Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Pada kesempatan ini, mari kita merenungkan sebuah hadis Rasulullah SAW yang sering menjadi bahan pembicaraan, khususnya ketika membahas kehidupan rumah tangga, akhlak seorang istri, dan tanggung jawab seorang perempuan dalam menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam.
Mengapa dalam sebuah hadis Rasulullah SAW disebutkan bahwa beliau melihat banyak perempuan menjadi penghuni neraka? Apa makna sesungguhnya dari peringatan tersebut? Apakah hal itu berarti semua perempuan lebih dekat dengan neraka daripada surga?
Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab dengan ilmu, kebijaksanaan, dan pemahaman yang benar terhadap ajaran Islam. Sebab, tujuan mempelajari hadis bukanlah untuk merendahkan perempuan, menyalahkan satu pihak, atau menimbulkan pertengkaran dalam rumah tangga, melainkan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
1. Peringatan Rasulullah SAW tentang Banyaknya Penghuni Neraka dari Kalangan Perempuan
Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau diperlihatkan neraka dan melihat banyak perempuan menjadi penghuninya.
Ketika para sahabat bertanya mengenai sebabnya, beliau menjelaskan:
«يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ»
Artinya, mereka mengingkari kebaikan suami dan tidak mensyukuri kebaikan yang telah diberikan kepada mereka.
Rasulullah SAW kemudian memberikan gambaran tentang seorang suami yang telah berbuat baik kepada istrinya dalam waktu yang panjang. Namun, ketika suatu saat sang istri melihat sesuatu yang tidak menyenangkan dari suaminya, ia justru mengatakan bahwa dirinya tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun dari suaminya.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah SAW memberikan peringatan mengenai perilaku yang dapat merusak hubungan rumah tangga dan menjadi sebab seseorang mendapatkan ancaman siksa.
Namun, penting dipahami bahwa hadis ini bukanlah pernyataan bahwa semua perempuan tidak bersyukur, bukan pula penetapan bahwa setiap perempuan pasti masuk neraka.
Hadis tersebut merupakan peringatan terhadap perilaku tertentu yang harus dihindari, terutama mengingkari kebaikan dan tidak mensyukuri nikmat yang telah diterima.
Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki tanggung jawab atas amal perbuatannya masing-masing di hadapan Allah SWT.
Karena itu, hadis ini seharusnya menjadi bahan introspeksi, bukan senjata untuk menghina, menghakimi, atau merendahkan kaum perempuan.
2. Apa Makna Kufur terhadap Suami dalam Hadis Tersebut?
Kata kufur dalam hadis tersebut perlu dipahami sesuai konteksnya.
Dalam penjelasan para ulama, istilah ini merujuk pada pengingkaran terhadap kebaikan atau nikmat, bukan otomatis berarti keluar dari agama Islam.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja menerima banyak kebaikan, tetapi gagal menghargainya hanya karena satu hal yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Misalnya, seorang suami bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia berusaha menyediakan makanan, membayar kebutuhan rumah tangga, mendidik anak, dan menjaga keluarganya sesuai kemampuannya.
Namun, ketika suatu hari penghasilannya berkurang atau ia tidak mampu memenuhi permintaan tertentu, sang istri langsung mengatakan, “Kamu tidak pernah membahagiakan aku.”
Padahal, selama bertahun-tahun suaminya telah berusaha memberikan yang terbaik.
Ucapan seperti itu dapat melukai hati dan menghapus nilai kebaikan yang selama ini dilakukan pasangan dalam pandangan orang yang mengucapkannya.
Sebaliknya, seorang suami juga bisa melakukan kesalahan serupa. Ia mungkin melupakan pengorbanan istrinya, meremehkan pekerjaan rumah tangga, atau menganggap pengasuhan anak sebagai kewajiban yang tidak perlu dihargai.
Karena itu, pelajaran tentang syukur berlaku bagi semua orang.
Jangan sampai satu kekurangan membuat kita melupakan seribu kebaikan. Jangan sampai satu pertengkaran menghapus kenangan tentang perjuangan yang telah dilakukan bersama.
Manusia tidak sempurna. Suami tidak selalu benar, istri tidak selalu benar, dan setiap pasangan memiliki kekurangan. Yang membedakan adalah kesediaan untuk mengakui kesalahan, menghargai kebaikan, dan memperbaiki diri.
3. Bahaya Mengingkari Kebaikan Pasangan
Salah satu penyakit hati yang dapat merusak rumah tangga adalah kebiasaan menganggap kebaikan pasangan sebagai sesuatu yang biasa, sementara kesalahannya selalu dibesar-besarkan.
Ketika pasangan memenuhi kebutuhan, kita merasa itu memang sudah seharusnya. Ketika pasangan berkorban, kita menganggapnya sebagai hal yang tidak istimewa. Namun, ketika pasangan melakukan kesalahan, kita segera mengungkitnya berkali-kali.
Lama-kelamaan, hubungan yang semula dibangun dengan cinta berubah menjadi hubungan yang dipenuhi tuntutan.
Tidak ada manusia yang mampu memenuhi seluruh keinginan manusia lainnya. Sebesar apa pun pengorbanan seseorang, pasti ada keterbatasan yang tidak dapat dihindari.
Karena itu, rumah tangga membutuhkan sikap saling menghargai.
Jika suami sedang mengalami kesulitan ekonomi, istri hendaknya berusaha memahami dan mendukungnya, selama suami tetap bertanggung jawab serta berusaha mencari jalan keluar.
Jika istri merasa kelelahan mengurus rumah dan anak, suami hendaknya tidak menutup mata terhadap pengorbanan tersebut.
Jika terjadi perbedaan pendapat, keduanya perlu belajar berbicara dengan baik tanpa merendahkan martabat satu sama lain.
Jangan menjadikan pasangan sebagai tempat melampiaskan kemarahan. Jangan pula menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alat untuk terus menyakiti.
Rumah tangga bukan tempat untuk mencari siapa yang paling berkuasa, melainkan tempat bagi dua manusia untuk belajar bertanggung jawab, berkasih sayang, dan saling menguatkan dalam kebaikan.
4. Bersyukur Bukan Berarti Menutup Mata terhadap Kesalahan
Ada satu hal yang sangat penting untuk dipahami.
Mengajarkan seorang istri agar bersyukur kepada suaminya bukan berarti membenarkan semua tindakan suami. Menghormati suami juga tidak berarti seorang istri harus menerima kezaliman, kekerasan, penghinaan, atau pelanggaran terhadap hak-haknya.
Islam mengajarkan syukur, tetapi Islam juga mengajarkan keadilan.
Apabila seorang suami telah memberikan nafkah, perhatian, dan kasih sayang, seorang istri hendaknya menghargai kebaikan tersebut. Namun, apabila terdapat persoalan yang serius dalam rumah tangga, seorang istri tetap berhak menyampaikan keberatan, meminta pertolongan, dan mencari penyelesaian yang benar.
Demikian pula seorang suami tidak boleh menggunakan hadis tentang ketaatan istri untuk membungkam istrinya setiap kali ia menyampaikan pendapat.
Ketaatan kepada manusia tidak bersifat mutlak. Tidak ada ketaatan kepada siapa pun dalam perkara maksiat kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut.” (QS. An-Nisa: 19)
Ayat ini secara khusus memerintahkan para suami untuk memperlakukan istri dengan baik.
Artinya, suami memiliki tanggung jawab moral dan agama untuk menjaga kehormatan, memberikan perlakuan yang patut, serta tidak menyakiti istrinya.
Jika seorang istri dituntut menghormati suami, seorang suami pun dituntut memperlakukan istrinya dengan baik.
Keduanya harus memahami bahwa hak dan kewajiban dalam pernikahan tidak boleh dijadikan alasan untuk menindas pasangan.
Bersyukur bukan berarti diam terhadap ketidakadilan. Menasihati bukan berarti menghina. Menghormati bukan berarti kehilangan hak untuk menyampaikan kebenaran.
5. Mengapa Syukur Menjadi Akhlak yang Sangat Penting?
Syukur merupakan salah satu akhlak utama dalam Islam.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah. Syukur juga tercermin dalam cara kita memperlakukan nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Dalam kehidupan rumah tangga, syukur dapat diwujudkan dengan menghargai pasangan, menjaga kepercayaan, mengucapkan terima kasih, serta tidak meremehkan pengorbanan yang telah dilakukan.
Seorang istri yang bersyukur tidak harus selalu hidup dalam kemewahan. Ia dapat merasakan kebahagiaan melalui hal-hal sederhana, selama kebutuhan pokok terpenuhi sesuai kemampuan dan kehidupan rumah tangga dibangun dengan tanggung jawab.
Demikian pula seorang suami yang bersyukur tidak harus memiliki istri yang sempurna. Ia belajar menghargai ketulusan, kesetiaan, perhatian, dan perjuangan istrinya.
Syukur bukan berarti tidak boleh menginginkan kehidupan yang lebih baik. Pasangan suami istri tetap boleh mempunyai cita-cita, memperbaiki kondisi ekonomi, dan menyampaikan kebutuhan masing-masing.
Yang harus dihindari adalah menjadikan keinginan sebagai ukuran tunggal kebahagiaan, hingga seluruh kebaikan yang sudah dimiliki tidak lagi terlihat.
Banyak rumah tangga kehilangan kedamaian bukan semata-mata karena kekurangan harta, melainkan karena hilangnya rasa syukur, komunikasi, dan penghargaan.
Padahal, kehidupan yang sederhana dapat terasa indah apabila di dalamnya terdapat kejujuran, kasih sayang, dan rasa saling memiliki.
6. Jangan Meremehkan Ucapan, Sebab Lisan Dapat Melukai Hati
Salah satu pelajaran penting dari hadis tersebut adalah bahaya ucapan yang mengingkari seluruh kebaikan seseorang.
Kalimat seperti “Kamu tidak pernah berbuat baik kepadaku”, “Kamu tidak berguna”, atau “Aku menyesal menikah denganmu” dapat meninggalkan luka yang panjang.
Ucapan tersebut sering kali muncul ketika seseorang sedang marah. Namun, kemarahan sesaat tidak selalu sebanding dengan akibat yang ditimbulkannya.
Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan.
Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Pesan tersebut sangat relevan dalam kehidupan keluarga.
Ketika sedang marah, tidak semua hal harus segera diucapkan. Ada kalanya seseorang perlu menenangkan diri terlebih dahulu agar tidak mengeluarkan kata-kata yang kelak disesalinya.
Apabila pasangan melakukan kesalahan, sampaikan dengan jelas tanpa menghina pribadinya.
Katakan, “Aku sedih ketika kamu melakukan hal itu,” bukan, “Kamu memang selalu buruk.”
Katakan, “Aku berharap kita bisa memperbaiki keadaan,” bukan, “Kamu tidak pernah berubah.”
Perbedaan kalimat tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menentukan apakah sebuah percakapan menjadi jalan menuju penyelesaian atau justru memperbesar pertengkaran.
Keluarga yang baik bukan keluarga yang tidak pernah berselisih. Keluarga yang baik adalah keluarga yang berusaha menyelesaikan perselisihan dengan akhlak, kejujuran, dan tanggung jawab.
7. Kemuliaan Wanita Salehah di Hadapan Allah SWT
Setelah memahami peringatan Rasulullah SAW, kita juga perlu memahami kabar gembira bagi perempuan yang menjaga iman dan menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.
Islam tidak memandang perempuan sebagai manusia yang tidak memiliki kesempatan untuk meraih kemuliaan. Sebaliknya, perempuan memiliki kedudukan yang mulia ketika ia menjaga iman, berakhlak baik, dan beramal saleh.
Allah SWT berfirman: “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)
Ayat ini menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memperoleh janji kebaikan dari Allah SWT atas iman dan amal saleh mereka.
Kemuliaan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh jenis kelaminnya, melainkan oleh ketakwaan dan amal perbuatannya.
Perempuan yang menjaga kehormatan, melaksanakan ibadah, menghormati orang lain, menyayangi keluarganya, serta berbuat baik kepada sesama memiliki kesempatan yang luas untuk memperoleh pahala.
Demikian pula perempuan yang menjadi ibu, pekerja, pendidik, pemimpin, maupun anggota masyarakat dapat menjalankan peran masing-masing dalam kebaikan.
Seorang ibu yang mendidik anak dengan kasih sayang, seorang istri yang mendukung keluarganya, seorang anak perempuan yang berbakti kepada orang tua, dan seorang perempuan yang menolong orang lain sama-sama dapat menjadikan amalnya sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tidak ada alasan bagi seorang perempuan untuk berputus asa dari rahmat Allah.
Pintu taubat terbuka bagi siapa pun yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri.
8. Empat Amalan yang Menjadi Jalan Menuju Surga bagi Wanita
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Auf RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila seorang perempuan melaksanakan salat lima waktunya, berpuasa pada bulan Ramadan, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.’”
Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban, dengan penilaian sahih dari sejumlah ulama hadis.
Hadis tersebut memberikan kabar gembira mengenai sejumlah amalan penting yang dapat menjadi jalan bagi seorang perempuan menuju surga.
Pertama, menjaga salat lima waktu.
Salat merupakan kewajiban utama seorang Muslim. Salat mengingatkan manusia kepada Allah, mendidik kedisiplinan, dan membantu menjaga seseorang dari perbuatan keji dan mungkar.
Seorang perempuan yang ingin memperbaiki kehidupannya hendaknya memulai dengan menjaga salat, bukan hanya ketika sedang menghadapi kesulitan, tetapi juga ketika kehidupannya terasa lapang.
Kedua, menjalankan puasa Ramadan.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan juga melatih kesabaran, pengendalian diri, kejujuran, serta kepedulian terhadap orang yang kekurangan.
Orang yang berpuasa hendaknya berusaha menjaga lisannya, menghindari pertengkaran, dan memperbaiki hubungannya dengan sesama.
Ketiga, menjaga kehormatan diri.
Menjaga kehormatan berarti memelihara diri dari perbuatan yang dilarang agama, termasuk zina, serta menjaga perilaku dan batas-batas pergaulan sesuai tuntunan Islam.
Menjaga kehormatan juga merupakan bagian dari tanggung jawab moral setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan.
Keempat, menunaikan kewajiban dalam rumah tangga dan menaati suami dalam perkara yang dibenarkan agama.
Kehidupan pernikahan membutuhkan komitmen, kesetiaan, dan tanggung jawab. Seorang istri hendaknya menghormati suaminya, menjaga kepercayaan, serta membangun kerja sama dalam urusan keluarga.
Namun, ketaatan tersebut bukan ketaatan tanpa batas. Perintah yang bertentangan dengan syariat, mengandung kemaksiatan, atau menuntut seseorang melakukan kezaliman tidak boleh dijadikan alasan untuk melanggar perintah Allah.
Keempat amalan tersebut mengajarkan bahwa jalan menuju surga bukan sesuatu yang hanya dapat ditempuh oleh orang yang memiliki kekayaan, kedudukan, atau ketenaran.
Ibadah yang dijaga dengan ikhlas, kehormatan yang dipelihara, dan tanggung jawab yang ditunaikan dapat menjadi bagian penting dari perjalanan seorang hamba menuju rida Allah SWT.
9. Suami Juga Harus Bercermin: Sudahkah Menjadi Pemimpin yang Baik?
Ketika membicarakan kewajiban istri, jangan sampai kita melupakan tanggung jawab suami.
Seorang suami bukan hanya kepala keluarga yang berhak dihormati. Ia juga memikul amanah untuk membimbing, melindungi, menafkahi, dan memperlakukan keluarganya dengan baik sesuai kemampuannya.
Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini merupakan pengingat bagi setiap laki-laki agar tidak hanya menuntut penghormatan, tetapi juga menunjukkan akhlak yang layak dihormati.
Jangan meminta istri bersyukur jika kita sendiri tidak pernah menghargai pengorbanannya.
Jangan menuntut istri bersikap lembut jika setiap hari kita berbicara dengan kasar.
Jangan menginginkan rumah tangga yang damai apabila kita tidak bersedia mendengarkan keluhan dan kebutuhan keluarga.
Menjadi suami yang baik tidak berarti harus selalu mampu memenuhi semua keinginan istri. Tidak semua keluarga memiliki kondisi ekonomi yang sama. Namun, seorang suami dapat menunjukkan tanggung jawab melalui kejujuran, kerja keras, komunikasi, kasih sayang, dan kesungguhan dalam memenuhi kewajibannya.
Begitu pula seorang istri tidak harus selalu sepakat dengan suami. Ia dapat memberikan nasihat, menyampaikan pendapat, dan mengingatkan apabila suami melakukan kesalahan.
Rumah tangga yang sehat adalah rumah tangga yang menjadikan agama sebagai pedoman untuk saling memperbaiki, bukan alat untuk memenangkan pertengkaran.
Jika suami dan istri sama-sama berusaha memperbaiki diri, banyak persoalan dapat diselesaikan dengan lebih baik.
10. Jangan Mengukur Kebahagiaan Hanya dari Harta dan Pemberian
Dalam kehidupan modern, tekanan ekonomi dan perbandingan sosial sering menjadi sumber persoalan rumah tangga.
Seseorang melihat keluarga lain memiliki rumah lebih besar, kendaraan lebih bagus, atau kehidupan yang terlihat lebih mewah. Tanpa disadari, ia mulai membandingkan keadaan keluarganya sendiri.
Dari sinilah rasa tidak puas dapat tumbuh apabila tidak disertai kebijaksanaan.
Padahal, apa yang terlihat dari kehidupan orang lain belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan. Setiap keluarga memiliki perjuangan, ujian, dan persoalannya masing-masing.
Tidak salah menginginkan kehidupan yang lebih layak. Tidak salah berusaha meningkatkan penghasilan atau membangun masa depan yang lebih baik.
Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat kita merendahkan pasangan yang sedang berjuang.
Seorang suami yang sedang berusaha memperbaiki kondisi ekonomi membutuhkan dukungan, bukan penghinaan. Seorang istri yang bekerja membantu kebutuhan keluarga juga patut dihargai, bukan dianggap kurang berbakti.
Keduanya perlu duduk bersama, menyusun prioritas, dan mencari solusi yang realistis.
Apabila terdapat kekurangan, bicarakan dengan baik. Apabila ada kebutuhan yang belum terpenuhi, susun rencana bersama. Apabila terjadi kesalahan dalam pengelolaan keuangan, perbaiki secara terbuka.
Jangan biarkan persoalan harta merusak rasa hormat dan kasih sayang yang menjadi dasar kehidupan keluarga.
Sebab, harta dapat dicari dan keadaan dapat berubah, tetapi luka akibat penghinaan terkadang membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan.
11. Jadikan Rumah Tangga sebagai Tempat Menanam Pahala
Rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal bersama. Ia merupakan ruang tempat suami dan istri belajar menjalankan amanah, membangun akhlak, dan menanam kebaikan.
Setiap hari selalu ada kesempatan untuk memperoleh pahala melalui perbuatan sederhana.
Mengucapkan terima kasih kepada pasangan.
Meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Membantu pekerjaan rumah tangga. Mendengarkan keluhan tanpa langsung menghakimi. Memberikan perhatian kepada anak-anak. Mendoakan pasangan setelah salat. Mencari nafkah dengan cara yang halal.
Menjaga rahasia rumah tangga dan kehormatan pasangan. Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar membangun kehidupan keluarga yang lebih baik.
Jangan menunggu menjadi kaya untuk membahagiakan keluarga. Jangan menunggu usia tua untuk belajar meminta maaf. Jangan menunggu pasangan pergi untuk menyadari betapa besar arti kehadirannya.
Selama masih diberi kesempatan hidup bersama, perbaikilah hubungan yang mulai renggang.
Jika ada perkataan yang menyakiti, mintalah maaf. Jika ada pengorbanan yang belum dihargai, mulailah menghargainya. Jika ada kewajiban yang belum ditunaikan, berusahalah memperbaikinya.
Keluarga yang diridai Allah bukan keluarga yang selalu sempurna, melainkan keluarga yang terus berusaha kembali kepada kebenaran ketika menghadapi kesalahan.
12. Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah
Bagi perempuan yang merasa pernah mengingkari kebaikan suami, sering mengucapkan kata-kata kasar, atau kurang bersyukur terhadap nikmat yang diterima, janganlah berputus asa.
Peringatan agama seharusnya membangunkan hati, bukan membuat manusia merasa tidak memiliki harapan.
Jika pernah melakukan kesalahan, akuilah dengan jujur. Jika pernah menyakiti pasangan, mintalah maaf. Jika selama ini lebih sering melihat kekurangan daripada kebaikan, belajarlah mengubah cara pandang.
Begitu pula bagi laki-laki yang pernah menyakiti istri, meremehkan pengorbanannya, atau mengabaikan tanggung jawabnya. Kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri juga terbuka bagi dirinya.
Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini mengajarkan bahwa sebesar apa pun kesalahan seseorang, ia tidak boleh menutup pintu harapan terhadap ampunan Allah selama bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya.
Taubat bukan sekadar menyesali kesalahan, melainkan juga berusaha meninggalkan perbuatan buruk, memperbaiki perilaku, dan memenuhi hak orang lain yang pernah dilanggar.
Dalam kehidupan rumah tangga, taubat dapat dimulai dengan perubahan nyata: berbicara lebih lembut, mengurangi kebiasaan mengungkit kesalahan, menghargai pasangan, dan menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan.
Jangan hanya berharap pasangan berubah. Mulailah dari diri sendiri.
Sebab, perubahan dalam keluarga sering kali dimulai ketika seseorang berani mengakui kekurangannya sendiri.
13. Kesimpulan: Peringatan untuk Memperbaiki Diri, Bukan Merendahkan Perempuan
Hadis tentang banyaknya perempuan yang menjadi penghuni neraka mengandung peringatan serius mengenai perilaku tidak bersyukur dan mengingkari kebaikan pasangan.
Namun, hadis tersebut tidak boleh dipahami sebagai vonis bahwa seluruh perempuan buruk atau bahwa perempuan secara mutlak lebih rendah daripada laki-laki.
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas amalnya sendiri. Laki-laki dan perempuan sama-sama diperintahkan untuk beriman, beribadah, menjaga akhlak, menunaikan amanah, dan menjauhi perbuatan yang dilarang Allah SWT.
Bagi seorang istri, hargailah kebaikan suami dan tunaikanlah tanggung jawab dengan penuh kesadaran.
Bagi seorang suami, perlakukanlah istri dengan kasih sayang, penuhi kewajiban, dan jangan menggunakan agama untuk membenarkan kezaliman.
Bagi keduanya, belajarlah bersyukur, menjaga lisan, meminta maaf, dan menghargai perjuangan satu sama lain.
Jangan sampai kebaikan yang telah bertahun-tahun dilakukan hilang hanya karena satu kesalahan. Jangan sampai keinginan yang belum terpenuhi membuat kita melupakan nikmat yang sudah ada.
Ingatlah bahwa surga bukanlah sesuatu yang diraih hanya dengan menuntut orang lain menjadi baik. Surga adalah tujuan yang harus kita perjuangkan melalui iman, amal saleh, akhlak mulia, dan rahmat Allah SWT.
Semoga setiap perempuan menjadi hamba Allah yang salehah, setiap laki-laki menjadi hamba Allah yang bertanggung jawab, dan setiap rumah tangga dipenuhi keimanan, kasih sayang, serta ketenteraman.
Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari sifat kufur nikmat, lisan yang menyakiti, hati yang sombong, dan perilaku yang merusak hubungan antarmanusia.
Semoga Allah membimbing kita agar mampu melihat kebaikan, mengakui kesalahan, dan memperbaiki diri sebelum tiba saatnya kita mempertanggungjawabkan seluruh amal di hadapan-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Wallahu a’lam bish-shawab.






