Buruh Bukan Angka: Mercy Barends Tegaskan Perjuangan Hak Pekerja adalah Perjuangan Kemanusiaan

JAKARTA: BELA RAKYAT – Di tengah berbagai tantangan ekonomi nasional, mulai dari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), meningkatnya sektor kerja informal, hingga tuntutan atas upah dan jaminan sosial yang lebih layak, menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari nasib jutaan pekerja Indonesia.

Dalam momentum tersebut, Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Mercy Barends, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, menyampaikan pesan yang menegaskan bahwa buruh bukan sekadar instrumen produksi ataupun angka statistik dalam laporan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, perjuangan untuk melindungi buruh merupakan perjuangan kemanusiaan sekaligus bagian dari penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Bacaan Lainnya

Pesan tersebut sejalan dengan narasi besar yang diusung PDI Perjuangan pada peringatan May Day lalu, yakni “Banteng Pro Pekerja: Buruh Berdaulat, Indonesia Berdikari.”

Di Balik Angka Pertumbuhan Ekonomi Ada Manusia

Mercy mengingatkan bahwa setiap capaian ekonomi nasional sesungguhnya dibangun oleh kerja keras jutaan buruh di berbagai sektor.

“Perjuangan untuk perlindungan dan kesejahteraan bagi buruh dan tenaga kerja adalah perjuangan untuk hak asasi manusia. Seluruh pekerja, buruh-pekerja yang ada di Indonesia, entah yang informal, entah yang formal, termasuk pekerja migran, saya hanya ingin menggarisbawahi bahwa mereka bukan angka. Angka-angka statistik,” ucap Mercy.

Menurut Mercy, terlalu sering buruh hanya diposisikan sebagai bagian dari data ekonomi, sementara perjuangan, pengorbanan, dan kehidupan mereka luput dari perhatian.

Ia menegaskan bahwa di balik setiap persentase pertumbuhan ekonomi terdapat manusia yang bekerja dengan tenaga, pikiran, bahkan mempertaruhkan keselamatan demi menjaga roda perekonomian tetap berjalan.

“Di balik angka-angka pertumbuhan ekonomi itu, ada manusia di sana. Mereka mengkontribusikan tenaga, pikiran, keringat, air mata mereka, bahkan darah mereka, termasuk nyawa juga mereka korbankan hanya untuk bangsa dan negara ini.”

Hak Buruh Adalah Hak Asasi Manusia

Mercy menilai persoalan buruh tidak boleh dipersempit menjadi isu ekonomi semata. Baginya, perlindungan pekerja merupakan bagian dari penghormatan terhadap martabat manusia.

Sebagai anggota DPR RI dari PDI Perjuangan, ia menegaskan bahwa perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja merupakan komitmen yang harus terus diperjuangkan dalam kebijakan negara.

“Saya pribadi sebagai bagian dari PDI Perjuangan dan ada di DPR RI hari ini, saya ingin mengatakan bahwa perjuangan perlindungan dan kesejahteraan bagi buruh dan tenaga kerja adalah perjuangan hak asasi manusia,” papar Mercy.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kebijakan ketenagakerjaan tidak cukup hanya mengejar produktivitas dan investasi, tetapi juga harus menjamin perlindungan terhadap hak-hak dasar pekerja.

Tri Layak sebagai Fondasi Keadilan Sosial

Dalam refleksi Hari Buruh, Mercy juga menekankan pentingnya mewujudkan prinsip “Tri Layak”, yaitu layak kerja, layak upah, dan layak penghidupan.

Menurutnya, ketiga aspek tersebut merupakan inti dari keadilan sosial yang harus diwujudkan negara kepada seluruh pekerja Indonesia.

“Kemanusiaan menjadi inti terdalam dari apa yang kita perjuangkan ini untuk memastikan Tri Layak tadi: layak kerja, layak upah, dan layak untuk penghidupan.”

Konsep tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa kesejahteraan pekerja bukan sekadar persoalan besaran gaji, melainkan juga menyangkut kepastian kerja, perlindungan hukum, keselamatan kerja, hingga kesempatan hidup yang bermartabat bagi pekerja beserta keluarganya.

Buruh sebagai Pilar Pembangunan Nasional

Pernyataan Mercy juga menjadi refleksi bahwa keberhasilan pembangunan nasional tidak mungkin tercapai tanpa kontribusi para pekerja di seluruh sektor, baik formal maupun informal, termasuk pekerja migran Indonesia yang turut menopang perekonomian nasional.

Karena itu, penghormatan terhadap buruh tidak cukup diwujudkan melalui seremoni peringatan Hari Buruh setiap tahun, tetapi harus tercermin dalam kebijakan yang memberikan kepastian hukum, perlindungan sosial, kesempatan kerja yang layak, serta kesejahteraan yang berkeadilan.

Mercy Barends mengajak seluruh elemen bangsa untuk melihat buruh sebagai manusia yang memiliki martabat, hak, dan kontribusi besar bagi Indonesia. Baginya, ketika negara melindungi pekerja, sesungguhnya negara sedang menjaga nilai-nilai kemanusiaan sekaligus memperkuat fondasi menuju Indonesia yang lebih adil, berdaulat, dan berdikari.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *