Transformasi Petugas Haji (PPIH 1447H/2026M)

Oleh : Rio Chandra Kesuma (Petugas Haji/PPIH 1447H/2026M Daker Bandara)

“Pam…Pam…Pam…” – “Pam…Pam…Pam…” – Mungkin inilah sepenggal lirik dari beberapa yel-yel, mars ataupun lagu heroik penyemangat para petugas haji/PPIH angkatan pertama ketika menjalani diklat di asrama haji pondok gede beberapa waktu yang lalu. Lebih kurang 3 (tiga) minggu secara offline dan 2 (dua) minggu secara daring/online pendidikan dan pelatihan bagi para petugas haji dilakukan secara serius, disiplin dan tidak main – main.

Bukan hanya pemahaman kompetensi (based on practice and experience) dan keahlian/skill pelayanan di lapangan yang dilakukan, namun lebih dalam dari itu, ialah indoktrinasi akan nilai (value) serta semangat melayani para jemaah haji di tanah suci, tanpa pamrih, melayani setulus hati, totalitas (tanpa sekat dan batas), serta menanggalkan ego/gengsi personal/individual di dalamnya. Inilah salah satu hal yang cukup sensitif diterima oleh para petugas haji Indonesia (PPIH) ketika menjalani pendidikan dan pelatihan lebih kurang 1 (satu) bulan lamanya.

Kini tak terasa, apa yang ‘telah’ dan ‘sudah’ didapat sebagai bekal dan tabungan dari diklat yang sudah dilaksanakan berada pada tahap realisasi/pelaksanaan, dimana hingga saat ini lebih kurang telah 1 (satu) bulan lamanya para petugas haji Indonesia (PPIH) telah berada di tanah suci, baik di kota madinah al munawwarah, maupun di kota mekkah al mukarramah serta di kota jeddah, untuk melaksanakan pengabdian dan pelayanan kepada para tamu allah yang ‘sedang’ dan ‘akan’ menjalani ibadah haji 1447H/2026M.

HAKIKAT PETUGAS HAJI

Banyak cerita di dalamnya, banyak juga dinamika serta pergolakan batin dan spiritual yang masing – masing dialami oleh para Petugas Haji. Sebab, ladang pengabdian melayani jemaah haji yang dilakukan oleh para petugas haji juga memiliki tantangan, pertemuan dan pengalaman spiritual masing – masing, sama hal-nya dengan ibadah haji yang dilakukan oleh para jemaah haji pada umumnya, namun dalam porsi dan posisi yang berbeda.

Petugas haji bukan sekedar ‘person in charge’ yang menerima mandat/tugas untuk memberikan pelayanan kepada para jemaah haji, tetapi lebih daripada itu petugas haji memiliki amanat dan mandat yang besar, baik itu mandat konstitusional dari negara, amanat dari para jemaah haji Indonesia, serta ‘titah’ dari yang maha kuasa, guna membantu segala bentuk hiruk pikuk operasionalisasi pelaksanaan haji dari awal, puncak, hingga akhir (usai/selesai).

Karenanya mandat yang ada di benak petugas haji, bukan hanya sekedar melaksanakan tugas pelayanan (an sinch), tapi melakukan semua hal yang dapat membantu mensukseskan pelaksanaan ibadah haji, seperti halnya visi tri sukses haji, yakni sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi haji dan suskes peradaban dan keadaban.

Pada hakikatnya, seorang petugas haji tidak hanya dituntut cakap/ahli di bidang sesuai tusi (tugas dan fungsinya), namun harus dapat menyesuaikan dan melakukan segala pekerjaan terkait dengan pelayanan jemaah haji ketika berada di tanah suci, lebih dari multitasking/’sapu jagad’ namun tetap harus profesional/kompeten sesuai bidang keahlian-nya.

Karenanya, seorang petugas haji yang telah dibagi sesuai dengan tugas fungsi masing – masing, dan di wilayah daerah kerja sendiri – sendiri, namun dalam praktiknya harus dapat menyelaraskan dengan semua dinamika dan tantangan di lapangan. Sebab, bagaimanapun medan operasionalisasi ibadah haji, baik itu di kota mekah, madinah atau pada fase puncak ibadah haji ‘armuzna’ semuanya memiliki fleksibilitas dan dinamika yang tidak statis, unpredictable dan selalu berubah dalam kalkulasi waktu setiap detik-nya. Karena itu hanya mitigasi dan excellences planning (perencanaan yang tepat dan mitigasi yang matang) yang dapat menjadi pedoman/pegangan, utamanya bagi para petugas haji.

Tentu, ada banyak jalan menjadi petugas haji, namun dari mana semua itu asal usulnya, yang pasti semua yang hari ini menjadi petugas haji memang telah mendapat ‘panggilan terjawab’ dari yang maha kuasa, untuk me-dharmabaktikan segenap tenaga, pikiran, dan waktu dalam operasionalisasi pelaksanaan haji 1447H/2026M.

ASPEK PERSONAL/INDIVIDUAL

Sebagai seorang yang pertama kali mendapat kesempatan, menjadi petugas haji, tentu ini bukan hanya pengalaman yang biasa – biasa saja, lebih dari luar biasa, sangat memorable. Dimana dalam keseharian bekerja bersama rekan – rekan yang cakap/kompeten, selalu ingin memberikan pelayanan terbaik kepada para jemaah, total dalam memberikan pelayanan, serta tanpa pernah ‘berhitung’ dalam konteks memberikan pelayanan optimal kepada jemaah.

Sebagai seorang profesional di Jakarta, kerja keras tanpa mengenal waktu, kerja cerdas guna mengkapitalisasi pikiran dan pemikiran untuk mendapatkan profit tertentu, sudah merupakan santapan yang lahap di makan setiap hari. Tidak tidur berhari – hari itu hal biasa, lelah dan capek-nya kerja dibumbui sumpeknya jalanan ibukota juga suatu yang biasa, menghadapi polemik/masalah lantas menyelesaikannya juga menjadi ‘sarapan pagi’ tiap harinya.

Namun, melaksanakan tugas sebagai seorang petugas haji itu sangat luar biasa, tidak dapat diekspresikan dengan ‘kata – kata’, mungkin hanya dapat dirasakan ketika secara langsung menjalani-nya. Ada lelah dan letih yang berbeda, ada tetes keringat yang sangat bahagia ketika diseka, dan ada ‘bau’ badan yang begitu nikmat dirasa ketika selesai menjalani tugas harian melayani para ‘tamu allah’ di tanah suci. Dan semua itu betul – betul secara otentik dirasakan ketika memiliki pengalaman menjadi seorang petugas haji.

Tanpa memandang asal usul instansi, tanpa melihat warna dan ukuran ‘baju’, menihilkan perbedaan serta menanggalkan gengsi/posisi struktural, semua petugas haji berjibaku secara gotong royong dalam memastikan pelayanan jemaah haji yang profesional, optimal dan presisi.

Di depan mata saya melihat seorang yang sudah cukup ‘sepu’ dan terpandang di kalangan komunitas-nya harus berjibaku menuntun jemaah lansia, ada juga yang harus mengangkat ‘koper’ kabin jemaah ke dalam bagasi ‘bus’ dalam jumlah yang tidak sedikit, ratusan bahkan ribuan koper jemaah yang setiap hari harus dipastikan aman, baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Begitu juga perhitungan jemaah yang harus detail, tepat dan presisi, tidak boleh selisih, yang dimandatkan kepada seorang ‘checker bus’ jemaah sebelum beranjak dari bandara, baik menuju hotel di kota mekaah ataupun madinah. Kesemua itu terasa sangat seru, dan penuh haru serta pastinya akan menjadi cerita yang tidak akan pernah bosan diulang kemudian hari.

Ada juga rekan sebaya/seusia, satu kampung dengan saya, yang secara level kompetensi dan gengsi personal bukan orang ‘awam’, bahkan kami di kalangan profesional di Jakarta memanggilnya ‘suhu’, sebab ia merupakan seorang lulusan Ph.D termuda dari Melborune, memiliki pencapaian karier cukup moncer tidak hanya di dalam negeri, namun seringkali menjadi dosen tamu di berbagai negara tetangga. Jikalau memenuhi undangan seminar, dari sejak ia keluar rumah sampai tiba di tempat lokasi undangan, semua ‘serba ada dan tersedia’, koper, tas, bahkan sepatu pun sudah ada yang menyiapkan dan membawakan-nya.

Namun, dalam kesempatan emas sebagai petugas haji ini kali ini, ia yang bertugas di tempat strategis sebagai epicentrum ibadah jemaah, harus terjaga/standby di tengah malam, bertugas, dan masuk ke dalam lorong – gorong bagasi bus untuk menyusun serta mengangkut koper kabin jemaah, bahkan ada beberapa waktu ia juga harus bergotong royong dengan rekan sejawat untuk mengangkut koper kargo/bagasi jemaah. Apa kesan/pesan dan point nya ?

Dalam sambungan telpon, kami sambil tertawa lepas bercerita dan merasakan haru serta kebahagiaan yang sama, tidak ada sedikitpun sesal ataupun menggerutu dalam menjalani kesemua aktivitas pelayanan kepada jemaah dimaksud. Bahkan justru kami tetap merasa ‘haus’ dan ‘kekurangan’ dalam memberikan pelayanan yang lebih maksimal dan optimal. Ditengah akurasi stamina dan energi yang tetap harus dijaga dan terjaga, pada posisi ini tentu setiap petugas haji juga dituntut untuk proporsional, mawas terhadap kesehatan diri sendiri, agar tidak memaksakan yang pada akhirnya akan merugikan diri sendiri.

Pada bagian ini dapat saya simpulkan, bahwa kebahagian/kepuasan batin yang didapat dari perjalanan dan pengalaman spiritual sebagai petugas haji, tidaklah dapat diukur dengan materi/profit material semata, sebab ada kebahagiaan spiritualism/immateriil di dalamnya, yang tidak terhitung nilainya (uncountable). Dan inilah yang digambarkan oleh Soepomo, arsitektur konstitusi/UUD 1945 dalam ‘het adatrecht van west java’ (1933), ketika mengilustrasikan struktur nilai yang berantinomi sebagai sumber kebahagiaan, tujuan dan ruang pengabdian hidup dalam struktur sosial masyarakat Indonesia, dimana ada nilai materialism dan nilai spiritualism yang saling berantinomi. Dan sebagai seorang petugas haji maka spiritualism value akan lebih dominan dan menjadi refleksi dari tuntas atau tidaknya pengabdian dan pelayanan yang dijalankan oleh seorang petugas haji. Dan ini tentu juga jadi salah satu indikator transformasi petugas haji Indonesia 1447H/2026M.

Point lain dalam hal ini juga tentu seorang petugas haji yang dalam rutinitasnya memberikan pelayanan kepada jemaah dalam semua dimensi, tidaklah memandang gengsi, pencapaian karier (pribadi), pangkat/jabatan struktural/non-struktural, level stratifikasi sosial, dan hal – hal yang berbau ‘gengsi dan pencapaian pribadi’. Tentu dalam memberikan pelayanan kepada semua jemaah haji, seorang petugas haji dituntut tidak lagi tersekat dalam mindset ‘ego’ dan ‘gengsi’ personal, namun harus melepaskan semua untuk menyatu dalam kerja superteam sebagai petugas haji.

DINAMIKA : ORIENTASI PELAYANAN

Dibalik cerita yang apik dan heroik di atas, tetap ada catatan sebagai dinamika intern di kalangan petugas haji. Masih ada yang belum dapat menyatu secara utuh dalam sebuah komposisi tim, masih bekerja sendiri, masih ada yang ‘sungkan’ untuk melebur dengan rekan/sahabat sesama petugas haji, ada juga yang masih terkesan ‘makan tulang/mantul’ (dalam bahasa mentor diklat PPIH) atau dalam bahasa kampung saya ‘sayang tulang’, pilah pilih dalam bekerja, mudah tersinggung/baperan ketika ada rekan lain yang hanya sekedar jokes/candaan, ada juga yang masih terbawa perasaan untuk ‘one man show’ atau sekedar ‘gimmick’ ketika ada pimpinan/atasan yang datang untuk melakukan monitoring/pengawasan.

Dari sekelumit dinamika dimaksud, yang jelas tetap orientasi pelayanan yang harus dikedepankan. Dalam banyak cakap dan cerita sesama teman petugas haji, saya selalu sharing ditengah keawaman, ditengah masih perlu banyak belajar wawasan dan pengetahuan tentang ilmu agama, untuk tetap fokus kepada kerja dan kinerja masing – masing sesuai tusi dan kompetensi, tanpa perlu terlalu banyak cerita serta terbawa arus dinamika intern dimaksud.

Sebab, panggilan sebagai petugas haji sebagaimana diungkapkan dimuka bukan sekedar ‘titah’ panggilan bertugas melayani jemaah, sebatas melayani, tugas tuntas maka selesai. Namun lebih daripada itu, ada ruang pengabdian/pelayanan tamu allah dengan pertemuan spiritual masing – masing yang akan dialami oleh petugas haji.

Sebagai petugas haji, bukan profit/keuntungan yang dijadikan basis/orientasi pelayanan, namun ada berkah, ridho, dan pahala amal jariyah yang tidak terhitung nilainya ketika ruang pengabdian dalam bentuk pelayanan tersebut secara ikhlas dan optimal telah dilaksanakan. Mungkin di ruang kerja masing – masing, begitupun dengan saya sebagai seorang konsultan perusahaan asing di Jakarta, akan berhitung dengan waktu ketika berhadapan dengan klien (asing), sebab dalam hitungan detik, menit dan jam, maupun dalam setiap lembar legal advice/opinion yang saya release akan dikonversi dengan profit dalam kurs/mata uang asing. Namun dalam porsi dan posisi petugas haji, jelaslah bahwa uang/profit/keuntungan materiil bukanlah yang didahulukan untuk dicari/didapat.

Begitupun dengan basis pelayanan, yang tidak untuk ‘cari muka’ ketika ada level pimpinan yang datang untuk melihat pelayanan yang dilakukan, ada tim pengawas yang melakukan observasi ataupun pejabat K/L tekhnis terkait yang sedang monitoring, maka seorang petugas tidak dituntut untuk ‘overactive’ dan ‘overacting’ guna mencari sensasi dan pengakuan pencapaian diri sendiri. Di lingkup ruang kerja mungkin tetap sah – sah saja ketika saya (pribadi) pun seringkali ingin setor/cari muka ketika ada atasan/pimpinan dalam satu waktu tertentu, namun seyogyanya tidaklah demikian ketika dalam posisi pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai seorang petugas haji.

Sebab, dalam hal ini basis pelayanan yang dilakukan dalam memberikan pelayanan kepada para tamu allah, ialah basis pelayanan yang pada hakikatnya mencari muka dan perhatian dari yang maha kuasa, karenanya ada/tidak ada pejabat/pimpinan yang datang, tetap bertugas seperti biasa (pada umumnya), secara maksimal dan optimal, karena CCTV dari yang maha kuasa selalu melihat, melakukan observasi, pengamatan di setiap waktu-nya (tanpa henti).

Inilah role model basis pelayanan para petugas yang memang seharunsya dijalankan sebagai akar dari transformasi petugas haji yang saat ini telah dijalankan. Pada prinsipnya, transformasi petugas haji merupakan hilirisasi dari reformasi tata kelola perhajian yang saat ini sedang dijalankan. Dan transformasi petugas haji telah dimulai dari persiapan dan perencanaan yang matang sejak pembekalan melalui diklat yang dilakukan secara serius kepada semua petugas haji, bukan sekedar bimbingan tekhnis biasa (dalam waktu singkat), namun benar – benar pendidikan dan pelatihan yang cukup komprehesif dan holistik.

Transformasi petugas haji diharapkan dapat menjadi salah satu barometer suksesnya penyelenggaran ibadah haji di tiap tahunnya, khususnya dalam penyelenggaran ibadah haji tahun ini 1447H/2026M, sebab petugas haji yang mendapat mandat memang benar – benar petugas yang diharapkan dapat melayani jemaah setulus hati, dengan segenap jiwa, raga dan energi men-dharmabaktikan diri untuk terlaksana-nya ibadah haji yang sukses, aman, nyaman serta sesuai dengan visi dan target yang telah dicanangkan.

PENUTUP

Dibalik semua catatan, cerita dan ruang tulisan diatas, tetap ada menyimpan cerita duka di dalam ruang tim daerah kerja bandara regu kami, dimana ada salah satu rekan/sahabat kami yang wafat setelah bertugas, Alm. Syahroni (Petugas PPIH Sektor 1 Regu C Daker Bandara), karenanya tulisan ini juga secara tidak langsung didedikasikan kepada almarhum yang telah ikut berjuang dan membersamai kami dalam pengabdian dan pelayanan melayani jemaah haji Indonesia 1447H/2026M, semoga kiranya berkenan memberikan doa secara khusus untuk almarhum agar khusnul khotimah serta ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi-NYA, juga secara umum mendoakan agar pelaksanaan haji 1447H/2026M serta kepada semua jemaah haji Indonesia agar diberikan kekuatan, kelancaran serta kesuksesan, Al – Fatihah.

Penulis ialah Legal Consultant Multinasional Corporation di Jakarta, Peneliti pada CDCS/LIPI, Off Council pada British Corporate Consultant di UK & Singapore, Kandidat Doktoral – Ketua IMMH Univ. Indonesia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *