Jakarta — Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (PB HMI MPO) menyatakan dukungan terhadap penguatan Forum Lintas Parlemen se-ASEAN sebagai langkah strategis dalam membangun solidaritas, mempererat hubungan antarnegara, serta memperkuat kerja sama kawasan ASEAN dalam menghadapi berbagai tantangan global.
Ketua Umum PB HMI MPO, Handy Muharam Nataprawira berpandangan bahwa hubungan dan komunikasi antarlembaga parlemen di kawasan ASEAN harus dibangun lebih erat, intensif, dan berkelanjutan. Hubungan tersebut tidak semestinya hanya diperkuat ketika terjadi krisis atau konflik, melainkan harus menjadi agenda diplomasi dan kerja sama rutin dalam menjaga stabilitas, perdamaian, serta kemajuan kawasan Asia Tenggara.
“Parlemen negara-negara ASEAN harus menjadi ruang dialog yang aktif dan produktif. Kedekatan antarlembaga legislatif tidak boleh hanya terbangun ketika terjadi krisis, tetapi harus dirawat melalui komunikasi, kolaborasi, dan kerja sama konkret dalam situasi normal maupun darurat,” ujar Handy dalam keterangan persnya, Jumat (30/10/26).
PB HMI MPO juga mendorong agar Forum Lintas Parlemen se-ASEAN tidak berhenti pada pertemuan seremonial dan diplomasi formal, tetapi mampu menghasilkan agenda kerja sama nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di kawasan ASEAN.
Menurut PB HMI MPO, ada empat agenda strategis yang perlu menjadi prioritas kerja sama parlemen negara-negara ASEAN:
1. Pencegahan dan Penanggulangan Bencana
ASEAN merupakan kawasan yang memiliki tingkat kerawanan bencana alam cukup tinggi. Oleh karena itu, diperlukan penguatan koordinasi antarparlemen dalam mendorong kebijakan mitigasi bencana, pertukaran informasi, peningkatan kapasitas tanggap darurat, serta solidaritas kemanusiaan lintas negara.
2. Keamanan Siber (Cyber Security)
Perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru berupa kejahatan siber, kebocoran data, penipuan digital, dan ancaman terhadap infrastruktur strategis negara. Parlemen ASEAN perlu membangun kesepahaman dalam memperkuat regulasi, perlindungan data, serta kerja sama penanganan kejahatan siber lintas batas.
3. Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan merupakan persoalan strategis yang berkaitan langsung dengan kedaulatan dan kesejahteraan masyarakat. PB HMI MPO mendorong kerja sama antarnegara ASEAN dalam memperkuat rantai pasok pangan, meningkatkan produktivitas pertanian, menjaga stabilitas distribusi, serta mengantisipasi ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim dan ketidakstabilan geopolitik.
4. Penyelesaian Persoalan Lintas Batas
Berbagai persoalan lintas negara, seperti perdagangan manusia, penyelundupan, kejahatan transnasional, pengelolaan wilayah perbatasan, dan persoalan lingkungan, membutuhkan pendekatan bersama. Parlemen ASEAN memiliki peran penting dalam mendorong harmonisasi kebijakan dan memperkuat mekanisme kerja sama regional.
Handy menilai, bahwa penguatan Forum Lintas Parlemen se-ASEAN merupakan momentum penting untuk membangun ASEAN yang lebih solid, responsif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Sebagai organisasi mahasiswa yang memiliki komitmen terhadap demokrasi, keadilan, dan solidaritas kawasan, PB HMI MPO memandang bahwa masa depan ASEAN tidak cukup hanya dibangun melalui hubungan diplomatik antarpemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif parlemen, masyarakat sipil, akademisi, dan generasi muda.
“ASEAN yang kuat adalah ASEAN yang mampu membangun kebersamaan sebelum krisis terjadi, bukan sekadar bersatu ketika krisis dating,” tandasnya.
Dengan demikian, PB HMI MPO mendukung penuh penguatan Forum Lintas Parlemen se-ASEAN dan berharap forum tersebut menjadi instrumen strategis untuk mewujudkan kawasan Asia Tenggara yang damai, aman, tangguh, dan sejahtera.






