Ole: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS Dapil Kalimantan Selatan I
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat iman, Islam, kesehatan, serta kesempatan kepada kita untuk kembali memasuki bulan Muharram, bulan yang mulia dan penuh keberkahan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Datangnya bulan Muharram setiap tahun bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah. Muharram merupakan momentum spiritual yang mengajak setiap muslim untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia, melihat kembali perjalanan hidup yang telah dilalui, mengevaluasi berbagai kekurangan, dan menyusun langkah-langkah perbaikan menuju kehidupan yang lebih baik.
Tahun Baru Islam bukanlah perayaan yang identik dengan kemeriahan dan pesta. Ia adalah momentum perenungan. Ia mengajarkan bahwa pergantian tahun bukan hanya tentang bertambahnya usia, melainkan juga tentang berkurangnya jatah hidup yang diberikan Allah kepada manusia. Karena itu, Muharram seharusnya menjadi sarana muhasabah atau introspeksi diri agar setiap tahun yang berlalu benar-benar meninggalkan jejak peningkatan kualitas keimanan, ketakwaan, dan kemanfaatan bagi sesama.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering terjebak dalam rutinitas tanpa sempat merenungkan makna hidup. Banyak orang sibuk mengejar karier, kekayaan, popularitas, dan berbagai pencapaian duniawi, tetapi lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Muharram hadir sebagai pengingat bahwa perjalanan hidup manusia bukan sekadar menuju kesuksesan dunia, melainkan menuju perjumpaan dengan Allah SWT.
Makna Hijrah dalam Sejarah Islam
Muharram tidak dapat dipisahkan dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Makkah ke Madinah. Meskipun hijrah terjadi pada bulan Rabiul Awal, para sahabat pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab menetapkan peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Hijrah merupakan titik balik peradaban Islam. Jika sebelumnya umat Islam berada dalam tekanan, intimidasi, dan keterbatasan, maka setelah hijrah mereka mampu membangun masyarakat yang kuat, beradab, dan berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.
Hijrah bukan hanya perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Hijrah adalah perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”
Hadis ini menunjukkan bahwa esensi hijrah sesungguhnya adalah transformasi diri. Seseorang yang meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik telah melakukan hijrah. Orang yang meninggalkan kemalasan menuju semangat bekerja juga sedang berhijrah. Mereka yang meninggalkan kebencian menuju kasih sayang, meninggalkan korupsi menuju kejujuran, meninggalkan kesombongan menuju kerendahan hati, semuanya merupakan bentuk hijrah yang nyata.
Karena itu, ketika Muharram tiba, pertanyaan penting yang harus diajukan kepada diri sendiri adalah:
Sudahkah kita berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya?
Muharram sebagai Momentum Muhasabah
Muhasabah berarti menghitung, mengevaluasi, dan mengoreksi diri. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sangat teliti menghitung keuntungan bisnis, memeriksa laporan keuangan, dan mengevaluasi hasil pekerjaan. Namun sering kali lalai menghitung amal dan dosa yang telah dilakukan.
Padahal Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
Ayat ini mengajarkan pentingnya evaluasi diri secara berkala. Muharram adalah waktu yang tepat untuk melakukannya.
Muhasabah dapat dimulai dengan beberapa pertanyaan sederhana: Apakah shalat kita semakin baik? Apakah bacaan Al-Qur’an semakin rutin? Apakah hubungan dengan orang tua semakin harmonis?
Pertanyaan selanjutnya, apakah kita lebih jujur dibanding tahun lalu? Apakah kita lebih peduli kepada sesama? Apakah dosa yang pernah dilakukan sudah ditinggalkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terasa sederhana, tetapi jawabannya dapat menggambarkan kualitas kehidupan spiritual seseorang.
Orang yang tidak pernah melakukan evaluasi diri akan sulit berkembang. Sebaliknya, mereka yang senantiasa bermuhasabah akan lebih mudah menemukan kelemahan dan memperbaikinya.
Kesadaran Bahwa Waktu Terus Berjalan
Muharram juga mengingatkan manusia tentang pentingnya waktu. Waktu adalah nikmat yang paling adil. Setiap orang mendapat dua puluh empat jam sehari. Tidak ada yang mendapatkan lebih atau kurang. Yang membedakan hanyalah bagaimana waktu itu digunakan.
Sebagian orang menggunakan waktunya untuk belajar, beribadah, bekerja, dan berkarya. Sebagian lainnya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Allah SWT bahkan bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur’an: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
Kerugian terbesar manusia bukan kehilangan harta atau jabatan, melainkan kehilangan waktu yang tidak dapat kembali.
Muharram menjadi pengingat bahwa satu tahun telah berlalu. Banyak kesempatan yang mungkin terlewat. Banyak amal yang mungkin belum sempat dilakukan. Banyak target kebaikan yang belum tercapai.
Namun Islam adalah agama yang penuh harapan. Selama napas masih berhembus, kesempatan memperbaiki diri selalu terbuka.
Meningkatkan Kualitas Iman
Peningkatan kualitas diri harus dimulai dari peningkatan kualitas iman.
Iman ibarat akar sebuah pohon. Jika akarnya kuat, maka batang, cabang, daun, dan buahnya akan tumbuh dengan baik. Namun jika akar rapuh, seluruh bagian pohon akan mudah tumbang.
Iman tidak bersifat statis. Ia bisa bertambah dan berkurang.
Karena itu setiap muslim perlu terus memelihara imannya melalui:
1. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah sumber petunjuk kehidupan. Ia memberikan ketenangan, solusi, dan arah yang jelas bagi manusia.
Muharram dapat dijadikan momentum memulai target baru dalam membaca Al-Qur’an. Misalnya satu halaman setiap hari, satu juz setiap minggu, atau mengkhatamkan Al-Qur’an dalam periode tertentu.
2. Memperbaiki Shalat
Shalat adalah tiang agama. Ia menjadi ukuran pertama yang akan dihisab pada hari kiamat.
Shalat yang khusyuk akan melahirkan ketenangan jiwa dan mencegah perbuatan keji serta mungkar.
3. Memperbanyak Dzikir
Dzikir merupakan makanan hati. Hati yang jauh dari dzikir akan mudah gelisah dan kosong.
Sebaliknya, hati yang dekat dengan Allah akan merasakan kedamaian meskipun menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Meningkatkan Kualitas Akhlak
Keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritualnya, tetapi juga dari akhlaknya.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Muharram harus menjadi momentum memperbaiki akhlak dalam berbagai aspek kehidupan.
Akhlak kepada Orang Tua
Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua. Tidak ada investasi akhirat yang lebih besar daripada berbakti kepada ayah dan ibu.
Akhlak kepada Pasangan
Keharmonisan rumah tangga dibangun melalui kasih sayang, komunikasi yang baik, dan kesediaan saling memaafkan.
Akhlak kepada Tetangga
Islam mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga. Bahkan Rasulullah SAW berkali-kali menerima wasiat dari Malaikat Jibril tentang hak-hak tetangga.
Akhlak di Media Sosial
Di era digital, akhlak tidak hanya terlihat dalam pergaulan langsung, tetapi juga dalam aktivitas media sosial.
Muharram dapat menjadi momentum untuk berhijrah dari: Penyebaran hoaks menuju informasi yang benar. Ujaran kebencian menuju nasihat yang menyejukkan. Ghibah digital menuju konten yang bermanfaat.
Meningkatkan Kualitas Ilmu
Islam menempatkan ilmu pada posisi yang sangat tinggi. Wahyu pertama yang turun adalah perintah membaca: “Iqra’.”
Perintah tersebut menunjukkan bahwa kemajuan umat tidak dapat dipisahkan dari ilmu pengetahuan.
Muharram dapat menjadi awal untuk: Membaca lebih banyak buku. Mengikuti kajian keislaman. Meningkatkan keterampilan profesional.
Selain itu, memperdalam ilmu Al-Qur’an dan hadis. Belajar teknologi dan perkembangan zaman.
Masyarakat yang berilmu akan lebih mudah menghadapi tantangan masa depan dibanding masyarakat yang malas belajar.
Meningkatkan Kualitas Kerja dan Profesionalisme
Islam mengajarkan bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah. Seorang pedagang yang jujur, pegawai yang amanah, guru yang mendidik dengan tulus, dokter yang melayani dengan ikhlas, semuanya sedang menjalankan ibadah.
Muharram dapat menjadi waktu untuk mengevaluasi kualitas pekerjaan. Apakah pekerjaan dilakukan dengan sungguh-sungguh? Apakah amanah dijalankan dengan baik? Apakah ada hak orang lain yang belum ditunaikan?
Perbaikan kualitas kerja akan membawa manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Menumbuhkan Kepedulian Sosial
Muharram juga mengajarkan pentingnya kepedulian sosial. Islam bukan hanya hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia.
Di sekitar kita masih banyak: Anak yatim yang membutuhkan perhatian. Fakir miskin yang memerlukan bantuan. Orang sakit yang membutuhkan dukungan. Korban bencana yang memerlukan pertolongan. Kehadiran seorang muslim seharusnya membawa manfaat bagi lingkungannya.
Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Karena itu, peningkatan kualitas diri harus dibarengi dengan peningkatan kepedulian sosial.
Belajar dari Peristiwa Asyura
Pada tanggal 10 Muharram terdapat hari Asyura yang memiliki banyak pelajaran penting.
Di antaranya adalah kisah keselamatan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Fir’aun.
Peristiwa tersebut mengajarkan bahwa: Kebenaran pada akhirnya akan menang. Kesabaran akan membuahkan pertolongan Allah. Kesulitan tidak berlangsung selamanya. Orang beriman tidak boleh berputus asa.
Dalam kehidupan modern, pelajaran ini tetap relevan. Banyak orang menghadapi tekanan ekonomi, masalah keluarga, tantangan pekerjaan, dan berbagai kesulitan lainnya.
Muharram mengingatkan bahwa setiap kesulitan pasti memiliki jalan keluar selama manusia tetap beriman dan berusaha.
Muharram dan Pembangunan Bangsa
Semangat hijrah tidak hanya berlaku bagi individu, tetapi juga bagi masyarakat dan bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang terus memperbaiki diri.
Semangat Muharram dapat diwujudkan melalui: Penguatan integritas. Pemberantasan korupsi. Peningkatan kualitas pendidikan. Pengembangan ekonomi umat. Penguatan persatuan nasional.
Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.
Jika semangat hijrah benar-benar diterapkan dalam kehidupan berbangsa, maka berbagai persoalan sosial dapat diminimalkan.
Menyusun Resolusi Muharram
Sebagaimana banyak orang membuat resolusi tahun baru, umat Islam juga dapat menyusun resolusi Muharram. Namun resolusi tersebut tidak boleh berhenti pada tulisan.
Beberapa contoh resolusi Muharram: Shalat berjamaah lebih rutin. Membaca Al-Qur’an setiap hari. Mengurangi penggunaan media sosial yang tidak bermanfaat. Menambah sedekah rutin. Menjaga kesehatan fisik. Mempererat silaturahim. Meningkatkan disiplin kerja. Menuntut ilmu secara berkelanjutan. Menghafal ayat atau hadis baru. Menjadi pribadi yang lebih sabar dan bersyukur.
Resolusi yang sederhana tetapi konsisten lebih baik daripada target besar yang tidak pernah dijalankan.
Muharram dan Harapan Baru
Salah satu pesan terindah dari Muharram adalah harapan. Seberapa banyak pun kesalahan yang pernah dilakukan, pintu taubat Allah selalu terbuka.
Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pernah jatuh. Setiap orang pernah melakukan kesalahan.
Namun yang membedakan manusia mulia dengan yang lainnya adalah keberaniannya untuk bangkit dan memperbaiki diri.
Muharram mengajarkan bahwa masa lalu tidak dapat diubah, tetapi masa depan masih bisa diperjuangkan.
Karena itu jangan pernah menyerah terhadap rahmat Allah. Jangan pernah merasa terlambat untuk berubah. Jangan pernah putus asa dari ampunan-Nya.
Penutup: Jadikan Muharram Sebagai Awal Kehidupan yang Lebih Bermakna
Muharram bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Islam. Muharram adalah panggilan untuk berhijrah. Panggilan untuk berubah. Panggilan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas kehidupan.
Momentum Muharram mengajarkan bahwa hidup yang baik bukanlah hidup yang bebas dari kesalahan, melainkan hidup yang selalu berusaha memperbaiki kesalahan. Hidup yang bernilai bukanlah hidup yang dipenuhi kemewahan, melainkan hidup yang dipenuhi kebermanfaatan.
Mari jadikan Muharram sebagai titik awal membangun hubungan yang lebih dekat dengan Allah SWT, memperkuat akhlak, memperluas ilmu, meningkatkan kualitas kerja, memperbanyak amal saleh, dan memperkuat kepedulian sosial.
Semoga tahun Hijriah yang baru menjadi tahun yang penuh keberkahan, ampunan, kemajuan, dan kebahagiaan bagi kita semua.
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah.
Semoga kita mampu berhijrah dari kegelapan menuju cahaya, dari kelalaian menuju kesadaran, dari kelemahan menuju kekuatan iman, dan dari kehidupan yang biasa menuju kehidupan yang penuh makna serta keberkahan.
Wallahu a’lam bish-shawab






