Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UUN Alauddin
Tidak semua perjalanan mengubah manusia. Ada perjalanan yang hanya memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain. Ada pula perjalanan yang mengubah cara berpikir, cara merasakan, cara memandang kehidupan, bahkan mengubah arah hidup seseorang. Haji termasuk dalam jenis perjalanan yang kedua. Ia bukan sekadar perpindahan dari tanah air menuju Makkah, dari Makkah menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina, lalu kembali pulang dengan gelar haji di depan nama. Haji adalah perjalanan menuju fitrah. Ia adalah perjalanan meninggalkan diri yang lama untuk melahirkan jiwa yang baru, hati yang lebih bening, akhlak yang lebih mulia, dan kehidupan yang lebih bermakna.
Karena itu, pertanyaan terbesar dalam ibadah haji bukanlah berapa kali seseorang mencium Hajar Aswad, berapa kali ia thawaf mengelilingi Ka’bah, atau berapa lama ia tinggal di Tanah Suci. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, apakah setelah semua ritual itu jiwanya menjadi lebih bersih, hatinya lebih lembut, pikirannya lebih jernih, akhlaknya lebih luhur, dan kehidupannya lebih bermanfaat bagi sesama?
Di sinilah makna terdalam dari Haji Mabrur dan Kesalehan Mabrur. Banyak orang memahami haji mabrur sebagai haji yang diterima Allah Swt. Pemahaman ini benar, tetapi belum sepenuhnya lengkap. Sebab jika kemabruran hanya dipahami sebagai penerimaan Allah yang tersembunyi di alam gaib, lalu bagaimana manusia dapat mengenali tanda-tandanya? Para ulama menjelaskan bahwa kemabruran bukan sekadar status spiritual yang tersimpan di sisi Allah, tetapi harus memancarkan jejak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW. bersabda:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Namun para ulama kemudian menjelaskan bahwa kemabruran memiliki tanda-tanda yang dapat dilihat. Imam Hasan Al-Bashri berkata:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ أَنْ يَرْجِعَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا، رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ
“Haji mabrur adalah ketika seseorang kembali dengan hati yang tidak lagi berlebihan mencintai dunia dan semakin mencintai akhirat.”
Betapa dalam makna ungkapan ini. Ternyata ukuran kemabruran bukan terletak pada apa yang dilakukan seseorang di Makkah, melainkan pada siapa dirinya setelah pulang dari Makkah.
Karena itu, haji mabrur pada hakikatnya adalah transformasi. Transformasi diri menjadi lebih rendah hati. Transformasi jiwa menjadi lebih bersih. Transformasi hati menjadi lebih peka terhadap kebenaran. Transformasi ruhani menjadi lebih dekat kepada Allah. Transformasi akhlak menjadi lebih mulia. Transformasi kehidupan menjadi lebih bermanfaat. Transformasi sosial menjadi lebih peduli. Bahkan pada tingkat yang lebih luas, transformasi peradaban menjadi lebih adil, beradab, dan penuh kasih sayang.
Kesalehan mabrur tidak boleh dipahami hanya sebagai kesalehan ritual yang berhenti di sajadah atau di pelataran masjid. Kesalehan mabrur adalah kesalehan yang hidup dalam seluruh dimensi kehidupan. Ia tampak ketika seseorang berhadapan dengan harta, ketika memegang jabatan, ketika menghadapi perbedaan pendapat, ketika menghadapi godaan, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya selain Allah. Allah Swt. berfirman:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini sesungguhnya mengajarkan filosofi seluruh ibadah. Yang dicari Allah bukan semata-mata gerakan lahiriah, melainkan perubahan batiniah. Yang dinilai bukan sekadar ritual, melainkan kualitas ketakwaan yang lahir dari ritual tersebut. Karena itu, ada sejumlah pertanyaan yang patut diajukan kepada diri kita masing-masing.
Apakah Ka’bah yang kita kelilingi telah berhasil mengelilingi hati kita sehingga seluruh orientasi hidup berpusat kepada Allah?. Apakah Arafah yang kita datangi telah membuat kita mengenali kelemahan, kesalahan, dan keterbatasan diri?. Apakah lemparan jumrah telah berhasil mengusir kesombongan, iri hati, kedengkian, kerakusan, dan hawa nafsu yang selama ini bersemayam dalam jiwa?. Apakah pakaian ihram telah mengajarkan kesederhanaan ketika kita kembali mengenakan atribut kebesaran dunia?. Apakah air mata yang jatuh di Multazam masih hidup ketika kita kembali ke rumah, kantor, dan lingkungan masyarakat?. Ataukah seluruh pengalaman spiritual itu hanya menjadi kenangan indah tanpa meninggalkan jejak perubahan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan di zaman modern. Kita hidup pada masa ketika masjid semakin megah, tetapi kejujuran semakin langka. Kajian agama semakin ramai, tetapi persaudaraan semakin rapuh. Perjalanan umrah dan haji semakin mudah, tetapi kesabaran, kerendahan hati, dan keikhlasan semakin sulit ditemukan.
Padahal tujuan utama seluruh ibadah adalah perubahan. Shalat bertujuan mencegah kemungkaran. Puasa bertujuan melahirkan ketakwaan. Zakat bertujuan menyucikan jiwa. Dan haji bertujuan membentuk manusia yang kembali kepada fitrahnya.
Kesalehan mabrur karena itu harus tampak dalam hubungan seorang hamba dengan Allah. Orang yang pulang dari haji seharusnya semakin mencintai shalat, semakin akrab dengan Al-Qur’an, semakin menikmati zikir, dan semakin istiqamah dalam ibadah. Allah berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian).”(QS. Al-Hijr: 99)
Kemabruran bukanlah akhir perjalanan spiritual, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju Allah. Kesalehan mabrur juga harus tampak dalam hubungan dengan sesama manusia. Sebab tidak mungkin seseorang dekat kepada Allah tetapi gemar menyakiti manusia. Tidak mungkin seseorang menangis di Arafah, tetapi tetap ringan memfitnah, mencaci, merendahkan, dan menzalimi sesama. Rasulullah bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.”(HR. At-Tirmidzi)
Maka ukuran kemabruran tidak hanya terletak pada banyaknya ibadah, tetapi juga pada kualitas akhlak.
Dalam keluarga, kesalehan mabrur harus melahirkan kasih sayang. Dalam pekerjaan, ia harus melahirkan kejujuran. Dalam bisnis, ia harus melahirkan amanah. Dalam pendidikan, ia harus melahirkan adab. Dalam kepemimpinan, ia harus melahirkan keadilan. Abdullah bin Mas’ud berkata:
لَيْسَ الْإِيمَانُ بِالتَّمَنِّي وَلَا بِالتَّحَلِّي وَلَكِنْ مَا وَقَرَ فِي الْقَلْبِ وَصَدَّقَهُ الْعَمَلُ
“Iman bukanlah angan-angan dan bukan pula sekadar penampilan, tetapi sesuatu yang menetap dalam hati dan dibuktikan oleh amal perbuatan.”
Dalam bidang ekonomi, kemabruran harus melahirkan kejujuran dan integritas. Orang yang pernah berdiri di Arafah seharusnya malu mengambil hak orang lain. Orang yang pernah bertalbiyah seharusnya takut melakukan penipuan dan kecurangan.Allah berfirman:
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ
“Celakalah orang-orang yang curang.”(QS. Al-Muthaffifin: 1)
Dalam bidang pendidikan, kemabruran harus melahirkan kecintaan terhadap ilmu sekaligus penghormatan terhadap adab. Sebab ilmu tanpa adab dapat melahirkan kerusakan yang lebih besar daripada kebodohan. Imam Malik berkata:
تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Sementara dalam kehidupan sosial dan kepemimpinan, kemabruran harus melahirkan keadilan dan kerendahan hati. Jutaan manusia yang mengenakan ihram sesungguhnya sedang diajarkan bahwa tidak ada keunggulan karena jabatan, kekayaan, warna kulit, atau keturunan. Allah Swt. berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”(QS. Al-Hujurat: 13)
Pada akhirnya, kemabruran tidak diukur ketika seseorang berada di depan Ka’bah, tetapi ketika ia kembali menghadapi kehidupan. Tidak diukur ketika mengenakan pakaian ihram, tetapi ketika mengenakan pakaian jabatan. Tidak diukur ketika membaca talbiyah, tetapi ketika berhadapan dengan pilihan antara amanah dan pengkhianatan. Tidak diukur ketika berada di Tanah Haram, tetapi ketika kembali hidup di tengah masyarakat.
Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri, Apakah setelah berhaji kita lebih mudah memaafkan?. Apakah kita lebih jujur dalam bekerja?. Apakah kita lebih santun kepada keluarga?. Apakah kita lebih peduli kepada kaum lemah? Apakah kita lebih mampu menahan amarah?. Apakah kita lebih banyak bersyukur daripada mengeluh?. Apakah kehadiran kita lebih membawa manfaat bagi orang lain?
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu semakin mengarah kepada kebaikan, maka itulah tanda bahwa kemabruran sedang bertumbuh dalam diri kita.
Sebab pada akhirnya, haji mabrur bukanlah gelar yang disematkan manusia, melainkan cahaya yang dipancarkan oleh perubahan hidup. Kesalehan mabrur bukan sekadar kenangan spiritual dari Makkah dan Madinah, tetapi kemampuan membawa nilai-nilai tauhid, kejujuran, kasih sayang, keadilan, amanah, dan kemuliaan akhlak ke mana pun kaki melangkah.
Haji mabrur adalah ketika Makkah tidak lagi sekadar tempat yang pernah dikunjungi, tetapi menjadi nilai yang hidup di dalam hati. Dan kesalehan mabrur adalah ketika seseorang tidak hanya pulang dari Tanah Suci, tetapi juga pulang kepada fitrahnya sebagai hamba Allah yang lebih dekat kepada Tuhan, lebih bermanfaat bagi manusia, dan lebih bertanggung jawab terhadap peradaban kehidupan.
#Wallahu A’lam Bishawab





