Jangan Mudah Merasa Paling Baik 

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS/ Kalimantan Selatan I

Ketika Kita Sibuk Menghakimi Orang Lain, Jangan-Jangan Kita Sedang Melupakan Aib Diri Sendiri

Ada satu penyakit hati yang sangat halus. Ia tidak selalu tampak dalam bentuk kemarahan. Tidak selalu muncul melalui perkataan kasar. Bahkan terkadang ia bersembunyi di balik kalimat-kalimat yang terdengar sangat religius.

“Sekarang manusia sudah rusak.”

“Zaman sekarang susah mencari orang baik.”

“Anak muda sekarang tidak punya akhlak.”

“Orang-orang sekarang sudah jauh dari agama.”

“Yang masih benar-benar menjalankan agama tinggal sedikit.”

“Kalau bukan karena kita, siapa lagi yang akan menyelamatkan umat?”

Kalimat-kalimat seperti itu bisa saja lahir dari keprihatinan yang tulus. Namun, masalahnya bukan hanya apa yang kita katakan, melainkan juga apa yang sedang terjadi di dalam hati ketika kita mengatakannya.

Apakah kita sedang bersedih karena melihat manusia jauh dari Allah? Ataukah sebenarnya kita sedang menikmati perasaan, diri kita lebih baik daripada mereka?

Inilah persoalan besar yang harus kita renungkan.

Sebab seseorang bisa saja berbicara tentang agama, tetapi hatinya dipenuhi kesombongan.

Seseorang bisa rajin beribadah, tetapi merasa ibadahnya membuatnya lebih mulia daripada orang lain.

Seseorang bisa hafal banyak ayat dan hadis, tetapi gagal melihat penyakit hatinya sendiri.

Seseorang bisa begitu keras mengkritik dosa orang lain, tetapi begitu lunak terhadap kesalahan dirinya sendiri.

Dan di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk merasa paling suci. Bukan pula untuk menganggap semua orang sama. Tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri:

“Jangan-jangan selama ini aku terlalu sibuk melihat keburukan orang lain sampai lupa memperbaiki diriku sendiri?”

Hadis yang Menggetarkan Hati

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat keras:

إِذَا سَمِعْتُمُ الرَّجُلَ يَقُولُ: هَلَكَ النَّاسُ، فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ

“Apabila kalian mendengar seseorang berkata, ‘Manusia telah binasa,’ maka dialah yang paling binasa di antara mereka.” (HR. Muslim, no. 2623)

Hadis ini bukan sekadar larangan mengucapkan sebuah kalimat. Di dalamnya terdapat peringatan tentang penyakit kesombongan moral dan spiritual.

Orang yang mengatakan “manusia sudah rusak semua” bisa jadi bukan sedang sekadar menggambarkan kondisi masyarakat.

Bisa jadi ia sedang menempatkan dirinya pada posisi seolah-olah:

“Aku berbeda dari mereka.”

“Aku lebih baik.”

“Aku lebih suci.”

“Aku lebih benar.”

“Aku lebih dekat kepada Allah.”

Sedangkan orang lain dianggap rendah, buruk, sesat, tidak bermoral, tidak berguna, atau tidak memiliki harapan. Padahal siapa yang mengetahui akhir perjalanan hidup seseorang?

Kita tidak tahu. Orang yang hari ini melakukan dosa besar bisa saja malam ini menangis di hadapan Allah dan benar-benar bertaubat.

Orang yang hari ini belum mengenal masjid bisa saja beberapa tahun kemudian menjadi orang yang menghidupkan masjid.

Orang yang hari ini hidup jauh dari agama bisa saja suatu saat menjadi guru yang membimbing ribuan manusia.

Sebaliknya, orang yang hari ini terlihat saleh pun tidak pernah memiliki jaminan bahwa ia akan meninggal dalam keadaan saleh.

Karena itu, seorang mukmin seharusnya tidak mudah merasa aman terhadap dirinya sendiri.

Allah Melarang Kita Menyucikan Diri Sendiri

Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat jelas:

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

Perhatikan pesan ini. Allah tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh memperbaiki diri.

Allah tidak melarang seseorang menjadi saleh. Allah tidak melarang kita menjauhi maksiat.

Yang dilarang adalah menyucikan diri sendiri dalam arti merasa sudah bersih, sudah aman, sudah paling baik, dan sudah pasti lebih mulia daripada orang lain.

Sebab ukuran kemuliaan bukanlah penampilan. Bukan jumlah pengikut.

Bukan banyaknya orang yang memuji. Bukan jabatan. Bukan gelar. Bukan organisasi. Bukan popularitas. Bukan banyaknya orang yang menganggap kita tokoh agama.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Dan siapa yang paling mengetahui tingkat ketakwaan seseorang? Bukan manusia. Tapi Allah! Titik.

Kita Tidak Pernah Benar-Benar Tahu Isi Hati Orang Lain

Salah satu kesalahan manusia adalah terlalu percaya diri dalam menilai orang lain. Kita melihat seseorang tidak ke masjid. Kita langsung menyimpulkan dia tidak peduli agama.

Kita melihat seseorang berpakaian biasa. Kita menganggap dia tidak saleh. Kita melihat seseorang melakukan kesalahan. Kita menganggap hidupnya buruk. Kita melihat seseorang pernah jatuh dalam dosa. Kita menganggap dia tidak akan berubah.

Padahal manusia hanya melihat bagian luar. Allah melihat seluruh perjalanan hidup seseorang. Kita mungkin hanya melihat satu halaman. Allah mengetahui seluruh bukunya. Kita melihat seseorang sedang jatuh.

Tak hanya itu, Allah mengetahui bagaimana ia akan bangkit. Kita melihat seseorang sedang melakukan kesalahan. Allah mengetahui kemungkinan taubatnya. Kita melihat masa lalunya. Allah mengetahui masa depannya.

Karena itu, jangan mengambil alih posisi Allah sebagai hakim atas hati manusia. Tugas kita adalah menasihati, mengingatkan, mendoakan, dan mengajak kepada kebaikan. Bukan memastikan siapa yang pasti masuk surga dan siapa yang pasti binasa.

Iblis Jatuh Bukan karena Tidak Mengenal Allah

Salah satu kisah terbesar tentang bahaya kesombongan terdapat dalam kisah Iblis. Iblis mengetahui Allah.

Iblis pernah berada dalam lingkungan para malaikat. Iblis mengetahui perintah Allah.

Namun ketika Allah memerintahkannya untuk bersujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan yang diperintahkan Allah, Iblis menolak.

Allah mengabadikan perkataannya:

أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ

“Aku lebih baik daripadanya.” (QS. Al-A’raf: 12)

Inilah salah satu kalimat paling berbahaya dalam sejarah manusia dan jin:

“Aku lebih baik.”

Perhatikan.

Iblis tidak mengatakan:

“Aku tidak tahu Allah.”

Ia tidak mengatakan:

“Aku tidak mengenal Tuhan.”

Masalahnya adalah kesombongan. Ia membandingkan dirinya dengan makhluk lain. Ia merasa lebih tinggi. Ia melihat asal-usul dirinya.

“Aku diciptakan dari api.”

Sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Kesombongan membuatnya menolak perintah Allah. Ini pelajaran besar.

Kadang-kadang manusia bukan jatuh karena tidak tahu kebenaran. Manusia jatuh karena merasa dirinya sudah cukup baik sehingga tidak mau menerima kebenaran.

Aku Lebih Baik” Bisa Menjadi Awal Kehancuran

Kalimat “aku lebih baik” dapat muncul dalam banyak bentuk.

“Aku lebih alim.”

“Aku lebih berpengalaman.”

“Aku lebih senior.”

“Aku lebih lama beribadah.”

“Aku lebih banyak berjasa.”

“Aku lebih dekat dengan tokoh agama.”

“Aku lebih banyak membaca kitab.”

“Aku lebih paham politik.”

“Aku lebih tahu organisasi.”

“Aku lebih berjasa untuk masyarakat.”

“Aku lebih pantas.”

“Aku lebih benar.”

Kalimat tersebut mungkin tidak selalu salah secara fakta. Tetapi masalahnya adalah ketika pengetahuan tentang kelebihan diri berubah menjadi penghinaan terhadap orang lain.

Seseorang boleh memiliki ilmu. Tetapi ilmu seharusnya membuatnya semakin rendah hati.

Seseorang boleh memiliki jabatan. Tetapi jabatan seharusnya membuatnya semakin takut kepada Allah.

Seseorang boleh memiliki banyak amal. Tetapi amal seharusnya membuatnya semakin khawatir apakah amal itu diterima.

Seseorang boleh mendapatkan pujian. Tetapi pujian seharusnya membuatnya semakin berhati-hati terhadap penyakit riya dan ujub.

Kisah Qarun: Ketika Kesuksesan Melahirkan Kesombongan

Al-Qur’an juga mengisahkan Qarun. Ia diberikan kekayaan luar biasa. Namun ketika dinasihati agar tidak berbuat sombong, ia menjawab:

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي

“Sesungguhnya aku diberi kekayaan itu hanya karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)

Perhatikan kata-katanya.

Ia tidak mengatakan:

“Allah yang memberi.”

Ia mengaitkan keberhasilannya dengan dirinya sendiri.

“Aku.”

“Ilmuku.”

“Kemampuanku.”

“Prestasi yang aku miliki.”

Padahal semua yang ada pada manusia pada hakikatnya adalah pemberian Allah.

Kecerdasan adalah pemberian. Kesehatan adalah pemberian. Kekayaan adalah pemberian. Kesempatan adalah pemberian. Keluarga adalah pemberian.

Tak hanya itu, jabatan adalah pemberian. Popularitas adalah pemberian. Bahkan kemampuan untuk beribadah pun adalah pertolongan dari Allah.

Maka semakin banyak yang Allah berikan kepada kita, seharusnya semakin banyak pula rasa syukur dan kerendahan hati.

Jangan Mengukur Kemuliaan dari Penampilan

Di zaman media sosial, penyakit membandingkan manusia semakin besar. Kita melihat seseorang hanya dari foto.

Dari video.

Dari TikTok.

Dari Instagram.

Dari Facebook.

Dari YouTube.

Dari status WhatsApp.

Kita melihat potongan beberapa detik kehidupan seseorang lalu membuat kesimpulan tentang seluruh hidupnya. Padahal media sosial adalah panggung.

Yang ditampilkan biasanya adalah bagian yang ingin diperlihatkan. Kita melihat seseorang tersenyum. Kita tidak tahu perjuangannya.

Kita melihat seseorang berhasil. Kita tidak tahu kegagalannya. Kita melihat seseorang berbicara tentang agama. Kita tidak tahu perjuangan pribadinya. Kita melihat seseorang tampak sederhana. Kita tidak tahu amal rahasianya.

Sebaliknya, kita melihat seseorang melakukan kesalahan di depan kamera. Kita langsung menghakimi seluruh kehidupannya.

Ini berbahaya. Sebab manusia bukan video berdurasi tiga puluh detik. Manusia adalah perjalanan panjang.

Jangan Menganggap Orang Berdosa Tidak Punya Masa Depan

Ada manusia yang masa lalunya begitu buruk. Tetapi kemudian Allah mengubah hidupnya.

Dalam sejarah Islam, banyak orang yang awalnya bukan siapa-siapa kemudian menjadi manusia luar biasa.

Kisah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu contoh yang sangat kuat. Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai sosok yang keras terhadap kaum Muslimin.

Namun setelah mendapatkan hidayah, ia berubah menjadi salah satu sahabat paling mulia. Bayangkan jika seseorang pada masa awal Islam berkata:

“Umar? Jangan berharap dia akan berubah.”

Jika orang menilai manusia hanya berdasarkan masa lalunya, maka banyak tokoh besar dalam sejarah Islam mungkin tidak akan pernah diberi kesempatan untuk berubah.

Hidayah adalah milik Allah. Allah dapat membolak-balikkan keadaan hati manusia.

Karena itu, jangan pernah mengunci seseorang dengan masa lalunya.

“Dia memang begitu.”

“Dari dulu memang begitu.”

“Tidak mungkin berubah.”

“Sudah rusak.”

“Tidak ada harapan.”

Kita tidak tahu.

Mungkin justru doa seorang ibu, nasihat seorang teman, satu ayat Al-Qur’an, satu musibah, satu peristiwa, atau satu malam penuh tangisan menjadi titik balik hidupnya.

Bahkan Pelaku Dosa Bisa Menjadi Kekasih Allah Setelah Bertaubat

Islam tidak mengajarkan manusia untuk kehilangan harapan.

Allah berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini luar biasa.

Allah tidak mengatakan:

“Wahai orang-orang yang tidak pernah berdosa.” Allah justru memanggil orang-orang yang telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri.

Ini menunjukkan bahwa pintu kembali kepada Allah selalu terbuka selama manusia masih hidup.

Maka ketika melihat orang lain jatuh, jangan hanya berkata: “Lihat, dia berdosa.”

Tanyakan: “Bagaimana caranya agar dia bisa kembali?”

Itulah perbedaan antara orang yang ingin menyelamatkan dengan orang yang ingin merasa lebih tinggi.

Rasulullah ﷺ Mengajarkan Kasih Sayang dalam Berdakwah

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling memahami cara memperbaiki manusia. Beliau tidak menjadikan dakwah sebagai ajang mempermalukan orang.

Allah berfirman kepada Nabi ﷺ:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ

“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Lihat kata yang digunakan: لِنتَ

“Engkau berlaku lemah lembut.”

Padahal Rasulullah ﷺ menghadapi masyarakat yang penuh kesalahan.

Ada yang menyembah berhala.Ada yang melakukan kemaksiatan. Ada yang menolak dakwah. Ada yang menyakiti beliau.

Namun metode Rasulullah ﷺ bukan sekadar mencaci mereka.

1. Beliau mendidik.

2. Beliau membimbing.

3. Beliau mengajak.

4. Beliau mendoakan.

5. Beliau membuka pintu taubat.

6. Beliau memberikan kesempatan kepada manusia untuk berubah.

Seorang Pendakwah Tidak Boleh Merasa Dirinya Pemilik Hidayah

Ini pelajaran yang sangat penting. Nabi ﷺ sendiri tidak memiliki kekuasaan memberikan hidayah kepada siapa pun yang beliau kehendaki.

Allah berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

Kalau Rasulullah ﷺ saja tidak bisa memberikan hidayah kepada orang yang beliau cintai, bagaimana mungkin kita merasa bahwa kitalah yang menentukan siapa yang akan mendapatkan hidayah?

Tugas kita menyampaikan. Tugas kita mengingatkan. Tugas kita menjadi contoh. Tugas kita mendoakan. Tetapi hidayah adalah milik Allah.

Kisah Abu Hurairah dan Orang yang Berbuat Dosa

Dalam banyak riwayat, kita menemukan bagaimana para sahabat memahami persoalan dosa dan taubat dengan penuh kehati-hatian.

Mereka tidak mudah memastikan nasib seseorang. Mereka takut terhadap dosa sendiri.

Mereka lebih banyak menangisi diri daripada mencari-cari kesalahan orang lain. Inilah salah satu ciri generasi terbaik.

Mereka memiliki amal besar, tetapi tidak merasa aman. Mereka memiliki kedudukan tinggi, tetapi tidak merasa paling tinggi.

Mereka dipuji Rasulullah ﷺ, tetapi tetap takut kepada Allah. Ini sangat berbeda dengan manusia modern yang terkadang baru mendapatkan sedikit pengetahuan agama sudah merasa mampu menghakimi semua orang.

Baru membaca beberapa buku sudah merasa paling tahu. Baru mengikuti beberapa kajian sudah merasa paling benar.

Baru memahami satu dalil sudah menganggap semua orang lain bodoh. Padahal ilmu yang benar justru membuat seseorang sadar:

“Ternyata yang belum aku ketahui jauh lebih banyak daripada yang aku ketahui.”

Imam Ahmad dan Kerendahan Hati Para Ulama

Para ulama besar dalam sejarah Islam dikenal bukan hanya karena ilmunya, tetapi karena kerendahan hatinya.

Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sangat berhati-hati dalam berbicara tentang agama. Begitu juga banyak ulama salaf.

Mereka memiliki pengetahuan yang luas, tetapi tidak mudah berbicara tentang sesuatu yang belum mereka kuasai.

Ungkapan “Wallahu a’lam” bukan sekadar formalitas. Ia adalah pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan.

Semakin seseorang memahami luasnya ilmu Allah, semakin ia menyadari kecilnya dirinya.

Sebaliknya, orang yang baru mengetahui sedikit tetapi merasa sudah mengetahui semuanya justru sedang berada dalam bahaya.

Ilmu Tanpa Kerendahan Hati Bisa Menjadi Bumerang

Ilmu seharusnya menghasilkan takut kepada Allah.

Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Perhatikan. Ilmu tidak disebut menghasilkan kesombongan. Ilmu menghasilkan khasy-yah, rasa takut dan tunduk kepada Allah.

Maka jika semakin banyak seseorang belajar agama tetapi semakin suka merendahkan manusia, kita perlu bertanya: Apa yang salah dengan ilmu itu, atau bagaimana ilmu itu dipahami?

Sebab ilmu yang benar seharusnya menjadikan seseorang lebih lembut, bukan lebih angkuh. Lebih bijaksana, bukan lebih kasar.

Lebih sabar, bukan lebih mudah menghukum. Lebih banyak introspeksi, bukan lebih banyak menunjuk.

Penyakit Ujub: Merasa Hebat Karena Amal Sendiri

Ada penyakit hati yang bahkan bisa menimpa orang saleh: ujub. Di mana ujub adalah merasa kagum terhadap diri sendiri.

“Aku sudah banyak beribadah.”

“Aku sudah banyak bersedekah.”

“Aku sudah lama berdakwah.”

“Aku sudah banyak membantu orang.”

“Aku sudah banyak berkorban.”

Semua itu mungkin benar. Tetapi pertanyaannya: Siapa yang memberikan kemampuan untuk melakukannya?

Kalau Allah mengambil kesehatan, apakah kita masih mampu beribadah seperti sekarang?

Kalau Allah mengambil rezeki, apakah kita masih mampu bersedekah? Kalau Allah mengambil ilmu, apakah kita masih mampu mengajar? Kalau Allah mengambil kesempatan, apakah kita masih mampu berbuat?

Karena itu, jangan hanya melihat amal. Lihat juga siapa yang memberikan kita kemampuan melakukan amal tersebut.

Bahkan Amal Bisa Menjadi Sumber Kesombongan Ini ironi yang sangat dalam.

Manusia bisa melakukan amal baik, tetapi kemudian amal itu justru menjadi sebab dirinya merendahkan orang lain.

“Aku rajin tahajud, dia tidak.”

“Aku rutin ke masjid, dia tidak.”

“Aku puasa sunnah, dia tidak.”

“Aku membaca Al-Qur’an setiap hari, dia tidak.”

Jika kalimat itu menjadi alasan untuk merendahkan, maka ada sesuatu yang harus diperiksa dalam hati. Karena tujuan ibadah bukan membuat kita merasa lebih tinggi.

Tujuan ibadah adalah membuat kita semakin dekat kepada Allah. Jika ibadah membuat kita semakin mudah menghina manusia, kita perlu kembali bercermin.

Jangan Merasa Amal Kita Pasti Diterima

Salah satu doa yang sangat indah dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika membangun Ka’bah adalah:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا

“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Perhatikan. Mereka melakukan amal yang luar biasa. Mereka membangun Ka’bah. Namun setelah melakukan amal itu, mereka masih berdoa agar Allah menerimanya.

Inilah kerendahan hati. Bukan: “Aku sudah melakukan amal besar.”

Tetapi: “Ya Allah, apakah Engkau menerima amal kami?” Ada perbedaan besar antara keduanya.

Orang Saleh Takut Amal Mereka Tidak Diterima

Allah menggambarkan orang-orang beriman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

Mereka memberikan apa yang mereka berikan, sementara hati mereka dalam keadaan takut.

Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya tentang ayat tersebut, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang berpuasa, salat, dan bersedekah, tetapi takut amal mereka tidak diterima.

Ini luar biasa. Orang yang benar-benar mengenal Allah tidak mudah merasa aman.

Sedangkan kita terkadang baru melakukan sedikit amal sudah merasa:

“Allah pasti suka kepadaku.”

“Allah pasti menerima aku.”

“Orang lain pasti lebih rendah dariku.”

Padahal yang kita butuhkan bukan perasaan paling suci. Yang kita butuhkan adalah husnuzan kepada Allah dan rasa takut terhadap kekurangan diri sendiri.

Jangan Jadikan Agama sebagai Senjata untuk Memukul Orang

Agama adalah rahmat. Tetapi manusia bisa menggunakan agama sebagai senjata untuk menyakiti sesama.

Ayat digunakan untuk memenangkan perdebatan. Hadis digunakan untuk mempermalukan orang.

Dalil digunakan untuk menunjukkan bahwa lawan diskusi bodoh. Ceramah digunakan untuk menyindir kelompok lain.

Media sosial digunakan untuk menghakimi. Akhirnya, agama yang seharusnya mendekatkan manusia kepada Allah justru berubah menjadi arena pertarungan ego.

Ini harus diwaspadai. Tidak semua perdebatan adalah dakwah. Tidak semua kritik adalah nasihat.

Tidak semua koreksi lahir dari ketulusan. Kadang-kadang yang sedang kita bela bukan kebenaran. Yang sedang kita bela adalah ego kita sendiri.

Kritik Itu Boleh, Tetapi Jangan Kehilangan Adab

Islam tidak mengajarkan diam terhadap kemungkaran. Ada kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Ada kewajiban mengingatkan. Ada kewajiban memperjuangkan keadilan. Ada kewajiban melawan kezaliman.

Tetapi cara melakukannya harus tetap memperhatikan adab. Allah bahkan memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun ketika menghadapi Fir’aun:

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut.” (QS. Taha: 44)

Perhatikan siapa yang diperintahkan untuk diajak bicara dengan lembut: Fir’aun. Penguasa yang mengaku sebagai tuhan.

Kalau kepada Fir’aun saja diperintahkan berkata lembut, bagaimana dengan sesama Muslim yang sedang melakukan kesalahan?

Tentu bukan berarti semua kesalahan harus dibiarkan. Tetapi kebenaran tidak kehilangan nilainya hanya karena disampaikan dengan kasar?

Justru cara menyampaikan kebenaran sangat menentukan apakah hati seseorang terbuka atau tertutup.

Jangan Mengubah Nasihat Menjadi Penghakiman

Ada perbedaan besar antara: “Kamu melakukan kesalahan. Mari kita perbaiki bersama.”

dengan: “Kamu memang orang buruk.”

Yang pertama mengkritik perbuatan. Yang kedua menghukum identitas seseorang.

Islam mengajarkan kita membenci kemaksiatan, tetapi tidak otomatis mengajarkan kita membenci manusia sampai menutup pintu taubatnya.

Seorang pencuri bisa berhenti mencuri. Seorang pemabuk bisa bertaubat. Seorang pezina bisa bertaubat. Seorang pemarah bisa berubah.

Seorang yang dahulu jauh dari masjid bisa menjadi ahli ibadah. Seorang yang dahulu tidak peduli agama bisa menjadi pendakwah.

Karena itu: Jangan jadikan dosa seseorang sebagai identitas permanennya.

Jangan Pernah Merasa Aman dari Ujian

Salah satu alasan kita tidak boleh mudah merendahkan orang lain adalah karena kita tidak tahu bagaimana Allah akan menguji kita.

Hari ini kita mungkin kuat. Besok kita bisa lemah. Hari ini kita bisa menjaga lisan.

Besok kita bisa terpeleset. Hari ini kita mampu menundukkan pandangan. Besok kita bisa tergoda.

Hari ini kita rajin beribadah. Besok mungkin kita dilanda futur. Karena hati manusia mudah berubah.

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Kalau Rasulullah ﷺ mengajarkan doa agar hati diteguhkan, apalagi kita?

Hari Ini Kita Menasihati, Besok Kita Bisa Membutuhkan Nasihat

Hidup berputar. Orang yang hari ini memberi nasihat mungkin besok membutuhkan nasihat.

Orang yang hari ini menguatkan orang lain mungkin suatu hari akan lemah. Orang yang hari ini berdiri tegak mungkin suatu saat jatuh.

Orang yang hari ini membantu orang lain mungkin suatu hari membutuhkan pertolongan. Karena itu, jangan membangun hubungan dengan manusia berdasarkan kesombongan.

Bangunlah dengan kasih sayang. Hari ini kita berada di atas. Besok bisa saja kita berada di bawah. Dan pada akhirnya semua kembali kepada Allah.

Jangan Menganggap Orang yang Diam Tidak Beramal

Ada manusia yang tidak banyak bicara tentang kebaikan. Tetapi diam-diam ia bersedekah.

Ada yang tidak pernah memposting ibadah. Tetapi setiap malam ia menangis dalam doa.

Ada yang tidak dikenal publik. Tetapi ia merawat orang tua dengan penuh kasih.

Ada yang tidak memiliki ribuan pengikut. Tetapi ia mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di kampung.

Ada yang tidak pernah dipuji. Tetapi setiap bulan membantu tetangganya.

Ada orang yang amalnya tidak masuk kamera. Tetapi mungkin amal itu sangat besar di sisi Allah.

Jangan mengukur amal manusia berdasarkan apa yang terlihat oleh mata kita.

Sebab banyak amal yang sengaja disembunyikan agar hanya Allah yang mengetahuinya.

Media Sosial dan Budaya “Paling Benar”

Hari ini penyakit “merasa paling baik” mendapatkan ruang yang sangat besar melalui media sosial.

Dahulu seseorang mungkin hanya bisa memengaruhi puluhan orang. Sekarang satu unggahan bisa dilihat ribuan bahkan jutaan manusia.

Masalahnya, algoritma media sosial sering membuat kita berkumpul dengan orang-orang yang berpikiran sama.

Kita mengikuti orang yang pendapatnya sama. Menonton konten yang kita sukai. Membaca komentar yang mendukung kita.

Akhirnya kita merasa: “Semua orang setuju dengan saya.” Padahal belum tentu.

Lalu muncul polarisasi. Kelompok A menganggap kelompok B bodoh. Kelompok B menganggap kelompok A sesat. Masing-masing merasa menjadi pemilik kebenaran.

Dalam situasi seperti ini, kita harus semakin banyak melakukan muhasabah. Apakah saya sedang mencari kebenaran atau sekadar mencari pembenaran?

Itu dua hal yang berbeda. Algoritma Tidak Menentukan Kebenaran. Jumlah like bukan ukuran kebenaran.

Jumlah share bukan ukuran kebenaran. Jumlah followers bukan ukuran ketakwaan.

Viral bukan berarti benar. Tidak viral bukan berarti salah. Seorang manusia bisa memiliki jutaan pengikut tetapi tetap salah.

Sebaliknya, seseorang yang tidak dikenal siapa-siapa bisa memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa bisa jadi ada manusia yang tidak diperhitungkan oleh manusia, tetapi jika ia bersumpah atas nama Allah, Allah mengabulkannya. Maka jangan jadikan popularitas sebagai ukuran kemuliaan.

Jangan Mudah Menghakimi Generasi Muda

Sering kita mendengar: “Anak muda sekarang rusak.” Benarkah semuanya?

Tentu tidak. Ada anak muda yang kecanduan teknologi.

Tetapi ada juga anak muda yang menggunakan teknologi untuk belajar Al-Qur’an. Ada yang membuat konten tidak bermanfaat.

Tetapi ada yang membuat konten edukasi. Ada yang mengejar popularitas.

Tetapi ada yang membangun bisnis untuk membantu keluarganya. Ada yang kehilangan arah.

Tetapi ada pula yang mengabdikan diri kepada masyarakat. Generasi muda memang menghadapi tantangan besar. Namun mereka juga memiliki peluang besar.

Tugas generasi tua bukan hanya mengeluh: “Anak sekarang rusak.” Tetapi bertanya: “Apa yang sudah kita lakukan untuk membimbing mereka?”

Jangan Hanya Menyalahkan Zaman

Ada ungkapan: “Zaman sekarang memang sudah rusak.”

Tetapi zaman tidak berjalan sendiri. Yang membuat zaman adalah manusia. Teknologi tidak memiliki moral. Manusia yang menentukan bagaimana teknologi digunakan. Internet bukan dosa.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana manusia menggunakannya. Media sosial bukan dosa. Yang menjadi masalah adalah konten dan perilaku manusia. Uang bukan dosa.

Yang menjadi masalah adalah cara mendapatkan dan membelanjakannya. Jabatan bukan dosa.

Yang menjadi masalah adalah apakah jabatan digunakan untuk amanah atau kepentingan pribadi. Karena itu jangan hanya menyalahkan zaman. Mari memperbaiki manusia.

Jangan Menganggap Diri Paling Bersih di Tengah Korupsi

Ketika melihat korupsi, kita wajib menolak. Ketika melihat ketidakadilan, kita wajib bersuara. Ketika melihat penyalahgunaan kekuasaan, kita wajib mengingatkan.

Tetapi jangan sampai perjuangan melawan korupsi membuat kita merasa otomatis lebih suci daripada semua orang.

Sebab integritas tidak hanya diuji ketika kita memegang jabatan besar. Ia diuji ketika tidak ada yang melihat.

Apakah kita jujur ketika menemukan uang yang bukan milik kita? Apakah kita jujur dalam laporan?

Apakah kita mengembalikan barang yang bukan hak kita? Apakah kita tetap adil ketika orang yang kita sukai melakukan kesalahan?

Apakah kita tetap mengatakan benar meski yang salah adalah teman sendiri? Itulah ujian moral yang sebenarnya.

Jangan Hanya Berani Mengkritik Orang yang Berbeda dengan Kita

Salah satu bentuk penyakit hati adalah standar ganda. Kalau kelompok kita salah: “Kita harus memahami konteksnya.”

Kalau kelompok lain salah: “Ini bukti mereka memang buruk.” Kalau tokoh yang kita sukai keliru: “Manusiawi.”

Kalau tokoh yang kita tidak sukai keliru: “Memang dari dulu begitu.” Ini tidak adil. Islam memerintahkan keadilan.

Allah berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Ini luar biasa. Allah tidak mengatakan: “Adillah kepada orang yang kamu sukai.”

Tetapi tetap adil bahkan terhadap orang yang kita benci.

Ukuran Ketakwaan Terlihat Ketika Kita Berhadapan dengan Orang yang Tidak Kita Sukai

Mudah bersikap baik kepada orang yang baik kepada kita. Mudah tersenyum kepada teman.

Mudah menghormati orang yang menghormati kita. Tetapi akhlak diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda.

Orang yang mengkritik kita. Orang yang menolak pendapat kita. Orang yang pernah menyakiti kita. Orang yang berbeda pilihan politik. Orang yang berbeda organisasi.

Orang yang berbeda latar belakang. Orang yang tidak memberikan keuntungan kepada kita. Di situlah terlihat apakah agama benar-benar hidup dalam diri kita.

Rasulullah ﷺ Tidak Mengajarkan Kita Membalas Keburukan dengan Keburukan

Allah berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34)

Kemudian Allah menjelaskan akibatnya: “Maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”

Kebaikan tidak selalu langsung mengubah orang lain. Tetapi kebaikan menjaga hati kita agar tidak ikut rusak.

Itulah pentingnya. Hati yang Sibuk Mengoreksi Orang Lain Bisa Lupa Mengoreksi Dirinya

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang layak kita tanyakan setiap malam:

“Hari ini, siapa yang paling banyak saya kritik?”

Kemudian tanyakan:“Apakah sifat yang saya kritik itu ada dalam diri saya?”

Kita marah melihat orang sombong. Apakah kita pernah sombong? Kita marah melihat orang suka pamer. Apakah kita pernah pamer? Kita marah melihat orang mencari perhatian.

Apakah kita pernah mencari perhatian? Kita marah melihat orang tidak mau menerima kritik. Apakah kita menerima kritik?

Kita marah melihat orang suka membicarakan orang lain. Apakah kita pernah melakukan ghibah? Pertanyaan seperti ini menyakitkan. Tetapi justru itulah muhasabah.

Cermin Tidak Pernah Berteriak kepada Kita

Bayangkan seseorang memiliki wajah penuh noda. Kemudian ia marah kepada cermin.

“Cermin ini buruk!”

Apakah noda di wajahnya hilang? Tidak.

Cermin hanya menunjukkan apa yang ada. Begitu juga kritik.

Kadang kritik orang lain sebenarnya sedang menunjukkan sesuatu yang perlu kita perbaiki. Tidak semua kritik benar.

Tetapi tidak semua kritik harus ditolak. Orang bijak akan mengambil manfaat bahkan dari kritik yang disampaikan dengan cara yang kurang baik.

Ia bertanya: “Adakah bagian dari kritik ini yang benar?”

Jangan Menjadikan Kebaikan sebagai Identitas untuk Merendahkan Orang Lain

Ada orang yang berkata: “Saya orang baik.”

Hati-hati. Orang baik biasanya tidak sibuk menyatakan dirinya baik.

Ia sibuk memperbaiki dirinya. Semakin seseorang mengenal dirinya, semakin ia mengetahui banyak kekurangannya.

Karena itu para ulama sering takut terhadap ujub dan riya. Mereka tidak hanya takut melakukan dosa. Mereka juga takut amalnya rusak karena niat yang salah.

Kita Semua Memiliki Aib yang Allah Tutupi

Bayangkan jika semua aib kita dibuka kepada publik. Apa yang akan terjadi?

Kesalahan masa lalu kita muncul. Percakapan buruk kita muncul.

Dosa yang pernah kita lakukan muncul. Pikiran buruk yang pernah kita simpan muncul.

Kesalahan yang tidak diketahui orang muncul. Mungkin kita akan sangat malu.

Namun Allah masih menutupinya. Mengapa?

Karena Allah memberi kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri. Maka jangan gunakan aib yang Allah bukakan pada orang lain untuk merasa lebih suci.

Sebab bisa jadi Allah menutup aib kita jauh lebih banyak. Jika Allah Membuka Semua Aib Kita, Tidak Ada yang Sanggup Berdiri Tegak

Manusia sering terlihat baik karena Allah menutup kekurangannya. Itulah rahmat.

Maka ketika melihat kekurangan orang lain, seharusnya kita bersyukur: “Ya Allah, terima kasih karena Engkau juga masih menutupi kekuranganku.”

Bukan: “Lihat, dia ternyata buruk.”

Perbedaan dua sikap ini sangat besar. Yang pertama melahirkan syukur. Yang kedua bisa melahirkan kesombongan.

Jangan Membenci Orang yang Sedang Berjuang Melawan Dirinya

Ada orang yang sedang berusaha meninggalkan dosa. Jangan membuatnya merasa tidak memiliki tempat di masjid.

Ada orang yang baru mulai belajar agama. Jangan membuatnya malu karena belum tahu banyak.

Ada orang yang baru belajar membaca Al-Qur’an. Jangan menertawakannya karena bacaannya belum lancar.

Ada orang yang baru mulai menutup aurat. Jangan mengungkit masa lalunya. Ada orang yang baru mulai rajin salat.

Jangan bertanya: “Kenapa baru sekarang?” Lebih baik berkata: “Alhamdulillah, teruskan.” Karena mungkin satu kalimat dukungan kita menjadi sebab ia bertahan.

Jangan Menjadi Pintu yang Membuat Orang Menjauh dari Allah

Ini renungan penting. Kadang seseorang tidak menjauh dari agama karena ajaran agama.

Ia menjauh karena perilaku orang yang mengaku mewakili agama. Ia datang ke masjid lalu dipermalukan. Ia bertanya lalu ditertawakan. Ia belajar lalu dicela. Ia bertaubat lalu masa lalunya diungkit. Ia mencoba berubah lalu terus dianggap tidak akan berubah.

Akhirnya ia berkata: “Kalau orang beragama seperti ini, saya tidak mau.”

Tentu kesalahan perilaku manusia tidak boleh disandarkan kepada Islam. Tetapi kita harus sadar bahwa perilaku kita bisa menjadi sebab seseorang semakin dekat atau semakin jauh.

Karena itu dakwah bukan hanya soal kata-kata. Dakwah juga soal akhlak.

Kisah Orang yang Membunuh Seratus Jiwa

Ada satu kisah terkenal dalam hadis sahih tentang seorang laki-laki yang telah membunuh seratus orang. Ia kemudian mencari jalan taubat. Ia bertanya kepada seorang ahli ibadah.

Namun orang tersebut mengatakan bahwa tidak ada taubat baginya. Karena jawaban itu membuatnya semakin tersesat, ia kemudian menemui seorang alim.

Orang alim itu mengatakan bahwa pintu taubat masih terbuka dan memerintahkannya meninggalkan lingkungan buruk menuju tempat yang baik.

Laki-laki tersebut berangkat. Namun ia meninggal sebelum sampai.

Dalam kisah tersebut, Allah memberikan rahmat kepadanya karena ia telah benar-benar menuju taubat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah ini sangat kuat. Orang yang telah melakukan dosa sangat besar pun masih memiliki jalan pulang.

Lalu siapa kita sehingga berani mengatakan kepada seseorang: “Kamu tidak akan berubah.” “Allah tidak akan menerima taubatmu.” “Kamu sudah terlalu jauh.” Jangan. Kita tidak tahu pintu mana yang sedang Allah bukakan untuk seseorang.

Jangan Pernah Menutup Pintu Taubat Orang Lain

Jika Allah membuka pintu taubat, manusia tidak berhak menutupnya. Tugas kita bukan membuat manusia putus asa. Tugas kita adalah mengingatkan mereka bahwa Allah Maha Pengampun.

Allah berfirman: إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini bukan izin untuk berbuat dosa. Justru ayat ini adalah undangan untuk kembali.

Rendah Hati Bukan Berarti Membenarkan Semua Kesalahan

Perlu ditegaskan. Jangan mudah merasa paling baik bukan berarti kita tidak boleh membedakan benar dan salah.

Bukan berarti semua perilaku harus dianggap benar. Bukan berarti kemaksiatan harus dibiarkan. Bukan berarti kezaliman tidak boleh dilawan. Bukan berarti korupsi harus didiamkan. Bukan berarti fitnah harus dimaafkan tanpa koreksi. Bukan berarti penindasan harus diterima.

Islam tetap memiliki batas halal dan haram. Ada benar dan salah. Ada keadilan dan kezaliman. Ada ketaatan dan kemaksiatan. Tetapi dalam mengoreksi kesalahan, kita tidak boleh kehilangan kesadaran bahwa: kita pun manusia yang bisa salah.

Rendah Hati Bukan Berarti Tidak Punya Prinsip

Orang rendah hati tetap bisa tegas. Nabi ﷺ adalah manusia paling lembut, tetapi juga tegas dalam prinsip.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dikenal tegas, tetapi sangat takut kepada Allah.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu lembut, tetapi memiliki ketegasan ketika prinsip agama harus ditegakkan.

Jadi rendah hati bukan berarti lemah. Rendah hati berarti tidak menjadikan ketegasan sebagai alasan untuk merasa superior.

Jangan Campurkan Kebenaran dengan Ego

Kadang kita memang benar. Tetapi cara kita mempertahankan kebenaran justru salah.

Kita benar dalam substansi, tetapi salah dalam akhlak. Kita benar dalam kritik, tetapi salah dalam cara menyampaikannya.

Kita benar dalam argumen, tetapi salah karena menghina lawan. Ini penting.

Sebab kemenangan dalam debat belum tentu kemenangan di sisi Allah. Bisa jadi kita memenangkan perdebatan tetapi kehilangan pahala karena kesombongan.

“Aku Ingin Menang” atau “Aku Ingin Kebenaran Menang?” Ini pertanyaan penting dalam setiap diskusi.

Apakah kita ingin: “Saya yang menang.” Atau: “Kebenaran yang menang.”

Jika tujuan kita adalah kebenaran, kita siap menerima koreksi. Jika tujuan kita adalah ego, kita akan mempertahankan pendapat meskipun bukti menunjukkan kesalahan.

Orang yang mencintai kebenaran akan berkata: “Kalau saya salah, koreksi saya.”

Orang yang mencintai ego berkata: “Saya tidak mungkin salah.”

Belajar Mengucapkan “Saya Tidak Tahu

Salah satu tanda kedewasaan adalah berani mengatakan: “Saya tidak tahu.” Tidak tahu bukan kebodohan. Mengakui tidak tahu justru bentuk kejujuran.

Manusia tidak mungkin mengetahui semuanya. Allah berfirman:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit.” (QS. Al-Isra: 85)

Ayat ini seharusnya membuat kita rendah hati. Sebanyak apa pun yang kita ketahui, pengetahuan kita tetap kecil dibandingkan ilmu Allah.

Jangan Merasa Sudah Selesai dalam Memperbaiki Diri

Perjalanan menjadi baik tidak pernah selesai. Hari ini kita memperbaiki salat. Besok memperbaiki lisan. Kemudian memperbaiki hati. Kemudian memperbaiki hubungan dengan keluarga.

Kemudian memperbaiki kejujuran. Kemudian memperbaiki cara memperlakukan orang lain. Kemudian memperbaiki niat. Dan seterusnya.

Orang beriman tidak berkata: “Aku sudah selesai menjadi orang baik.” Ia berkata: “Aku masih harus terus memperbaiki diri.”

Muhasabah Lebih Penting daripada Menghakimi

Daripada bertanya: “Kenapa mereka seperti itu?”

Lebih baik bertanya: “Apakah aku sudah seperti yang Allah inginkan?”

Daripada berkata: “Orang-orang sekarang sudah rusak.”

Lebih baik berkata: “Ya Allah, perbaiki aku dan perbaiki masyarakatku.”

Daripada sibuk menghitung dosa orang lain: “Apa yang sudah aku lakukan untuk memperbaiki keadaan?”

Inilah perbedaan antara orang yang merasa menjadi hakim dan orang yang merasa menjadi hamba. Seorang hamba tahu bahwa ia sendiri akan dihisab.

Kita Akan Berdiri Sendiri di Hadapan Allah

Pada akhirnya tidak ada organisasi. Tidak ada kelompok. Tidak ada jabatan. Tidak ada popularitas. Tidak ada followers. Tidak ada gelar. Tidak ada kekayaan. Tidak ada koneksi. Tidak ada keluarga yang bisa menggantikan tanggung jawab kita.

Allah berfirman:

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

“Dan setiap mereka akan datang kepada Allah pada hari Kiamat seorang diri.” (QS. Maryam: 95)

Ayat ini sangat dalam. Kita mungkin terbiasa hidup bersama manusia. Tetapi akan ada satu saat ketika kita berdiri sendiri.

Saat itu yang penting bukan: “Apakah saya lebih baik daripada orang lain?”

Yang penting: “Apakah Allah menerima saya?”

Pada Hari Kiamat, Jangan Sampai Orang yang Kita Rendahkan Justru Lebih Tinggi daripada Kita

Kita tidak pernah tahu. Orang yang kita anggap rendah mungkin memiliki amal yang tidak kita ketahui.

Orang yang kita anggap biasa mungkin memiliki hati yang sangat ikhlas. Orang yang kita anggap jauh dari agama mungkin memiliki satu amal rahasia yang sangat dicintai Allah.

Sedangkan kita mungkin memiliki banyak amal yang tercampur riya, ujub, atau kesombongan. Karena itu, jangan terlalu percaya diri.

Kita boleh berharap kepada rahmat Allah. Tetapi jangan merasa sudah aman.

Orang yang Takut Dirinya Tidak Baik Justru Bisa Lebih Dekat kepada Kebaikan. Ada paradoks yang indah.

Orang yang merasa dirinya sudah baik sering berhenti memperbaiki diri. Sedangkan orang yang merasa dirinya masih banyak kekurangan akan terus berusaha.

Orang yang berkata: “Aku masih banyak dosa.” bisa jadi justru semakin rajin bertaubat.

Orang yang berkata: “Aku masih banyak kekurangan.” bisa jadi semakin rajin belajar.

Orang yang berkata: “Aku belum layak disebut orang saleh.” bisa jadi semakin banyak amal rahasia.

Kerendahan hati membuka pintu perbaikan. Kesombongan menutupnya.

Jangan Menjadi “Polisi Moral” yang Lupa Menjaga Hatinya

Di era digital, semua orang bisa menjadi komentator. Melihat video orang lain, langsung menghakimi.

Melihat foto orang lain, langsung menilai. Membaca berita, langsung menyimpulkan. Melihat kesalahan, langsung menyebarkan.

Akhirnya kita menjadi “polisi moral” di internet. Namun siapa yang menjaga hati kita sendiri?

Siapa yang mengawasi niat kita? Siapa yang memastikan komentar kita tidak menjadi dosa? Siapa yang memastikan kita tidak melakukan ghibah? Siapa yang memastikan kritik kita benar? Siapa yang memastikan kita tidak menyebarkan fitnah?

Sebelum menekan tombol share, tanyakan: “Kalau informasi ini salah, apakah saya siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?”

Jempol Juga Akan Dipertanggungjawabkan

Kita sering menganggap dosa hanya berasal dari mulut. Padahal hari ini jari kita bisa melakukan hal yang sama.

Satu komentar bisa menghancurkan reputasi seseorang. Satu unggahan bisa memicu kebencian.

Satu potongan video tanpa konteks bisa membuat seseorang dihujat. Satu berita palsu bisa tersebar ke ribuan orang.

Maka prinsip Al-Qur’an:

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)

Di era digital, ayat ini seharusnya semakin kita renungkan. Bukan hanya ucapan yang perlu dijaga. Tulisan juga. Komentar juga. Postingan juga. Pesan pribadi juga.

Jangan Menggunakan Kesalehan untuk Membangun Citra Diri

Ada bahaya lain di zaman modern: kesalehan yang dipertontonkan.

Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya melakukan ini karena Allah? Atau karena ingin dianggap baik? Apakah saya bersedekah karena Allah? Atau karena ingin difoto?

Apakah saya berbicara tentang agama karena ingin memberi manfaat? Atau karena ingin dikenal sebagai orang alim? Apakah saya membantu orang karena ikhlas? Atau karena ingin mendapatkan pujian?

Tidak ada yang bisa memastikan niat orang lain. Karena itu jangan mudah menuduh orang riya. Tetapi kita wajib memeriksa diri sendiri.

Jangan Menganggap Orang yang Berbeda sebagai Musuh

Perbedaan adalah bagian dari kehidupan. Perbedaan pendapat dalam masalah tertentu telah ada sepanjang sejarah umat Islam. Para ulama berbeda dalam banyak persoalan fikih.

Namun mereka tetap memiliki adab. Mereka tidak otomatis menganggap setiap orang yang berbeda sebagai musuh. Hari ini kita sering terlalu cepat memberi label.

Berbeda pendapat sedikit: “Sesat.” Berbeda pilihan: “Tidak punya iman.” Berbeda organisasi: “Tidak benar.” Berbeda cara: “Pasti salah.”

Padahal persoalan manusia jauh lebih kompleks. Tidak semua perbedaan harus berubah menjadi permusuhan.

Jadilah Orang yang Membuat Dunia Lebih Teduh

Jika ada orang marah, jadilah yang menenangkan. Jika ada orang menghina, jangan ikut menghina.

Jika ada orang menyebarkan kebencian, jangan menjadi penguatnya. Jika ada orang jatuh, bantu dia berdiri.

Jika ada orang tersesat, tunjukkan jalan. Jika ada orang berdosa, doakan taubatnya. Jika ada orang berhasil, doakan keberkahannya.

Jika ada orang gagal, jangan merendahkannya. Jika ada orang berbeda, hormati selama perbedaannya berada dalam ruang yang dapat ditoleransi.

Dunia sudah cukup penuh dengan suara yang berteriak. Jadilah suara yang membawa ketenangan. Jangan Menjadi Orang yang Berkata “Manusia Telah Binasa”

Kembali kepada hadis Rasulullah ﷺ: “Apabila kalian mendengar seseorang berkata, ‘Manusia telah binasa,’ maka dialah yang paling binasa di antara mereka.”

Hadis ini seharusnya membuat kita takut mengucapkan: “Semua orang sudah rusak.”

“Tidak ada orang baik sekarang.” “Anak muda tidak bisa diharapkan.” “Umat ini sudah hancur.” “Tidak ada lagi orang jujur.”

Mengapa? Karena bisa jadi kalimat tersebut bukan sekadar kritik sosial. Bisa jadi ia menunjukkan bahwa kita sedang menempatkan diri sebagai orang yang merasa selamat di tengah orang-orang yang dianggap binasa. Padahal keselamatan adalah milik Allah.

Bedakan Antara Keprihatinan dan Kesombongan

Kita boleh prihatin. Kita bahkan harus prihatin ketika melihat kemaksiatan.

Tetapi keprihatinan yang sehat menghasilkan: doa, solusi, pendidikan, nasihat, tindakan, dan kasih sayang.

Sedangkan keprihatinan yang bercampur kesombongan menghasilkan: caci maki, penghinaan, penghakiman, kebencian, dan perasaan superior.

Ini pembeda yang sangat penting. Ketika melihat kerusakan, tanyakan: “Apa yang bisa saya lakukan?”

Bukan hanya: “Betapa buruknya mereka.”

Rasulullah ﷺ Lebih Banyak Membuka Jalan Pulang daripada Mengunci Pintu

Dakwah Nabi ﷺ adalah dakwah yang membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya. Beliau mengubah masyarakat jahiliah menjadi generasi yang menjadi teladan dunia.

Bagaimana caranya? Dengan iman. Dengan pendidikan. Dengan akhlak. Dengan kesabaran. Dengan keteladanan. Dengan kasih sayang. Bukan dengan membuat manusia merasa tidak memiliki harapan.

Jadilah Orang yang Ketika Melihat Dosa Orang Lain, Ia Mengingat Dosa Dirinya

Ini salah satu bentuk kedewasaan spiritual. Ketika melihat orang lain melakukan dosa, kita tidak langsung merasa: “Aku lebih baik.”

Tetapi: “Ya Allah, lindungilah aku dari dosa itu.”

Ketika melihat orang lain jatuh: “Ya Allah, jangan biarkan aku jatuh.”

Ketika melihat orang lain tersesat: “Ya Allah, teguhkan aku.”

Ketika melihat orang lain berhasil bertaubat: “Ya Allah, karuniakan juga kepadaku taubat yang benar.” Dengan cara ini, kesalahan orang lain justru menjadi cermin bagi kita.

Sebelum Menghakimi, Doakan

Ini mungkin sederhana, tetapi sangat kuat. Sebelum menulis komentar keras, doakan.

Sebelum menghakimi seseorang, doakan. Sebelum menyebarkan kesalahannya, doakan. Sebelum berkata: “Dia tidak akan berubah,”

katakan: “Semoga Allah memberinya hidayah dan memperbaiki kita semua.” Doa seperti itu tidak hanya mungkin bermanfaat bagi orang lain. Ia juga menyelamatkan hati kita dari kesombongan.

Kita Tidak Tahu Siapa yang Lebih Mulia di Sisi Allah

Bisa jadi orang yang tidak kita kenal memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Bisa jadi seorang tukang sapu yang setiap hari bekerja keras demi keluarganya memiliki keikhlasan yang luar biasa.

Bisa jadi seorang ibu yang tidak terkenal memiliki doa yang setiap malam menggetarkan langit.

Bisa jadi seorang pemuda yang baru belajar agama sedang berjuang sangat keras melawan hawa nafsunya.

Bisa jadi orang yang kita anggap biasa justru memiliki satu amal rahasia yang membuatnya dicintai Allah.

Maka jangan terlalu cepat menentukan siapa yang mulia.

Kesombongan Adalah Bahaya yang Tidak Terlihat

Dosa lahiriah terkadang mudah terlihat. Tetapi penyakit hati jauh lebih sulit. Orang bisa tahu bahwa ia sedang makan yang haram.

Tetapi belum tentu sadar bahwa ia sedang sombong. Orang bisa tahu bahwa ia sedang berbohong. Tetapi belum tentu sadar bahwa ia sedang ujub.

Orang bisa tahu bahwa ia sedang marah. Tetapi belum tentu sadar bahwa ia sedang merasa dirinya paling benar.

Karena itu, perjalanan menuju Allah bukan hanya membersihkan tindakan. Tetapi juga membersihkan hati.

Belajar Berkata: “Saya Juga Bisa Salah”

Kalimat sederhana ini dapat menyelamatkan banyak hubungan. “Saya juga bisa salah.” “Pendapat saya belum tentu benar.” “Saya perlu mendengar penjelasan.” “Mungkin saya belum memahami semuanya.” “Saya akan cek kembali.” “Saya minta maaf.”

Kalimat-kalimat tersebut bukan tanda kelemahan. Itu tanda kedewasaan. Orang kuat bukan orang yang tidak pernah mengakui kesalahan. Orang kuat adalah orang yang berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Jangan Takut Kehilangan Gengsi untuk Meminta Maaf

Kesombongan sering membuat manusia sulit berkata: “Maaf.” Padahal meminta maaf tidak mengurangi harga diri.

Justru ia menunjukkan bahwa kita lebih mencintai kebenaran daripada ego. Jika kita salah kepada manusia, segera perbaiki.

Jika kita salah kepada Allah, segera bertaubat. Jika kita salah kepada masyarakat, segera klarifikasi. Jangan mempertahankan kesalahan hanya karena takut terlihat kalah.

Hidup Ini Bukan Perlombaan Menjadi Paling Suci

Kita bukan sedang berlomba menunjukkan siapa paling saleh. Kita sedang berlomba mencari ridha Allah.

Allah berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Perhatikan: Berlomba dalam kebaikan.

Bukan berlomba dalam menunjukkan bahwa kita lebih baik daripada orang lain. Ada perbedaan besar.

Perlombaan yang Sehat Adalah Menjadi Lebih Baik dari Diri Kita Kemarin

Daripada membandingkan diri: “Aku lebih baik daripada dia.”

Lebih baik bertanya: “Apakah hari ini aku lebih baik daripada kemarin?”

Apakah salatku lebih baik? Apakah lisanku lebih terjaga? Apakah aku lebih sabar? Apakah aku lebih jujur? Apakah aku lebih peduli kepada keluarga? Apakah aku lebih mampu memaafkan? Apakah aku lebih dekat dengan Al-Qur’an? Apakah aku lebih rendah hati? Inilah perlombaan yang tidak merusak hati.

Pada Akhirnya, Kita Semua Hanya Hamba

Jabatan boleh berubah. Kekayaan bisa hilang. Popularitas bisa turun. Teman bisa pergi. Kekuatan tubuh akan berkurang.

Usia akan bertambah. Tetapi satu identitas yang selalu melekat: kita adalah hamba Allah.

Ketika mengingat ini, kita akan lebih mudah rendah hati. Sebab seorang hamba tidak pantas menyombongkan diri di hadapan Tuhannya.

Penutup: Jangan Sibuk Menjadi Hakim, Jadilah Hamba

Mungkin kita memang melihat banyak kerusakan di sekitar kita. Mungkin masyarakat memang menghadapi banyak masalah. Mungkin banyak kemaksiatan.

Mungkin banyak ketidakadilan. Mungkin banyak manusia yang jauh dari agama.

Kita tidak harus menutup mata. Kita tidak harus mengatakan semuanya baik-baik saja.

Tetapi jangan biarkan keprihatinan berubah menjadi kesombongan. Jangan sampai ketika kita melihat orang lain jatuh, kita justru merasa diri kita sudah pasti aman.

Jangan sampai ketika kita melihat orang lain berdosa, kita lupa bahwa kita juga memiliki dosa.

Jangan sampai ketika kita melihat orang lain jauh dari Allah, kita lupa bahwa hati kita pun bisa berubah.Jangan sampai kita merasa:

Doa Penutup

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَاهْدِنَا وَاهْدِ بِنَا، وَثَبِّتْنَا عَلَى دِينِكَ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا كِبْرًا وَلَا عُجْبًا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَوَاضِعِينَ الرَّاحِمِينَ.

“Ya Allah, perbaikilah hati kami, ampunilah dosa-dosa kami, berilah kami petunjuk dan jadikan kami sebab datangnya petunjuk bagi orang lain. Teguhkan kami di atas agama-Mu. Jangan Engkau jadikan dalam hati kami kesombongan dan ujub. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang rendah hati dan penuh kasih sayang.”

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *