Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar
Perempuan adalah rahasia paling halus yang dititipkan kepada dunia, ia tidak selalu tampak sebagai kekuatan, tetapi darinyalah segala kekuatan bermula. Dalam diamnya, ia menyusun arah. Dalam lembutnya, ia meneguhkan makna. Dan dalam hatinya, ia menyimpan kemungkinan lahirnya peradaban yang bermartabat… atau sebaliknya, keruntuhan yang perlahan namun pasti.
Maka ketika kita berbicara tentang Kartini hari ini, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang cermin. Yaitu cermin yang memantulkan bukan hanya sejarah, tetapi juga kegelisahan zaman. Sebab di balik gemerlap modernitas yang menawarkan kebebasan tanpa batas, terselip pertanyaan sunyi yang tak banyak diucapkan, apakah perempuan hari ini benar-benar merdeka atau hanya berpindah dari satu bentuk keterikatan ke bentuk yang lebih halus?
Di ruang-ruang kehidupan yang riuh, perempuan tampak semakin hadir, semakin bersuara, semakin terlihat. Namun di kedalaman yang tak selalu kasat mata, tidak semua kehadiran itu berakar, tidak semua suara itu bermakna, dan tidak semua kebebasan itu menuntun pada kemuliaan. Ada yang bersinar, tetapi kehilangan arah. Ada yang terdengar, tetapi kehilangan makna. Ada yang bebas, tetapi jauh dari ketenangan.
Di titik itulah Kartini seakan kembali bertanya bukan kepada dunia, tetapi kepada nurani kita, apakah cahaya yang dulu dinyalakan masih kita jaga… atau telah kita tukar dengan kilau yang sesaat?
Kartini tidak pernah memperjuangkan kebebasan yang liar. Ia memperjuangkan kesadaran. Ia tidak sekadar membuka pintu bagi perempuan untuk keluar dari keterbatasan, tetapi mengajarkan bagaimana melangkah dengan nilai, dengan adab, dengan keutuhan diri. Ia memahami bahwa kemerdekaan sejati bukanlah ketika seseorang bebas melakukan apa saja, tetapi ketika ia mampu mengendalikan dirinya di tengah segala kemungkinan.
Namun zaman bergerak dengan caranya sendiri. Emansipasi yang dahulu lahir dari semangat keadilan, kini sering kali tereduksi menjadi sekadar ekspresi. Kebebasan tidak lagi ditimbang dengan tanggung jawab, tetapi dengan sejauh mana ia bisa terlihat dan diakui. Dalam arus seperti ini, nilai perlahan menjadi kabur, dan identitas menjadi cair.
Padahal perempuan tidak pernah diciptakan untuk kehilangan dirinya. Ia diciptakan dengan keseimbangan yang agung, antara akal dan rasa, antara kekuatan dan kelembutan, antara keberanian dan kebijaksanaan. Ketika keseimbangan itu dijaga, ia menjadi sumber kedamaian. Tetapi ketika ia goyah, maka yang lahir bukan lagi cahaya, melainkan kegamangan yang menjalar.
Perempuan memiliki kemampuan yang tidak selalu dimiliki secara utuh oleh laki-laki, kemampuan merawat tanpa melukai, menyatukan tanpa memaksa, memahami tanpa menghakimi. Ia adalah ruang pertama tempat manusia belajar tentang cinta, tentang nilai, tentang kehidupan. Dari rahimnya lahir generasi, tetapi dari jiwanya lahir arah bagi generasi itu.
Maka ketika perempuan kehilangan orientasi nilai, sesungguhnya yang terguncang bukan hanya dirinya, tetapi masa depan itu sendiri.
Di sinilah pentingnya menghadirkan kembali Kartini, bukan sebagai simbol seremonial, tetapi sebagai kesadaran eksistensial. Kartini harus hidup dalam cara berpikir yang jernih, dalam sikap yang beradab, dan dalam keberanian untuk tetap setia pada nilai di tengah godaan untuk menyimpang.
Kartini hari ini adalah perempuan yang mampu berdiri tegak tanpa harus meninggalkan akar. Ia melangkah maju, tetapi tidak tercerabut dari nilai. Ia hadir di ruang publik dengan kecerdasan, tetapi tetap menjaga kehormatan di ruang privat. Ia tidak sibuk menjadi seperti orang lain, tetapi sibuk menjadi utuh sebagai dirinya sendiri.
Karena sejatinya, kemuliaan perempuan tidak terletak pada seberapa tinggi ia tampil, tetapi pada seberapa dalam ia berakar. Tidak pada seberapa luas ia dikenal, tetapi pada seberapa kuat ia menjaga dirinya. Dan tidak pada seberapa keras ia bersuara, tetapi pada seberapa bijak ia memilih kata.
Zaman boleh berubah, tetapi nilai tidak pernah kehilangan relevansinya. Dunia boleh bergerak cepat, tetapi kebenaran tidak pernah tergesa-gesa. Maka perempuan yang memahami dirinya tidak akan larut dalam arus, ia akan menjadi penentu arah.
Dan pada akhirnya, pertanyaan itu kembali mengetuk dengan lembut namun dalam, apakah kita sedang meneruskan cahaya Kartini… atau justru membiarkannya redup dalam gemerlap yang menipu?
Sebab Kartini bukan sekadar nama yang dikenang, tetapi ruh yang harus dihidupkan. Ia bukan hanya jejak masa lalu, tetapi kompas bagi masa depan.
Dan di dalam keheningan jiwa yang jernih, kita akan menyadari bahwa menjadi perempuan bukan sekadar tentang hadir di dunia,tetapi tentang menghadirkan makna bagi dunia itu sendiri.
Di sanalah Kartini benar-benar hidup…bukan di lembar sejarah,
tetapi di hati yang memilih menjadi cahaya.
#Wallahu A’lam Bishawab






