Usai Rapat dengan Pihak Google, Meutya Hafid: Kita Tak Ingin Jauhkan Anak dari Teknologi tapi Platform Digital Jadi Pelindung Generasi Muda

JAKARTA – BELA RAKYAT –  Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem digital yang aman bagi anak tanpa menghambat akses terhadap teknologi dan inovasi. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa Indonesia memilih pendekatan berbasis risiko (risk-based approach), yakni mendorong platform digital untuk menghadirkan sistem perlindungan anak sejak layanan dirancang.

Pernyataan tersebut disampaikan Meutya Hafid saat menerima Vice President Government Affairs and Public Policy Google, Markham Erickson. Pertemuan itu membahas penguatan kemitraan strategis antara Pemerintah Indonesia dengan Google dan YouTube, termasuk upaya bersama menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak-anak.

Bacaan Lainnya

Sebagaimana dikutip dari unggahan Instagram pribadi Meutya Hafid, pemerintah ingin memastikan bahwa perkembangan teknologi berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap generasi muda.

Indonesia Ingin Jadi Contoh Regulasi Perlindungan Anak

Dalam kesempatan itu, Meutya Hafid menegaskan bahwa Indonesia memiliki visi menjadi salah satu negara yang dapat menjadi rujukan dunia dalam penyusunan regulasi perlindungan anak di ruang digital.

Menurutnya, pendekatan Indonesia berbeda dengan sejumlah negara lain yang menerapkan pembatasan secara menyeluruh terhadap akses anak ke platform digital.

“Indonesia ingin menjadi salah satu negara yang dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam hal regulasi untuk melindungi anak-anak. Kami merasa pendekatan Indonesia cukup berbeda dengan yang diterapkan Australia. Di Australia diberlakukan larangan yang lebih menyeluruh, sementara Indonesia ingin tetap terbuka terhadap inovasi dan perubahan paradigma dari platform digital,” ujar Meutya.

Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak hanya ditujukan kepada Google maupun YouTube, tetapi juga seluruh platform digital agar semakin bertanggung jawab dalam menghadirkan layanan yang aman bagi anak.

“Kami ingin seluruh platform menjadi lebih protektif terhadap anak-anak.”

Teknologi Harus Belajar Melindungi Anak

Meutya menegaskan, Indonesia tidak ingin anak-anak dijauhkan dari perkembangan teknologi. Sebaliknya, pemerintah ingin teknologi berkembang dengan kemampuan untuk melindungi penggunanya, khususnya anak-anak.

Pendekatan berbasis risiko yang diterapkan pemerintah berarti platform digital diharapkan mampu mengidentifikasi potensi bahaya sejak tahap desain layanan. Dengan demikian, berbagai risiko seperti paparan konten negatif, eksploitasi digital, hingga ancaman keamanan daring dapat diminimalkan melalui fitur perlindungan yang lebih kuat.

Kebijakan tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan ruang digital Indonesia tetap terbuka terhadap inovasi, namun memiliki standar perlindungan yang tinggi bagi masyarakat, terutama anak-anak.

“Indonesia tidak ingin anak-anak dijauhkan dari teknologi. Indonesia ingin teknologi yang belajar melindungi anak,” demikian pesan yang disampaikan Meutya dalam unggahan media sosialnya.

Google Apresiasi Kemitraan dengan Indonesia

Sementara itu, Vice President Government Affairs and Public Policy Google, Markham Erickson, menyampaikan apresiasi atas hubungan panjang yang telah terjalin antara Google dengan Indonesia sejak tahun 2012.

Ia menyebut Indonesia merupakan salah satu mitra strategis Google, baik dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital maupun pengembangan ekosistem kreator konten, UMKM, dan masyarakat luas.

“Google dan YouTube telah hadir di Indonesia sejak tahun 2012. Kami sangat bangga dengan kemitraan yang telah terjalin bersama Pemerintah Indonesia, para kreator YouTube di Indonesia, pelaku UMKM, dan masyarakat Indonesia. Kami berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia terus didorong oleh platform yang kami sediakan. Ini merupakan sebuah kemitraan yang sangat baik,” ujar Erickson.

Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting dalam memperkuat transformasi digital nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Indonesia.

Ribuan Komunitas Orang Tua Telah Dilatih

Selain membahas regulasi perlindungan anak, Google juga memaparkan berbagai program literasi digital yang telah dijalankan bersama Kementerian Komunikasi dan Digital.

Melalui kerja sama dengan BPSDM Komdigi dan ICT Watch, Google telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 1.100 komunitas orang tua di Surabaya, Cirebon, Sukabumi, dan Manado selama periode Juni hingga Juli.

Program tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua mengenai keamanan digital, pendampingan anak dalam menggunakan internet, serta pemanfaatan teknologi secara sehat dan produktif.

Google juga menyatakan komitmennya untuk memperluas cakupan program tersebut dalam beberapa bulan mendatang melalui kerja sama lanjutan dengan BPSDM Komdigi.

Bangun Ruang Digital yang Aman dan Inovatif

Pemerintah menilai perlindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya melalui regulasi. Kolaborasi antara pemerintah, platform digital, komunitas, orang tua, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat.

Karena itu, Indonesia terus mendorong perusahaan teknologi untuk menghadirkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga mengedepankan keselamatan pengguna, khususnya anak-anak.

Bagi pemerintah, kemajuan teknologi tidak semata diukur dari kecanggihan kecerdasan buatan, kecepatan layanan, ataupun besarnya jumlah pengguna. Lebih dari itu, kemajuan teknologi harus tercermin dari kemampuannya menjaga generasi muda agar dapat tumbuh, belajar, dan berkreasi secara aman di ruang digital.

Dengan pendekatan tersebut, Indonesia berharap mampu menjadi salah satu negara yang menjadi rujukan global dalam membangun tata kelola ruang digital yang inovatif, inklusif, sekaligus memberikan perlindungan optimal bagi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *