BEKASI – BELA RAKYAT – Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Hamka B. Kady, mendorong pembaruan simulator pendidikan vokasi transportasi darat agar keterampilan peserta didik semakin relevan dengan perkembangan teknologi dan kondisi operasional di lapangan.
Dorongan tersebut disampaikan Hamka saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI ke Politeknik Transportasi Darat Indonesia–Sekolah Tinggi Transportasi Darat (PTDI-STTD), Bekasi, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026) seperti dikutip di Instagram pribadinya.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perhatian Komisi V terhadap penguatan pendidikan dan sumber daya manusia di sektor transportasi.
Dalam keterangannya yang dikutip dari Instagram pribadinya, Hamka menilai pendidikan vokasi transportasi tidak cukup hanya mengandalkan pemahaman teori. Peserta didik juga perlu mendapatkan pengalaman praktik yang mampu menggambarkan situasi nyata yang akan mereka hadapi ketika memasuki dunia kerja.
“Pendidikan vokasi transportasi tidak cukup hanya membangun pemahaman teori. Keterampilan peserta didik juga harus diuji melalui sarana praktik yang relevan dengan kondisi lapangan,” ujar Hamka.
Menurutnya, simulator memiliki posisi penting dalam proses pendidikan vokasi karena menjadi sarana untuk menguji sejauh mana pengetahuan yang diperoleh peserta didik dapat diterapkan dalam situasi operasional.
“Apa yang menjadi target atau tujuan pendidikan mereka, ya. Nah, itu yang menurut saya paling penting, yang masih kurang harus kita pikirkan adalah simulator-simulator yang merupakan sarana untuk belajar, sarana untuk melakukan kegiatan-kegiatan vokasinya,” katanya.
Hamka menilai pembaruan simulator menjadi kebutuhan seiring perkembangan teknologi transportasi. Sarana latihan yang digunakan peserta didik harus mampu mendekati kondisi teknologi dan situasi yang nantinya mereka temui di lapangan.
“Untuk membuktikan pengetahuan yang diperoleh di sini dapat diaplikasikan di masyarakat, terutama di sektor darat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penguatan fasilitas praktik harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas tenaga pengajar dan operator. Menurut Hamka, simulator yang modern tidak akan optimal apabila tidak ditunjang sumber daya manusia yang memiliki kompetensi untuk mengoperasikan dan mengajarkannya.
Hal tersebut dinilai penting karena sektor transportasi darat memiliki tantangan keselamatan yang besar. Hamka menyoroti tingginya risiko kecelakaan transportasi darat sehingga kualitas sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya harus menjadi perhatian serius.
“Karena kita paham bahwa di sektor darat itu tingkat kecelakaannya itu sangat tinggi,” ujar Hamka.
Ia berharap pendidikan vokasi perhubungan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan teknis, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta kesiapan menghadapi kondisi operasional yang sesungguhnya.
Modernisasi simulator, menurut Hamka, pada akhirnya harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas SDM sekaligus mendukung keselamatan transportasi. Pendidikan vokasi yang semakin relevan dengan kebutuhan lapangan diharapkan dapat menghasilkan tenaga transportasi yang kompeten dan profesional.
“Pembaruan simulator diperlukan agar latihan semakin mendekati teknologi dan situasi yang akan dihadapi lulusan ketika bekerja,” pungkasnya.






