JAKARTA – BELA RAKYAT – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan masyarakat agar semakin waspada terhadap maraknya penyebaran hoaks dan disinformasi menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Meutya melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, yang mengajak masyarakat menjaga akal sehat dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
Hoaks Bukan Sekadar Kebohongan
Dalam unggahannya, Meutya menegaskan bahwa ancaman terbesar dari hoaks bukan hanya terletak pada isi informasinya yang tidak benar, melainkan dampak psikologis dan sosial yang ditimbulkannya.
“Yang paling berbahaya dari hoaks bukan cuma kebohongannya. Tapi rasa takut yang ditinggalkan. Rasa curiga yang ditanamkan. Mengadu domba sesama anak bangsa. Mengikis kepercayaan. Bahkan membuat masyarakat mengambil langkah berdasarkan informasi yang tidak benar,” tulis Meutya.
Ia menilai, ketika masyarakat mulai mempercayai kabar yang belum tentu benar, kerusakan yang terjadi bukan hanya pada ruang digital, tetapi juga terhadap persatuan bangsa.
“Dan ketika kita mulai saling percaya pada kabar yang belum tentu benar, yang retak bukan cuma ruang digital, tapi juga persatuan kita,” lanjutnya.
Demokrasi Harus Dijaga dengan Akal Sehat
Meutya menegaskan bahwa perbedaan pendapat dan penyampaian aspirasi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut tidak boleh dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi palsu yang dapat memecah belah masyarakat.
“Boleh berbeda pendapat. Boleh menyampaikan aspirasi. Itulah demokrasi. Tapi jangan biarkan hoaks mengambil alih akal sehat kita. Indonesia terlalu berharga untuk dipecah oleh informasi yang sengaja dipelintir,” tulisnya.
Di akhir unggahan, Meutya mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap berbagai upaya provokasi yang berpotensi meningkat menjelang peringatan Hari Kemerdekaan.
“Mendekati HUT RI, hati-hati provokasi!” pesannya.
Komdigi Soroti Meningkatnya Konten Provokatif
Sebelumnya, Meutya juga mengungkapkan bahwa Kementerian Komunikasi dan Digital mencermati meningkatnya produksi konten hoaks yang bertujuan memancing keresahan di tengah masyarakat menjelang bulan Agustus.
“Kita mencermati dalam mendekati Agustus ini, terutama menjelang hari kemerdekaan kita, bahwa banyak sekali konten-konten hoax yang diproduksi untuk melakukan provokasi-provokasi terhadap kondisi yang baik saat ini,” ujarnya.
Menurut Meutya, penyebaran informasi palsu dapat memengaruhi keputusan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan menimbulkan ketakutan yang tidak berdasar.
“Jangan menyebarkan informasi palsu dengan keinginan untuk membuat ketakutan-ketakutan di tengah masyarakat. Karena informasi itu berdampak kepada keputusan orang per orang dari hari ke hari; ada yang jadi takut keluar, jadi khawatir ketika bekerja,” katanya.
Media Berperan Lawan Disinformasi
Meutya juga mengajak insan pers untuk terus menghadirkan informasi yang cepat, akurat, dan berimbang. Menurutnya, media memiliki peran penting dalam mempersempit ruang gerak disinformasi dan memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar.
“Karena itu justru Komdigi menginginkan bahwa teman-teman media silakan meliput dan juga memberitakan yang benar dengan cepat, agar justru tidak memberi ruang kepada disinformasi yang masuk,” tutup Meutya.






