Black Stone Airlines Tambah Armada, Bamsoet Optimistis Industri Air Cargo Terus Meningkat

JAKARTA –  Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan pendiri RGA- Black Stone Airlines, Bambang Soesatyo, optimis dengan pertumbuhan ekonomi 5,61% (yoy) pada kuartal I-2026. Hal itu menjadi alasan aksi korporasi yang dilakukan perusahaan yang didirikannya bersama CEO and Chairman of Asia Cargo Network (ACN) Marco Isaak, menambah beberapa pesawat BOEING 737-800SF dalam rangka memperkuat armada kargo udara nasional Black Stone Airlines dari enam pesawat yang sudah beroperasi sejak 2022.

Pertumbuhan bisnis penerbangan kargo nasional ini memiliki hubungan sangat erat dengan arah pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Di tengah transformasi ekonomi digital, peningkatan konsumsi e-commerce, serta ekspansi industri nasional, sektor kargo udara berkembang menjadi salah satu penopang kekuatan ekonomi nasional. Semakin tinggi aktivitas distribusi barang melalui jalur udara, semakin terlihat peningkatan aktivitas perdagangan, industri, dan konsumsi masyarakat di berbagai daerah.

Bacaan Lainnya

“Pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada kecepatan distribusi barang. Hari ini kita melihat bagaimana kargo udara berkembang menjadi salah satu urat nadi ekonomi nasional. Ketika industri tumbuh, e-commerce meningkat, UMKM berkembang, maka kebutuhan logistik udara ikut melonjak. Karena itu, pertumbuhan bisnis penerbangan kargo menjadi salah satu indikator pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Bamsoet di kantor pusat RGA-Black Stone Airlines di JB Tower Kebon Sirih, Jakarta, Jumat (8/5/26).

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 tumbuh 5,11 persen (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan tahun 2024 sebesar 5,03 persen. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2025 mencapai Rp 23.821,1 triliun dengan PDB per kapita sebesar Rp 83,7 juta atau sekitar USD 5.083. Dari sisi produksi, sektor transportasi dan pergudangan menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni mencapai 8,98 persen pada triwulan IV-2025. Sementara ekspor barang dan jasa tumbuh 7,03 persen dan menjadi motor penting pertumbuhan ekonomi nasional.

“Data tersebut menunjukkan bahwa sektor logistik, transportasi, dan distribusi menjadi faktor penting penggerak ekonomi nasional. Ketika distribusi barang bergerak cepat, perdagangan meningkat, investasi ikut tumbuh, dan konsumsi masyarakat menjadi lebih kuat. Dalam hal ini, bisnis kargo udara memiliki peran strategis dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menguraikan, saat ini terjadi perubahan besar perilaku masyarakat dalam berbelanja. Konsumen kini menuntut pengiriman barang dalam hitungan jam atau maksimal satu hari. Pola konsumsi tersebut memaksa industri logistik nasional melakukan transformasi besar-besaran. Penerbangan kargo pun menjadi tulang punggung utama distribusi modern.

“Ke depan, persaingan dunia usaha tidak lagi semata-mata soal harga produk. Kecepatan distribusi menjadi faktor penentu kemenangan bisnis. Karena itu, maskapai kargo, operator logistik, dan pengelola bandara memiliki posisi yang semakin strategis dalam rantai ekonomi nasional,” kata Bamsoet.

Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran ini memaparkan, Indonesia berada di posisi sangat menguntungkan dalam perubahan tersebut. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi digital yang sangat pesat, kebutuhan distribusi udara nasional dipastikan terus meningkat. Apalagi pertumbuhan UMKM digital kini semakin tinggi. Produk pakaian lokal, makanan olahan, hasil perikanan, elektronik, hingga produk farmasi sangat bergantung pada sistem logistik cepat berbasis udara.

“UMKM Indonesia sekarang tidak lagi bermain di pasar lokal semata. Produk dari daerah bisa langsung dijual ke seluruh Indonesia bahkan pasar dunia melalui platform digital. Tetapi seluruh sistem itu akan berjalan optimal jika didukung konektivitas kargo udara yang kuat dan efisien,” pungkas Bamsoet. (Dwi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *