JAKARTA : BELA RAKYAT – Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai Golkar Basri Baco menegaskan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta harus mulai mengubah pola pikir dalam menjalankan bisnis.
Menurut Basri, BUMD tidak boleh terus-menerus bergantung pada Penyertaan Modal Daerah (PMD), melainkan harus mampu menciptakan sumber pendapatan baru yang berdampak langsung pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Pernyataan tersebut disampaikan Basri usai mengikuti pembahasan tindak lanjut hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap sejumlah BUMD DKI Jakarta. Ia menilai sebagian besar rekomendasi pemeriksaan tahun 2025 telah ditindaklanjuti dengan baik. Namun, masih terdapat sejumlah temuan lama yang belum terselesaikan dan menjadi beban bagi perusahaan daerah.
Menurut Basri, salah satu persoalan yang paling mengkhawatirkan adalah masih banyaknya piutang BUMD kepada pihak ketiga yang belum berhasil ditagih. Kondisi tersebut terus muncul dalam catatan pemeriksaan dan berpotensi menghambat kinerja serta kesehatan keuangan perusahaan.
“Temuan lama, terutama terkait piutang yang belum tertagih, harus segera diselesaikan. Jangan sampai persoalan ini terus menjadi beban yang menghambat perkembangan BUMD,” tegasnya.
Sekretaris DPD Golkar DKI Jakarta itu meminta manajemen BUMD segera menyusun langkah penyelesaian yang komprehensif dengan melibatkan BPK dan berbagai pihak terkait. Baginya, penyelesaian masalah piutang tidak boleh berlarut-larut karena dapat mengganggu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.
Lebih jauh, Basri menekankan bahwa peran BUMD saat ini harus bertransformasi dari sekadar penerima suntikan modal menjadi perusahaan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi kas daerah melalui dividen.
“BUMD harus menjadi mesin penghasil PAD. Jangan berpikir terus mendapatkan PMD. Yang harus dilakukan sekarang adalah memaksimalkan aset-aset yang belum menghasilkan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti masih banyak aset milik BUMD yang belum dimanfaatkan secara optimal, baik berupa lahan, gedung, maupun aset lainnya yang memiliki potensi ekonomi besar. Ia mendorong agar aset-aset tersebut segera dikembangkan, dikelola secara profesional, atau dikerjasamakan dengan pihak yang kompeten agar mampu menghasilkan pendapatan baru.
Basri menjelaskan, keberhasilan BUMD tidak hanya diukur dari besarnya modal yang diterima, tetapi dari kemampuan perusahaan menciptakan nilai tambah dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta keuangan daerah. Karena itu, ia menegaskan perlunya inovasi, profesionalisme, dan tata kelola yang baik agar BUMD Jakarta mampu menjadi tulang punggung peningkatan PAD di masa depan.
“Sudah saatnya BUMD Jakarta berdiri lebih mandiri, kreatif, dan produktif. Potensi aset yang dimiliki harus dioptimalkan sehingga memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi pembangunan dan kesejahteraan warga Jakarta,” pungkas Basri Baco.






