Refleksi atas Pencerahan Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A
Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh perebutan kepentingan, eksploitasi sumber daya alam, kerusakan lingkungan, konflik identitas, dan krisis kemanusiaan, manusia sesungguhnya sedang menghadapi satu pertanyaan besar yang jarang disadari, apakah kita benar-benar memahami hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam semesta?
Pertanyaan inilah yang secara mendalam disentuh oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., dalam Pengajian Akbar di Masjid Kampus I UIN Alauddin Makassar. Melalui tema Ekoteologi, beliau tidak hanya berbicara tentang lingkungan hidup, tetapi mengajak umat beragama memasuki ruang kontemplasi yang lebih dalam tentang hakikat keberagamaan, makna keberadaan manusia, dan posisi alam semesta dalam pandangan ketuhanan.
Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa agama tidak dapat dipahami hanya sebagai kumpulan ritual dan simbol. Agama memiliki tiga dimensi yang saling berkaitan, yaitu Mitos, Logos, dan Etos.
Mitos merupakan fondasi keyakinan yang membentuk cara seseorang memahami Tuhan, kehidupan, dan alam semesta. Logos adalah proses berpikir, penalaran, dan pemaknaan terhadap keyakinan tersebut. Sedangkan Etos adalah perilaku nyata yang lahir dari keyakinan dan cara berpikir itu.
Dengan bahasa yang sederhana namun sangat filosofis, beliau menegaskan bahwa perubahan perilaku manusia tidak mungkin terjadi tanpa perubahan cara berpikir, dan perubahan cara berpikir tidak akan berlangsung tanpa perubahan keyakinan yang mendasar.
Pandangan ini mengingatkan kita pada firman Allah SWT:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat ini menunjukkan bahwa transformasi sosial berawal dari transformasi kesadaran. Kerusakan lingkungan, krisis moral, konflik sosial, bahkan berbagai bentuk ketidakadilan sesungguhnya bukan hanya persoalan perilaku, melainkan persoalan cara berpikir dan cara beriman.
Di sinilah konsep Ekoteologi menjadi sangat relevan. Ekoteologi mengajarkan bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal sementara yang boleh dieksploitasi sesuka hati. Alam bukan benda mati yang tidak memiliki makna spiritual. Gunung, laut, sungai, hutan, udara, dan seluruh makhluk hidup adalah bagian dari ayat-ayat Allah yang hidup.
Allah Swt. berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”(QS. Ali Imran: 190).
Alam semesta bukan hanya ciptaan Allah, tetapi juga media untuk mengenal-Nya. Karena itu, merusak alam sesungguhnya bukan hanya persoalan ekologis, melainkan juga persoalan spiritual. Allah memperingatkan:
«ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini terasa semakin relevan hari ini. Krisis iklim, banjir, longsor, pencemaran sungai, sampah plastik, dan kerusakan hutan bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan cerminan dari krisis kesadaran manusia terhadap amanah yang diberikan Allah.
Dalam perspektif Islam, manusia bukan penguasa mutlak bumi, melainkan khalifah yang diberi amanah untuk menjaga keseimbangannya. Allah berfirman:
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”(QS. Al-Baqarah: 30)
Menjadi khalifah bukan berarti berkuasa tanpa batas, tetapi bertanggung jawab tanpa henti. Karena itu Rasulullah SAW. memberikan teladan ekologis yang luar biasa. Beliau bersabda:
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
“Jika hari kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang dari kalian terdapat bibit tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat tiba, hendaklah ia menanamnya.”(HR. Ahmad)
Hadis ini bukan sekadar ajakan menanam pohon. Ia adalah manifestasi optimisme, tanggung jawab, dan cinta terhadap kehidupan hingga detik terakhir.
Lebih jauh lagi, Ekoteologi tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan alam, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan sesama manusia.
Karena seseorang yang benar-benar mengenal Tuhan tidak mungkin membenci ciptaan-Nya. Orang yang memahami hakikat ketuhanan akan melihat manusia lain sebagai saudara dalam kemanusiaan dan sesama penghuni bumi yang sama.
Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, lalu menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”(QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini menunjukkan bahwa keberagaman bukan alasan untuk bermusuhan, melainkan kesempatan untuk saling mengenal, saling menghormati, dan saling bekerja sama menjaga kehidupan bersama.
Imam Al-Ghazali pernah berkata:
لَيْسَ الْإِنْسَانُ إِنْسَانًا إِلَّا بِمَا يُحْسِنُ إِلَى غَيْرِهِ
“Seseorang tidak mencapai kemanusiaan yang sempurna kecuali ketika ia berbuat baik kepada sesamanya.”
Demikian pula Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. mengingatkan:
النَّاسُ صِنْفَانِ: إِمَّا أَخٌ لَكَ فِي الدِّينِ، وَإِمَّا نَظِيرٌ لَكَ فِي الْخَلْقِ
“Manusia terdiri dari dua golongan: saudaramu dalam agama atau saudaramu dalam kemanusiaan.”
Kalimat ini terasa sangat relevan di tengah dunia yang sering terpecah oleh identitas, politik, dan kepentingan sesaat.
Ekoteologi pada akhirnya mengajarkan bahwa mencintai Tuhan tidak cukup hanya diwujudkan melalui ritual ibadah, tetapi juga melalui kepedulian terhadap bumi, kasih sayang kepada sesama manusia, penghormatan terhadap perbedaan, dan tanggung jawab menjaga kehidupan.
Maka menanam pohon bisa menjadi ibadah, mengurangi sampah bisa menjadi ibadah, menjaga sungai tetap bersih bisa menjadi ibadah, melindungi lingkungan bisa menjadi ibadah, menghormatiperbedaan bisa menjadi ibadah, membangun toleransi dan persaudaraan bisa menjadi ibadah.
Karena sesungguhnya Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang sama yang menciptakan bumi ini, dan bumi yang kita pijak adalah rumah bersama yang diwariskan kepada seluruh umat manusia.
Ketika manusia mampu melihat alam sebagai ayat Allah, melihat sesama manusia sebagai saudara dalam kemanusiaan, dan melihat keberagaman sebagai rahmat, maka agama tidak lagi menjadi sekadar identitas, tetapi menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.
Dan mungkin di situlah hakikat Ekoteologi yang sesungguhnya, yakni menghadirkan cinta kepada Tuhan yang tercermin dalam cinta kepada bumi, cinta kepada manusia, dan cinta kepada seluruh ciptaan-Nya.
#Wallahu A’lam Bishawab
Oleh: Al-Faqir. Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar






