LOADING

Type to search

Salah Kaprah Terhadap Kesederhanaan

Share

Sering muncul kesalahpahaman dalam memaknai kata “sederhana”, idividu tertentu secara ceroboh sering mengaitkan kesederhanaan dengan kemiskinan, seolah kesederhanaan merupakan saudara kandung dari kemiskinan, tentunya pemahaman seperti ini sangat tidak produktif, di sisi lain hal ini juga merupakan kekeliruan yang mesti dikoreksi, persepsi seperti ini justru berpeluang membawa konsekuensi negatif , persepsi negatif yang dimaksudkan adalah munculnya keengganan bahkan “ketakutan” bagi individu untuk menjadi pribadi sederhana, takut miskin, tak punya harta dan akhirnya menjadi manusia melarat. Kesederhanaan pada hakikatnya tidak berbicara tentang banyak atau sedikitnya harta akan tetapi ia lebih pada tingkat kepemilikan harta secara proporsional, proporsional yang dimaksudkan adalah “tidak berlebihan” namun “tidak pula kekurangan”, poin lainnya adalah bahwa harta tersebut mesti lebih banyak digunakan demi kemaslahatan umat, bukan sekedar memuaskan nafsu pribadi.

Ramadhan merupakan momen terbaik untuk mengasah kesederhanaan, keharusan mempuasakan diri dari ajakan nafsu yang sangat diharuskan selama berpuasa, merupakan pondasi dasar terbentuknya pola hidup sederhana, menahan diri dari nafsu konsumerisme yang kadang makin ganas selama Ramadhan akibat operasi vulgar kapitalisme di tempat perbelanjaan baik ruang nyata maupun maya. Dibutuhkan komitmen kuat untuk mengaplikasikan makna kesederhanaan dalam kehidupan sehari – hari, aplikasi makna kesederhanaan tidak bisa hanya diaplikasikan dalam skala mikro tapi juga wajib dibumikan dalam skala makro termasuk negara. Urgensi aplikasi makna kesederhanaan dalam realitas keseharian terasa semakin urgen dalam dunia yang dikuasai nalar kuasa konsumeristik dimana pencapaian tertinggi terhadap instrumen materi sering dijadikan label untuk menentukan strata sosial seseorang.

Lalu apa instrumen tepat untuk memastikan bahwa hidup kita masih berada dalam koridor kesederhanaan atau telah melampauinya? Dalam persepsi awam penulis indikator tersebut sangat ditentukan oleh motivasi seseorang dalam kepemilikan harta, yakni apakah motivasi kepemilikannya terhadap harta dilatarbelakangi oleh faktor kebutuhan atau lebih karena hasrat? Jika karena hasrat maka itu berarti yang bersangkutan telah melaju di luar rel kesederhanaan namun apabila kebutuhan yang menjadi motif awal kepemilikannya terhadap harta maka individu tersebut masih berpeluang untuk menjadi pribadi yang sederhana. Kebutuhan pada dasarnya selalu memiliki relasi dengan manusia lain, maksudnya bahwa jika tindakan kita dimotifasi oleh faktor kebutuhan maka kita juga minimal akan berhitung apakan tindakan tersebut tidak merugikan orang lain? Akan tetapi apabilan aksi yang kita lakukan dilatarbelakangi oleh hasrat maka kita tidak akan punya waktu untuk memikirkan konsekuensi negatif dari tindakan kita terhadap orang lain.

Kesederhanaan pada dasarnya lebih merupakan sebuah cara hidup yang semestinya memayungi segala aspek kehidupan manusia, kesederhanaan mesti ditransformasikan dalam bentuk karakter baik pada skala mikro (keluarga) terlebih dalam skala makro (negara), dalam lingkup keluarga maka model transformasi kesederhanaan adalah dengan munculnya teladan kesederhanaan dari orang tua terhadap anak, selain teladan maka perlu pula menanamkan nilai kesederhanaan terhadap anak, harapannya agar kelak anak tersebut mampu tumbuh besar dalam nuansa kesederhanaan, benar bahwa lingkungan eksternal tetap membawa pengaruh dalam proses kehidupannya menuju kedewasaan akan tetapi penanaman nilai kesederhanaan sejak dini akan menjadi tameng dari pengaruh hidup yang serba berlebihan.

Adapun dalam skala negara maka pola hidup sederhana seharusnya dicontohkan oleh para pemimpin negeri, pemimpin merupakan cerminan bagi rakyat,setiap prilakunya selalu terbuka untuk dicontoh oleh rakya, akan sia–sia seorang pemimpin selalu menghimbau rakyatnya agar hidup sederhana sementara ia sendiri jauh dari prilaku tersebut, justru ia hanya akan dihadiahi sifat antipati. Hidup sederhana bukan berarti harus hidup miskin sebab substansi kesederhanaan adalah pola hidup yang tidak berlebih–lebihan serta menyisakan ruang bagi orang lain dalam kehidupannya, jadi tidak perlu takut untuk menjadi pribadi sederhana.

Zaenal Abidin Riam
Wasekjend DPN ISQI (Ikatan Sarjana Al-Qur’an Indonesia)

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *