Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang bagaimana bentuk cinta kepada orang lain karena Allah. Beliau menjawab:
“Engkau mencintai seseorang bukan karena menginginkan dunianya.” (Tabaqat al-Hanabilah, 1/56)
Kalimat singkat ini menyimpan makna yang sangat dalam. Di tengah zaman ketika banyak hubungan dibangun atas dasar kepentingan, keuntungan, jabatan, popularitas, dan manfaat duniawi, Imam Ahmad mengajarkan bahwa cinta yang paling mulia adalah cinta yang lahir karena Allah semata.
Cinta seperti ini bukanlah cinta yang menuntut balasan. Ia tidak bergantung pada kekayaan, kedudukan, ketampanan, kecantikan, atau manfaat yang bisa diperoleh. Ia tumbuh karena keimanan, karena kebaikan, karena ketakwaan, dan karena harapan agar bersama-sama menuju ridha Allah.
Hakikat Cinta karena Allah
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia mencintai banyak hal. Ada yang mencintai karena hubungan darah, ada yang mencintai karena persahabatan, ada yang mencintai karena manfaat, dan ada yang mencintai karena kepentingan tertentu.
Namun cinta karena Allah berada di tingkat yang berbeda. Cinta karena Allah adalah mencintai seseorang karena ia taat kepada Allah, karena akhlaknya yang baik, karena perjuangannya di jalan kebenaran, atau karena ia membantu kita semakin dekat kepada Allah.
Jika suatu saat orang itu kehilangan harta, jabatan, atau pengaruhnya, cinta tersebut tidak berkurang. Jika ia tidak mampu memberikan keuntungan apa pun kepada kita, cinta itu tetap ada. Bahkan jika hubungan tersebut menuntut pengorbanan, cinta itu tetap bertahan.
Inilah yang dimaksud Imam Ahmad ketika mengatakan bahwa seseorang dicintai bukan karena dunianya.
Dalil Al-Qur’an Tentang Cinta karena Allah
Allah berfirman:
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)
Ayat ini menunjukkan bahwa banyak hubungan yang dibangun di dunia akan berakhir menjadi penyesalan pada Hari Kiamat. Persahabatan yang dibangun di atas maksiat, kepentingan dunia, dan hawa nafsu akan berubah menjadi permusuhan.
Namun persahabatan yang dibangun atas dasar takwa akan tetap abadi.
Allah juga berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Yang Maha Pengasih akan menanamkan bagi mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam: 96)
Para ulama menjelaskan bahwa Allah akan menjadikan orang-orang saleh dicintai oleh penghuni langit dan bumi.
Hadis Tentang Kemuliaan Orang yang Saling Mencintai Karena Allah
Rasulullah ﷺ bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya.”
Di antaranya: “Dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan cinta karena Allah. Pada Hari Kiamat, ketika manusia dilanda ketakutan yang luar biasa, matahari didekatkan, dan manusia tenggelam dalam keringat sesuai amalnya, Allah memberikan naungan khusus kepada orang-orang yang saling mencintai karena-Nya.
Mereka tidak berkumpul karena bisnis, politik, keuntungan, atau kepentingan dunia. Mereka berkumpul untuk ketaatan dan berpisah tetap dalam ketaatan.
Hadis Qudsi Tentang Orang-Orang yang Saling Mencintai Karena Allah
Dalam hadis qudsi Allah berfirman: “Kecintaan-Ku wajib diberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karena Aku.” (HR. Malik, Ahmad)
Bayangkan betapa agungnya kedudukan ini. Tidak sekadar mendapatkan pahala, tetapi mendapatkan cinta Allah.
Dan jika Allah mencintai seorang hamba, maka seluruh kebaikan akan mengikutinya.
Kisah Persaudaraan Abu Bakar dan Umar
Di antara contoh cinta karena Allah adalah hubungan antara para sahabat Nabi. Sering kali terjadi perbedaan pendapat di antara mereka. Namun perbedaan itu tidak merusak cinta yang ada di hati mereka.
Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab memiliki karakter yang berbeda. Abu Bakar terkenal lembut, sedangkan Umar terkenal tegas.
Namun keduanya saling mencintai karena Allah. Ketika Abu Bakar menjadi khalifah, Umar menjadi pendukung terkuatnya. Ketika Umar menjadi khalifah setelah Abu Bakar wafat, beliau terus mengenang jasa sahabatnya itu.
Cinta mereka tidak dibangun atas kepentingan dunia. Ia dibangun di atas iman.
Kisah Muadz bin Jabal
Suatu hari Rasulullah ﷺ memegang tangan Muadz bin Jabal lalu berkata: “Wahai Muadz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu.” (HR. Abu Dawud)
Perhatikan bagaimana Rasulullah ﷺ secara langsung menyampaikan rasa cinta kepada sahabatnya. Ini menunjukkan bahwa mengungkapkan cinta karena Allah merupakan sunnah.
Setelah menyatakan cintanya, Rasulullah mengajarkan doa kepada Muadz. Artinya, cinta karena Allah selalu mengantarkan kepada kebaikan dan ibadah.
Mengapa Cinta Dunia Mudah Hancur?
Banyak hubungan retak karena sejak awal dibangun di atas dunia. Ketika ada uang, hubungan terasa hangat.
Ketika jabatan hilang, hubungan ikut hilang. Ketika manfaat berhenti mengalir, kedekatan pun berakhir.
Seseorang yang dicintai karena hartanya akan kehilangan banyak “teman” ketika hartanya habis. Seseorang yang dicintai karena jabatannya akan kehilangan banyak pengikut ketika jabatannya berakhir.
Seseorang yang dicintai karena pengaruhnya akan ditinggalkan ketika pengaruhnya melemah. Namun orang yang dicintai karena Allah akan tetap dicintai walaupun dunia meninggalkannya.
Tanda-tanda Mencintai Karena Allah
1. Bahagia Melihat Saudaranya Taat
Ketika melihat saudaranya semakin dekat kepada Allah, ia merasa senang. Ia tidak iri terhadap kebaikan yang dimiliki orang lain.
2. Menasihati dengan Ikhlas
Ia tidak membiarkan saudaranya terjatuh dalam kesalahan. Nasihat yang diberikan bukan untuk merendahkan, tetapi untuk memperbaiki.
3. Mendoakan Dalam Kesunyian
Doa adalah bukti cinta yang paling tulus. Ketika seseorang mendoakan saudaranya tanpa diketahui orang tersebut, itulah tanda ketulusan.
4. Tidak Memanfaatkan Persahabatan
Ia tidak menjadikan hubungan sebagai alat untuk memperoleh keuntungan pribadi.
5. Tetap Setia Saat Sulit
Banyak orang hadir ketika keadaan baik. Sedikit yang bertahan ketika keadaan sulit. Cinta karena Allah terlihat ketika ujian datang.
Kisah Imam Ahmad dan Murid-Muridnya
Imam Ahmad dikenal sebagai ulama yang sangat dicintai. Namun kecintaan itu bukan karena kekayaan atau jabatan.
Bahkan beliau mengalami penyiksaan dalam peristiwa Mihnah karena mempertahankan akidah yang benar.
Ketika beliau dipenjara dan dicambuk, banyak murid tetap setia mencintainya.
Mengapa? Karena cinta mereka dibangun atas dasar agama.
Mereka melihat keteguhan Imam Ahmad dalam membela kebenaran. Inilah cinta yang tidak tergantung dunia.
Persahabatan yang Mengangkat ke Surga
Dalam Al-Qur’an Allah menggambarkan penyesalan sebagian manusia pada Hari Kiamat: “Aduhai kiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman akrabku.” (QS. Al-Furqan: 28)
Ayat ini mengajarkan bahwa teman dapat menjadi jalan menuju surga atau jalan menuju neraka. Karena itu, memilih sahabat bukan perkara sepele.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Seseorang itu berada di atas agama sahabat dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Maka salah satu tanda cinta karena Allah adalah memilih sahabat yang membantu kita mengingat Allah.
Ketika Ulama Saling Mencintai
Sejarah Islam dipenuhi kisah para ulama yang saling menghormati. Imam Syafi’i pernah berkata tentang Imam Ahmad:
“Aku keluar dari Baghdad dan tidak aku tinggalkan seseorang yang lebih bertakwa, lebih wara’, lebih alim, dan lebih fakih daripada Ahmad bin Hanbal.”
Sebaliknya Imam Ahmad juga memuliakan Imam Syafi’i. Mereka berbeda dalam beberapa cabang fikih, tetapi tetap saling mencintai dan menghormati.
Inilah akhlak ulama. Perbedaan tidak menghapus persaudaraan.
Bahaya Mencintai Karena Dunia
Jika cinta dibangun karena dunia, maka dunia pula yang akan menghancurkannya. Karena dunia bersifat sementara.
Hari ini seseorang kaya, esok bisa miskin. Hari ini seseorang terkenal, esok bisa dilupakan.
Hari ini seseorang berkuasa, esok bisa tergantikan. Maka orang yang menjadikan dunia sebagai pondasi cinta sedang membangun rumah di atas pasir.
Sebaliknya orang yang menjadikan Allah sebagai pondasi cinta sedang membangun rumah di atas batu yang kokoh.
Cara Menumbuhkan Cinta Karena Allah
Memperbaiki Niat. Tanyakan kepada diri sendiri: Mengapa aku mencintai orang ini? Apakah karena Allah atau karena keuntungan dunia?
Berkumpul Dalam Majelis Ilmu. Majelis ilmu mempertemukan hati-hati yang memiliki tujuan sama, yaitu mencari ridha Allah.
Saling Mendoakan. Doa melembutkan hati dan menguatkan ikatan persaudaraan.
Membantu Dalam Kebaikan. Allah berfirman: “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah: 2)
Menghindari Hasad. Iri hati adalah racun yang menghancurkan persaudaraan.
Keutamaan Orang yang Dicintai Karena Allah
Di antara keutamaannya: Mendapat cinta Allah. Mendapat naungan Allah pada Hari Kiamat. Mendapat manisnya iman.
Mendapat persahabatan yang abadi hingga akhirat. Mendapat pahala besar tanpa harus mengeluarkan biaya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Renungan Untuk Diri Kita
Cobalah mengingat orang-orang yang kita cintai. Apakah kita mencintai mereka karena kedekatan kepada Allah?
Ataukah karena manfaat yang mereka berikan? Apakah kita tetap mencintai mereka jika suatu hari mereka tidak lagi memiliki harta, jabatan, atau pengaruh?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk membersihkan niat. Karena cinta yang paling indah bukanlah cinta yang meminta, melainkan cinta yang memberi.
Bukan cinta yang menghitung keuntungan, melainkan cinta yang mengharap ridha Allah.
Penutup
Perkataan Imam Ahmad rahimahullah: “Engkau mencintai seseorang bukan karena menginginkan dunianya.” adalah pelajaran besar bagi setiap Muslim.
Di tengah dunia yang penuh kepentingan, Allah mengajarkan kita untuk membangun hubungan yang lebih tinggi nilainya: hubungan yang berlandaskan iman dan takwa.
Harta akan habis. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan pudar. Namun cinta karena Allah akan tetap hidup, bahkan ketika dunia telah berakhir.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang saling mencintai karena-Nya, saling menasihati karena-Nya, saling mendoakan karena-Nya, dan kelak dipertemukan kembali di bawah naungan-Nya pada Hari Kiamat.
اللهم ارزقنا حبك وحب من يحبك وحب كل عمل يقربنا إلى حبك
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami cinta kepada-Mu, cinta kepada orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada setiap amal yang mendekatkan kami kepada cinta-Mu.” Aamiin.






