Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS/ Kalimantan Selatan I
“Seandainya kita tahu betapa cepatnya manusia melupakan kita setelah kematian menjemput, niscaya kita tidak akan pernah menjadikan rida manusia sebagai tujuan hidup. Yang pantas kita kejar hanyalah rida Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Kalimat ini bukan untuk membuat kita pesimis terhadap manusia, tetapi untuk menyadarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan yang sangat singkat. Setinggi apa pun jabatan kita, sebanyak apa pun harta yang kita miliki, sepopuler apa pun nama kita, pada akhirnya semua akan ditinggalkan.
Allah Ta’ala berfirman: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Dan Allah juga berfirman: “Dan kamu akan dikembalikan kepada Kami seorang diri sebagaimana Kami menciptakan kamu pada mulanya.” (QS. Al-An’am: 94)
Saat seseorang meninggal dunia, manusia akan datang melayat, mengantarkan jenazah, lalu kembali ke rumah masing-masing. Esok harinya kehidupan berjalan seperti biasa. Tempat kerja tetap beraktivitas, bisnis tetap berputar, media sosial tetap ramai, bahkan dunia tidak berhenti hanya karena kepergian satu orang.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Jenazah diikuti oleh tiga perkara: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka dua akan kembali, sedangkan satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.” (HR. Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 2960)
Hadits ini adalah pengingat bahwa yang benar-benar menemani kita di alam kubur bukanlah jabatan, pengikut, kekayaan, atau sanjungan manusia, melainkan amal saleh yang kita kerjakan dengan ikhlas.
Para penggemar mungkin akan mengenang kita beberapa saat, lalu memiliki tokoh baru untuk dikagumi. Teman-teman mungkin hanya sekali mengantar jenazah kita, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Rekan kerja dan partner bisnis akan melanjutkan pekerjaannya. Bahkan keluarga yang sangat mencintai kita pun pada akhirnya harus melanjutkan kehidupannya, karena demikianlah sunnatullah.
Allah mengingatkan:
“Dan setiap orang datang kepada-Nya pada hari Kiamat seorang diri.” (QS. Maryam: 95)
Maka sungguh merugi orang yang sepanjang hidupnya hanya mengejar pujian manusia. Sebab hati manusia selalu berubah. Hari ini mereka memuji, besok mereka mencela. Hari ini mereka membutuhkan kita, besok mereka melupakan kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa mencari keridaan Allah meskipun manusia membencinya, maka Allah akan mencukupinya dari manusia. Dan barang siapa mencari keridaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2414, dinilai hasan oleh sebagian ulama)
Karena itu ulama salaf berkata:
رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ وَرِضَا اللَّهِ غَايَةٌ لَا تُتْرَكُ
“Keridaan manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai, sedangkan keridaan Allah adalah tujuan yang tidak boleh ditinggalkan.”
Betapa benarnya nasihat tersebut. Kita tidak akan pernah mampu memuaskan semua manusia. Apa pun yang kita lakukan akan selalu ada yang menyukai dan ada yang membenci. Maka mengapa kita menghabiskan umur untuk mengejar sesuatu yang mustahil diraih?
Sesungguhnya usia pujian manusia sangat pendek. Mereka memuji selama Allah masih menutupi aib kita dan selama mereka masih membutuhkan kita. Namun ketika aib tersingkap atau kepentingan telah selesai, banyak yang akan berpaling.
Allah-lah satu-satunya Dzat yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bertakwa.
Karena itu, sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi berguna, marilah memperbanyak taubat, memperbaiki salat, menjaga lisan, memperbanyak sedekah, berbakti kepada orang tua, memaafkan sesama, membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, dan mengikhlaskan setiap amal hanya karena Allah.
Allah berfirman:
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang tidak tertipu oleh gemerlap dunia, tidak diperbudak oleh pujian manusia, dan diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Ya Allah, jadikanlah rida-Mu sebagai tujuan hidup kami, ampunilah dosa-dosa kami, terimalah amal-amal kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan beriman. Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.






