JAKARTA – Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah membawa transformasi besar dalam cara informasi diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi masyarakat. Kondisi tersebut sekaligus menjadi tantangan baru bagi industri media dan praktik jurnalistik.
Hal itu disampaikan Hetifah dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi untuk Masyarakat bertema “Smart Journalism: Integrasi Data, Riset dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas” yang digelar di Hotel Mega Anggrek, Jakarta, Minggu (15/3/2026).
“Kami memandang kebijakan dalam SKB 7 Menteri yang membatasi penggunaan AI instan bagi pelajar SD hingga SMA sebagai langkah antisipatif yang tepat untuk melindungi proses belajar anak. Kekhawatiran kita adalah bahwa kemudahan memperoleh jawaban secara instan dapat menghambat berkembangnya kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kejujuran akademik siswa,” ujar politisi Partai Golkar ini.
Hetifah menambahkan, kebijakan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penguatan fondasi pendidikan dasar tidak boleh dikalahkan oleh kemudahan teknologi yang berpotensi membuat proses belajar menjadi dangkal. Pendidikan harus tetap menempatkan proses berpikir, eksplorasi, dan pemahaman sebagai hal utama dalam pembelajaran.
“Dalam implementasinya, pengawasan tentu tidak bisa hanya dibebankan kepada satu pihak. Kami mendorong adanya pendekatan kolaboratif antara sekolah, guru, orang tua, dan pemerintah. Sekolah perlu merancang tugas yang lebih menekankan pada proses dan kemampuan analisis siswa. Di sisi lain, orang tua juga perlu berperan aktif dalam mengawasi penggunaan gawai di rumah,” tegasnya.
Menurutnya, pemerintah pun diharapkan dapat menyiapkan pedoman teknis yang jelas, sekaligus memperkuat pelatihan literasi digital bagi para pendidik agar mereka mampu mengarahkan penggunaan teknologi secara bijak di lingkungan sekolah. Pada akhirnya, tujuan dari kebijakan ini bukan sekadar melarang, melainkan membangun kesadaran siswa agar mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab—sebagai alat bantu dalam belajar, bukan sebagai jalan pintas.
“Apabila memang ada rencana untuk mengembangkan platform sendiri, kami tentu sangat mendukung. Kehadiran platform AI pendidikan yang aman dan dirancang khusus bagi anak-anak akan menjadi solusi strategis. Hal ini sejalan dengan upaya kita untuk melindungi siswa dari konten negatif, sekaligus menyediakan ruang belajar digital yang sehat, produktif, dan mendukung perkembangan kemampuan mereka,” pungkasnya.





