Negara-negara Teluk yang Manja vs Negara Neo Imperium Persia yang Militan

Arab Saudi baru saja dikabarkan memasuki pertempuran dan akan terlibat langsung dalam konflik melawan Iran. Meskipun sasarannya adalah Houthi Yaman sekutu Iran. Arab Saudi membom Bandara Sana’a yang disinyalir menargetkan Pesawat Iran, berisi delegasi Houthi yang habis melayat ke Iran untuk penghormatan kepada Almarhum Imam Ali Khamenei. Untungnya seisi pesawat dapat melipir dan mencari pendaratan alternatif. Dan reaksi Houthi tentu dapat diduga, langsung membalas dengan serangan rudal dan drone ke wilayah Saudi. Bandara Abha, milik Saudi yang bertetangga dengan Yaman, dibombardir oleh Houthi.

Saling bombardir ini potensial akan bereskalasi. Dan saya pikir, inilah momen yang ditunggu oleh Iran agar se-regional Teluk membara dan tak pura-pura lagi untuk tidak konflik bersenjata langsung. Sebab selama ini, negara-negara Teluk lebih banyak menggunakan tangan Amerika dan Israel untuk menyerang Iran. Kali ini, agak sulit bagi negara-negara Teluk itu, Arab Saudi, Kuwait, UEA, Bahrain, Qatar, Bahrain dan Oman, untuk memasang topeng netral, ketika AS dan Israel merasa kewalahan menghadapi serangan Iran ke pangkalan-pangkalan militer mereka. Lagi pula, Donald Trump sudah mengisyaratkan agar negara-negara Teluk itu maju ke medan perang secara langsung.

Bacaan Lainnya

Situasi ini bagi negara-negara Teluk bagai makan buah simalakama. Tidak maju ke pertempuran, wilayahnya terus-terusan dibombardir oleh Iran, dan bahkan terbuka peluang bagi unsur-unsur anti monarki di dalam negeri negara-negara Arab tersebut untuk memanfaatkan peluang guna mendelegitimasi sekaligus meruntuhkan sistem monarki. Salah satu negara yang paling potensial untuk terjadi ke arah tersebut, yaitu Bahrain, negara mana unsur warganya banyak pemeluk mazhab Syiah seperti halnya Iran. Gejala dan dinamika ke arah tersebut sudah terlihat dengan nyata. Jika monarki di Bahrain runtuh, akan dapat menjalar ke Kuwait, dan mungkin saja, Arab Saudi juga terpicu. Keadaan yang menghawatirkan rezim-rezim monarki di Teluk ini, sekarang memang sangat rawan dan sensitif. Masalahnya, rezim-rezim Arab ini sangat manja dan terlalu menggantungkan nasib dan stabilitas kepada pihak luar, seperti Amerika, Pakistan (Arab Saudi) dan secara diam-diam juga kepada Israel dan Inggris, terutama soal intelijen dan persenjataan.

Inilah dilema bagi negara-negara yang rezimnya bersandar pada asing. Kerentanan dan eksploitasi asing atas kerentanan strategis mereka selalu membahayakan dan sumber masalah utama.

Bilamana perkembangan yang tak terelakkan membawa regional arab Teluk membara menjadi medan perang yang lebih ganas, maka rezim-rezim monarki tersebut akan diambang keruntuhan. Unsur-unsur anti monarki dan membangun persekutuan dengan Iran, bisa tampil ke permukaan menghadapi langsung militer rezim tersebut.

Iran sendiri tampaknya sudah siap total konfrontasi jangka panjang, melihat skala konsolidasi yang ditunjukkan dari prosesi pemakaman Ayatullah Ali Khamenei baru-baru ini. Berlainan sekali dengan kesunyian yang ditunjukkan dengan kematian Pemimpin Qatar yang baru saja meninggal dunia, sama sekali tidak memberi efek konsolidasi dan patriotisme.

Walhasil, konflik bersenjata di Timur Tengah saat ini, sangat beresiko tinggi bagi seluruh dunia. Iran tentu akan melangkah lebih maju untuk menggeser dirinya bagi peluang negara tersebut menjadi kekutan yang memaksa di tingkat regional Timur Tengah. Untuk maksud itu, konsekwensinya Iran harus melemahkan AS dan mengeliminasi pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah dan menyusutkan legitimasi dan pengaruh AS bagi negara-negara yang berada di kawasan habitat Islam tersebut. Tentu juga tidak mudah. AS akan berusaha merem ambisi Iran. Tapi kita lihat saja, pada siapa Allah berpihak. Bagi saya sendiri, dinamika di dunia Islam ini, akan membawa situasi baru bagi Islam yang terpuruk selama ini dalam kangkangan Barat.

Oleh: Syahrul E Dasopang, Pengamat Dunia Islam

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *