Napak Tilas ke Fakfak, Menteri Bahlil Cerita Masa Jadi Kenek: 5 Tahun Saya di Terminal Ini

FAKFAK – BELA RAKYAT –  Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenang masa kecilnya saat bekerja sebagai kenek dan sopir angkot di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Momen tersebut terekam dalam video yang diunggah di Facebook dan beredar luas. Dalam video itu, Bahlil terlihat mendatangi Terminal Tumburuni dengan kemeja putih, disambut hangat oleh para sopir dan kenek senior yang dulu menjadi rekan kerjanya.

Bacaan Lainnya

Sambil duduk bersama di bangku terminal, Bahlil memperkenalkan satu per satu sosok yang dulu membersamainya.

“Ini Pak Niko, mobilnya dulu saya yang bawa. Kalau Sabtu Minggu tidak libur, saya bawa ini,” ujar Bahlil sambil menunjuk salah satu sopir.

Ia juga menyapa rekan lainnya bernama Dino dan Frans. Suasana penuh tawa dan pelukan. Salah satu sopir bahkan mengaku bangga rekan kecilnya dulu kini menjadi menteri.

Bahlil menceritakan, ia bekerja di terminal tersebut selama 5 tahun.

“5 tahun aku di sini, 5 tahun,” katanya.

Ia masih hafal betul sistem trayek angkot di Fakfak pada masa itu yang dibedakan dengan warna.

“Dulu kan ada tiga jalur warna. Hijau Seberang, Putih Wagon Korea, Kuning Puncak, Merah Kota,” jelas Bahlil.

Tak hanya soal rute, ia juga mengenang masa-masa sulit sebagai anak kecil yang harus banting tulang. Dalam video dengan subtitle, terdengar ia berkata:

“Yang benar saya kenek lama… Dulu saya anak kecil… Kalau supir dan kenek, makor dan telor… Habis itu keluar lagi.”

Kisah Bahlil sebagai kenek angkot memang bukan cerita baru. Sejak SD ia membantu orang tua jualan kue, dan sejak SMP sampai SMK menjadi kernet angkutan kota di Fakfak.

“Sekolahnya kan siang, pagi harinya jadi kenek angkot. Pulang sekolah kembali jadi kenek sampai jam 10 malam,” pernah diceritakan keluarganya. Ia dikenal bersahaja karena pernah merasakan pahitnya kehidupan sebelum menjadi menteri.

Di akhir pertemuan, salah satu sopir menyampaikan pesan haru:

“Saya sangat bangga dengan hadirnya pak menteri… jadi saya malah berterima kasih.”
Momen di Terminal Tumburuni ini menjadi pengingat perjalanan Bahlil dari kenek angkot di ujung timur Indonesia hingga menjadi Menteri ESDM.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *