BEKASI — Semangat kemanusiaan kembali menemukan nadinya di kawasan industri Cibitung. Pada Rabu (29/4/2026), Coca-Cola Europacific Partners Indonesia menggelar kegiatan donor darah yang melibatkan karyawan beserta keluarga, bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) wilayah Cibitung. Di tengah denyut mesin pabrik, hadir denyut lain yang lebih sunyi namun bermakna: denyut solidaritas untuk sesama.
Kegiatan ini berlangsung tertib dan terorganisir, mencerminkan kepatuhan terhadap prinsip keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Para peserta menjalani tahapan pemeriksaan medis sebelum donor, memastikan setiap tetes darah yang diberikan tidak hanya bernilai kemanusiaan, tetapi juga memenuhi standar kesehatan yang berlaku.
Dari pantauan di lokasi, ratusan karyawan tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mengantre dengan disiplin, menjalani skrining kesehatan, hingga proses donor berlangsung lancar. Suasana hangat dan penuh kepedulian terasa mengalir, seolah setiap individu memahami bahwa setetes darah dapat menjadi jembatan antara hidup dan harapan.
Seorang karyawan yang mengikuti donor darah menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin perusahaan. “Dilaksanakan setahun dua kali,” ujarnya singkat. Pernyataan ini menegaskan bahwa aksi kemanusiaan bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari budaya korporasi yang berkelanjutan.
Secara normatif, kegiatan donor darah juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menegaskan pentingnya upaya penyediaan darah yang aman dan cukup bagi masyarakat. Peran dunia usaha dalam mendukung ketersediaan darah menjadi kontribusi nyata dalam sistem kesehatan nasional yang inklusif dan berkeadilan.
Lebih jauh, praktik ini mencerminkan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, khususnya terkait kewajiban perseroan untuk berperan aktif dalam pembangunan sosial dan lingkungan. Donor darah menjadi wujud konkret bahwa korporasi dapat hadir bukan hanya sebagai entitas ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem kemanusiaan.
Di balik kantong-kantong darah yang terkumpul, tersimpan narasi tentang empati yang tidak bersuara, tentang kepedulian yang tidak meminta tepuk tangan. Ia hadir seperti puisi yang tak dibacakan di panggung, namun terasa maknanya oleh mereka yang membutuhkan (pasien di ruang-ruang perawatan), yang menunggu tanpa mengenal siapa pemberinya.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus industrialisasi, nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh tercerabut dari akarnya. Ketika perusahaan, pekerja, dan lembaga kemanusiaan berjalan beriringan, maka yang lahir bukan hanya produktivitas, tetapi juga peradaban yang menjunjung tinggi kehidupan sebagai nilai paling hakiki.
(CP/red)






