Duka di Misfalah dan Tantangan Armuzna: Timwas DPR RI HNW Desak Penguatan Mitigasi Lansia serta Disiplin Jemaah

MAKKAH – Suasana khidmat menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) tahun 2026 ini diselimuti kabar duka yang mendalam bagi rumpun jemaah Indonesia. Di tengah jutaan manusia yang mulai memadati Kota Suci Makkah, sebuah kisah pilu datang dari Sektor 9 Misfalah.

​Muhammad Firdaus Akhlan (72), jemaah haji lansia asal Jakarta yang sempat dilaporkan hilang dari pemondokannya sejak 15 Mei 2026, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kawasan Jabal Kuday pada Jumat (22/5/2026).

Bacaan Lainnya

​Kepergian almarhum menjadi pukulan berat sekaligus alarm keras bagi Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI yang sedang melakukan pengawasan langsung di Tanah Suci. Saat meninjau Future Light Hotel Sektor 9 Misfalah pada Sabtu (23/5/2026), Anggota Timwas Haji DPR RI sekaligus Anggota Komisi VIII, Hidayat Nur Wahid, menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam langsung kepada istri almarhum dan jemaah satu maktab.

​Di balik rasa kehilangan yang menyengat, Wakil Ketua MPR RI ini mencoba menguatkan hati keluarga dengan untaian doa dan pandangan spiritual yang menyentuh.

​“Kami bersama dengan para jemaah semuanya ikut menyampaikan sangat berdukacita atas wafatnya almarhum Bapak Muhammad Firdaus Akhlan. Kami sangat yakin bahwa wafat ini adalah wafat yang membawa kepada keberkahan, kepada kebaikan, karena wafat dalam posisi sudah niat untuk haji, wafatnya di tanah haram, dan beliau pun juga disalatkan di Masjid Al-Haram,” ujar Hidayat dengan nada penuh empati.

​Kepada istri almarhum, legislator dari Dapil Jakarta II ini berpesan agar memanfaatkan sisa waktu di Tanah Suci untuk merajut doa terbaik bagi mendiang suaminya. “Mumpung masih ada di tanah haram, masih dalam gerakan haji, untuk memaksimalkan waktunya, memperbanyak doa dan bacaan Al-Quran untuk almarhum,” tuturnya.

Ibrah Penting: Perketat Komunikasi dan Awasi Jemaah Lansia

​Tragedi yang menimpa Muhammad Firdaus Akhlan dinilai Hidayat harus menjadi ibrah atau pelajaran berharga yang sangat mahal bagi seluruh komponen penyelenggara, petugas, maupun sesama jemaah haji Indonesia.

​Mengingat fase Armuzna merupakan periode paling krusial di mana ketahanan fisik jemaah mulai merosot akibat cuaca panas ekstrem dan tingginya aktivitas ibadah, aspek saling menjaga kini menjadi sama pentingnya dengan kesiapan fisik itu sendiri.

​Hidayat mendesak agar sistem komunikasi berlapis antara jemaah, Ketua Regu (Karu), Ketua Rombongan (Karom), hingga petugas kloter diperketat tanpa celah guna meminimalkan risiko jemaah tersesat atau mengalami disorientasi di tengah lautan manusia.

​“Ini sebagai pelajaran, sebagai ibrah, tentang pentingnya betul-betul selalu menjaga kesehatan, pentingnya betul-betul selalu mengkomunikasikan dengan keluarga, dengan jamaah, dengan karom, dengan karu, sehingga kalau ada apa-apa bisa langsung mendapatkan solusi,” tegas Politisi Fraksi PKS tersebut.

Imbauan Menjelang Puncak Haji: Fokus Ibadah, Hindari Aktivitas Sia-sia

​Lebih lanjut, Hidayat memberikan apresiasi tinggi terhadap kebijakan operasional petugas haji yang meminta jemaah membatasi diri dan lebih banyak beraktivitas di dalam pemondokan menjelang hari H sitemu massal di Arafah. Menurunya, memaksakan diri mengejar ibadah sunah ke Masjidil Haram dalam kondisi fisik yang lelah dan cuaca menyengat justru bisa menjadi bumerang.

​“Saya apresiasi apa yang diputuskan agar jemaah kita pada hari-hari menjelang puncak Armuzna fokus untuk ibadah yang puncak itu, beristirahat di pondokan masing-masing, salat di pondokan masing-masing, tidak kemudian memaksakan diri untuk keluar pemondokan, ke Masjidil Haram yang mungkin jalannya tidak sangat dekat, sementara cuacanya sangat panas,” urai Hidayat.

​Ia juga mengingatkan agar pemondokan atau hotel tidak dipandang sekadar tempat transit fisik, melainkan ruang sakral untuk memperkuat kesiapan mental, psikologis, dan pemahaman manasik. Jemaah diimbau keras untuk tidak menghabiskan energi pada hal-hal sekunder yang kurang berfaedah.

​“Kalau berada di pondokan atau di hotel, agar jangan dipakai hanya untuk ngerumpi, apalagi untuk hanya habis waktu dengan gym atau dengan telepon. Kesempatan ini dimaksimalkan untuk mempersiapkan diri haji secara lebih maksimal. Baik dalam konteks kesehatan fisik termasuk juga kesehatan mental dan kesehatan psikis,” pungkasnya.

​Situasi menjelang Armuzna tahun ini memang menuntut kedisiplinan dan kewaspadaan ekstra. Melalui koordinasi yang solid, pembatasan aktivitas fisik di luar ruangan, dan kebersamaan untuk saling mengawasi—terutama jemaah lansia—diharapkan seluruh rangkaian ibadah puncak dapat dilalui oleh seluruh jemaah haji Indonesia dengan selamat, aman, dan meraih predikat haji yang mabrur.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *