Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantam Selatan I
Sesungguhnya, tidak semua ujian datang dalam bentuk kesedihan. Tidak semua cobaan hadir melalui kesulitan. Terkadang, ujian terbesar justru datang ketika kehidupan sedang berada dalam keadaan lapang, rezeki berlimpah, jabatan meningkat, kesehatan terjaga, usaha berkembang, dan segala keinginan seolah mudah untuk diwujudkan.
Kita sering menganggap bahwa ujian adalah kehilangan, kemiskinan, penyakit, kegagalan, atau berbagai kesulitan hidup. Padahal, ketika Allah memberikan kekayaan, keberhasilan, kekuasaan, popularitas, kedudukan, dan kemudahan, sesungguhnya manusia juga sedang diuji.
Bahkan, ujian berupa kenikmatan terkadang jauh lebih berat daripada ujian berupa kesulitan. Sebab, ketika seseorang mengalami kesusahan, ia biasanya lebih mudah mengingat Allah, berdoa, memohon pertolongan, dan berharap akan datangnya pertolongan-Nya.
Namun, ketika hidup dipenuhi kemudahan, tidak sedikit manusia yang justru mulai lupa kepada Allah. Ketika hartanya bertambah, ibadahnya berkurang. Ketika jabatannya meningkat, kerendahan hatinya menghilang. Ketika kedudukannya dihormati banyak orang, ia mulai merasa lebih tinggi daripada sesamanya.
Di sinilah letak ujian yang sesungguhnya.
1. Allah Menguji Manusia dengan Keburukan dan Kebaikan
Allah SWT telah menegaskan bahwa kehidupan manusia merupakan rangkaian ujian. Ujian tersebut tidak hanya berupa sesuatu yang menyedihkan, tetapi juga sesuatu yang menyenangkan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 35:
“Kullu nafsin dzaiqatul maut, wa nablukum bisy-syarri wal-khairi fitnah, wa ilaina turja’un.”
Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam bahwa segala sesuatu yang kita alami dalam kehidupan merupakan bagian dari ujian Allah SWT.
Kesulitan menguji kesabaran. Kenikmatan menguji kesyukuran. Kehilangan menguji keikhlasan. Kekayaan menguji kepedulian. Kekuasaan menguji amanah. Sementara keberhasilan menguji kerendahan hati.
Oleh karena itu, jangan pernah merasa bahwa seseorang yang hidupnya berkecukupan berarti tidak sedang diuji. Bisa jadi, kekayaan yang dimilikinya merupakan ujian yang lebih berat daripada kemiskinan yang dialami orang lain.
Begitu pula seseorang yang memiliki jabatan tinggi, belum tentu lebih mulia di hadapan Allah daripada mereka yang hidup sederhana.
Sebab, ukuran kemuliaan bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, luasnya kekuasaan, ataupun besarnya penghormatan manusia, melainkan ketakwaan kepada Allah SWT.
2. Nikmat Bukan Sekadar Pemberian, tetapi Juga Amanah
Sering kali manusia merasa bahwa keberhasilan yang diperolehnya merupakan hasil kecerdasan, kerja keras, kemampuan, dan perjuangannya sendiri.
Memang benar bahwa manusia diperintahkan untuk bekerja keras, berikhtiar, dan berusaha. Namun, jangan sampai kita melupakan bahwa kemampuan untuk bekerja, kesehatan untuk berjuang, kesempatan untuk berkembang, serta jalan yang terbuka menuju keberhasilan semuanya tidak terlepas dari izin dan pertolongan Allah SWT.
Ada orang yang bekerja keras tetapi belum mendapatkan hasil yang diharapkan. Ada yang memiliki kemampuan, tetapi belum memperoleh kesempatan. Ada pula yang memiliki kekayaan, tetapi tidak mempunyai ketenangan hati.
Karena itu, keberhasilan tidak sepatutnya melahirkan kesombongan.
Ketika mendapatkan rezeki, ingatlah Allah. Ketika memperoleh jabatan, ingatlah amanah. Ketika diberikan kekuasaan, ingatlah bahwa suatu saat semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.
Jangan sampai kenikmatan membuat kita lupa kepada Dzat yang memberikan kenikmatan tersebut.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
“La’in syakartum la’azidannakum wa la’in kafartum inna ‘adzabi lasyadid.”
Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Ayat ini mengajarkan bahwa syukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah, melainkan juga menyadari sumber nikmat, mengakui karunia Allah, serta menggunakan pemberian-Nya untuk sesuatu yang diridhai-Nya.
3. Kekayaan dan Harta Dapat Menjadi Ujian yang Berat
Harta merupakan salah satu kenikmatan yang sangat dicintai manusia. Dengan harta, seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidup, membahagiakan keluarga, membantu orang lain, membangun usaha, dan melakukan berbagai kebaikan.
Namun, harta juga dapat menjadi sumber kelalaian apabila tidak disertai keimanan dan rasa syukur.
Allah SWT mengingatkan dalam QS. Al-Anfal ayat 28:
“Wa’lamu annama amwalukum wa awladukum fitnah, wa annallaha ‘indahu ajrun ‘azhim.”
Artinya: “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”
Harta bukanlah sesuatu yang buruk. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana manusia mendapatkan, mengelola, dan menggunakannya.
Apakah harta digunakan untuk membantu sesama atau justru untuk merendahkan orang lain?
Apakah kekayaan menjadikan seseorang semakin dermawan atau semakin kikir?
Apakah keberlimpahan rezeki membuat seseorang semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya?
Jangan sampai seseorang begitu sibuk mengumpulkan harta hingga melupakan salat. Jangan sampai mengejar dunia membuatnya kehilangan kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan.
Sebab, sebanyak apa pun harta yang dikumpulkan, tidak ada satu pun yang akan dibawa ketika manusia meninggalkan dunia, kecuali amal yang telah dipersiapkan.
4. Kenikmatan Bisa Melahirkan Kesombongan dan Keangkuhan
Salah satu bahaya terbesar ketika manusia mendapatkan kenikmatan adalah munculnya perasaan bahwa dirinya lebih hebat daripada orang lain.
Ketika sukses, ia mulai meremehkan mereka yang belum berhasil. Ketika kaya, ia memandang rendah orang miskin. Ketika memiliki jabatan, ia merasa berhak memerintah dan memperlakukan orang lain sesuka hatinya.
Padahal, semua yang dimiliki manusia hanyalah titipan.
Hari ini seseorang bisa berada di atas, tetapi tidak ada jaminan bahwa esok ia tetap berada di tempat yang sama.
Hari ini seseorang dihormati, tetapi suatu saat bisa saja dilupakan. Hari ini seseorang memiliki kekuasaan, tetapi pada waktunya akan kembali menjadi manusia biasa.
Karena itu, jangan pernah membanggakan sesuatu yang sebenarnya hanya dititipkan oleh Allah SWT.
Ingatlah kisah Qarun yang diberikan kekayaan luar biasa, tetapi justru menjadi sombong dan merasa bahwa kekayaannya diperoleh karena ilmu dan kemampuannya sendiri.
Kisah tersebut diabadikan dalam QS. Al-Qashash ayat 78.
Ketika manusia mulai merasa bahwa semua keberhasilannya semata-mata karena kehebatannya sendiri, sesungguhnya ia sedang berada dalam bahaya.
Orang yang benar-benar bersyukur tidak akan menggunakan nikmat untuk menyombongkan diri. Sebaliknya, semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula kesadarannya untuk merendahkan hati di hadapan Allah SWT.
5. Waspadai Istidraj: Ketika Kenikmatan Membuat Manusia Semakin Lalai
Ada satu hal yang perlu direnungkan dengan sungguh-sungguh, yaitu istidraj.
Istidraj merupakan keadaan ketika seseorang terus memperoleh kelapangan dan kenikmatan, sementara ia semakin jauh dari ketaatan kepada Allah. Kenikmatan tersebut dapat menjadi jalan menuju kebinasaan apabila membuatnya semakin tenggelam dalam kesombongan dan kemaksiatan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-An’am ayat 44: “Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”
Ayat ini menjadi peringatan agar manusia tidak tertipu oleh kelapangan hidup.
Jangan mengukur kasih sayang Allah hanya dari banyaknya harta, luasnya rumah, tingginya jabatan, atau lancarnya segala urusan dunia.
Seseorang yang mendapatkan banyak kenikmatan belum tentu sedang berada dalam keadaan yang baik di sisi Allah. Sebaliknya, seseorang yang sedang menghadapi kesulitan belum tentu sedang mendapatkan murka-Nya.
Kita tidak berhak memastikan bahwa kenikmatan seseorang merupakan istidraj. Hanya Allah yang mengetahui hakikat keadaan setiap hamba.
Namun, kita wajib menjadikan hal tersebut sebagai bahan introspeksi diri.
Ketika rezeki bertambah, apakah ibadah kita juga bertambah?
Ketika usaha berkembang, apakah kepedulian sosial semakin kuat?
Ketika jabatan meningkat, apakah kita semakin amanah?
Ketika kehidupan semakin nyaman, apakah kita masih ingat untuk bersujud dan memohon ampun kepada Allah?
Jika kenikmatan justru membuat kita semakin jauh dari Allah, maka ada sesuatu yang harus segera diperbaiki.
6. Jangan Hanya Pandai Bersabar Ketika Susah, tetapi Belajarlah Bersyukur Ketika Senang
Manusia sering kali mudah mengucapkan doa ketika sedang mengalami kesulitan.
Ketika sakit, kita memohon kesembuhan. Ketika kehilangan pekerjaan, kita memohon rezeki. Ketika menghadapi masalah, kita memohon pertolongan. Ketika berada dalam kesempitan, kita berjanji akan menjadi lebih baik.
Namun, ketika Allah memberikan kesehatan, pekerjaan, kekayaan, dan kemudahan, terkadang janji-janji tersebut mulai terlupakan.
Padahal, sebagaimana kesabaran dibutuhkan dalam menghadapi musibah, rasa syukur juga membutuhkan perjuangan ketika mendapatkan kenikmatan.
Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.” (HR. Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin memiliki dua kekuatan penting dalam menjalani kehidupan, yaitu sabar dan syukur.
Ketika diuji dengan kesulitan, ia tidak kehilangan harapan kepada Allah. Ketika diuji dengan kenikmatan, ia tidak kehilangan rasa rendah hati dan kesadaran untuk beribadah. Inilah keseimbangan hidup seorang mukmin.
7. Nikmat Jabatan dan Kekuasaan Juga Merupakan Ujian
Tidak hanya harta, jabatan dan kekuasaan juga merupakan ujian yang sangat besar.
Seseorang yang diberikan kedudukan memiliki kesempatan untuk berbuat banyak kebaikan. Ia bisa memperjuangkan kepentingan masyarakat, membantu mereka yang lemah, membuka kesempatan bagi orang lain, serta menghadirkan perubahan yang bermanfaat.
Namun, jabatan juga dapat membuat seseorang lupa diri.
Jangan sampai jabatan digunakan untuk kepentingan pribadi. Jangan sampai kekuasaan menjadi alat untuk menindas. Jangan sampai kedudukan membuat seseorang merasa tidak boleh dikritik.
Sebab, jabatan bukanlah kehormatan yang harus dibanggakan tanpa batas, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya. Kekuasaan yang digunakan untuk kebaikan akan menjadi ladang amal. Sebaliknya, kekuasaan yang digunakan untuk kezaliman akan menjadi beban pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Ingatlah, manusia mungkin dapat menyembunyikan kesalahan di hadapan sesamanya, tetapi tidak ada satu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah.
8. Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapi Ujian Kenikmatan?
Ada beberapa hal penting yang harus menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan.
Pertama, bersyukur dengan hati, lisan, dan perbuatan.
Syukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah, tetapi juga meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah, mengucapkannya dengan lisan, serta menggunakannya untuk kebaikan.
Kedua, jangan pernah merasa paling hebat.
Apa pun pencapaian yang kita miliki, tetaplah rendah hati. Ingatlah bahwa kemampuan, kesehatan, kesempatan, dan keberhasilan semuanya tidak terlepas dari pertolongan Allah.
Ketiga, gunakan nikmat untuk membantu sesama.
Jika diberikan kelebihan harta, bantulah orang yang membutuhkan. Jika diberikan ilmu, ajarkanlah kepada orang lain. Jika diberikan jabatan, gunakan untuk memperjuangkan kebaikan. Jika diberikan pengaruh, gunakan untuk menyampaikan kebenaran.
Keempat, jangan melupakan ibadah ketika kehidupan sedang lapang.
Jangan hanya mendekat kepada Allah ketika sedang membutuhkan pertolongan. Jadikan ibadah sebagai kebutuhan, bukan sekadar pelarian ketika menghadapi masalah.
Kelima, perbanyak istighfar dan muhasabah.
Manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Karena itu, sesibuk apa pun kehidupan kita, selalu sisihkan waktu untuk mengevaluasi diri.
Tanyakan kepada hati sendiri: apakah kehidupan yang kita jalani semakin mendekatkan kita kepada Allah atau justru semakin menjauhkan kita dari-Nya?
Keenam, bersabar dalam menjaga amanah kenikmatan.
Mempertahankan keimanan di tengah kelapangan membutuhkan kesungguhan. Jangan biarkan kenikmatan mengubah prinsip hidup, merusak akhlak, dan menghilangkan kepedulian terhadap sesama.
9. Sepertiga Malam: Saat yang Tepat untuk Bersyukur dan Bermuhasabah
Ada satu waktu yang sangat istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, yaitu pada sepertiga malam terakhir.
Ketika sebagian besar manusia terlelap dalam tidurnya, seorang hamba yang merindukan ampunan dan rahmat Allah berusaha bangun untuk melaksanakan salat Tahajud, berdoa, berzikir, dan bermunajat.
Dalam keheningan malam, kita dapat merenungkan perjalanan hidup.
Betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan, tetapi sering kali kita lupa mensyukurinya.
Kita masih diberikan kesempatan bernapas, sementara banyak orang lain telah lebih dahulu meninggalkan dunia.
Kita masih dapat melihat, mendengar, berjalan, bekerja, dan berkumpul bersama keluarga. Kita masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, memohon ampunan, dan memperbanyak amal kebaikan.
Bukankah semua itu merupakan nikmat yang luar biasa?
Terkadang kita terlalu sibuk meminta sesuatu yang belum dimiliki, sampai lupa mensyukuri begitu banyak hal yang sudah diberikan Allah.
Kita meminta kekayaan, tetapi lupa mensyukuri kesehatan. Kita meminta jabatan, tetapi lupa mensyukuri kesempatan. Kita meminta kehidupan yang lebih baik, tetapi lupa bahwa sampai hari ini Allah masih memberikan kesempatan untuk hidup dan memperbaiki diri.
Maka, bangunlah pada sepertiga malam. Jangan hanya datang kepada Allah untuk meminta dunia, tetapi datanglah juga untuk bersyukur, memohon ampunan, dan memperbaiki hubungan kita dengan-Nya.
10. Pada Akhirnya, Semua Kenikmatan Akan Dipertanggungjawabkan
Kehidupan dunia hanyalah sementara. Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berpindah. Popularitas akan memudar. Kekuatan fisik akan melemah. Bahkan orang-orang yang hari ini memuji kita belum tentu akan mengingat nama kita selamanya.
Pada akhirnya, setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT.
Allah berfirman dalam QS. At-Takatsur ayat 8: “Tsumma latus’alunna yauma’idzin ‘anin-na’im.”
Artinya: “Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).”
Ayat ini seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Bukan hanya bertanya berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga bagaimana harta itu diperoleh dan digunakan.
Bukan hanya bangga dengan jabatan yang pernah diduduki, tetapi juga bertanya apakah jabatan tersebut telah dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Bukan hanya menghitung berapa banyak orang yang menghormati kita, tetapi juga merenungkan berapa banyak orang yang telah kita bantu dan berapa banyak manfaat yang telah kita berikan.
Sebab, pada akhirnya, yang akan menjadi bekal bukanlah kemewahan dunia, melainkan iman, ketakwaan, dan amal saleh.
Penutup: Jangan Sampai Nikmat Membuat Kita Lupa kepada Allah
Saudaraku yang dirahmati Allah SWT…
Jangan pernah mengira bahwa hidup yang nyaman berarti bebas dari ujian. Jangan menganggap bahwa kekayaan adalah tanda pasti kemuliaan. Jangan pula merasa bahwa kesulitan merupakan tanda bahwa Allah tidak menyayangi kita.
Setiap orang memiliki bentuk ujian masing-masing.
Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kekayaan. Ada yang diuji dengan kehilangan, ada yang diuji dengan keberlimpahan. Ada yang diuji dengan tidak memiliki jabatan, ada pula yang diuji dengan kekuasaan.
Yang membedakan bukanlah seberapa besar nikmat atau kesulitan yang kita terima, melainkan bagaimana kita menyikapinya.
Jika mendapatkan nikmat, bersyukurlah.
Jika mendapatkan kekayaan, jadilah dermawan.
Jika mendapatkan jabatan, jadilah amanah.
Jika mendapatkan kekuasaan, jangan berlaku zalim.
Jika mendapatkan ilmu, amalkan dan bagikan.
Jika mendapatkan kemudahan, jangan lupakan mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Dan jika suatu saat Allah mengambil kembali sebagian nikmat yang pernah diberikan, jangan kehilangan iman dan harapan kepada-Nya.
Ingatlah, nikmat yang paling berharga bukanlah ketika kita memiliki segalanya, melainkan ketika segala yang kita miliki justru membuat kita semakin dekat kepada Allah SWT.
Jangan sampai kita menjadi manusia yang pandai meminta, tetapi lupa bersyukur. Jangan sampai kita sibuk mengejar dunia, tetapi melupakan akhirat. Jangan sampai kita mendapatkan banyak kenikmatan, tetapi kehilangan keberkahan.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa bersyukur ketika diberi kelapangan, bersabar ketika menghadapi kesulitan, rendah hati ketika mendapatkan keberhasilan, serta tetap istiqamah dalam menjalankan perintah-Nya.
Semoga setiap rezeki yang kita terima menjadi rezeki yang halal dan berkah. Setiap jabatan menjadi amanah. Setiap kekuatan menjadi jalan untuk menolong sesama. Dan setiap kenikmatan menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mari kita perbanyak syukur, istighfar, zikir, dan doa. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya sebuah nikmat. Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu kesempitan untuk mengingat Allah. Dan jangan menunggu ajal mendekat untuk mulai memperbaiki diri.
Sebab, kesempatan terbaik untuk bersyukur dan memperbaiki diri adalah hari ini, saat Allah masih memberikan kita kehidupan.
Waktunya memperbanyak rasa syukur, terutama di sepertiga malam terakhir. Dirikan salat Tahajud, panjatkan doa, mohon ampunan, dan serahkan segala urusan kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam bish-shawab.






