GIANYAR – Siang itu suasana di Banjar Kebon, Desa Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali terasa berbeda. Di sebuah rumah sederhana yang dipenuhi tumpukan barang bekas dan perabot tak terpakai, harapan keluarga kecil Agus Nugraha perlahan mulai tumbuh kembali.
Kisah pilu Agus, siswa SMK PGRI Blahbatuh yang hidup dalam kondisi kemiskinan ekstrem, sebelumnya viral di media sosial dan mengundang perhatian publik. Banyak warga tersentuh melihat bagaimana Agus tetap berusaha bersekolah di tengah kondisi rumah yang memprihatinkan.
Di tengah kesibukannya menjalankan tugas negara di Jakarta, Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP Dapil Bali I Nyoman Parta memilih langsung pulang kampung ke Bali demi menemui keluarga Agus, Kamis (28/5/2026). Kedatangannya bukan sekadar kunjungan formal, melainkan bentuk kepedulian nyata terhadap keluarga yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Saat tiba di lokasi, Parta tampak terdiam beberapa saat melihat kondisi rumah Agus. Halaman dan bagian dalam rumah dipenuhi tumpukan barang bekas, plastik, kayu lapuk, hingga peralatan rumah tangga yang sudah rusak. Aroma lembab menyengat terasa dari sudut-sudut rumah yang nyaris tak tertata.
Didampingi Kapolsek Blahbatuh dan Kelian Dinas setempat, Parta kemudian berbincang langsung dengan keluarga Agus. Dengan nada lembut namun tegas, ia meminta agar lingkungan rumah segera dibersihkan demi kesehatan dan keselamatan keluarga.
“Kalau rumah bersih, hidup juga akan terasa lebih nyaman. Sampah dan barang-barang bekas ini bisa jadi sarang nyamuk, tikus bahkan ular. Jangan sampai membahayakan keluarga,” ujar Parta.
Di hadapan Agus dan keluarganya, politisi asal Desa Guwang, Sukawati, Gianyar itu juga memberikan motivasi agar kemiskinan tidak menjadi alasan untuk menyerah pada pendidikan.
Ia mengaku prihatin melihat kondisi Agus yang tetap berjuang sekolah meski hidup serba kekurangan. Menurutnya, semangat seperti itu harus dijaga dan didukung bersama-sama.
“Jangan berhenti sekolah. Pendidikan adalah jalan untuk mengubah hidup. Banyak orang yang hidupnya lebih berat tetapi tetap berjuang demi masa depan,” katanya sambil menepuk bahu Agus.
Ucapan itu membuat suasana haru pecah. Agus dan keluarganya tampak menahan air mata saat mendengar perhatian dan dukungan yang diberikan secara langsung.
Tidak berhenti pada bantuan moril, Parta juga langsung mengambil langkah konkret. Ia berkoordinasi dengan aparat setempat untuk melakukan gotong royong membersihkan rumah keluarga Agus pada hari yang sama. Seluruh biaya pembersihan ditanggung pribadi oleh dirinya.
Warga sekitar pun mulai berdatangan membantu. Sebagian mengangkat tumpukan barang bekas, sebagian lainnya membersihkan halaman dan saluran air di sekitar rumah. Suasana gotong royong yang sempat lama tak terlihat kembali hidup di lingkungan tersebut.
Parta menilai persoalan kemiskinan tidak bisa hanya diselesaikan dengan rasa iba sesaat. Dibutuhkan kepedulian bersama agar keluarga seperti Agus bisa kembali hidup layak.
Karena itu, ia juga menyatakan siap membantu program bedah rumah agar keluarga Agus memiliki tempat tinggal yang lebih sehat dan manusiawi.
“Saya ingin Agus dan keluarganya punya rumah yang layak. Anak-anak harus tumbuh di lingkungan yang baik supaya bisa belajar dengan nyaman dan punya harapan untuk masa depan,” tegasnya.
Kehadiran Parta di rumah sederhana itu meninggalkan kesan mendalam bagi warga sekitar. Bagi Agus, perhatian tersebut menjadi penyemangat baru untuk terus melanjutkan sekolah dan mengejar cita-citanya di tengah segala keterbatasan hidup yang dihadapi keluarganya.






