Kebangkitan Nasional: Saatnya Bangsa Berbenah

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin

Adakah bangsa runtuh hanya karena kekurangan sumber daya?. Ataukah sesungguhnya banyak bangsa melemah bukan karena miskin kekayaan, tetapi karena kehilangan kejujuran, persatuan, dan arah moral?

Pertanyaan ini layak direnungkan pada setiap momentum 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional. Sebab kebangkitan sejati bukan sekadar perubahan politik, pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi. Kebangkitan adalah perubahan cara berpikir, cara memandang amanah, dan keberanian memperbaiki diri dari dalam.

Hari ini kita hidup di zaman yang tampak maju, tetapi menyimpan kegelisahan yang tidak sederhana. Informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan sering menipis. Pendidikan meningkat, tetapi kadang akhlak tertinggal. Gedung-gedung menjulang, tetapi sebagian nurani justru runtuh oleh egoisme, korupsi, perpecahan, dan lunturnya rasa tanggung jawab sosial. Padahal sejarah mengajarkan bahwa kebangkitan bangsa tidak pernah lahir dari kemarahan semata, tetapi dari kesadaran kolektif. Allah SWT berfirman:
> وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
“Dan demikianlah Kami menjadikan kalian sebagai umat yang moderat dan adil.”(QS. Al-Baqarah: 143).

Ayat ini jarang dikaitkan dengan kebangkitan nasional, padahal mengandung pesan besar, bahwa bangsa yang kuat ialah bangsa yang adil, seimbang, dan tidak terjebak dalam ekstremitas kebencian maupun kerakusan kepentingan.

Kebangkitan juga menuntut perubahan internal. Allah SWT mengingatkan:
> قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9–10)

Ayat ini menegaskan bahwa kebangkitan nasional sejatinya berakar pada tazkiyatun nafs(pembersihan jiwa). Sebab bangsa yang dipenuhi kecerdasan tetapi miskin integritas akan mudah terseret pada penyalahgunaan kekuasaan, manipulasi, dan konflik berkepanjangan.

Rasulullah SAW juga mengingatkan:
> إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai apabila seseorang melakukan pekerjaan, ia menyempurnakannya.”
(HR. al-Baihaqi)

Hadits ini jarang diangkat dalam refleksi kebangsaan, padahal ia adalah fondasi etos kemajuan. Kebangkitan tidak lahir dari budaya asal jadi, tetapi dari profesionalitas, disiplin, dan amanah dalam bekerja. Umar bin Khattab RA pernah berkata:
> لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ
“Tidak ada kekuatan umat tanpa kebersamaan, tidak ada kebersamaan tanpa kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan tanpa tanggung jawab dan ketaatan pada kebaikan.”

Kalimat ini mengandung pelajaran besar bahwa bangsa tidak dibangun oleh ego sektoral, fanatisme sempit, atau pertarungan kepentingan yang melelahkan. Ia dibangun oleh sinergi, tanggung jawab, dan kesediaan menempatkan kemaslahatan bersama di atas kepentingan pribadi. Imam Ibnul Qayyim juga mengingatkan:
> إِنَّ اللَّهَ يُقِيمُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً، وَلَا يُقِيمُ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُسْلِمَةً
“Allah menegakkan negara yang adil meskipun tidak beriman, dan tidak menegakkan negara yang zalim meskipun mengaku beriman.”

Ini adalah peringatan keras bahwa keadilan, amanah, dan integritas bukan sekadar slogan moral, tetapi syarat keberlangsungan peradaban. Karena itu, Kebangkitan Nasional 2026 tidak cukup diperingati dengan seremoni dan pidato. Ia harus menjadi momentum kebangkitan akal, nurani, dan tanggung jawab bersama.

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang sering langka adalah kejujuran, keteladanan, dan keberanian menjaga amanah. Maka kebangkitan hari ini harus dimulai dari hal-hal yang tampak sederhana namun menentukan arah sejarah, yakni memperbaiki karakter, memuliakan ilmu, menghormati perbedaan, menjaga persatuan, bekerja dengan integritas, dan menolak menjadikan kebencian sebagai cara berbangsa.

Sebab sesungguhnya, bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak pernah terluka, tetapi bangsa yang mampu belajar dari lukanya dan bangkit dengan nurani yang lebih dewasa. Dan mungkin, pertanyaan terpenting pada 20 Mei 2026 bukanlah “Sudah sejauh mana bangsa ini maju?”. Tetapi pertenyaan penting yang harus direnungkan, Sudahkah kita ikut menjadi bagian dari kebangkitan itu atau justru menjadi bagian dari sebab keterlambatannya?”

#Wallahu A’lam Bish-Shawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *