Miskin Bukan Aib, Bahkan Bisa Menjadi Kemuliaan di Sisi Allah

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS / Kalimantan Selatan I

Di era modern saat ini, ukuran kesuksesan seseorang sering kali diidentikkan dengan jumlah harta yang dimiliki. Orang yang memiliki rumah mewah, kendaraan mahal, jabatan tinggi, dan gaya hidup glamor dianggap berhasil. Sebaliknya, orang yang hidup sederhana atau kekurangan secara ekonomi sering dipandang rendah. Akibatnya, banyak manusia berlomba-lomba mengejar dunia tanpa mempedulikan batas halal dan haram.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di kalangan masyarakat awam, tetapi juga merambah berbagai lapisan kehidupan. Demi memperoleh kekayaan, sebagian orang rela menghalalkan segala cara, melakukan korupsi, penipuan, manipulasi, suap, bahkan terjerumus dalam praktik riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Ta’ala.

Padahal dalam pandangan Islam, kaya dan miskin bukan ukuran kemuliaan seseorang. Kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh jumlah harta, melainkan oleh ketakwaan.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menjadi landasan bahwa standar kemuliaan menurut Allah berbeda dengan standar manusia. Jika manusia memandang penampilan, jabatan, dan kekayaan, maka Allah melihat iman, ketakwaan, dan amal saleh.

Miskin dan Kaya Adalah Takdir Allah

Islam mengajarkan bahwa rezeki setiap manusia telah ditentukan oleh Allah. Ada yang dilapangkan rezekinya, ada pula yang disempitkan. Semuanya mengandung hikmah dan ujian.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Isra’: 30)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memberikan rezeki sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. Terkadang kekayaan menjadi kebaikan bagi seseorang, namun bagi orang lain justru menjadi sebab kebinasaan. Sebaliknya, kemiskinan yang tampak berat bisa menjadi jalan keselamatan bagi sebagian hamba.

Karena itu, seorang mukmin tidak boleh memandang rendah dirinya hanya karena miskin. Kemiskinan bukan dosa dan bukan pula kehinaan.

Umar bin Khattab pernah berkata: “Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi yang aku khawatirkan adalah ketika dunia dibentangkan kepada kalian sebagaimana dibentangkan kepada umat sebelum kalian.”

Aib yang Sesungguhnya Adalah Kikir

Ada sebuah ungkapan hikmah: “Aib itu bukan bagi orang yang fakir, tetapi aib itu bagi orang yang bakhil (kikir).”

Kemiskinan merupakan takdir, sedangkan kekikiran adalah penyakit hati.

Allah Ta’ala berfirman: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di leher mereka pada hari kiamat.” (QS. Ali Imran: 180)

Ayat ini menunjukkan bahwa ancaman Allah justru tertuju kepada orang yang enggan mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Kaya bukan masalah, tetapi menjadi masalah ketika kekayaan membuat seseorang sombong, pelit, dan melupakan kewajibannya.

Kemiskinan Bisa Menjadi Jalan Menuju Surga

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Orang-orang fakir dari kaum Muslimin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya selama setengah hari, yaitu lima ratus tahun.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Mengapa demikian?

Karena orang kaya memiliki hisab yang lebih panjang. Setiap rupiah yang dimiliki akan ditanya: Dari mana diperoleh? Untuk apa digunakan? Apakah dikeluarkan zakatnya? Apakah ada hak orang lain di dalamnya?

Sementara orang miskin memiliki tanggung jawab harta yang lebih sedikit sehingga hisabnya lebih ringan.

Namun perlu dipahami bahwa hadis ini bukan berarti Islam memuji kemiskinan secara mutlak atau melarang kekayaan. Yang dipuji adalah kesabaran orang miskin dan ketakwaannya.

Rasulullah Dekat dengan Orang-Orang Miskin

Salah satu bukti kemuliaan orang miskin adalah kedekatan mereka dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Dalam sejarah Islam, mayoritas sahabat yang pertama kali menerima dakwah Nabi berasal dari kalangan sederhana.

Di antaranya: Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir, Khabbab bin Al-Aratt, Shuhaib Ar-Rumi, Abu Dzar Al-Ghifari.

Mereka bukan tokoh kaya raya, tetapi justru menjadi manusia-manusia terbaik dalam sejarah Islam.

Allah bahkan menegur kaum Quraisy yang meminta Rasulullah menjauhkan orang-orang miskin dari majelis beliau.

Allah berfirman: “Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya.” (QS. Al-An’am: 52)

Ayat ini menjadi bukti bahwa orang miskin yang beriman memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.

Wasiat Rasulullah kepada Abu Dzar

Abu Dzar Al-Ghifari meriwayatkan: “Kekasihku Rasulullah berwasiat kepadaku dengan tujuh perkara, di antaranya agar aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka.” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Mencintai orang miskin bukan berarti menjadikan kemiskinan sebagai tujuan hidup, tetapi menunjukkan kepedulian, kasih sayang, serta membantu mereka.

Islam mengajarkan solidaritas sosial yang luar biasa. Karena itu, zakat menjadi rukun Islam. Karena itu, sedekah sangat dianjurkan. Karena itu pula, membantu orang yang kesusahan memiliki pahala besar.

Sejarah Para Nabi dan Orang Saleh yang Hidup Sederhana

Banyak nabi hidup dalam kesederhanaan.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam

Sering kali dapur rumah beliau tidak mengepul selama berhari-hari.

Aisyah Radhiyallahu Anha berkata: “Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang makan roti gandum selama tiga hari berturut-turut hingga beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Padahal jika beliau menghendaki, Allah mampu menjadikan gunung-gunung berubah menjadi emas. Namun beliau memilih hidup sederhana.

Nabi Musa Alaihissalam

Saat meninggalkan Mesir menuju Madyan, beliau tidak memiliki bekal dan bahkan harus berteduh di bawah pohon sambil berdoa meminta pertolongan Allah.

Nabi Isa Alaihissalam

Beliau hidup sangat sederhana hingga dikenal tidak memiliki rumah tetap dan menjalani kehidupan penuh kezuhudan.

Semua ini menunjukkan bahwa kemuliaan para nabi tidak terletak pada kekayaan dunia.

Bahaya Cinta Dunia yang Berlebihan

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Akan tetapi aku khawatir dunia dibentangkan kepada kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, kemudian dunia membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sangat relevan dengan kondisi zaman sekarang.

Banyak orang: Berutang demi gaya hidup. Terjebak riba demi terlihat kaya. Korupsi demi menumpuk harta. Menghalalkan segala cara demi jabatan.

Padahal seluruh kenikmatan dunia akan ditinggalkan. Kaya yang Bersyukur Tetap Mulia Islam tidak melarang menjadi kaya.

Banyak sahabat Rasulullah yang kaya raya namun tetap mulia, seperti: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam.

Mereka menggunakan kekayaan untuk: Membantu fakir miskin. Membebaskan budak. Membiayai dakwah. Menolong kaum Muslimin. Karena itu, yang tercela bukan kekayaan, melainkan cinta dunia yang berlebihan.

Keutamaan Membantu Orang Miskin

Rasulullah bersabda: “Barang siapa menghilangkan satu kesusahan seorang mukmin, Allah akan menghilangkan satu kesusahannya pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda: “Orang yang mengurus kebutuhan janda dan orang miskin seperti mujahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa membantu orang miskin merupakan amalan yang sangat besar pahalanya.

Doa Rasulullah tentang Kehidupan yang Sederhana

Rasulullah pernah berdoa: “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama golongan orang-orang miskin.” (HR. Ibnu Majah)

Para ulama menjelaskan bahwa maksud “miskin” dalam hadis ini adalah tawadhu, rendah hati, tidak sombong, dan tidak terpaut hatinya dengan dunia.

Pelajaran untuk Umat Islam Masa Kini

Ada beberapa pelajaran penting: Jangan malu menjadi miskin. Malulah jika berbuat dosa.Jangan mengukur kemuliaan dengan harta. Hindari riba dalam segala bentuknya. Perbanyak sedekah walaupun sedikit. Bersabar atas takdir Allah. Gunakan kekayaan sebagai sarana ibadah. Dekatilah orang miskin dan bantu mereka. Jangan iri kepada orang kaya. Jadikan takwa sebagai tujuan utama hidup.

Penutup

Kemiskinan bukanlah aib. Ia bisa menjadi ujian, bisa pula menjadi kemuliaan apabila dijalani dengan kesabaran, keimanan, dan ketakwaan. Sebaliknya, kekayaan bukan jaminan kemuliaan jika membuat seseorang sombong, kikir, dan jauh dari Allah.

Sejarah para nabi, para sahabat, serta dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah banyaknya harta, melainkan kualitas iman dan takwa.

Karena itu, seorang Muslim tidak perlu takut menjadi miskin, tetapi hendaknya takut apabila kekayaan atau ambisi dunia menyeretnya kepada dosa, riba, korupsi, dan kezaliman.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang ridha terhadap takdir-Nya, bersyukur ketika diberi kelapangan, bersabar ketika diberi kesempitan, dan termasuk golongan yang mendapatkan kemuliaan di dunia maupun di akhirat.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Artikel ini panjang, lengkap dengan dalil Al-Qur’an, hadis, penjelasan ulama, serta fakta sejarah para nabi dan sahabat sehingga cocok untuk bahan ceramah, kajian, buletin masjid, maupun publikasi dakwah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *