3 Tingkat Zuhud Menurut Imam Ahmad: Belajar Memiliki Dunia tanpa Diperbudak

Oleh; Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I

Dalam kehidupan yang semakin sibuk mengejar dunia, manusia sering kali lupa bahwa tidak semua yang bisa dimiliki harus dikejar, tidak semua yang bisa dibeli harus dibeli, dan tidak semua yang menyenangkan hati akan membawa ketenangan bagi jiwa.

Kita hidup di zaman ketika keberhasilan sering diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, luasnya kekuasaan, popularitas, serta pengakuan manusia. Tidak sedikit orang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mendapatkan sesuatu yang pada akhirnya harus ditinggalkan.

Padahal, Islam mengajarkan sebuah prinsip kehidupan yang sangat mendalam, yaitu zuhud.

Zuhud bukan berarti membenci dunia, meninggalkan pekerjaan, menjauhi masyarakat, atau memilih hidup miskin. Zuhud adalah kemampuan menempatkan dunia pada posisi yang semestinya. Dunia boleh berada dalam genggaman, tetapi jangan sampai menguasai hati.

Ada sebuah penjelasan menarik yang dinukil dari Imam Ahmad bin Hanbal, salah satu imam besar dalam khazanah keilmuan Islam. Beliau menjelaskan bahwa zuhud memiliki tiga tingkatan.

Dalam kitab Madarijus Salikin karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, jilid 2 halaman 143, disebutkan:

وَقَدْ قَالَ الإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: الزُّهْدُ عَلَى ثَلاَثَةِ أَوْجُهٍ. الأَوَّلُ تَرْكُ الْحَرَامِ، وَهُوَ زُهْدُ الْعَوَامِّ. وَالثَّانِي تَرْكُ الْفُضُولِ مِنَ الْحَلاَلِ، وَهُوَ زُهْدُ الْخَوَاصِّ. وَالثَّالِثُ تَرْكُ مَا يُشْغِلُ عَنِ اللهِ، وَهُوَ زُهْدُ الْعَارِفِينَ.

Artinya: “Zuhud itu memiliki tiga tingkatan. Pertama, meninggalkan perkara yang haram, dan itulah zuhudnya orang-orang awam. Kedua, meninggalkan kelebihan dari perkara yang halal, dan itulah zuhudnya orang-orang khusus. Ketiga, meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkan diri dari Allah, dan itulah zuhudnya orang-orang yang telah mencapai ma’rifat.”

Tiga tingkatan ini memberikan pelajaran bahwa zuhud bukan sekadar persoalan seberapa sedikit harta yang dimiliki seseorang, melainkan sejauh mana manusia mampu mengendalikan keinginan, menjaga hati, dan menempatkan Allah sebagai tujuan utama kehidupannya.

PERTAMA, ZUHUD DENGAN MENINGGALKAN SEGALA SESUATU YANG HARAM

Tingkatan pertama adalah meninggalkan perkara yang diharamkan Allah SWT.

Ini merupakan fondasi paling mendasar dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Sebelum seseorang berbicara tentang kesederhanaan, kedalaman spiritual, atau kedekatan dengan Allah, ia harus memastikan bahwa kehidupannya tidak dibangun di atas sesuatu yang dilarang agama.

Harta yang diperoleh melalui korupsi, penipuan, suap, manipulasi, pencurian, dan mengambil hak orang lain bukanlah jalan menuju keberkahan.

Jabatan yang diperoleh melalui cara-cara batil tidak akan menghadirkan kemuliaan yang sesungguhnya. Kekuasaan yang digunakan untuk menindas, kekayaan yang dibangun dari penderitaan orang lain, serta popularitas yang diperoleh dengan mengorbankan kebenaran bukanlah ukuran keberhasilan di hadapan Allah.

Di sinilah zuhud pertama menemukan maknanya.

Seseorang mungkin memiliki rumah besar, kendaraan mewah, perusahaan, jabatan tinggi, dan kekayaan berlimpah. Namun, selama semua itu diperoleh melalui jalan yang halal, digunakan secara bertanggung jawab, dan tidak membuatnya melupakan Allah, kepemilikan tersebut tidak otomatis bertentangan dengan zuhud.

Sebaliknya, seseorang yang terlihat sederhana belum tentu memiliki sifat zuhud apabila masih mengambil hak orang lain, gemar menipu, iri terhadap rezeki sesama, atau menggunakan cara-cara haram untuk memenuhi keinginannya.

Zuhud bukan pertama-tama tentang meninggalkan kemewahan, tetapi tentang keberanian meninggalkan sesuatu yang haram meskipun sesuatu itu sangat menguntungkan.

Ketika seseorang memiliki kesempatan melakukan kecurangan tetapi memilih tetap jujur, ketika ada peluang menerima uang haram tetapi memilih menolaknya, dan ketika memiliki kekuasaan untuk mengambil hak orang lain tetapi memilih berlaku adil, sesungguhnya ia sedang mempraktikkan nilai-nilai zuhud.

Sebab, orang yang memahami kehidupan tidak akan menukar keselamatan akhirat dengan keuntungan dunia yang sementara.

KEDUA, ZUHUD DENGAN MENINGGALKAN KELEBIHAN DARI SESUATU YANG HALAL

Tingkatan kedua lebih tinggi daripada tingkatan pertama.

Pada tingkatan ini, seseorang bukan hanya meninggalkan perkara haram, tetapi mulai belajar meninggalkan sebagian hal halal yang berlebihan dan tidak benar-benar dibutuhkan.

Perlu dipahami bahwa sesuatu yang halal tidak selalu harus dimiliki, dikonsumsi, atau dikejar sebanyak-banyaknya.

Makan adalah halal, tetapi berlebihan dalam makan dapat merusak kesehatan dan melalaikan ibadah.

Memiliki pakaian bagus adalah halal, tetapi menjadikan penampilan sebagai alat untuk menyombongkan diri dapat merusak hati.

Mencari kekayaan adalah halal, tetapi menghabiskan seluruh waktu untuk menumpuk harta hingga melupakan keluarga, ibadah, dan tanggung jawab sosial merupakan persoalan yang berbeda.

Begitu pula dengan keinginan memiliki rumah, kendaraan, fasilitas, penghargaan, dan berbagai kesenangan hidup lainnya.

Orang yang mencapai tingkatan zuhud ini mulai memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.

Ia tidak lagi merasa harus memiliki semua yang diinginkan. Ia tidak mudah tergoda oleh gaya hidup orang lain. Ia tidak menjadikan standar kebahagiaan berdasarkan apa yang dimiliki tetangga, teman, atau orang-orang yang dilihatnya di media sosial.

Ia mampu bertanya kepada dirinya sendiri: “Ini memang halal, tetapi apakah aku benar-benar membutuhkannya? Apakah ini membawa manfaat? Apakah waktuku lebih baik digunakan untuk sesuatu yang lebih bernilai?”

Inilah kedewasaan dalam mengelola keinginan.

Orang yang zuhud bukan berarti tidak boleh menikmati rezeki Allah. Islam tidak melarang seseorang menikmati makanan yang baik, berpakaian bagus, memiliki rumah layak, atau membangun usaha yang berkembang.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 32:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

“Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik?”

Ayat ini mengajarkan bahwa menikmati karunia Allah bukanlah sesuatu yang tercela.

Persoalannya bukan terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, melainkan apakah harta tersebut menguasai hati kita.

Seseorang boleh kaya, tetapi tidak boleh diperbudak kekayaan. Seseorang boleh memiliki jabatan, tetapi tidak boleh kehilangan kerendahan hati. Seseorang boleh dikenal banyak orang, tetapi tidak boleh menjadikan pujian manusia sebagai sumber harga dirinya.

Orang yang zuhud tidak selalu sedikit hartanya, tetapi sedikit ketergantungan hatinya terhadap dunia.

Ia memiliki kemampuan untuk menikmati dunia tanpa kehilangan kendali atas dirinya.

KETIGA, ZUHUD DENGAN MENINGGALKAN SEGALA SESUATU YANG MELALAIKAN ALLAH

Inilah tingkatan ketiga sekaligus tingkatan yang paling dalam.

Imam Ahmad menyebutnya sebagai zuhudnya orang-orang ‘arifin, yaitu mereka yang memiliki pengenalan mendalam kepada Allah.

Pada tingkatan ini, persoalannya bukan lagi sekadar halal atau haram, bukan pula hanya tentang banyak atau sedikitnya harta.

Persoalannya adalah hubungan hati dengan Allah.

Segala sesuatu yang pada dasarnya halal dan boleh dilakukan, apabila membuat seseorang lupa kepada Allah, dapat menjadi penghalang dalam perjalanan spiritualnya.

Seseorang bisa terlalu sibuk mengejar karier hingga tidak memiliki waktu untuk beribadah.

Seseorang bisa terlalu menikmati popularitas hingga mulai kehilangan keikhlasan.

Seseorang bisa terlalu sibuk mengurus urusan dunia hingga tidak lagi memperhatikan kondisi hati dan kehidupan akhiratnya.

Bahkan, seseorang dapat sibuk dengan aktivitas yang tampaknya baik, tetapi tanpa disadari aktivitas tersebut menjauhkan dirinya dari mengingat Allah.

Di sinilah makna tingkatan ketiga menjadi sangat penting.

Orang yang mencapai tingkatan ini bukan berarti meninggalkan pekerjaan, keluarga, masyarakat, atau tanggung jawab kehidupan. Justru ia menjalani semuanya dengan kesadaran bahwa seluruh aktivitas tersebut harus berada dalam kerangka pengabdian kepada Allah.

Ia bekerja dengan niat mencari rezeki halal.

Ia memimpin dengan niat menegakkan keadilan.

Ia berusaha menjadi kaya agar dapat membantu sesama.

Ia menggunakan ilmu untuk memberikan manfaat.

Ia memegang jabatan sebagai amanah, bukan sebagai alat untuk membesarkan ego.

Ia berinteraksi dengan manusia, tetapi tidak menggantungkan seluruh kebahagiaannya pada penilaian manusia.

Dengan demikian, dunia tetap berada dalam genggamannya, tetapi tidak mengambil alih hatinya.

Orang seperti ini tidak mudah kehilangan ketenangan ketika kehilangan sesuatu. Ia tidak terlalu tinggi hati ketika mendapatkan pujian. Ia tidak hancur ketika tidak mendapatkan pengakuan. Ia tidak menghalalkan segala cara demi mencapai ambisi.

Sebab, orientasi hidupnya bukan lagi semata-mata mendapatkan sesuatu dari dunia, tetapi bagaimana setiap langkah kehidupannya bernilai di hadapan Allah.

Allah SWT berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah. Karena itu, segala aktivitas kehidupan seharusnya tidak membuat manusia kehilangan tujuan penciptaannya.

ZUHUD BUKAN BERARTI MISKIN, TETAPI MERDEKA DARI PERBUDAKAN DUNIA.

Ada kesalahpahaman yang cukup sering terjadi ketika membicarakan zuhud.

Sebagian orang menganggap bahwa orang zuhud harus hidup miskin, tidak boleh memiliki kekayaan, tidak boleh mengejar karier, tidak boleh menduduki jabatan, bahkan harus menjauh dari kehidupan sosial.

Padahal, pemahaman seperti itu terlalu menyederhanakan makna zuhud.

Zuhud bukanlah ajakan untuk menjadi manusia yang tidak produktif. Zuhud justru mengajarkan bagaimana seseorang menjadi produktif tanpa kehilangan arah kehidupan.

Kita membutuhkan orang-orang kaya yang zuhud agar kekayaannya menjadi jalan untuk membantu masyarakat.

Kita membutuhkan pemimpin yang zuhud agar kekuasaannya digunakan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

Kita membutuhkan pengusaha yang zuhud agar bisnisnya berkembang tanpa menindas pekerja dan merugikan konsumen.

Kita membutuhkan ilmuwan yang zuhud agar ilmunya tidak digunakan untuk kesombongan, melainkan untuk kemaslahatan manusia.

Kita membutuhkan pejabat yang zuhud agar jabatan dipandang sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan kesempatan untuk memperkaya diri.

Dengan demikian, zuhud sangat relevan dalam kehidupan modern.

Dunia tidak hanya membutuhkan manusia yang memiliki banyak harta, tetapi juga manusia yang memiliki kekayaan sekaligus integritas.

Dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang memiliki kekuasaan, tetapi juga membutuhkan pemimpin yang mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Sebab, persoalan terbesar manusia sering kali bukan karena tidak memiliki sesuatu, melainkan karena tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki.

PENYAKIT HATI YANG MENGHALANGI SESEORANG MENCAPAI ZUHUD

Jika direnungkan lebih dalam, tiga tingkatan zuhud tersebut juga mengajarkan kita untuk mengenali sejumlah penyakit hati.

Pertama, keserakahan. Seseorang yang selalu merasa kurang akan terus mengejar dunia tanpa batas. Ketika mendapatkan satu hal, ia menginginkan hal lainnya. Ketika mencapai satu jabatan, ia menginginkan jabatan yang lebih tinggi. Ketika memperoleh kekayaan, ia masih merasa belum cukup.

Kedua, kesombongan. Harta, ilmu, jabatan, dan popularitas dapat membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Padahal, semua yang dimiliki manusia hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh pemilik sejati, yaitu Allah SWT.

Ketiga, riya dan haus pengakuan. Ada orang yang melakukan kebaikan bukan karena ingin mendapatkan rida Allah, melainkan karena ingin dilihat, dipuji, dan mendapatkan penghormatan manusia.

Keempat, cinta dunia yang berlebihan. Bukan dunia itu sendiri yang menjadi masalah, melainkan ketika dunia menempati posisi paling tinggi dalam hati sehingga seseorang rela mengorbankan prinsip, kejujuran, dan nilai agama demi mendapatkannya.

Kelima, lalai mengingat kematian. Manusia sering bertindak seolah-olah memiliki waktu yang tidak terbatas. Padahal, kehidupan sangat singkat dan tidak seorang pun mengetahui kapan kesempatan hidupnya berakhir.

Orang yang memahami hakikat zuhud akan menyadari bahwa semua yang dimiliki di dunia pada akhirnya akan ditinggalkan.

Rumah akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Kendaraan akan berpindah tangan. Kekayaan akan diwariskan. Popularitas akan dilupakan.

Namun, amal kebaikan, kejujuran, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah akan tetap menjadi perkara yang harus dihadapi setiap manusia.

DUNIA ADALAH LADANG AMAL, BUKAN TUJUAN AKHIR.

Ada satu prinsip yang perlu kita tanamkan: jangan sampai kesibukan mencari kehidupan membuat kita lupa mempersiapkan kehidupan yang sesungguhnya.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan menghalalkan segala cara.

Carilah kekayaan, tetapi jangan sampai kekayaan menghilangkan rasa kemanusiaan.

Bangunlah karier, tetapi jangan mengorbankan prinsip dan kehormatan.

Raihlah jabatan, tetapi jangan menjadikan jabatan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Berusahalah menjadi orang yang dikenal, tetapi jangan sampai popularitas membuat kita lupa kepada Allah.

Berikan manfaat sebanyak mungkin, karena kehidupan yang bernilai bukan semata-mata kehidupan yang dipenuhi pencapaian pribadi, melainkan kehidupan yang juga menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.” (HR. Bukhari)

Hadis ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukan tempat tinggal yang abadi.

Kita hanya sedang menjalani perjalanan. Karena itu, jangan terlalu sibuk menghias tempat persinggahan hingga lupa mempersiapkan tujuan akhir perjalanan.

SUDAH SAMPAI DI TINGKATAN ZUHUD YANG MANA KITA?

Tiga tingkatan zuhud dari Imam Ahmad bin Hanbal seharusnya tidak hanya menjadi bahan bacaan atau pengetahuan keagamaan. Ia harus menjadi bahan introspeksi.

Coba tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah kita sudah mampu meninggalkan sesuatu yang haram meskipun peluang mendapatkannya sangat besar?

Apakah kita sudah mampu mengendalikan keinginan terhadap hal-hal halal yang sebenarnya berlebihan dan tidak dibutuhkan?

Apakah kita sudah mampu mengatur kesibukan dunia agar tidak melalaikan kewajiban dan menghalangi hubungan kita dengan Allah?

Apakah kita bekerja untuk mencari rida Allah atau semata-mata mengejar pengakuan manusia?

Apakah jabatan membuat kita semakin rendah hati atau justru semakin merasa berkuasa?

Apakah kekayaan membuat kita semakin dermawan atau justru semakin takut kehilangan?

Apakah ilmu membuat kita semakin dekat kepada Allah atau justru membuat kita semakin sombong?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena perjalanan menuju zuhud bukanlah perlombaan untuk terlihat paling saleh di hadapan manusia.

Zuhud adalah perjuangan panjang untuk menata hati.

Tidak perlu mengumumkan kepada dunia bahwa kita sedang belajar menjadi zuhud. Tidak perlu merasa lebih suci karena memilih hidup sederhana. Tidak perlu merendahkan orang yang memiliki kekayaan atau menikmati kehidupan dunia.

Sebab, kesombongan dapat masuk bahkan melalui pintu ibadah dan kesederhanaan.

Yang terpenting adalah terus memperbaiki niat, menjaga perilaku, memperbanyak amal, dan memastikan bahwa dunia tidak mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Allah dalam hati kita.

PENUTUP: MILIKI DUNIA SECUKUPNYA, TETAPI JANGAN BIARKAN DUNIA MEMILIKI HATI KITA

Pada akhirnya, tiga tingkatan zuhud yang dijelaskan Imam Ahmad bin Hanbal mengajarkan sebuah perjalanan spiritual yang sangat mendalam.

Pertama, kita belajar meninggalkan yang haram.

Kedua, kita belajar mengendalikan keinginan terhadap hal-hal halal yang berlebihan.

Ketiga, kita belajar melepaskan segala sesuatu yang melalaikan hati dari Allah.

Ketiganya merupakan pelajaran tentang pengendalian diri, kematangan spiritual, dan kebebasan batin.

Manusia yang benar-benar zuhud bukanlah manusia yang tidak memiliki apa-apa. Ia bisa memiliki banyak hal, tetapi tidak diperbudak oleh apa yang dimilikinya.

Ia bisa menjadi pemimpin, tetapi tidak diperbudak kekuasaan.

Ia bisa menjadi pengusaha, tetapi tidak diperbudak keuntungan.

Ia bisa menjadi orang terkenal, tetapi tidak diperbudak pujian.

Ia bisa menjadi orang kaya, tetapi tidak diperbudak harta.

Ia bisa menikmati kehidupan, tetapi tidak pernah melupakan kematian.

Sebab, ia memahami bahwa segala sesuatu di dunia hanyalah titipan, sedangkan kehidupan akhirat adalah tempat kembali yang sesungguhnya.

Jangan takut menjadi orang yang tidak memiliki banyak hal di mata manusia, tetapi takutlah jika memiliki segalanya di dunia namun kehilangan kedekatan dengan Allah.

Kekayaan sejati bukan hanya tentang banyaknya yang berhasil kita kumpulkan, melainkan juga tentang seberapa banyak yang mampu kita kendalikan, seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan, dan seberapa kuat hati kita tetap terhubung kepada Allah.

Semoga Allah SWT menjadikan kita pribadi yang mampu menikmati dunia tanpa diperbudak olehnya, memiliki harta tanpa menjadi hamba harta, memegang amanah tanpa menjadi sombong, serta menjalani kehidupan dengan hati yang senantiasa mengingat-Nya.

آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *