Forkappmi Dinilai Jadi Kunci Perluas Akses Santri ke Al-Azhar Mesir

CIREBON – BELA RAKYAT – Peran Forum Konsultan Pendidikan Al-Azhar Mesir Indonesia (Forkappmi) disebut menjadi instrumen strategis untuk memastikan akses pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo semakin inklusif dan aman bagi calon mahasiswa Indonesia.

Hal itu disampaikan Penasihat Forkappmi yang juga Anggota Komisi VIII DPR RI, Dr. KH. Maman Imanulhaq, saat Pembekalan Wawasan Kebangsaan bagi 1.500 calon mahasiswa Al-Azhar di Hotel Luxton Cirebon.

Bacaan Lainnya

Acara tersebut turut dihadiri Rais Syuriah PBNU KH. Imam Jazuli, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Prof. Amin Suyitno, dan Wakil Duta Besar Mesir untuk Indonesia Dr. Amar Mukhtar.

Maman menegaskan, pemberangkatan ribuan santri ke Mesir bukan sekadar urusan administratif, melainkan investasi jangka panjang bagi bangsa. Karena itu, tata kelolanya harus profesional, transparan, dan berkelanjutan.
“Akses ke Al-Azhar harus adil. Tidak boleh hanya dinikmati yang punya informasi dan ekonomi kuat. Santri dari pelosok dengan keterbatasan juga berhak dapat pendampingan dan perlindungan penuh dari berangkat sampai kuliah,” ujar Maman.
Ia memaparkan lima alasan mengapa Forkappmi penting hadir:

1. Pemerataan Informasi
Banyak calon mahasiswa dari pesantren dan keluarga sederhana kesulitan mengakses informasi pendaftaran, syarat akademik, dan tahapan seleksi. Forkappmi hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut.

2. Perlindungan dari Praktik Berisiko
Keberangkatan ke luar negeri rawan informasi hoaks, biaya tak transparan, masalah dokumen hingga calo. Pendampingan resmi diperlukan agar semua prosedur sesuai aturan.

3. Sinergi Lintas Lembaga
Forkappmi menjadi penghubung antara pesantren, madrasah, orang tua, konsultan, pemerintah Indonesia, dan pihak kampus di Mesir, tanpa mengambil alih kewenangan lembaga resmi.

4. Transparansi Biaya
Melalui pendampingan kolektif, keluarga bisa memahami rincian biaya secara jelas, terhindar dari pungutan liar, dan mendapat informasi beasiswa yang valid.

5. Pengawalan Hingga Lulus
Tugas tidak selesai saat tiba di Kairo. Mahasiswa butuh orientasi akademik, adaptasi budaya, bantuan tempat tinggal, hingga pembinaan sosial-spiritual agar bisa menyelesaikan studi dengan baik.

Menurut Maman, orientasi kebangsaan menjadi bekal wajib sebelum berangkat. Calon mahasiswa Al-Azhar tidak cukup hanya unggul dalam ilmu agama, tapi juga harus kuat dalam identitas kebangsaan dan moderasi beragama.
“Jangan hanya target jadi sarjana. Jadilah insan berilmu yang pulang membawa manfaat, memperkuat Islam moderat, dan memajukan Indonesia. Kita butuh ulama yang mendunia tapi tetap berpijak pada keindonesiaan,” tegasnya.
Ia berharap Forkappmi terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, pesantren, dan seluruh pemangku kepentingan agar ekosistem pendidikan Islam internasional di Indonesia semakin tertib, terjangkau, dan berorientasi pada kualitas.

Ukuran keberhasilan Forkappmi, lanjut Maman, bukan hanya soal jumlah yang diberangkatkan, melainkan transparansi proses, keberlangsungan studi, dan kontribusi lulusan setelah kembali ke Tanah Air.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *