Kita Ahli Surga atau Neraka?

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I

Jangan Terlalu Percaya Diri dengan Amal Kita, Jangan Pula Putus Asa karena Dosa!

Bacaan Lainnya

Bismillahirrahmanirrahim.

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: “Sebenarnya saya ini akan menjadi ahli surga atau ahli neraka?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dalam. Sebab kita tidak pernah tahu bagaimana akhir perjalanan hidup kita.

Hari ini seseorang bisa terlihat begitu rajin beribadah, tetapi bagaimana dengan akhir hidupnya?

Sebaliknya, hari ini seseorang mungkin masih bergelimang dosa, sering jatuh dalam kemaksiatan, bahkan berkali-kali gagal meninggalkan keburukan. Namun siapa tahu suatu hari Allah membukakan pintu hatinya, lalu ia bertaubat dengan sungguh-sungguh dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah?

Karena itu, jangan pernah merasa terlalu aman dengan amal kita. Dan jangan pula merasa terlalu hina hanya karena dosa-dosa kita.

Yang menentukan bukan hanya bagaimana kita memulai perjalanan, tetapi bagaimana Allah menutup perjalanan hidup kita.

Itulah sebabnya orang-orang saleh bukanlah orang yang merasa dirinya pasti selamat.

Mereka justru takut. Mereka beramal, tetapi takut amalnya tidak diterima. Mereka bersedekah, tetapi takut riya. Mereka shalat, tetapi takut kekhusyukannya kurang.

Kemudian, mereka membaca Al-Qur’an, tetapi takut hati mereka belum benar-benar tunduk. Mereka menangis karena dosa, tetapi tetap berharap kepada ampunan Allah. Mereka berada di antara khauf (takut) dan raja’ (harap).

Takut terhadap azab Allah, tetapi tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya.

SAYA SERING MAKSIAT. APAKAH BERARTI SAYA AHLI NERAKA?

Pertanyaan seperti ini mungkin pernah muncul dalam hati sebagian kita.

“Aku masih sering berbuat dosa.”

“Aku sudah berjanji tidak mengulanginya, tetapi ternyata aku jatuh lagi.”

“Aku ingin rajin ibadah, tetapi rasanya berat sekali.”

“Mengapa melakukan maksiat terasa mudah, sementara melakukan kebaikan terasa begitu berat?”

“Jangan-jangan ini tanda bahwa saya memang ditakdirkan menjadi penghuni neraka?”

Jangan buru-buru mengambil kesimpulan. Jatuh ke dalam dosa bukan berarti pintu taubat telah tertutup. Allah justru memerintahkan manusia untuk segera kembali kepada-Nya.

Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)

Perhatikan kalimat itu. Allah tidak hanya berbicara kepada orang yang merasa dirinya baik.

Allah berbicara kepada “hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri.”

Artinya, bahkan manusia yang telah banyak melakukan kesalahan sekalipun masih dipanggil oleh Allah sebagai hamba-Nya.

Maka jangan biarkan setan membisikkan: “Kamu sudah terlalu banyak dosa. Tidak ada gunanya bertaubat.”

Itu bukan suara yang membawa kita kepada Allah. Itu justru jebakan agar kita semakin jauh dari Allah.

SURGA ITU TIDAK DICAPAI DENGAN MENURUTI SEMUA KEINGINAN

Rasulullah SAW memberikan gambaran yang sangat kuat tentang jalan menuju surga dan neraka.

Beliau ﷺ bersabda:

حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Neraka dikelilingi oleh berbagai syahwat, sedangkan surga dikelilingi oleh berbagai perkara yang tidak disukai hawa nafsu.” (HR. Bukhari no. 6487 dan Muslim no. 2822)

Hadis ini seakan-akan sedang mengajarkan kepada kita: Jangan heran jika dosa terasa menyenangkan, sementara kebaikan terkadang terasa berat.

Itulah ujian manusia. Maksiat sering menawarkan kesenangan yang cepat.

Sedangkan ketaatan terkadang membutuhkan kesabaran. Maksiat menawarkan kenikmatan sesaat.

Ketaatan terkadang meminta kita menahan diri. Maksiat berkata: “Ikuti saja keinginanmu.”

Iman berkata: “Tidak semua yang kamu inginkan boleh kamu lakukan.”

Maksiat berkata: “Sekali saja.”

Iman berkata: “Allah sedang melihatmu.”

Maksiat berkata: “Tidak ada yang tahu.”

Iman berkata: “Allah Maha Mengetahui.”

Maksiat berkata: “Nikmati sekarang.”

Iman berkata: “Pikirkan akibatnya nanti.”

Di situlah perjuangan seorang mukmin.

HAWA NAFSU BUKAN MUSUH YANG HARUS DIMUSNAHKAN, TETAPI HARUS DIKENDALIKAN

Allah SWT tidak menciptakan manusia tanpa keinginan.

Kita memiliki keinginan terhadap makanan. Kita memiliki keinginan terhadap harta. Kita memiliki keinginan terhadap pasangan. Kita menyukai pujian. Kita ingin dihargai. Kita ingin hidup nyaman. Kita ingin memiliki sesuatu yang lebih baik.

Semua itu merupakan bagian dari kehidupan manusia. Allah ﷻ berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu perempuan, anak-anak, harta yang banyak berupa emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang.”

Kemudian Allah menegaskan:

ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali ‘Imran: 14)

Perhatikan. Allah tidak mengatakan bahwa semua kenikmatan dunia harus dibenci.

Tetapi Allah mengingatkan bahwa semuanya adalah kesenangan hidup dunia. Jangan sampai sesuatu yang sementara membuat kita kehilangan sesuatu yang abadi.

MASALAHNYA BUKAN KITA MEMILIKI NAFSU, TETAPI KETIKA NAFSU YANG MEMILIKI KITA

Manusia yang beriman bukanlah manusia yang tidak mempunyai keinginan. Orang saleh pun bisa marah. Orang saleh pun bisa tertarik kepada dunia. Orang saleh pun bisa memiliki keinginan.

Namun mereka belajar mengendalikan diri. Ada keinginan yang boleh diikuti. Ada keinginan yang harus ditahan. Ada keinginan yang harus diarahkan. Ada keinginan yang harus ditinggalkan.

Contohnya sederhana. Kita ingin tidur. Tetapi ketika azan Subuh berkumandang, kita harus bangun.

Nafsu berkata: “Lanjutkan tidur.”

Iman berkata: “Bangun. Allah memanggilmu.”

Kita sedang memiliki uang. Lalu ada kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dengan cara haram.

Nafsu berkata: “Ambil. Tidak ada yang tahu.”

Iman berkata: “Allah tahu.”

Kita sedang marah. Kita ingin membalas perkataan orang lain.

Nafsu berkata: “Balas! Jangan mau direndahkan.”

Iman berkata: “Tahan amarah.”

Kita memiliki kesempatan melihat sesuatu yang haram. Nafsu berkata: “Lihat saja sebentar.”

Iman berkata: “Tundukkan pandangan.”

Di situlah kemenangan sebenarnya. Bukan ketika kita tidak memiliki godaan, tetapi ketika kita memiliki kesempatan melakukan dosa lalu memilih meninggalkannya karena Allah.

KADANG-KADANG KITA MENGIRA ORANG BAIK ITU TIDAK PERNAH BERDOSA

Padahal manusia bukan malaikat. Manusia bisa salah. Manusia bisa lupa. Manusia bisa tergelincir. Manusia bisa jatuh.

Namun perbedaan antara orang yang terus berjalan menuju Allah dan orang yang menyerah kepada dosa adalah:

ketika jatuh, ia berusaha bangkit. Ia menangis. Ia menyesal. Ia memohon ampun. Ia memperbaiki diri.

Kemudian mungkin suatu hari ia jatuh lagi. Lalu ia bangkit lagi. Bertaubat lagi. Berjuang lagi. Begitu seterusnya.

Jangan pernah meremehkan perjuangan seseorang hanya karena kita melihat ia masih memiliki dosa.

Bisa jadi dosa yang sedang ia lawan adalah dosa yang tidak pernah kita rasakan. Dan jangan pula terlalu bangga karena hari ini kita merasa lebih baik daripada orang lain.

Karena kita tidak mengetahui bagaimana akhir hidup masing-masing.

JANGAN MERASA SUDAH PASTI MENJADI AHLI SURGA

Ada penyakit yang sangat berbahaya dalam kehidupan beragama: merasa dirinya sudah aman.

Rajin beribadah lalu mulai merendahkan orang lain. Rajin ke masjid lalu merasa lebih suci. Rajin membaca Al-Qur’an lalu menganggap orang lain tidak baik.

Banyak sedekah lalu merasa amalnya pasti diterima. Padahal kita tidak tahu apakah amal kita benar-benar diterima Allah.

Allah ﷻ berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sementara hati mereka merasa takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Ketika ayat ini dijelaskan kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang orang-orang tersebut, apakah mereka adalah orang yang minum khamar dan mencuri?

Nabi SAW menjelaskan bahwa bukan demikian. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, tetapi mereka takut amalnya tidak diterima.

Masya Allah. Mereka beramal, tetapi tidak sombong dengan amalnya.

Mereka takut. Kita yang amalnya masih jauh dari mereka justru terkadang begitu percaya diri.

JANGAN PULA MERASA SUDAH PASTI MENJADI AHLI NERAKA

Sebaliknya, ada orang yang karena terlalu banyak dosa kemudian berkata: “Saya memang orang buruk.”

“Allah pasti tidak akan mengampuni saya.”

“Percuma saya shalat.”

“Percuma saya berubah.”

“Saya sudah terlalu jauh.”

Ini juga jebakan. Setan memiliki dua cara untuk menjauhkan manusia dari Allah.

Pertama, membuat manusia sombong karena amalnya.

Kedua, membuat manusia putus asa karena dosanya.

Yang pertama berkata: “Saya sudah baik.”

Yang kedua berkata: “Saya sudah terlalu buruk.”

Padahal keduanya sama-sama berbahaya. Yang benar adalah: “Saya ingin menjadi baik, tetapi saya sadar masih banyak kekurangan. Saya memiliki dosa, tetapi saya percaya Allah Maha Pengampun. Karena itu saya akan terus memperbaiki diri.”

SELAMA MASIH HIDUP, PINTU TAUBAT BELUM TERTUTUP

Allah SWT sangat mencintai hamba yang kembali kepada-Nya.

Rasulullah SAW bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ

“Sungguh, Allah lebih bergembira dengan taubat seorang hamba-Nya…” (HR. Muslim)

Bayangkan. Kita sering merasa malu untuk kembali kepada Allah karena dosa. Padahal Allah justru membuka pintu.

Kita yang menjauh. Allah memanggil. Kita yang meninggalkan. Allah memberikan kesempatan. Kita yang berulang kali jatuh.

Allah masih memberikan waktu untuk bangkit. Maka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari barat, jangan menyerah kepada dosa.

TAUBAT BUKAN BERARTI KITA TIDAK AKAN PERNAH JATUH LAGI

Ini penting dipahami. Ada orang yang berkata: “Saya sudah pernah bertaubat, tetapi saya mengulang dosa yang sama. Berarti taubat saya palsu.”

Tidak selalu demikian. Jika ketika bertaubat seseorang benar-benar menyesal, meninggalkan dosa tersebut dan bertekad untuk tidak mengulanginya, maka ia telah melakukan taubat dengan sungguh-sungguh.

Jika kemudian ia tergelincir lagi, ia harus kembali bertaubat. Jangan mengatakan: “Percuma.”

Tidak. Bangkit lagi. Taubat lagi. Perbaiki lagi. Karena perjuangan melawan dosa terkadang bukan satu kali peperangan. Bisa menjadi peperangan sepanjang hidup.

JANGAN MENUNGGU MENJADI BAIK UNTUK MENDEKAT KEPADA ALLAH

Ini kesalahan yang sering kita lakukan. “Kapan saya sudah benar-benar baik, baru saya rajin shalat.”

“Kapan hati saya sudah bersih, baru saya membaca Al-Qur’an.”

“Kapan dosa saya sudah berkurang, baru saya datang ke masjid.”

Justru sebaliknya. Datanglah kepada Allah karena kita sedang membutuhkan pertolongan-Nya untuk menjadi baik.

Jangan menunggu hati bersih untuk membaca Al-Qur’an. Bacalah Al-Qur’an agar hati dibersihkan.

Jangan menunggu menjadi baik untuk shalat.

Shalatlah agar Allah membimbing kita menjadi lebih baik.

Jangan menunggu tidak punya dosa untuk beristighfar. Beristighfarlah karena kita memiliki dosa.

Jangan menunggu hidup tenang untuk berdzikir. Berdzikirlah agar hati mendapatkan ketenangan.

Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

MUNGKIN SELAMA INI KITA SALAH MEMAHAMI “AHLI SURGA

Ahli surga bukan berarti manusia yang tidak pernah berbuat salah. Tetapi manusia yang ketika salah tidak betah tinggal dalam kesalahan.

Ia kembali. Ia memperbaiki diri. Ia memohon ampun. Ia terus berjuang. Ia tidak menjadikan dosa sebagai identitas hidupnya.

Ia tidak berkata: “Memang saya begini.”

Tetapi ia berkata: “Saya ingin berubah.”

Kalimat sederhana itu bisa menjadi awal perjalanan yang luar biasa.

ADA ORANG YANG DOSANYA BANYAK, TETAPI TAUBATNYA SANGAT DALAM

Jangan pernah menilai seseorang hanya berdasarkan masa lalunya. Seseorang mungkin pernah hidup jauh dari Allah.

Pernah melakukan banyak kesalahan. Pernah menghabiskan waktu dalam kemaksiatan.

Namun suatu hari hatinya disentuh oleh hidayah. Ia menangis. Ia meninggalkan keburukan. Ia memperbaiki shalatnya.

Lalu, Ia mulai membaca Al-Qur’an. Ia memperbaiki hubungannya dengan orang tua. Ia mulai bersedekah. Ia menjaga lisannya. Ia menutup pintu-pintu maksiat.

Kemudian ia meninggal dalam keadaan bertaubat. Siapa yang mengetahui kedudukannya di sisi Allah?

Sebaliknya, jangan pula kita tertipu oleh penampilan kesalehan seseorang. Sebab kita tidak mengetahui bagaimana akhir hidupnya.

Yang kita butuhkan bukan sibuk menentukan siapa ahli surga dan siapa ahli neraka. Yang harus kita lakukan adalah memastikan: “Bagaimana agar saya meninggal dalam keadaan diridhai Allah?”

YANG  TERPENTING ADALAH HUSNUL KHATIMAH

Ada orang yang hidupnya terlihat biasa saja, tetapi akhir hidupnya indah.

Ada pula orang yang sepanjang hidupnya terlihat baik, tetapi kita tetap tidak boleh merasa aman dari ujian.

Karena itu, doa yang sangat penting adalah memohon agar Allah memberikan akhir kehidupan yang baik.

Bukan hanya: “Ya Allah, panjangkan umurku.”

Tetapi: “Ya Allah, berkahilah umurku dan wafatkan aku dalam keadaan Engkau ridha kepadaku.”

Bukan hanya: “Ya Allah, berikan aku harta.”

Tetapi: “Ya Allah, jangan jadikan hartaku sebagai sebab aku jauh dari-Mu.”

Bukan hanya: “Ya Allah, berikan aku kesehatan.”

Tetapi: “Ya Allah, gunakan kesehatan ini untuk ketaatan kepada-Mu.”

JANGAN TAKUT PADA DOSA SEHINGGA PUTUS ASA, DAN JANGAN PERCAYA DIRI PADA AMAL SEHINGGA LUPA DIRI

Inilah keseimbangan seorang mukmin. Ketika melakukan kebaikan: Jangan sombong.

Ketika melakukan dosa: Jangan putus asa.

Ketika dipuji:.Takutlah amal itu menjadi sia-sia karena riya.

Ketika dicela: Jangan berhenti melakukan kebaikan jika memang Allah meridhainya.

Ketika berhasil: Bersyukurlah.

Ketika gagal: Belajarlah dan bangkit kembali.

Ketika berdosa: Segera bertaubat.

Ketika mendapat nikmat: Jangan lupa kepada Pemberinya.

LALU, APAKAH KITA AHLI SURGA ATAU AHLI NERAKA?

Jawabannya: Kita tidak tahu. Kita tidak boleh memastikan diri sendiri sebagai ahli surga. Kita juga tidak boleh memastikan diri sendiri sebagai ahli neraka. Kita tidak mengetahui perkara gaib.

Yang kita ketahui adalah: Allah memerintahkan kita beriman dan beramal saleh.

Allah melarang kita bermaksiat. Allah membuka pintu taubat. Allah menjanjikan ampunan bagi hamba yang kembali kepada-Nya.

Dan kita diperintahkan untuk terus berjuang sampai ajal datang. Maka pertanyaan yang lebih tepat bukan: “Apakah saya ahli surga atau ahli neraka?”

Tetapi: “Hari ini saya sedang berjalan menuju ke mana?”

Apakah langkah saya semakin mendekat kepada Allah?

Ataukah semakin jauh?

Apakah shalat saya semakin baik?

Apakah hati saya semakin lembut?

Apakah saya semakin mudah memaafkan?

Apakah saya semakin takut mengambil hak orang lain?

Apakah saya semakin malu melakukan dosa ketika tidak ada seorang pun yang melihat?

Apakah ketika terjatuh dalam dosa saya segera kembali kepada Allah?

Itulah yang harus kita evaluasi setiap hari.

KITA TIDAK TAHU AKHIRNYA, MAKA JANGAN BERHENTI BERJUANG

Hari ini mungkin kita masih berjuang dengan hawa nafsu. Besok kita bisa lebih kuat. Hari ini mungkin kita masih sering jatuh.

Besok kita bisa lebih kokoh. Hari ini mungkin kita menangis karena dosa.

Bisa jadi air mata itu justru menjadi awal perubahan hidup kita. Jangan pernah meremehkan satu langkah kecil menuju Allah.

Satu istighfar. Satu rakaat tahajud. Satu halaman Al-Qur’an. Satu sedekah. Satu kebaikan kepada orang tua. Satu ucapan yang kita tahan agar tidak menyakiti orang lain. Satu pandangan yang kita tundukkan karena Allah. Satu kesempatan maksiat yang kita tinggalkan demi Allah.

Bisa jadi sesuatu yang menurut kita kecil, ternyata besar di sisi Allah.

PERJUANGAN TERBESAR ADALAH MENAKLUKKAN DIRI SENDIRI

Musuh terbesar kita tidak selalu berada di luar. Kadang musuh terbesar itu ada di dalam diri: kesombongan, iri hati, dendam, cinta dunia, malas beribadah, amarah, syahwat, dan keinginan untuk selalu dipuji.

Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki dunia di luar diri kita. Perbaiki juga dunia di dalam hati.

Jangan hanya membersihkan rumah. Bersihkan hati.

Jangan hanya memperbaiki penampilan. Perbaiki akhlak.

Jangan hanya menjaga nama baik di hadapan manusia. Jagalah hubungan kita dengan Allah ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Karena pada akhirnya, kita akan berdiri sendiri di hadapan-Nya.

KETIKA HAWA NAFSU MENGAJAK, INGATLAH AKHIR PERJALANAN

Ketika kita ingin melakukan maksiat, berhentilah sejenak.

Tanyakan: “Setelah kesenangan ini selesai, apa yang tersisa?”

Mungkin hanya beberapa menit kesenangan. Tetapi dosa bisa menjadi beban.

Ketika kita ingin meninggalkan shalat karena malas, tanyakan: “Apakah saya yakin masih akan mendapatkan kesempatan shalat berikutnya?”

Ketika kita ingin menunda taubat: “Apakah saya yakin masih hidup besok?”

Ketika kita ingin menyakiti seseorang: “Bagaimana jika ternyata ini adalah pertemuan terakhir kami?”

Ketika kita mendapatkan kesempatan berbuat baik: “Bagaimana jika ini kesempatan yang Allah berikan dan tidak akan pernah datang lagi?”

Kesadaran tentang kematian akan membuat kita lebih hati-hati dalam menjalani kehidupan.

JANGAN MENUNGGU RAMBUT MEMUTIH UNTUK BERTOBAT

Banyak orang berkata: “Nanti saja kalau sudah tua saya berubah.” Siapa yang menjamin kita sampai tua?

Ada yang meninggal saat masih bayi. Ada yang meninggal saat remaja. Ada yang meninggal saat muda. Ada yang meninggal ketika sedang bekerja. Ada yang meninggal ketika sedang tidur. Ada yang meninggal ketika sedang berkendara.

Kematian tidak pernah mengirimkan pesan: “Besok saya datang.”

Maka jangan menunda taubat. Kalau hari ini sadar, bertaubatlah hari ini. Kalau hari ini ingin memperbaiki shalat, mulailah hari ini. Kalau hari ini ingin meminta maaf kepada orang tua, lakukan hari ini. Kalau hari ini ingin meninggalkan maksiat, tinggalkan hari ini.

Karena “nanti” adalah kata yang sering membuat manusia kehilangan kesempatan.

JIKA TERJATUH, BANGKITLAH

Mungkin tulisan ini sedang dibaca oleh seseorang yang merasa dirinya sangat jauh dari Allah.

Kalau itu Anda, dengarkan baik-baik: Jangan menyerah.

Anda mungkin pernah melakukan dosa besar. Mungkin pernah mengecewakan banyak orang. Mungkin pernah hidup dalam kemaksiatan. Mungkin berkali-kali gagal berubah.

Tetapi selama Allah masih memberikan napas, cerita hidup Anda belum selesai. Jangan biarkan masa lalu menentukan masa depan Anda.

Masa lalu adalah pelajaran. Taubat adalah jalan pulang. Dan Allah adalah sebaik-baik tempat kembali.

KITA SEMUA SEDANG DALAM PERJALANAN

Tidak ada manusia yang bisa berkata: “Saya sudah aman.”

Tidak ada manusia yang boleh berkata: “Saya pasti masuk surga.”

Tetapi seorang mukmin juga tidak boleh berkata: “Saya pasti masuk neraka.”

Kita hidup di antara harapan dan ketakutan. Kita beramal sambil berharap rahmat Allah. Kita menjauhi dosa karena takut kepada Allah. Kita bertaubat ketika tergelincir. Kita berdoa agar Allah meneguhkan hati.

Dan kita memohon agar akhir perjalanan kita adalah akhir yang indah. Karena boleh jadi seseorang yang hari ini menangis karena dosa, beberapa tahun kemudian menjadi manusia yang sangat dekat dengan Allah.

Dan boleh jadi seseorang yang hari ini merasa sudah sangat baik, justru diuji dengan sesuatu yang membuatnya tergelincir.

Maka jangan sombong. Jangan pula putus asa. Tetaplah berjalan.

DOA UNTUK KITA SEMUA

Ya Allah… Jika selama ini kami terlalu dekat dengan maksiat, jauhkanlah kami. Jika hati kami keras, lembutkanlah. Jika iman kami lemah, kuatkanlah. Jika kami malas beribadah, tumbuhkanlah kecintaan kepada ketaatan.

Dan, jika kami sering jatuh dalam dosa, berikanlah kekuatan untuk bangkit. Jika kami telah berbuat zalim kepada diri sendiri, ampunilah kami. Jika kami telah menyakiti orang lain, berikan kami keberanian untuk meminta maaf dan memperbaikinya.

Ya Allah… Jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami. Jangan jadikan harta sebagai ukuran kemuliaan kami.

Jangan jadikan pujian manusia sebagai sumber kebahagiaan kami. Jangan biarkan hati kami dikuasai hawa nafsu.

Jangan biarkan kami tertipu oleh amal kami sendiri. Jangan pula biarkan dosa membuat kami berputus asa dari rahmat-Mu.

Ya Allah… Teguhkan iman kami sampai akhir hayat. Jadikan kami hamba yang senantiasa kembali kepada-Mu.

Ampuni dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, dan dosa seluruh kaum Muslimin.

Berikan kami husnul khatimah. Wafatkan kami dalam keadaan beriman, bertauhid, dan Engkau ridha kepada kami.

Kumpulkan kami bersama orang-orang saleh di dalam surga-Mu. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

PENUTUP

Sahabatku… Jangan pernah merasa terlalu suci sehingga lupa untuk menangis.

Dan jangan pernah merasa terlalu kotor sehingga malu untuk kembali kepada Allah.

Kita semua adalah manusia yang sedang berjuang. Ada hari ketika kita kuat. Ada hari ketika kita lemah. Ada hari ketika kita rajin beribadah. Ada hari ketika kita lalai. Ada hari ketika kita berhasil menahan hawa nafsu. Ada hari ketika kita tergelincir.

Tetapi jangan berhenti. Jika jatuh, bangun. Jika berdosa, istighfar. Jika jauh, kembali. Jika lemah, berdoa. Jika kehilangan arah, buka Al-Qur’an. Jika hati keras, perbanyak dzikir. Jika merasa tidak layak datang kepada Allah, ingatlah:

Allah tidak pernah menyuruh kita menunggu menjadi sempurna untuk kembali kepada-Nya. Datanglah kepada Allah dengan segala kekurangan kita.

Datanglah dengan air mata. Datanglah dengan penyesalan. Datanglah dengan hati yang hancur.

Sebab bisa jadi justru dari hati yang hancur karena dosa itulah, Allah memulai perjalanan seorang hamba menuju surga.

Kita tidak tahu apakah kita ahli surga atau ahli neraka. Tetapi kita tahu satu hal: Selama masih hidup, kita masih punya kesempatan untuk memilih jalan menuju Allah.

Maka jangan sia-siakan hari ini. Karena kita tidak pernah tahu…

Apakah matahari esok masih akan kita lihat, atau justru malam ini menjadi malam terakhir dalam kehidupan kita.

Semoga Allah menjaga hati kita dari tipu daya setan, melindungi kita dari hawa nafsu yang menyesatkan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal-amal kita, dan menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

والله أعلم بالصواب.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

🌹 صَبَاحُ الْخَيْرِ 🌷

Selamat pagi.

Semoga hari ini menjadi hari ketika kita semakin dekat kepada Allah, bukan semakin jauh dari-Nya.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *