Robert Kardinal Dorong Papua Jadi Sentra Tuna Nasional Lewat Kampung Nelayan Merah Putih

JAKARTA –  Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Robert J. Kardinal menilai program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dapat menjadi langkah strategis untuk menghidupkan kembali kejayaan industri perikanan di Tanah Papua, khususnya sektor tuna yang selama ini dikenal memiliki potensi besar di kawasan timur Indonesia.

Menurut Robert, terdapat tiga wilayah utama di Papua yang dinilai layak menjadi prioritas pembangunan KNMP karena memiliki sumber daya ikan melimpah sekaligus posisi strategis sebagai wilayah terluar Indonesia. Ketiga kawasan tersebut meliputi Distrik Kepulauan Ayau di Kabupaten Raja Ampat, Kepulauan Auri di Kabupaten Teluk Wondama, serta wilayah perairan Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Supiori.

Bacaan Lainnya

Ia menjelaskan, kawasan tersebut selama ini dikenal sebagai sentra tuna sirip kuning atau yellowfin tuna dengan hasil tangkapan yang besar, namun belum mendapat perhatian maksimal dalam pengembangan industri perikanan nasional.

“Papua memiliki kekuatan besar di sektor kelautan. Jika dikelola serius melalui program Kampung Nelayan Merah Putih, maka wilayah ini bisa kembali menjadi pusat industri tuna nasional,” ujar Robert dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Politisi dari daerah pemilihan Papua itu juga menekankan pentingnya kehadiran negara di pulau-pulau terluar melalui pembangunan kampung nelayan modern berbasis masyarakat. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, program tersebut dinilai dapat memperkuat ketahanan wilayah perbatasan Indonesia.

Ia menyebut masyarakat di kawasan pesisir Papua selama ini sangat bergantung pada hasil laut seperti tuna, cakalang, kerapu, rumput laut, hingga teripang. Karena itu, pembangunan KNMP di wilayah tersebut dinilai akan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan.

Robert juga mengingatkan bahwa Papua pernah mengalami masa kejayaan industri perikanan melalui sejumlah perusahaan besar seperti PT Biak Mina Jaya, PT Usaha Mina, hingga PT West Irian Fisheries (WIF). Pada masa itu, industri pengolahan ikan di Papua mampu menyerap ribuan tenaga kerja dan mengekspor hasil laut langsung ke pasar internasional, termasuk Jepang.

Bagi Robert, sejarah tersebut membuktikan bahwa Papua memiliki kapasitas besar untuk kembali menjadi salah satu kekuatan utama industri perikanan Indonesia apabila didukung kebijakan pemerintah yang tepat.

Ia pun mendorong adanya sinergi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama BUMN untuk menghidupkan kembali fasilitas-fasilitas perikanan yang pernah berjaya di Papua sebagai pusat pengumpulan dan ekspor hasil tangkapan nelayan.

Lebih lanjut, Robert turut mendukung target pemerintah membangun lebih dari 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih pada 2026. Namun demikian, ia menyoroti bahwa hingga saat ini belum ada satu pun lokasi pembangunan KNMP yang menyentuh wilayah Papua.

Karena itu, ia berharap Raja Ampat, Teluk Wondama, serta Biak Numfor-Supiori dapat segera masuk dalam prioritas pembangunan program tersebut agar Papua kembali bangkit sebagai lumbung tuna terbesar di kawasan timur Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *