Capang Sunarya Gaungkan Semangat Qurban serta Perubahan untuk Sukajaya Tepat di Hari Raya Iedul Adha: Siap Wujudkan Sukajaya Maju, Transparan, dan Bermartabat

BEKASI – Gema takbir Hari Raya Iedul Adha 1447 Hijriah menggulung langit Kampung Rawalele Talang, RT 003/005, Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi, Rabu (27/5/2026). Di tengah aroma tanah yang basah oleh embun pagi dan lantunan Takbir yang menyejukkan jiwa, masyarakat berkumpul di Mushola Al-Ridho untuk melaksanakan penyembelihan hewan qurban sebagai bentuk ketakwaan dan kepedulian sosial yang diwariskan sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Momentum sakral tersebut tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan juga simbol persatuan dan semangat gotong royong masyarakat desa yang terus hidup di tengah arus modernisasi.

Pelaksanaan qurban di Mushola Al-Ridho berlangsung penuh khidmat dengan penyembelihan sebanyak 2 ekor kambing dan 1 ekor sapi. Prosesi tersebut disaksikan langsung Ketua DKM Mushola Al-Ridho, Ustadz Suwanda, Bakal Calon Kepala Desa Sukajaya Capang Sunarya, serta warga sekitar yang bahu-membahu membantu proses penyembelihan hingga pendistribusian daging qurban kepada masyarakat yang membutuhkan. Kebersamaan itu menghadirkan suasana haru sekaligus hangat, seolah mempertegas bahwa nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial masih tumbuh subur di tengah masyarakat Sukajaya.

Secara hukum dan konstitusional, pelaksanaan qurban juga menjadi bagian dari implementasi nilai-nilai kebebasan beragama yang dijamin dalam Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang menyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Selain itu, semangat berbagi dalam Idul Adha sejalan dengan nilai keadilan sosial sebagaimana termaktub dalam sila kelima Pancasila, yakni “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” yang menekankan pentingnya pemerataan kesejahteraan dan kepedulian terhadap sesama.

Di sela kegiatan qurban, Bakal Calon Kepala Desa Sukajaya, Capang Sunarya, menyampaikan pandangannya mengenai makna Idul Adha yang menurutnya bukan hanya tentang penyembelihan hewan, melainkan juga penyembelihan sifat egoisme, keserakahan, dan ketidakpedulian sosial. Dengan gaya bicara lugas namun penuh nuansa filosofis, Capang menegaskan bahwa masyarakat harus menjadikan Idul Adha sebagai momentum membangun desa yang religius, harmonis, dan berdaya saing.

“Salah satu hikmah Iedul Adha yang paling utama adalah meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Keduanya menunjukkan kepatuhan total kepada perintah Allah SWT, bahkan ketika diperintahkan melaksanakan sesuatu yang sangat berat. Kisah ini mengajarkan bahwa keimanan sejati harus disertai dengan ketaatan tanpa ragu terhadap kehendak Allah. Idul Adha juga mengajarkan kita tentang pentingnya pengorbanan demi kepentingan yang lebih besar, yakni kesejahteraan umat dan persatuan masyarakat,” ujar Calon Kepala Desa nan eksentrik tersebut kepada awak media, Rabu (27/5/2026).

Tak hanya berbicara soal nilai spiritual, Capang Sunarya juga menyatakan kesiapannya untuk maju dalam kontestasi Pemilihan Kepala Desa Sukajaya periode 2026–2034 yang direncanakan berlangsung pada September mendatang. Ia menyebut pencalonannya bukan sekadar ambisi politik, melainkan bentuk panggilan moral untuk ikut membangun tanah kelahirannya agar lebih maju dan sejahtera. Menurutnya, desa harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kerakyatan, pendidikan sosial, serta penguatan budaya gotong royong yang mulai terkikis zaman.

“Insya Allah saya siap mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Sukajaya setelah panitia pelaksana Pilkades membuka pendaftaran calon kepala desa. Saya memohon do’a dan dukungan dari masyarakat serta keluarga besar saya. Saya ingin Desa Sukajaya tidak hanya berkembang secara pembangunan fisik, tetapi juga maju dalam kualitas sumber daya manusia, pendidikan pemuda, pemberdayaan UMKM, pelayanan masyarakat, serta tata kelola pemerintahan desa yang transparan dan berpihak kepada rakyat,” ungkapnya penuh semangat.

Capang juga menjelaskan bahwa dirinya telah melakukan berbagai langkah sosialisasi kepada masyarakat melalui silaturahmi dengan tokoh agama, tokoh pemuda, dan tokoh masyarakat, termasuk pemasangan baliho serta spanduk visi-misi di sejumlah titik wilayah Desa Sukajaya. Menurutnya, pendekatan humanis dan komunikasi langsung dengan masyarakat jauh lebih penting dibanding sekadar pencitraan politik, karena pemimpin desa harus memahami denyut kehidupan rakyat secara nyata. Ia pun berjanji akan menjalankan pemerintahan desa berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang menekankan prinsip transparansi, partisipatif, akuntabel, dan pemberdayaan masyarakat.

Diketahui, Capang Sunarya merupakan warga pribumi asli Desa Sukajaya yang telah dua kali mengikuti kontestasi pemilihan kepala desa. Meski kembali maju untuk ketiga kalinya, dirinya mengaku tidak pernah surut oleh kegagalan maupun dinamika politik desa. Saya belajar dari kegigihan Presiden kita, Prabowo Subiyanto, sekalipun kalah berkali-kali namun beliau terus maju hingga menjadi Presiden Republik Indonesia pada 2024 silam. Baginya, perjuangan membangun kampung halaman adalah jalan pengabdian yang harus ditempuh dengan kesabaran, keberanian, dan ketulusan. Di tengah gema takbir yang mengguncang langit Sukajaya, tekad itu seakan menjadi nyala harapan baru: bahwa desa yang kuat lahir dari pemimpin yang dekat dengan rakyat, memahami penderitaan masyarakat, dan mampu menghadirkan masa depan yang lebih adil, religius, serta bermartabat bagi seluruh warganya.
(CP/red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *