Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI/ F-PKS/ Kalimantan Selatan I
Hidup tidak pernah lepas dari ujian. Setiap manusia, tanpa memandang status, kekayaan, jabatan, usia, maupun tingkat keimanan, pasti akan menghadapi berbagai cobaan. Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kekayaan. Ada yang diuji dengan sakit, kehilangan orang yang dicintai, fitnah, kegagalan usaha, sulit mendapatkan pekerjaan, persoalan rumah tangga, hingga tekanan hidup yang datang silih berganti.
Bagi seorang mukmin, ujian bukanlah tanda kebencian Allah. Justru sering kali ujian merupakan bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya agar ia naik derajat, dihapuskan dosa-dosanya, diperbaiki akhlaknya, serta didekatkan kepada Rabb semesta alam.
Islam mengajarkan bahwa sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan menjaga hati, lisan, dan perbuatan agar tetap berada dalam ketaatan kepada Allah ketika menghadapi segala keadaan.
Allah Pasti Menguji Orang Beriman
Allah SWT berfirman:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka belum diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)
Ayat ini menjelaskan bahwa iman bukan sekadar pengakuan di lisan. Keimanan harus dibuktikan melalui kesabaran menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Allah juga berfirman:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Selanjutnya Allah menjelaskan ciri orang sabar: “Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.'” (QS. Al-Baqarah: 156)
Ayat ini mengajarkan, semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Ketika Allah mengambilnya kembali, seorang mukmin tetap ridha terhadap ketetapan-Nya.
Ujian Merupakan Bentuk Kasih Sayang Allah
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka Allah akan memberinya ujian.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi penghibur bagi setiap orang yang sedang menghadapi kesulitan. Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah membersihkan dirinya melalui ujian.
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia menguji mereka. Siapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah, dan siapa yang marah maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi)
Semakin besar ujian, semakin besar peluang memperoleh pahala apabila dihadapi dengan kesabaran dan keikhlasan.
Para Nabi Adalah Orang yang Paling Berat Ujiannya
Jika ujian merupakan tanda kebencian Allah, tentu para nabi tidak akan mengalaminya. Faktanya, justru para nabi adalah manusia yang paling berat ujiannya.
Rasulullah SAW bersabda: “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian yang semisal mereka.” (HR. Tirmidzi)
Nabi Ayyub AS
Nabi Ayyub kehilangan harta, keluarga, serta menderita penyakit bertahun-tahun. Namun beliau tidak pernah berhenti bersyukur.
Beliau berdoa:
“Ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83)
Karena kesabarannya, Allah mengangkat penyakitnya dan mengembalikan seluruh nikmat yang pernah hilang.
Nabi Yusuf AS
Beliau dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, difitnah, lalu dipenjara bertahun-tahun. Namun beliau tetap menjaga iman dan akhlaknya. Pada akhirnya Allah mengangkat derajatnya menjadi pemimpin di Mesir.
Kisah Nabi Yusuf mengajarkan bahwa kesabaran hari ini dapat menjadi jalan menuju kemuliaan di masa depan.
Nabi Ibrahim AS
Beliau dibakar hidup-hidup oleh kaumnya, diperintahkan meninggalkan istri dan anak di padang pasir, bahkan diuji dengan perintah menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Semua dijalani dengan penuh kepatuhan sehingga Allah menjadikannya sebagai imam bagi seluruh manusia.
Nabi Muhammad SAW
Rasulullah SAW mengalami penghinaan, pemboikotan, pengusiran dari Makkah, kehilangan istri tercinta, kehilangan anak-anaknya, perang yang berat, hingga berbagai fitnah. Namun beliau tetap bersabar dan terus berdakwah dengan kasih sayang.
Hakikat Sabar dalam Islam
Para ulama membagi sabar menjadi tiga:
1. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.
2. Sabar meninggalkan maksiat.
3. Sabar menghadapi musibah.
Ketiga bentuk sabar ini saling melengkapi dalam kehidupan seorang muslim. Tinggal bagimana ketiganya dijadikan rujukan dalam kehidupan sehari-hari.
Hikmah Besar di Balik Ujian
Di balik setiap ujian terdapat hikmah yang mungkin tidak langsung terlihat.
Pertama, menghapus dosa.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya kecuali Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua, meningkatkan derajat.
Allah sering mengangkat kedudukan seorang hamba melalui kesabaran yang tidak mungkin diraih hanya dengan amal biasa.
Ketiga, mendekatkan diri kepada Allah.
Sering kali seseorang baru benar-benar khusyuk berdoa ketika sedang berada dalam kesulitan.
Keempat, melatih keikhlasan dan tawakal.
Ujian mengajarkan bahwa pertolongan sejati hanya berasal dari Allah. Selain itu bukanlah pertolongan sejati, biasanya ada maksud dan tujuan. Kecuali orang-orang ikhlas mengejar derajat tinggi di sisi Allah SWT.
Sabar di Tengah Tantangan Zaman Modern
Di era digital, bentuk ujian semakin beragam.
Sebagian orang diuji dengan tekanan ekonomi, tingginya biaya hidup, persaingan pekerjaan, serta ketidakpastian masa depan.
Sebagian lainnya diuji melalui media sosial. Fitnah, hujatan, komentar negatif, perundungan daring, dan penyebaran informasi yang tidak benar dapat menjadi ujian yang sangat berat.
Ada pula yang diuji dengan kecanduan gawai, rusaknya hubungan keluarga karena kurangnya komunikasi, hingga meningkatnya gangguan kesehatan mental akibat tekanan hidup.
Dalam situasi seperti ini, seorang muslim perlu memperkuat hubungan dengan Allah melalui salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, berzikir, memperbanyak doa, menjaga silaturahmi, dan mencari lingkungan yang saleh.
Jangan Berputus Asa
Allah berfirman:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Tidak ada masalah yang berlangsung selamanya. Setelah kesulitan pasti ada kemudahan.
Allah menegaskan:
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Pengulangan ayat tersebut menunjukkan bahwa setiap kesulitan selalu diiringi lebih dari satu jalan kemudahan.
Cara Menumbuhkan Kesabaran
Beberapa amalan yang dapat memperkuat kesabaran antara lain:
1. Menjaga salat lima waktu.
2. Memperbanyak membaca Al-Qur’an.
3. Berdoa pada sepertiga malam.
4. Memperbanyak istigfar.
5. Bersedekah.
6. Berteman dengan orang-orang saleh.
7. Mengingat nikmat Allah yang masih dimiliki.
8. Meyakini bahwa setiap takdir Allah mengandung hikmah.
Penutup
Kesabaran bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan iman. Orang yang sabar bukan berarti tidak menangis atau tidak bersedih, tetapi ia tetap menjaga kepercayaannya kepada Allah di tengah badai kehidupan.
Setiap ujian adalah kesempatan untuk mendekat kepada Allah, memperbaiki diri, dan meraih derajat yang lebih tinggi di sisi-Nya. Sebagaimana emas dimurnikan melalui api, demikian pula hati seorang mukmin dimurnikan melalui berbagai cobaan.
Marilah kita menjadikan setiap ujian sebagai jalan menuju ketakwaan. Jangan mengukur kasih sayang Allah dari banyaknya kenikmatan yang kita terima, tetapi ukurlah dari seberapa dekat kita kepada-Nya. Sebab, orang yang paling dicintai Allah bukanlah yang hidup tanpa ujian, melainkan mereka yang tetap beriman, bersabar, dan bersyukur ketika ujian datang.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk golongan hamba-hamba yang sabar, diberi kekuatan menghadapi setiap cobaan, serta memperoleh rahmat, ampunan, dan surga-Nya. Aamiin.






