Anak Krakatau Masih Siaga, Meutya: Tenang, Waspada, Jangan Sebar Hoaks

JAKARTA – Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda masih menjadi perhatian pemerintah. Meski erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam telah berakhir, status GAK masih berada pada Level III atau Siaga.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid meminta masyarakat tetap tenang, namun tidak mengurangi kewaspadaan terhadap perkembangan aktivitas vulkanik tersebut.

Bacaan Lainnya

“Tetap tenang, tetapi jangan mengurangi kewaspadaan,” kata Meutya di Jakarta, Minggu (6/9/2026), seperti dikutip dari laman resmi Komdigi.

Meutya juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya atau menyebarkan informasi mengenai Gunung Anak Krakatau yang belum terverifikasi, terutama informasi yang berpotensi menimbulkan kepanikan.

Masyarakat diminta mengikuti perkembangan situasi melalui sumber resmi, seperti PVMBG, BMKG, BNPB, pemerintah daerah, serta instansi terkait lainnya.

“Saring sebelum sharing. Pastikan informasi yang kita terima berasal dari sumber resmi dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Meutya.

Di tengah sebaran abu vulkanik, masyarakat di wilayah terdampak juga diminta memperhatikan keselamatan dan kesehatan. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker, seperti N95 atau KN95, serta kacamata pelindung.

Aktivitas di ruang terbuka sebaiknya dikurangi selama kondisi udara masih dipengaruhi abu vulkanik. Bagi pengendara, kewaspadaan juga perlu ditingkatkan karena abu dapat mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan licin.

Masyarakat juga diimbau mencuci tangan dan wajah setelah beraktivitas di luar ruangan serta memastikan sumber air bersih terlindungi dari paparan abu vulkanik.

Selain itu, masyarakat, wisatawan, dan nelayan diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif, sesuai rekomendasi PVMBG.

Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan menjadikan informasi resmi sebagai rujukan utama dalam menghadapi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *