyak negara mulai menerapkan sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan. Pupuk organik dipandang mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan bahan organik, sekaligus menjaga keseimbangan mikroorganisme yang berperan penting dalam pertumbuhan tanaman.
Firman menilai Indonesia memiliki peluang besar mengikuti arah perubahan tersebut, mengingat potensi bahan baku pupuk organik dari limbah peternakan, pertanian, hingga sampah organik masih sangat melimpah.
Menurutnya, apabila pengembangan pupuk organik dilakukan secara serius, manfaat yang diperoleh tidak hanya berupa peningkatan produktivitas pertanian, tetapi juga penghematan penggunaan pupuk urea yang selama ini masih menjadi kebutuhan utama petani.
Ketahanan Pangan Tidak Cukup Hanya dengan Subsidi
Investigasi terhadap kebijakan pupuk menunjukkan bahwa persoalan pertanian nasional bukan sekadar soal distribusi pupuk bersubsidi, melainkan juga bagaimana menjaga kualitas lahan agar tetap produktif dalam jangka panjang.
Firman menilai pemerintah bersama industri pupuk nasional perlu mulai menempatkan pupuk organik sebagai bagian dari strategi besar pembangunan pertanian.
“Kalau pupuk organik bisa dikembangkan dan ditingkatkan, maka ada pemulihan lahan, tingkat produksi bisa meningkat, dan penggunaan pupuk urea dapat dihemat,” jelasnya.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa keberhasilan sektor pertanian ke depan tidak hanya ditentukan oleh besarnya subsidi pupuk, tetapi juga oleh transformasi sistem budidaya yang lebih berkelanjutan.
Tantangan Industri Pupuk Nasional
Meski potensi pengembangan pupuk organik cukup besar, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari kapasitas produksi, standar mutu, edukasi kepada petani, hingga perubahan pola penggunaan pupuk yang selama ini didominasi pupuk anorganik.
Di sisi lain, industri pupuk nasional dituntut mampu berinovasi agar produk organik dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan harga yang tetap terjangkau.
Tanpa langkah konkret sejak sekarang, Indonesia berisiko tertinggal dari negara-negara yang lebih dahulu mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan.
DPR Dorong Percepatan Transformasi
Firman menegaskan bahwa pengembangan pupuk organik tidak boleh lagi dipandang sebagai program pelengkap, melainkan investasi jangka panjang bagi ketahanan pangan nasional.
“Kalau nanti ke depan itu juga tidak kita mulai dari sekarang, nanti tertinggal negara-negara lain,” tegasnya.
Karena itu, DPR berharap pemerintah, pelaku industri pupuk, kalangan akademisi, dan petani dapat bersinergi mempercepat transformasi menuju penggunaan pupuk yang lebih ramah lingkungan.
Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan nasional, menjaga kesuburan tanah menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa lagi ditunda. Sebab, ketahanan pangan bukan hanya soal meningkatkan hasil panen hari ini, tetapi memastikan lahan pertanian Indonesia tetap subur dan produktif untuk masa depan.






