Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Berkata Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah dengan syakal lengkap:
كُنَّا نُحَدِّثُ أَنَّهُ مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ قَدْ تَابَ إِلَى اللهِ مِنْهُ ابْتَلَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ
“Kunna nuhadditsu annahu man ‘ayyara akhahu bi dzanbin qad taba ilallahi minhu ibtalahullahu ‘Azza wa Jalla bihi.”
“Kami dahulu pernah diberi nasihat, bahwa siapa saja yang mencela saudaranya karena suatu dosa yang sebenarnya ia sudah bertaubat darinya kepada Allah, maka Allah Azza wa Jalla akan mengujinya dengan dosa yang sama.”
Kalam yang pendek, tapi mengguncang hati. Ini bukan sekadar nasihat akhlak, ini adalah sunnatullah yang berjalan.
1. Mengapa Mencela Orang yang Sudah Bertaubat Itu Sangat Berbahaya?
Para ulama menjelaskan, ada 3 kejahatan besar yang terkumpul dalam perbuatan mencela saudara yang sudah bertaubat:
Pertama: Merasa Lebih Suci
Ketika lisan kita berkata, “Dasar pendosa, dulu dia begini begitu,” sesungguhnya hati kita sedang berbisik, “Aku lebih baik darinya.” Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, kesombongan itu bukan menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Dan meremehkan manusia yang bertaubat adalah puncak kesombongan.
Kedua: Mendahului Allah dalam Menghakimi
Orang itu sudah bertaubat. Pintu langit sudah terbuka untuknya. Allah mungkin sudah mencintainya karena taubatnya. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Innallaha yuhibbut tawwabina wa yuhibbul mutathahhirin.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” [QS. Al-Baqarah: 222]
Lalu siapa kita yang masih mengungkit sesuatu yang sudah dicintai Allah karena taubatnya? Kita membenci apa yang sudah Allah cintai.
Ketiga: Membuka Apa yang Sudah Allah Tutup.
Ini yang paling mengerikan. Allah dengan rahmat-Nya sudah menutup aib hamba itu. Allah sudah menyembunyikannya di dunia. Kita datang dengan lisan kita, kita sobek penutup itu. Kita melakukan pekerjaan yang dibenci Allah: menjadi pembuka aib. Padahal kaidah dari Allah sangat jelas.
2. Allah Adalah As-Sittiir, Yang Maha Menutup Aib
Perhatikan dua hadits yang antum sebutkan, itu adalah fondasi akidah kita tentang sifat Allah.
Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma tentang munajat di hari kiamat:
إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُوْلُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُوْلُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوْبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ
Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah pasang tabir-Nya, Allah tutupi dia dari semua makhluk agar tidak ada yang melihat dan mendengar. Kemudian Allah buat dia mengakui dosa-dosanya satu per satu. Hamba itu gemetar, menyangka akan binasa. Lalu Allah berfirman dengan kalimat yang membuat tangis pecah: “Aku telah menutupnya untukmu di dunia, dan hari ini Aku ampuni untukmu.”
Dan hadits kedua:
لاَ يَسْتُرُ اللهُ عَلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jika Allah menutupi dosa seorang hamba di dunia, maka Allah akan menutupinya pula pada hari kiamat.” [HR. Muslim]
Renungkan: Kenapa Allah menutup aib kita? Bukan karena kita hebat menjaga diri. Tapi karena Allah masih sayang, Allah masih memberi kita kesempatan memperbaiki diri tanpa harus hancur di depan manusia.
Jika hari ini aib kita tidak ada yang tahu, itu bukan karena kita bersih, tapi karena Allah masih menutupnya. Jika hari ini kita bisa berjalan dengan wajah tegak, bukan karena kita tak punya dosa, tapi karena Allah belum membukanya.
Lalu pantaskah kita dengan mudahnya membuka aib orang lain?
3. Sunnatullah: Celaan Akan Kembali Menjadi Ujian
Kenapa Al-Hasan Al-Bashri mengatakan Allah akan menguji pencela dengan dosa yang sama?
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dengan indah: “Setiap kali seorang hamba mencela saudaranya karena sebuah dosa, maka dosa itu tidak akan pernah mati sampai dia melakukannya sendiri.”
Ini adalah hukuman yang adil. Kau meremehkan orang yang jatuh, maka Allah akan membuatmu merasakan betapa beratnya berdiri setelah jatuh. Kau menertawakan orang yang tergelincir, maka Allah akan membuat kakimu licin di tempat yang sama, agar kau paham bahwa istiqomah itu bukan karena hebatnya dirimu, tapi karena Allah yang menjagamu.
Jangan merasa lebih tinggi ketika melihat aib orang lain. Bisa jadi kita hanya sedang berada di waktu yang berbeda dari kesalahan yang sama.
Hari ini dia yang terlihat, besok bisa jadi kita. Hari ini kita yang selamat, besok belum tentu. Dosa itu mengintai semua orang, hanya saja Allah membagikan waktu jatuhnya berbeda-beda.
Ibnul Qayyim berkata: “Kalau bukan karena Allah menutup aib-aib kita, niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk dengan kita.”
4. Lalu Apa yang Harus Kita Lakukan?
Jika melihat saudara terjatuh, ada 3 adab para salaf:
1. Tutup.
Lebih baik menutup aib, daripada membuka pintu ujian untuk diri sendiri. Rasulullah bersabda: Man satara musliman satarahullahu fid dunya wal akhirah. Siapa menutup aib seorang muslim, Allah tutup aibnya dunia akhirat.
Menutup bukan berarti membenarkan kemaksiatan. Menutup artinya tidak menyebarkannya, tidak menjadikannya bahan obrolan, tidak menjadikannya konten.
2. Doakan
Lebih baik mendoakan, daripada mencela. Jika hatimu masih hidup, kau akan sedih melihat saudaramu jatuh, bukan gembira. Doakan: “Ya Allah, jaga dia sebagaimana Engkau menjagaku. Ampuni dia sebagaimana Engkau mengampuniku.”
Doa untuk saudara yang terjerumus adalah bukti bahwa iman masih ada di hati.
3. Lembutlah.
Jika kita pernah jatuh lalu bangkit, jangan jadikan pengalaman itu sebagai alasan untuk merasa lebih baik. Jadikan itu alasan untuk lebih lembut kepada yang masih berjuang.
Ingatlah: Bisa jadi kejatuhan saudaramu hari ini adalah masa lalu kita yang telah Allah tutupi rapat-rapat. Atau bisa jadi itu adalah masa depan kita jika Allah tidak menjaga kita.
Jangan sampai kita sibuk menunjuk luka orang lain, sementara hati sendiri perlahan mengeras, perlahan mati tanpa disadari. Hati yang keras adalah hati yang sulit menangis melihat dosa sendiri, tapi sangat mudah tertawa melihat dosa orang lain.
Jika Allah masih menutup dosa-dosa kita sampai hari ini, maka itu adalah utang rasa malu yang harus kita bayar dengan cara menutup aib orang lain.
Tugas kita bukan menjadi hakim yang memvonis, tapi menjadi saudara yang merangkul. Urusan orang yang sudah bertaubat sedang dibersihkan oleh Allah, sedangkan kita yang sibuk menghakimi belum tentu sedang membersihkan diri.
Semoga Allah menutup aib kita di dunia, menutupnya di kubur, dan menutupnya di hari ketika semua mata memandang.
اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
Ya Allah, tutupilah aurat-aurat kami dan tenangkanlah rasa takut kami. Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan keimanan.






