GENERASI TAK MAMPU DIBELI DUNIA: Ketika Tauhid Melahirkan Manusia-manusia Mengubah Sejarah

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I

Jika kita membuka lembaran sejarah Islam, kita akan menemukan satu generasi yang belum pernah terulang dalam sejarah manusia. Mereka bukan malaikat. Mereka bukan manusia tanpa dosa. Mereka juga bukan manusia yang lahir dalam lingkungan sempurna.

Bacaan Lainnya

Mereka adalah Manusia Biasa

Ada yang dahulu penyembah berhala. Ada yang pernah meminum khamar. Ada yang pernah terlibat peperangan antarsuku. Ada yang hidup dalam kebodohan jahiliyah.

Namun setelah mengenal Rasulullah ﷺ dan menerima cahaya wahyu, mereka berubah menjadi generasi yang mampu mengguncang dunia.

Dalam waktu kurang dari satu abad, mereka mengalahkan dua kekuatan terbesar dunia saat itu: Romawi Timur dan Persia.

Lebih menakjubkan lagi, kemenangan itu tidak lahir karena jumlah pasukan yang besar, teknologi yang unggul, atau kekayaan yang melimpah.

Kemenangan itu lahir dari sesuatu yang jauh lebih kuat: TAUHID.

Tauhid telah membebaskan mereka dari seluruh bentuk perbudakan kepada makhluk.

Allah berfirman: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Tauhid tidak hanya mengajarkan manusia untuk menyembah Allah. Tauhid juga mengajarkan manusia agar tidak menyembah dunia.

Karena itu para sahabat menjadi manusia yang tidak dapat dibeli dengan emas, jabatan, ancaman, ataupun kekuasaan.

Mereka hanya tunduk kepada Allah. Dari Penghambaan kepada Manusia Menuju Penghambaan kepada Rabb Manusia

Salah satu kisah paling terkenal terjadi menjelang Perang Qadisiyah. Pasukan Islam yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash berhadapan dengan kekaisaran Persia.

Persia Saat Itu adalah Adidaya Dunia

Istana mereka megah. Tentara mereka berjumlah besar. Kekayaan mereka luar biasa. Di tengah suasana itu, seorang sahabat bernama Rib’i bin Amir memasuki istana panglima Persia, Rostam Farrokhzad.

Rib’i datang bukan dengan pakaian mewah. Ia datang dengan pakaian sederhana. Kudanya bahkan menginjak permadani mahal milik Persia.

Rostam bertanya: “Apa yang membawa kalian ke sini?”

Rib’i menjawab dengan jawaban yang kemudian menjadi salah satu kalimat paling terkenal dalam sejarah Islam:

“Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat, serta dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.”

Kalimat ini menunjukkan inti dakwah Islam. Islam bukan sekadar pergantian penguasa. Islam adalah pembebasan manusia. Sebelum Islam, manusia diperbudak manusia lain.

Ada yang diperbudak penguasa. Ada yang diperbudak bangsawan. Ada yang diperbudak tradisi. Ada yang diperbudak hawa nafsu. Islam datang membebaskan semuanya.

Karena ketika seseorang hanya tunduk kepada Allah, tidak ada lagi manusia yang mampu memperbudaknya.

Inilah yang membuat Persia takut. Mereka tidak menghadapi tentara biasa. Mereka menghadapi manusia merdeka. Manusia yang Mencintai Syahid

Dalam berbagai pertempuran melawan Romawi, para sahabat menunjukkan keberanian yang membuat lawan mereka tercengang.

Salah satu ungkapan yang masyhur dinisbatkan kepada para panglima Islam adalah:

“Kami membawa kaum yang mencintai kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan.”

Makna ucapan ini bukan berarti kaum Muslim menyukai kematian secara membabi buta.

Islam melarang bunuh diri. Islam melarang mencari kematian tanpa alasan syar’i. Namun para sahabat memahami bahwa kehidupan dunia bukan tujuan akhir.

Allah berfirman: “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185)

Mereka yakin bahwa kehidupan sejati berada di akhirat. Karena itu ancaman kematian tidak mampu menghentikan langkah mereka.

Mereka takut kepada Allah lebih daripada takut kepada pedang musuh. Inilah rahasia kekuatan mereka. Orang yang tidak takut kehilangan dunia adalah orang yang paling sulit dikalahkan.

Umar bin Khattab dan Kemerdekaan Manusia

Salah satu peristiwa paling terkenal terjadi di Mesir. Seorang pemuda Mesir pernah dipukul oleh putra gubernur Mesir, Amr bin Ash.

Pemuda itu mengadukan peristiwa tersebut kepada Khalifah Umar bin Khattab. Umar kemudian memanggil gubernur beserta putranya ke Madinah.

Di hadapan khalifah, pemuda Mesir itu diberikan kesempatan membalas perlakuan tersebut. Setelah itu Umar mengucapkan kalimat yang sangat terkenal:

“Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

Kalimat ini menjadi simbol keadilan Islam. Umar adalah pemimpin wilayah yang membentang dari Jazirah Arab hingga Afrika Utara.

Namun kekuasaan tidak membuatnya merasa berada di atas hukum. Dalam Islam, penguasa dan rakyat sama-sama tunduk kepada Allah. Tidak ada manusia yang berhak menjadi tuhan bagi manusia lain.

Abu Bakar dan Keteguhan Menjaga Prinsip

Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, sebagian kabilah Arab menolak membayar zakat. Banyak sahabat menganggap kondisi saat itu sangat berbahaya. Namun Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki pendirian yang tegas.

Beliau berkata: “Demi Allah, jika mereka menolak memberikan tali unta yang dahulu mereka berikan kepada Rasulullah ﷺ, niscaya aku akan memerangi mereka.”

Keputusan itu bukan karena Abu Bakar menginginkan perang. Melainkan karena beliau memahami bahwa agama tidak boleh dipermainkan.

Jika prinsip-prinsip Islam mulai ditawar demi kepentingan politik, maka keruntuhan umat tinggal menunggu waktu. Abu Bakar mengajarkan bahwa kebenaran tidak diukur dari jumlah pendukungnya. Kebenaran tetaplah kebenaran meskipun manusia meninggalkannya.

Bilal bin Rabah dan Tauhid yang Tidak Bisa Dihancurkan

Bilal adalah seorang budak. Ia tidak memiliki kedudukan. Ia tidak memiliki kekayaan.

Namun setelah memeluk Islam, ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: Tauhid.

Majikannya menyiksa Bilal dengan sangat kejam. Tubuhnya ditindih batu besar di padang pasir Makkah.

Namun Bilal hanya mengucapkan:

“Ahad… Ahad…”

“Maha Esa… Maha Esa…”

Tubuhnya bisa disiksa. Tetapi hatinya tidak bisa ditaklukkan. Inilah kekuatan iman. Ketika seseorang benar-benar mengenal Allah, dunia kehilangan kemampuan untuk membeli dirinya.

Mus’ab bin Umair: Dari Kemewahan Menuju Syahid

Mus’ab adalah pemuda paling tampan dan paling kaya di Makkah. Pakaiannya terkenal mahal. Parfumnya terkenal mewah.

Namun ketika masuk Islam, semua kemewahan itu hilang. Keluarganya memboikot dirinya.

Hartanya dicabut. Kenyamanannya dirampas. Tetapi Mus’ab tidak meninggalkan Islam.

Ia justru menjadi duta dakwah pertama yang dikirim Rasulullah ﷺ ke Madinah. Berkat dakwah Mus’ab, banyak tokoh Aus dan Khazraj masuk Islam.

Ketika Perang Uhud, Mus’ab gugur sebagai syahid. Saat hendak dikafani, kain yang tersedia tidak cukup menutupi seluruh tubuhnya.

Dahulu ia hidup dalam kemewahan. Kini ia wafat dalam kesederhanaan. Namun namanya dikenang sepanjang zaman. Karena kemuliaan sejati tidak terletak pada kekayaan, tetapi pada keimanan.

Umar bin Abdul Aziz dan Ketakutan terhadap Amanah

Meski termasuk generasi tabi’in, Umar bin Abdul Aziz sering disebut sebagai penerus jejak para sahabat. Ketika menjadi khalifah, beliau hidup sangat sederhana.

Lampu negara dipadamkan ketika urusan pribadi dibicarakan. Keluarganya tidak diberi keistimewaan.

Beliau menangis ketika mengingat beratnya amanah kepemimpinan. Baginya jabatan bukan kesempatan memperkaya diri.

Jabatan adalah tanggung jawab yang akan dipertanyakan di hadapan Allah. Inilah yang membedakan pemimpin bertakwa dengan pemimpin pencinta dunia.

Mengapa Mereka Tidak Bisa Dibeli? Karena mereka memahami hakikat dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.” (HR. Bukhari)

Mereka memandang dunia sebagai tempat singgah. Bukan tujuan akhir. Mereka menggunakan dunia. Tetapi tidak diperbudak dunia.

Mereka memiliki harta. Tetapi hati mereka tidak dimiliki harta. Mereka memiliki kekuasaan. Tetapi kekuasaan tidak menguasai hati mereka. Mereka memiliki popularitas. Tetapi popularitas tidak menjadi tujuan hidup mereka.

Penyakit Zaman Modern

Hari ini banyak manusia menjual prinsip demi keuntungan sesaat. Ada yang menjual kebenaran demi jabatan. Ada yang menjual integritas demi uang. Ada yang menjual agama demi popularitas. Ada yang menjual suara rakyat demi kekuasaan.

Padahal Allah telah mengingatkan: “Dan janganlah kamu menjual ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah.” (QS. Al-Baqarah: 41)

Ketika dunia menjadi tujuan utama, manusia akan mudah dibeli. Tetapi ketika Allah menjadi tujuan utama, dunia menjadi kecil di matanya.

Umat Membutuhkan Generasi Baru

Umat Islam hari ini tidak hanya membutuhkan orang pintar. Tidak hanya membutuhkan orang kaya.

Tidak hanya membutuhkan orang terkenal. Umat membutuhkan manusia yang memiliki karakter para sahabat.

Manusia yang berani mengatakan benar meskipun sendirian. Manusia yang tidak takut kehilangan jabatan karena mempertahankan prinsip.

Manusia yang tidak menjadikan agama sebagai alat mencari dunia. Manusia yang mencintai Allah lebih daripada seluruh isi bumi.

Karena sejarah membuktikan: Perubahan besar selalu dimulai dari manusia-manusia yang tidak dapat dibeli oleh dunia.

Mereka mungkin sedikit. Mereka mungkin tidak populer. Mereka mungkin tidak kaya. Tetapi mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki kebanyakan manusia:

Tauhid yang hidup di dalam hati. Dan ketika tauhid hidup di dalam hati, lahirlah keberanian. Lahirlah kejujuran. Lahirlah pengorbanan. Lahirlah peradaban.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengikuti jejak generasi terbaik umat ini.

Generasi para sahabat Rasulullah ﷺ. Generasi yang menjadikan Allah sebagai tujuan tertinggi hidupnya.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *