Belajar Bersabar, Bertawakal, dan Memahami Rahasia Ketetapan Allah SWT
Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Tidak semua yang kita inginkan harus datang sekarang. Tidak semua doa yang kita panjatkan harus langsung menjadi kenyataan. Dan tidak semua pintu yang kita ketuk akan segera terbuka.
Ada doa yang sudah berkali-kali kita panjatkan dalam sujud, tetapi jawabannya belum juga terlihat. Ada harapan yang telah lama kita perjuangkan, tetapi hasilnya belum kunjung datang. Ada keinginan yang begitu kuat kita simpan di dalam hati, namun kenyataan justru berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan.
Kadang kita merasa lelah. Bahkan, tidak jarang muncul pertanyaan dalam hati, mengapa orang lain begitu mudah mendapatkan apa yang diinginkannya, sementara kita harus melewati begitu banyak ujian dan penantian?
Namun, saudaraku…
Jangan pernah menganggap Allah SWT tidak mendengar doa kita. Jangan pula terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak memperhatikan perjuangan kita.
Boleh jadi, sesuatu yang kita minta memang baik menurut pandangan kita, tetapi belum tentu baik menurut ilmu Allah. Boleh jadi, sesuatu yang kita kejar hari ini justru akan membawa kesulitan apabila diberikan sebelum waktunya.
Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Allah Maha Memahami apa yang tidak mampu kita jelaskan, bahkan Allah mengetahui isi hati yang tidak sanggup kita ungkapkan melalui kata-kata.
Terkadang, Allah tidak sedang menolak permintaan kita. Bisa jadi Allah sedang mendidik kesabaran, memperbaiki niat, menguatkan iman, dan mempersiapkan diri kita agar mampu menerima apa yang kelak diberikan-Nya.
Ada saatnya, tetapi belum waktunya.
1. Tidak Semua Doa Harus Dijawab dengan Cara yang Kita Inginkan
Kita sering mengukur terkabulnya doa berdasarkan apa yang terlihat oleh mata. Ketika meminta rezeki, kita berharap kekayaan segera datang. Ketika meminta kemudahan, kita berharap seluruh masalah langsung selesai. Ketika meminta kebahagiaan, kita berharap tidak ada lagi kesedihan.
Padahal, cara Allah mengabulkan doa tidak selalu sama dengan apa yang kita bayangkan.
Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad dijelaskan bahwa seorang Muslim yang berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi akan mendapatkan salah satu dari tiga hal: doanya disegerakan, disimpan sebagai pahala di akhirat, atau dijauhkan dari keburukan yang sebanding dengannya.
Maka, jangan pernah berhenti berdoa hanya karena belum melihat hasilnya.
Jangan pula berhenti berharap hanya karena perjalanan terasa panjang.
Sebab, doa bukan sekadar meminta sesuatu kepada Allah, melainkan juga bentuk pengakuan bahwa kita adalah hamba yang lemah dan sangat membutuhkan pertolongan-Nya.
2. Waktu Allah Tidak Selalu Sama dengan Keinginan Manusia
Manusia memiliki rencana, target, harapan, dan batas kesabaran. Kita ingin semuanya berjalan cepat. Kita ingin perjuangan hari ini menghasilkan keberhasilan esok hari.
Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai kalender yang kita susun.
Ada orang yang berhasil di usia muda. Ada yang baru menemukan jalannya setelah melewati berbagai kegagalan. Ada yang mendapatkan rezeki melalui jalan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Jangan membandingkan waktu perjalanan hidup kita dengan perjalanan hidup orang lain.
Setiap manusia mempunyai ujian, kesempatan, tanggung jawab, dan perjalanan yang berbeda.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua yang kita sukai membawa kebaikan dan tidak semua yang kita hindari membawa keburukan.
Karena itu, jangan terlalu cepat kecewa ketika sesuatu belum menjadi milik kita. Bisa jadi, Allah sedang menjauhkan kita dari sesuatu yang tidak baik bagi kehidupan dunia dan akhirat.
3. Kesabaran Bukan Berarti Berhenti Berusaha
Sabar bukan berarti hanya duduk diam menunggu keajaiban. Sabar bukan alasan untuk menyerah terhadap keadaan. Sabar juga bukan berarti membiarkan diri kita terjebak dalam kesulitan tanpa ikhtiar.
Kesabaran yang sesungguhnya adalah kemampuan menjaga iman ketika keadaan belum sesuai harapan, tetap berusaha ketika hasil belum terlihat, dan tetap berbuat baik meskipun kehidupan sedang tidak mudah.
Teruslah bekerja. Teruslah belajar. Teruslah memperbaiki diri. Teruslah membangun hubungan baik dengan sesama manusia.
Jika gagal, bangkitlah.
Jika jatuh, belajarlah berdiri kembali.
Jika pintu pertama tertutup, carilah pintu lain dengan cara yang halal dan diridai Allah.
Jangan sampai karena terlalu sibuk menunggu hasil, kita justru melupakan kewajiban untuk berikhtiar.
Allah SWT berfirman:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Artinya, setelah berusaha dan mengambil keputusan dengan sungguh-sungguh, serahkan hasilnya kepada Allah.
4. Jangan Menunggu Sukses untuk Mulai Bersyukur
Sering kali manusia baru merasa bahagia ketika mendapatkan apa yang diinginkan.
Kita lupa bahwa hari ini masih diberikan kesehatan, kesempatan bernapas, keluarga, sahabat, makanan, dan waktu untuk memperbaiki diri.
Padahal, begitu banyak nikmat Allah yang setiap hari kita terima tanpa pernah kita hitung.
Jangan sampai kita terlalu sibuk memikirkan apa yang belum dimiliki hingga melupakan begitu banyak nikmat yang sudah berada dalam genggaman.
Bersyukur bukan berarti berhenti memiliki cita-cita. Bersyukur justru membuat kita mampu mengejar cita-cita tanpa kehilangan ketenangan hati.
Allah SWT berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Maka, belajarlah bersyukur dalam keadaan lapang maupun sempit. Sebab, hati yang pandai bersyukur tidak mudah dikalahkan oleh rasa kekurangan.
5. Jangan Menunda Ketaatan karena Merasa Masih Memiliki Banyak Waktu
Inilah salah satu pelajaran terpenting dalam kehidupan.
Kita sering menunda salat dengan alasan masih sibuk. Menunda membaca Al-Qur’an karena pekerjaan belum selesai. Menunda bersedekah karena merasa belum kaya. Menunda meminta maaf karena masih dikuasai ego. Bahkan, menunda bertobat karena merasa masih muda dan masih mempunyai banyak kesempatan.
Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan batas kehidupannya akan berakhir.
Allah SWT berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”(QS. Al-A’raf: 34)
Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan mempunyai batas. Kematian tidak menunggu kita kaya, tidak menunggu kita sukses, tidak menunggu semua urusan selesai, dan tidak menunggu kita merasa siap.
Karena itu, jangan menunda kebaikan.
Jangan menunggu menjadi orang kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu menjadi orang alim untuk belajar agama. Jangan menunggu tua untuk memperbanyak ibadah. Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah.
Sebab, kesempatan beramal adalah nikmat yang tidak selalu datang dua kali.
6. Al-Qur’an Mengingatkan agar Hati Tidak Menjadi Keras
Allah SWT berfirman:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diturunkan kepada mereka?” (QS. Al-Hadid: 16)
Ayat ini merupakan teguran sekaligus panggilan bagi orang-orang beriman agar tidak membiarkan hati mereka menjadi keras.
Jangan sampai perjalanan waktu justru membuat kita semakin jauh dari Allah.
Dahulu kita rajin berdoa, sekarang mulai jarang.
Dahulu kita mudah tersentuh ketika mendengar ayat Al-Qur’an, sekarang hati terasa biasa saja.
Dahulu kita takut melakukan dosa, sekarang mulai terbiasa mencari pembenaran.
Dahulu kita bersemangat datang ke masjid, sekarang selalu memiliki alasan untuk tidak datang.
Maka, sebelum hati semakin jauh, mari kembali mendekat kepada Allah.
Tidak ada kata terlambat untuk bertobat selama Allah masih memberikan kesempatan hidup.
7. Sepertiga Malam: Waktu Terbaik untuk Mendekatkan Diri kepada Allah
Di antara waktu yang sangat istimewa bagi seorang Muslim adalah sepertiga malam terakhir.
Ketika sebagian besar manusia terlelap dalam tidurnya, ada hamba-hamba Allah yang bangun untuk mengambil air wudu, membentangkan sajadah, melaksanakan salat tahajud, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan memanjatkan doa.
Dalam kesunyian malam, tidak ada yang perlu kita sembunyikan dari Allah.
Kita bisa menangis tanpa harus menjelaskan kepada siapa pun. Kita bisa mengadukan segala kesulitan tanpa takut dihakimi. Kita bisa meminta ampun atas dosa-dosa yang pernah dilakukan dan memohon kekuatan untuk menjalani kehidupan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan menyeru hamba-Nya untuk berdoa, meminta, dan memohon ampun. (HR. Bukhari dan Muslim).
Betapa istimewanya kesempatan tersebut.
Namun, janganlah kita memahami tahajud hanya sebagai jalan untuk meminta kekayaan, jabatan, kesuksesan, atau terkabulnya keinginan duniawi.
Tahajud adalah jalan mendekatkan diri kepada Allah.
Mintalah hati yang istiqamah. Mintalah iman yang kuat. Mintalah rezeki yang halal dan berkah. Mintalah keluarga yang saleh. Mintalah perlindungan dari fitnah dunia. Mintalah akhir kehidupan yang husnul khatimah.
Sebab, keberhasilan terbesar seorang hamba bukan hanya ketika seluruh keinginannya terwujud, tetapi ketika ia mampu menjalani kehidupan dengan tetap berada dalam ketaatan kepada Allah SWT.
8. Jangan Takut Kehilangan Sesuatu yang Memang Bukan Takdir Kita
Dalam kehidupan, ada pertemuan dan perpisahan. Ada kesempatan yang datang dan pergi. Ada impian yang terwujud dan ada pula yang harus dilepaskan.
Tidak semua yang pergi harus dikejar kembali. Tidak semua yang hilang harus disesali sepanjang hidup.
Terkadang, kehilangan mengajarkan kita arti keikhlasan. Kegagalan mengajarkan kerendahan hati. Penantian mengajarkan kesabaran. Dan ujian mengajarkan kita untuk lebih dekat kepada Allah.
Tetapi ingat, tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Kita tetap diperintahkan untuk berikhtiar, memperbaiki keadaan, dan mencari jalan keluar yang baik.
Setelah semua usaha dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh keyakinan.
Jangan biarkan sesuatu yang belum kita miliki merampas kebahagiaan atas nikmat yang sudah Allah berikan.
9. Istiqamah Lebih Penting daripada Semangat Sesaat
Ada kalanya kita sangat bersemangat beribadah ketika sedang menghadapi kesulitan. Kita rajin berdoa ketika sedang membutuhkan pertolongan. Kita sering datang ke masjid ketika sedang mempunyai masalah.
Namun, ketika keadaan mulai membaik, semangat itu perlahan menghilang.
Padahal, seorang Muslim seharusnya menjaga ketaatan bukan hanya ketika sedang membutuhkan sesuatu, tetapi juga ketika hidup sedang berada dalam keadaan lapang.
Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka, jangan hanya bersemangat pada awal perjalanan.
Jagalah salat lima waktu. Biasakan membaca Al-Qur’an meskipun beberapa ayat. Perbanyak istigfar. Jaga lisan. Hormati orang tua. Sambung silaturahmi. Sisihkan rezeki untuk bersedekah.
Jangan meremehkan kebaikan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Boleh jadi, amalan sederhana yang kita lakukan dengan ikhlas justru menjadi jalan datangnya rahmat dan pertolongan Allah.
10. Pada Akhirnya, Kita Harus Belajar Memahami Takdir
Kehidupan bukan tentang siapa yang paling cepat mendapatkan sesuatu. Kehidupan adalah tentang siapa yang mampu menjaga keimanan sampai akhir perjalanan.
Jangan terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mempersiapkan akhirat.
Jangan terlalu kecewa karena belum mendapatkan apa yang diinginkan hingga lupa mensyukuri apa yang sudah dimiliki.
Jangan terlalu takut menghadapi masa depan hingga melupakan bahwa Allah adalah sebaik-baiknya tempat bergantung.
Apa yang menjadi bagian kita tidak akan tertukar, tetapi kita tetap harus menempuh jalan yang benar untuk meraihnya. Dan apa pun hasil akhirnya, jangan pernah meninggalkan Allah.
Jika hari ini belum berhasil, bukan berarti selamanya gagal. Jika hari ini belum mendapatkan, bukan berarti tidak akan pernah memiliki. Jika hari ini doa belum menjadi kenyataan, jangan berhenti mengetuk pintu langit.
Bisa jadi, ada saatnya Allah memberikan apa yang kita minta. Bisa jadi, Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Dan bisa jadi, kebaikan terbesar justru terletak pada kemampuan kita menerima ketetapan-Nya dengan hati yang lapang.
Ingatlah, waktu terbaik untuk memperbaiki diri bukanlah besok, melainkan hari ini.
Waktu terbaik untuk bertobat bukanlah ketika usia sudah tua, melainkan selagi napas masih berembus.
Waktu terbaik untuk mendekat kepada Allah bukanlah ketika seluruh masalah selesai, melainkan justru ketika kita sedang membutuhkan pertolongan-Nya.
DOA DAN HARAPAN
Ya Allah… Jika apa yang kami harapkan belum Engkau berikan, kuatkanlah hati kami untuk bersabar.
Jika apa yang kami perjuangkan belum membuahkan hasil, jangan biarkan kami kehilangan semangat untuk berikhtiar.
Jika jalan kehidupan terasa berat, berikanlah kami kekuatan untuk melewatinya.
Jika hati kami mulai jauh dari-Mu, panggillah kami kembali ke jalan ketaatan.
Jika rezeki kami masih sempit, lapangkanlah dengan rezeki yang halal, baik, dan penuh keberkahan.
Jika kami sedang diuji dengan kehilangan, anugerahkanlah keikhlasan.
Jika kami sedang diuji dengan kelapangan, jauhkanlah kami dari kesombongan.
Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang tidak hanya pandai meminta, tetapi juga pandai bersyukur. Tidak hanya pandai berharap, tetapi juga rajin berusaha. Tidak hanya rajin beribadah ketika membutuhkan sesuatu, tetapi mampu istiqamah dalam setiap keadaan.
Jangan biarkan kesibukan dunia membuat kami lupa kepada-Mu. Jangan biarkan panjangnya usia membuat hati kami semakin keras. Dan jangan ambil nyawa kami kecuali dalam keadaan beriman dan husnul khatimah.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Mari kita manfaatkan sepertiga malam terakhir untuk qiyamul lail, salat tahajud, berzikir, membaca Al-Qur’an, beristigfar, dan memanjatkan doa. Jangan hanya meminta agar Allah mengubah keadaan kita, tetapi mintalah agar Allah terlebih dahulu memperbaiki hati kita.
ADA SAATNYA, TAPI BELUM WAKTUNYA.
Bersabarlah dalam penantian, bersungguh-sungguhlah dalam ikhtiar, perbanyaklah doa, dan istiqamahlah dalam kebaikan. Sebab, tugas kita adalah berusaha dan taat, sedangkan segala ketetapan berada dalam ilmu dan kehendak Allah SWT.






