Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah hingga akhir zaman.
Di tengah kesibukan dunia yang tidak pernah berhenti, manusia sering kali lupa bahwa hidup ini sesungguhnya adalah perjalanan yang sangat singkat. Hari demi hari berlalu, usia terus berkurang, sementara tujuan akhir kehidupan semakin dekat.
Banyak manusia sibuk mengejar panggilan dunia: panggilan jabatan, panggilan bisnis, panggilan popularitas, dan panggilan berbagai kepentingan. Namun ada panggilan yang jauh lebih penting, yaitu panggilan dari Allah SWT.
Sebagian ulama dan para pendakwah sering mengingatkan bahwa sepanjang hidupnya, seorang manusia akan menghadapi tiga panggilan besar dari Allah SWT:
1. Panggilan Adzan.
2. Panggilan ke Baitullah melalui Haji dan Umrah.
3. Panggilan Kematian untuk kembali menghadap Allah SWT.
Meskipun pembagian ini bukan dalil syariat yang menyatakan secara literal bahwa Allah hanya memanggil tiga kali, namun ia merupakan renungan yang sangat dalam tentang tahapan penting kehidupan seorang mukmin. Mari kita renungkan satu per satu.
BAB I
PANGGILAN PERTAMA: ADZAN
Seruan yang Menggema Lima Kali Sehari
Setiap hari, sejak seseorang baligh hingga akhir hayatnya, ia mendengar suara adzan. Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Kalimat yang mungkin terdengar biasa karena terlalu sering didengar. Namun sesungguhnya itulah panggilan langsung menuju keselamatan.
Allah SWT berfirman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43)
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”(QS. An-Nisa: 103)
Adzan bukan sekadar penanda waktu. Adzan adalah undangan Allah kepada hamba-Nya.
Ketika muadzin mengucapkan: “Hayya ‘alash shalah” (Marilah mendirikan shalat)
Sesungguhnya itu adalah ajakan menuju perjumpaan dengan Allah. Ketika dikumandangkan: “Hayya ‘alal falah” (Marilah menuju kemenangan)
Allah sedang menunjukkan jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Kemuliaan Muadzin
Rasulullah SAW bersabda: “Manusia yang paling panjang lehernya pada hari kiamat adalah para muadzin.” (HR. Muslim)
Maksudnya adalah mereka memperoleh kemuliaan dan kehormatan yang tinggi di hadapan Allah SWT.
Dalam hadits lain: “Tidaklah terdengar suara muadzin oleh jin, manusia, ataupun sesuatu yang lain melainkan semuanya akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)
Kisah Bilal bin Rabah
Salah satu muadzin paling mulia dalam sejarah Islam adalah Bilal bin Rabah. Bilal adalah seorang budak berkulit hitam yang disiksa karena mempertahankan keimanannya.
Ketika tubuhnya ditindih batu besar di tengah padang pasir yang panas, ia hanya mengucapkan: “Ahad… Ahad…” (Allah Maha Esa)
Setelah Islam berjaya, Rasulullah SAW memilih Bilal sebagai muadzin. Suara yang dahulu dihina kaum Quraisy kini menggema memanggil manusia menuju Allah.
Suatu hari Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Bilal, ceritakan amalan yang paling engkau harapkan. Aku mendengar suara sandalmu di surga.”
Bilal menjawab bahwa setiap kali berwudhu ia selalu berusaha melaksanakan shalat sunnah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa panggilan adzan bukan sekadar suara, melainkan jalan menuju surga.
Menangis Saat Mendengar Adzan
Diriwayatkan bahwa sebagian salafus shalih sangat tersentuh ketika mendengar adzan. Mereka memahami bahwa setiap adzan adalah kesempatan baru untuk memperbaiki diri.
Bayangkan seseorang yang sudah mendengar puluhan ribu kali adzan sepanjang hidupnya. Namun berapa kali ia benar-benar memenuhi panggilan tersebut?
BAB II
SHALAT: BUAH DARI MENJAWAB PANGGILAN ADZAN
Adzan tidak berdiri sendiri. Tujuannya adalah shalat.
Rasulullah SAW bersabda: “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Nasa’i)
Shalat adalah tiang agama. Tanpa shalat, bangunan keislaman seseorang menjadi rapuh. Shalat adalah Cahaya
Rasulullah SAW bersabda: “Shalat adalah cahaya.” (HR. Muslim)
Cahaya yang menerangi hati. Cahaya yang menghindarkan seseorang dari maksiat. Cahaya yang akan menerangi kuburnya. Cahaya yang menjadi petunjuk di hari kiamat.
Kisah Sahabat yang Tidak Pernah Meninggalkan Jamaah
Disebutkan dalam riwayat bahwa seorang sahabat yang buta pernah meminta keringanan kepada Rasulullah SAW untuk tidak hadir ke masjid.
Rasulullah SAW bertanya: “Apakah engkau mendengar adzan?”
Ia menjawab: “Ya.”
Beliau bersabda: “Maka penuhilah.” (HR. Muslim)
Jika seorang yang buta saja tetap diperintahkan memenuhi panggilan adzan, bagaimana dengan kita yang sehat dan memiliki berbagai kemudahan?
BAB III
PANGGILAN KEDUA: HAJI DAN UMRAH
Panggilan Menuju Rumah Allah
Jika adzan adalah panggilan harian, maka haji adalah panggilan istimewa. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan datang ke Makkah.
Banyak orang kaya belum pernah berhaji. Sebaliknya banyak orang sederhana yang justru Allah mudahkan menjadi tamu-Nya.
Karena haji bukan hanya soal biaya. Tetapi juga soal panggilan Allah.
Allah SWT berfirman: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)
Haji adalah Kewajiban
Allah SWT berfirman: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)
Kisah Nabi Ibrahim AS
Sejarah haji bermula dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim. Beliau diperintahkan meninggalkan istrinya Hajar dan putranya Ismail di lembah tandus Makkah.
Saat persediaan air habis, Hajar berlari antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
Allah kemudian memancarkan air Zamzam. Peristiwa ini diabadikan dalam ibadah sa’i. Hingga hari ini jutaan manusia meneladani perjuangan seorang ibu yang bertawakal kepada Allah.
Kisah Umar bin Khattab Saat Melihat Hajar Aswad
Umar bin Khattab pernah berkata ketika mencium Hajar Aswad: “Aku tahu engkau hanyalah batu. Engkau tidak dapat memberi manfaat maupun mudarat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah mencium engkau, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari)
Pelajaran besar dari kisah ini adalah bahwa haji mengajarkan kepatuhan total kepada Allah.
Keutamaan Haji Mabrur
Rasulullah SAW bersabda: “Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda: “Barang siapa berhaji karena Allah, tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia pulang seperti hari ketika dilahirkan ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah Orang yang Menabung Puluhan Tahun
Banyak kisah nyata umat Islam yang mengumpulkan uang sedikit demi sedikit selama puluhan tahun demi berhaji.
Ada petani yang menjual hasil panennya sedikit demi sedikit. Ada tukang becak yang menyisihkan penghasilannya. Ada nenek tua yang menabung dari hasil menjual makanan.
Ketika akhirnya sampai di depan Ka’bah, mereka menangis karena merasa telah memenuhi panggilan Allah.
BAB IV
MAKNA MENJADI TAMU ALLAH
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang berhaji dan berumrah adalah tamu-tamu Allah.” (HR. Ibnu Majah)
Menjadi tamu Allah adalah kehormatan yang luar biasa. Ketika seorang tamu datang ke rumah manusia, ia dimuliakan.
Bagaimana jika yang mengundang adalah Rabb semesta alam? Karena itu banyak orang merasakan perubahan besar setelah haji.
Hati menjadi lebih lembut. Ibadah menjadi lebih khusyuk. Pandangan terhadap dunia menjadi lebih sederhana.
BAB V
PANGGILAN KETIGA: KEMATIAN
Panggilan yang Tidak Bisa Ditolak Inilah panggilan terakhir. Panggilan yang pasti datang kepada setiap manusia. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindarinya.
Allah SWT berfirman: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)
Allah juga berfirman: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, sekalipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa: 78)
Kematian adalah Kepastian
Manusia dapat menunda perjalanan. Menunda pekerjaan. Menunda pertemuan. Namun tidak dapat menunda kematian.
Allah SWT berfirman: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan seseorang apabila telah datang waktu kematiannya.” (QS. Al-Munafiqun: 11)
Kisah Malaikat Maut dan Nabi Sulaiman
Dalam beberapa kisah hikmah yang populer di kalangan ulama diceritakan tentang seorang lelaki yang ketakutan setelah melihat Malaikat Maut.
Ia meminta bantuan Nabi Sulaiman agar dipindahkan ke negeri yang sangat jauh. Dengan izin Allah ia dipindahkan. Namun justru di tempat itulah ajalnya telah ditetapkan. Kisah ini mengajarkan bahwa tidak ada tempat pelarian dari kematian.
Rasulullah Mengingatkan Tentang Kematian
Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)
Mengingat kematian bukan untuk membuat manusia putus asa. Sebaliknya agar manusia hidup lebih bermakna.
BAB VI
KISAH-KISAH MENYENTUH TENTANG KEMATIAN
Pemuda yang Rajin ke Masjid
Banyak kisah para ulama yang wafat dalam keadaan sujud. Ada yang wafat ketika membaca Al-Qur’an.
Ada yang wafat ketika berdakwah. Semua itu menunjukkan pentingnya membiasakan diri dengan amal saleh. Karena seseorang akan diwafatkan sesuai kebiasaannya.
Kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai pemimpin yang sangat adil.
Ketika ajal mendekat, beliau berkata: “Aku melihat makhluk yang bukan manusia dan bukan jin.”
Tak lama kemudian beliau wafat. Beliau meninggalkan dunia dalam keadaan zuhud meskipun memiliki kekuasaan besar.
BAB VII
PELAJARAN BESAR DARI TIGA PANGGILAN
Tiga panggilan ini mengajarkan bahwa hidup seorang muslim memiliki arah yang jelas.
Dari Adzan Kita Belajar Ketaatan
Lima kali sehari Allah mengingatkan kita. Tidak peduli kaya atau miskin. Tidak peduli pejabat atau rakyat. Semua dipanggil menuju shalat.
Dari Haji Kita Belajar Kepasrahan
Ketika mengenakan ihram, seluruh manusia tampak sama. Tidak ada perbedaan pangkat. Tidak ada perbedaan jabatan. Yang membedakan hanyalah takwa.
Dari Kematian Kita Belajar Kesungguhan
Kematian mengingatkan bahwa dunia bukan tujuan akhir. Jabatan akan ditinggalkan. Harta akan ditinggalkan. Popularitas akan ditinggalkan. Yang menemani hanyalah amal.
BAB VIII
PERSIAPAN MENYAMBUT TIGA PANGGILAN
Menyambut Adzan
Menjaga shalat lima waktu.. Shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki. Menjawab lafaz adzan. Memperbanyak shalat sunnah.
Menyambut Panggilan Haji
Menabung sejak dini. Memperbaiki niat. Menjaga kehalalan rezeki. Memperbanyak doa agar dipanggil ke Baitullah.
Menyambut Kematian
Memperbanyak taubat. Memperbanyak sedekah. Membaca Al-Qur’an. Berbakti kepada orang tua. Menjaga silaturahim. Memperbanyak dzikir.
PENUTUP
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Setiap hari kita mendengar adzan. Itu adalah panggilan pertama yang terus berulang agar kita tidak lupa kepada Allah.
Sebagian di antara kita akan mendapatkan kehormatan menjadi tamu Allah di Makkah. Itulah panggilan kedua yang menjadi impian setiap muslim.
Dan seluruh manusia tanpa kecuali akan menerima panggilan ketiga, yaitu kematian. Panggilan yang tidak bisa ditolak, tidak bisa ditunda, dan tidak bisa diwakilkan.
Maka sebelum panggilan terakhir itu datang, mari memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbanyak amal saleh, memakmurkan masjid, mencintai Al-Qur’an, menghormati orang tua, membantu sesama, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)
Semoga ketika adzan berkumandang kita termasuk orang yang segera memenuhi panggilan-Nya. Semoga Allah memanggil kita menjadi tamu-Nya di Baitullah. Dan semoga saat panggilan terakhir datang, kita diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah, membawa iman, amal saleh, serta mendapatkan rahmat dan ampunan Allah SWT.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.






